Pribadi Utuh: Menggapai Keagungan (Greatness)

Tulisan sebelum ini telah mengulas tentang empat komponen penyusun manusia: fisik, pikiran (mental), emosional (perasaan) dan hati (jiwa). Untuk menggapai keagungan pribadi, empat komponen ini mesti kita berdayakan. Ini bukanlah pilihan – kita harus memberdayakan keempatnya sekaligus.

Jika kita bedah, berikut ini empat upaya yang dianjurkan oleh Covey, dan saya sependapat dengannya, untuk menuju keagungan pribadi.

Pertama: visi. Atau, orang sering menyebutnya “mimpi”. Ya, visi hidup adalah sebentuk pemberdayaan pikiran (mental), yang akan menuntun kita pada arah yang kita tuju. Tanpa visi, kita akan terus ‘menari’ mengikuti ‘gendang’ kehidupan yang seringkali ‘ditabuh’ oleh orang lain. Kita akan terus menjadi ‘korban’ pengaruh lingkungan, tren mode, kecenderungan sosial. Tanpa visi, sadar atau tidak, kita telah menyerahkan ‘kemudi’ kapal kita sendiri kepada orang lain.

Dalam 7 Habits, Covey telah memberikan panduan yang baik bagaimana menyusun visi ini. Segala sesuatu memang diciptakan dua kali: dalam alam “pikiran” dan “kenyataan”; dalam “desain” dan “realisasi”; dalam “maket” dan “konstruksi”. Juga dalam “lauh mahfudz” dan “alam dunia”. Dan saya sepenuhnya sependapat bahwa sebuah visi harus dimulai dari ujung perjalanan hidup kita: kematian. Ingin mati sebagai apakah kita? Bagaimana akhirnya manusia setelah kita – dan malaikat pencatat prestasi amal – menilai kualitas hidup kita?

Pertanyaan ini jauh lebih mendasar daripada sekedar: mau jadi apa kita? Untuk menggapai ‘kesuksesan’, pertanyaan ini mungkin cukup. Tetapi untuk sebuah ‘keagungan’ (greatness), jelas kurang memadai, karena bisa jadi pertanyaan “mau jadi apa” itu dijawab hanya dengan pencapaian sementara.

Ke dua, disiplin. Disiplin adalah pemberdayaan fisik, yang mewujud menjadi tindakan nyata yang sejalan dengan visi.  Disiplin tidak melulu identik dengan situasi protokoler: semua serba teratur dan menjemukan, tanpa spontanitas – yang justeru menjadi pelentur dan pemanis kehidupan.

Visi yang hebat selalu membutuhkan disiplin yang ketat untuk mencapainya. Disiplin adalah “harga” yang harus “dibayar” untuk menggapai visi. Disiplin juga mencerminkan ‘konsistensi’ dan ‘fokus’ yang kuat. Ia menuntut suatu kebiasaan yang sejalan dengan visi dan terus diulang-ulang. Satu penelitian bahkan menyatakan: kita butuh waktu 10 ribu jam latihan yang fokus untuk menjadi yang terhebat di bidangnya. Anggap kita berlatih 3 jam sehari, secara fokus dan konsisten tentunya, maka dibutuhkan waktu tidak kurang dari 9 tahun. Jika kita hanya bisa berlatih sejam sehari, tinggal kalikan tiga: 27 tahun!

Tanpa konsistensi dan fokus – dua nilai inti dari disiplin, visi tak ubahnya prasasti.

Ke tiga, passion. Ini adalah pemberdayaan emosional. Gairah yang menggelora adalah bahan bakar beroktan tinggi untuk menggerakkan tindakan disiplin. Tanpa passion, kita tidak akan mampu bertahan dalam kedisiplinan – konsistensi dan fokus – kita. Passion adalah harta milik orang-orang yang menjadi pemenang di bidangnya.

Namun demikian, untuk mendapatkan passion, tentu tidak mudah. Karena itu, kita perlu “berhenti” sejenak untuk berinteraksi dengan diri kita yang paling dalam, dan bertanya: apa mimpi kita sesungguhnya? Karena mimpi yang tidak menimbulkan passion adalah mimpi yang patut kita pertanyakan.

Ke empat, nurani. Ketiga komponen sebelumnya adalah pilar-pilar kesuksesan – yang hampir tak bisa ditawar. Tetapi nurani inilah yang menjadi penentu sekaligus pembeda: apakah ‘kesuksesan’ kita membawa ‘keagungan’ atau sebaliknya.

Tidak ada keberhasilan sejati yang bisa dicapai dengan mengubur nurani.

Iklan

Tiga Kunci Untuk Tiga Situasi

Ada tiga kunci, kata seorang ustadz, bagi seorang muslim untuk hidup bahagia, baik di dunia maupun di akhirat. Tiga kunci ini sekaligus sebagai penawar untuk tiga kondisi umum yang pasti dialami oleh setiap kita.

Situasi pertama adalah di saat kita mendapatkan nikmat, baik berupa kekayaan – meskipun sedikit, jabatan yang baik, kelapangan dan kesehatan yang prima, hubungan yang harmonis, prestasi yang membanggakan, dan sebagainya. Dalam situasi ini, kunci yang harus dipegang oleh seorang muslim, kata ustadz tadi, adalah ‘syukur’. Ya, bersyukur saat mendapatkan nikmat adalah konskuensi logis.

Syukur yang paling agung, masih kata ustadz tadi, adalah ‘membalas’ pemberian Tuhan dengan bertauhid: tidak menyekutukannya dengan apa pun! Memurnikan ketaatan kepada-Nya adalah bentuk syukur paling afdol. Ibadah-ibadah amaliah adalah konsekuensi praktisnya.

Di samping itu, orang yang benar-benar bersyukur tidak akan menggunakan nikmat yang diperolehnya itu untuk maksiat kepada-Nya. Jadi, substansi ‘syukur’ ini ternyata jauh lebih dalam dari sekedar melafalkan: “Alhamdulillah”. Syukur yang timbul dari sanubari akan memberikan keindahan tersendiri di dalam hidup kita. Inilah pangkal kebahagiaan sesungguhnya.

Situasi yang ke dua adalah di saat kita dihadapkan pada situasi sulit, tempaan musibah, kehilangan keluarga atau harta, dicabutnya nikmat sehat, drop-out atau PHK, cerai dan sebagainya. Dalam situasi ini, kata ustadz juga, kunci yang harus dipegang adalah ‘sabar’.

Allah dengan lugas menyatakannya di dalam Qur’an: agar kita mencari pertolongan melalui ‘sabar’ dan sholat, di saat kita tertimpa petaka. Kata Imam Ali, kalau saya tidak salah kutip, ‘sabar’ adalah seumpama ‘kepala’ bagi keimanan seseorang. Ya, begitu sentral peran kesabaran ini di dalam menyokong keimanan. Sangat masuk akal, karena ketidaksabaran adalah salah satu titik lemah bagi robohnya keimanan.

Sama dengan ‘syukur’, untuk bersabar, kita juga perlu betul-betul meyakini bahwa memang cobaan itu adalah ‘kreasi’ Tuhan untuk menguji kita. Bahkan dalam suatu dalil dinyatakan, kurang lebih: jika Tuhan mencintai seseorang, Dia akan betul-betul mengujinya. Keyakinan ini akan mengarahkan kita pada sudut pandang yang tetap positif, seburuk apa pun situasinya. Wajar, jika dengan ‘sabar’, seseorang akan bahagia – pada akhirnya.

Situasi yang ke tiga adalah saat kita khilaf. Setiap manusia, sudah menjadi semacam aksioma, pasti tidak luput dari salah. Adalah penting untuk selalu waspada agar tidak melakukan kesalahan dan maksiat. Tetapi yang jauh lebih penting, karena aksioma tadi, adalah bagaimana tindakan kita apabila sadar telah melakukan kesalahan. Di sinilah peran kunci ke tiga: ‘taubat’.

Ya, taubat adalah ‘sahabat’ ke tiga setelah ‘syukur’ dan ‘sabar’, untuk mengarungi hidup ini. Bertebaran janji Allah di dalam Al-Qur’an, bahwa Dia Maha Pengampun dan akan mengampuni dosa hambanya yang bertaubat. Karena itu, manfaatkan sifat kemuliaan-Nya ini dengan sebaik-baiknya. Tidak ada jaminan, orang yang melakukan kebaikan akan selalu masuk surga. Juga tidak ada yang tahu, bahwa yang melakukan maksiat pasti punya kavling di neraka. Ya, rahasianya adalah ‘taubat’.

Itulah sekelumit makna yang saya serap, dari khatib Jumat siang tadi.

Harta

Dalam Islam, kita sudah maklum, bahwa setiap diri akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT, kelak, tentang beberapa soal. Jika terkait umur, masa muda dan soal lainnya akan ditanya sekali saja, maka soal harta kita akan ditanya dua kali: dari mana harta itu kita dapatkan?; ke mana harta itu kita belanjakan?

Soal harta ini memang pelik. Banyak fitnah yang menyelimutinya. Fitnah harta, kata seorang ustadz, dapat kita pisahkan menjadi dua domain: fitnah dalam ‘mencari’ dan fitnah dalam ‘membelanjakan’. Dalam pergulatan kita mencari harta, banyak sekali duri, atau lubang, atau perangkap, atau apa lah namanya, yang bisa menjerat kita ke dalam dosa dan kehinaan. Fitnah dalam ‘mencari’ harta dikategorikan menjadi dua. Pertama, mencari harta dari ‘sumber’ maupun dengan ‘cara’ yang haram. Korupsi, suap, nodong, nipu, jual beli barang haram, dan sebagainya, adalah contoh-contoh sumber harta yang sudah jelas haram.

Harta yang haram, kata ustadz, akan membawa kerusakan bagi yang mencari dan menerimanya, baik dunia maupun akhirat. Di dunia, jelas harta itu tidak akan membawa berkah. Anak-isteri yang dinafkahi barang haram juga tidak akan memberikan kebahagiaan sejati. Banyak sudah contohnya, bagaimana harta yang haram ini meluluhlantakkan rumah tangga seseorang: isteri membangkang atau bahkan selingkuh; anak terlibat kasus obat terlarang, atau sekolahnya amburadul, dan sebagainya.

Ke dua, selain yang sudah jelas haram, juga harta yang melalaikan kita dari jalan Allah. Harta jenis yang ke dua ini juga tidak kalah daya rusaknya terhadap kehidupan sesorang, dunia maupun akhirat. Disadari atau tidak, kita seringkali lalai melaksanakan ibadah, manakala disbukkan denga urusan duniawi yang profan. Bagi saya sebagai karyawan, tentu harus lebih berhati-hati dari jenis fitnah ini, karena memang seorang karyawan tidak memiliki keleluasaan waktu. Jam kantor sudah tertentu, meskipun seringkali menerabas waktu-waktu ibadah. Atau kadang meeting yang panjang, melelahkan sekaligus melenakan. Juga bagi yang tinggal di Jakarta, seringkali di waktu-waktu sholat, kita masih terjebak di tengah belantara kemacetan.

Jadi, boleh saja kita bersyukur bahwa kita tidak mencari harta dari sumber maupun dengan cara yang haram, tetapi perhatikan betul fitnah ke dua ini:  jika itu dilakukan dengan melalaikan kewajiban transendental kita kepada Allah SWT, maka tetap saja hal itu menjadi sumber kehinaan!

Andai pun kita masih lolos dari jebakan fitnah dalam ‘mencari’ harta, maka jangan dulu merasa lega. Masih ada beberapa fitnah yang masuk dalam domain ‘membelanjakan’ harta. Pertama, bakhil, alias kikir, bin medit, saudaranya pelit, masih satu klan dengan kucrit. Tidak sedikit yang hartanya 100% halal, tetapi tidak luput dari sifat ini. Konsekuensinya serupa, yaitu kerusakan!

Ke dua, sifat tabdzir (mubazir), atau foya-foya dengan hartanya, untuk sesuatu yang minim makna. Kita memang punya justifikasi yang rasional untuk melakukannya. Karena jika harta itu halal sepenuhnya, hasil tetesan keringat sendiri, lalu saya menikmati sesuka saya, why not? Toh, tidak ada orang yang saya dzolimi? Inilah jebakan halus yang bisa merusak hidup kita, terutama para agniyaa, atau orang-orang mapan.

Patut kita ingat, bahwa di dalam Islam, harta hanya boleh dialokasikan untuk dua hal saja. Pertama, mencukupi kebutuhan hidup pribadi dan keluarga kita. Sewajarnya. Ke dua, diinfakkan ke jalan Allah. Fii sabilillah. Menabung untuk anak-anak kita sekolah, atau untuk cadangan kita berobat jika sakit, adalah termasuk kebutuhan tadi. Jika kebutuhan hidup kita sudah ‘wajar’: rumah layak, kendaraan pantas, kebutuhan sehari-hari tercukupi, anak-anak mendapatkan pendidikan yang baik, orang tua dan saudara-saudara kita tidak terlantar, maka sisa harta itu hukumnya wajib diinfakkan di jalan Allah.

Infak di jalan Allah tentu tidak melulu dalam bentuk sumbangan untuk mesjid, panti asuhan atau madrasah. Membangun sebuah perusahaan, dengan itikad baik untuk mengentaskan kemiskinan, memuliakan kehidupan kaum muslimin, adalah termasuk di dalamnya. Karena itu, berbahagialah mereka yang dikaruniai harta yang banyak, dan dengan hartanya itu dia banyak berinfak di jalan Allah. Abu Bakar Shidiq adalah teladan yang baik untuk hal ini. Bukan sebaliknya: hartanya menghinakan dirinya dengan serendah-rendahnya. Dan Qorun adalah role model untuk yang terakhir ini.

Itulah, sekelumit pelajaran yang saya tangkap dari sang khatib, Jumat siang tadi.

Orang Tua

Suatu sore, dalam perjalanan dengan travel dari Jakarta ke Bandung, duduk di sebelah saya seorang wanita muda dengan pakaian yang kurang bahan. Hanya sekitar 10% (lho? Sempat mengukur, begitu?) bagian teratas pahanya yang tertutupi. Itu menjadi perjalanan paling canggung yang pernah saya lalui. Dalam cuaca yang redup, jalanan yang mulus, idealnya saya bisa istirahat. Nyatanya saya merasa “terganggu”. Pertama, jelas karena celananya itu yang membuat saya ingin melek terus. Ke dua, sepanjang dua setengah jam perjalanan, dia hampir tidak berhenti bicara di telfon. Kelihatannya ada beberapa orang yang ditelfon, juga yang menelfon dia.

Di tengah obrolannya, ada satu dialog yang menarik. “Kamu tinggal minta apa aja sama kakak, asal sekolah kamu bener. Tapi kalau sekolah kamu enggak bener, kakak enggak mau.”

Saya kenal betul logat bicaranya. “Wanita ini pasti orang sekampung saya”, gumam saya dalam hati. Saya terus terang enggan bertanya. Memasuki daerah Pasteur, wanita itu bilang ke supir travel, “Pak, saya mau turun di hotel anu ya.” Su’udzon saya mulai timbul. Tetapi saya bisa maklum. Apalagi, dari potongan dialog tadi, saya bisa menduga dia merupakan tulang punggung ekonomi keluarga, terutama bagi adik-adiknya yang masih sekolah. Sedikit banyak dia mewarisi tipikal orang tua bagi anak-anaknya.

Di kampung, saya juga mengenal seorang yang profesinya “mengambil dan menjual” barang orang tanpa permisi (duh, repot amat mau bilang: maling!). Kebiasaan lain dia adalah “minum”. Bahkan pernah ketahuan dia mengkonsumsi “pil merah”. Dia punya anak kecil, sekitar empat atau lima tahun usianya. Suatu hari, anaknya yang masih imut-imut itu kepergok mengambil uang ibu saya. Tidak besar, hanya bisa untuk beli sepotong-dua potong jajanan kampung. Tetapi si ayah tadi marah bukan main. “Jangan ulangi lagi ya, ngambil duit orang!”, sambil “melempar” anaknya itu di tanah berlumpur, di tengah guyuran hujan. Miris melihatnya. Ibu saya kemudian melerai.

Saya bahkan pernah menyaksikan pemandangan yang mengharukan. Kalau orang biasa mengaku “hidup pas-pasan”, keluarga itu barangkali tidak seberuntung mereka yang hidup pas-pasan: mereka hidup serba kekurangan. Nasi aking adalah makanan yang biasa mereka santap. Menir juga. Sewaktu kecil hingga remaja, anak mereka sering membantu ibunya untuk “metani” batu-batu dan ulat-ulat yang ada di menir. Maklum, menir itu merupakan hasil “tapenan” dari dedak yang dibeli untuk makanan bebek. Keluarga itu memelihara bebek beberapa puluh ekor, dan harus berbagi makanan dengan hewan peliharaan mereka. Itulah satu-satunya mata pencaharian kepala keluarga mereka.

Dari 12 bulan kalender tiap tahun, barangkali hanya 2 – 3 bulan saja keluarga itu bisa makan nasi putih, sesaat setelah musim panen. Selebihnya; menir atau nasi aking. Tahukah kawan, apa lauknya? Garam tak beriodium!!

Dalam kondisi seperti itu, orang tua mereka masih memberikan dukungan kepada anaknya untuk melanjutkan sekolah ke SMP, meskipun dengan sedikit terpaksa. Dukungan itu berlanjut hingga SMA dan kuliah. Kini, anaknya sudah sarjana dan bekerja di sebuah perusahaan terkemuka.

Pelajaran penting yang bisa saya petik: apa pun kondisi orang tua, semiskin apa pun nasib mereka, sebejat apa pun profesinya, mereka pada dasarnya menyimpan harapan terselubung agar anaknya bisa lebih baik, tidak mengikuti jejak keterpurukan yang mereka alami. Inilah fitrah mereka. Meskipun bisa jadi ada beberapa orang tua yang menjadi pengecualian

Inlander

Akhirnya kesampean juga bisa jalan-jalan ke Bali. Beberapa minggu lalu, ada satu even internasional yang mempertemukan para geoscientist dari beberapa negara, meskipun mayoritas dari Indonesia. Di situ saya ikut ambil bagian, mempresentasikan satu makalah ilmiah. Alhamdulillah lancar dan respon audience cukup antusias. Diskusi jadi hidup dan berkembang. Bahkan saya mendapat satu input dari salah satu audience yang bisa saya pakai untuk menuliskan paper berikutnya. 

Tentu tidak seru kalau ke sana “hanya” sekedar ikut pertemuan formal dan ilmiah yang cenderung menjemukan. Karena itu, hari terakhir di sana saya manfaatkan untuk menikmati beberapa tempat wisata di Pulau Dewata itu, antara lain Kuta, Ubud, Tanah Lot dan diakhiri dengan dinner di Jimbaran. Beruntung, hotel tempat saya nginap persis berada di tepi pantai Kuta, sehingga tak perlu repot turun dan jalan kaki untuk menikmati pemandangan pantai yang eksotik itu. Cukup dengan membuka jendela kamar, maka salah satu potret keagungan Tuhan itu terlihat jelas. Subhanallah.

Sebelum “terlena” dengan keindahan wisata Bali, saat saya berada di Airport Ngurah Rai, saya mendapatkan satu perspektif yang unik. Saya cukup kaget saat diperlakukan “sebelah mata” oleh para penjaga loket penyewaan kendaraan. Mereka tampak “antusias” dan “ramah” sekali kepada para turis berambut pirang dan berkulit putih, sementara mereka melayani saya dengan nada yang sedikit merendahkan.

“Permisi mas…”, saya menyapa dengan nada bersahabat. Mereka masih asik “beramah-tamah” dengan tamu-tamu bule, sementara kehadiran saya mereka abaikan. Saya ulangi sekali lagi, “Permisi…”. Saat itu, salah seorang di antara mereka melirik saya dan menyuruh temannya untuk meladeni saya. “… Saya mau pesan taksi.” Dengan wajah datar, mereka tidak membalas sapaan saya. Mereka lalu menunjuk ke poster-poster yang terpasang di dinding, memampang beberapa jenis kendaraan “pertamax plus” semacam Mercedes Benz, Alphard, dan mobil-mobil “sekelas”. Yang paling “rendah” kelasnya adalah Camry.

“Adanya cuma mobil-mobil ini mas…”, sahut mereka. “Taksi anu ada…?”, tanya saya, karena saya melihat masih satu perusahaan. Kembali mereka tidak begitu antusias menjawab dan langsung menyuruh saya, “Mending jalan ke depan sana aja mas, di sana pasti dapat taksi”. Mereka menunjuk ke arah jalan raya. Dalam sekejap mereka kembali “terlena” meladeni tamu-tamu bule. Saya pun segera pergi.

Hari berikutnya, saya jalan-jalan di pusat keramaian Kuta, mencari barang-barang kerajinan yang bagus. Kebetulan saya dapat pesanan dari keluarga. Saya menghampiri satu kios kecil. Penunggunya sedang asik menata barang-barang dagangannya. Dia sama sekali tidak menyapa saya yang sudah memegang barang-barang dagangannya. “Ada bros, mas?”, tanya saya. Lagi-lagi, dengan wajah datar, sambil asik dengan pekerjaannya, dia menyahut, “Tidak ada.” Tidak lama kemudian ada seorang bule datang. Si penjaga kios tadi bergegas menghentikan aktivitasnya dan langsung menyapa, “Hai…”, selanjutnya dia menanyakan apa keperluann si bule tadi. Saya pun bergegas pergi.

Saya melanjutkan pencarian, sembari mengingat kejadian di Jogja satu minggu sebelum hari itu. Waktu itu, saya sedang mengikuti training. Trainernya dari Texas, USA. Ada juga dua orang peserta bule. Waktu itu, kami, semua peserta training yang jumlahnya 11 orang, panitia dan trainernya sedang santap makan siang. Sang panitia begitu asik meladeni bule-bule itu, sambil sesekali menawarkan, “Would you like coffee?”. Sementara kami, yang berambut hitam dan berkulit sawo matang yang ada di sebelahnya, tidak ditawari apa pun. Padahal, panitia tadi juga berambut hitam dan berkulit sawo matang seperti kami.

Jauh sebelum itu, sebetulnya saya sudah kerap menyaksikan pemandangan serupa di industri migas, khususnya di perusahaan asing. Banyak dari karyawan lokal yang bekerja di sana begitu respek kepada bule-bule mereka, sementara tidak demikian halnya dengan sesama orang lokal. Kadang, bahkan mereka lebih “bule” daripada bule sendiri. Tidak terlihat sama sekali nasionalisme mereka. Bahkan sebagian dari mereka kerap menjadi “tameng” bagi perusahaan asing untuk “bertarung” dengan sesama anak bangsa sendiri.

Dalam konteks yang lebih besar, saya juga melihat bagaimana para pemimpin dan sebagian elit bangsa ini begitu respek terhadap “bule”. Mereka begitu “ramah” kepada kepentingan negara-negara besar, tetapi bengis terhadap rakyat kecil. “Demi iklim investasi”, katanya. Atau, “demi kepercayaan dunia internasional”, alasan mereka. Semua itu mereka jadikan alibi untuk “menyambut” bule yang menguras sumberdaya alam kita, atau bule yang memberikan utang dan kemudian menyetir dan mencampuri urusan rumah tangga bangsa kita.

Malam itu saya terus berjalan menyusuri keramaian Kuta, dengan menimbang-nimbang satu kesimpulan: bangsa kita memang bangsa yang “ramah”. Yang saya maksudkan: “ramah” kepada bangsa asing, tetapi tidak terhadap sesama anak bangsa sendiri. Karena itu pula saya maklum, mengapa kita begitu lama dijajah oleh bangsa asing, akibat keberadaan para inlander itu.

Ujian Proaktifitas

Tempo hari, saya merasakan pengalaman batin yang betul-betul menguji integritas saya. Siang itu, saya mengisi sebuah acara sharing session di perusahaan tempat saya bekerja. Untuk ke sekian kalinya, dalam beberapa kesempatan yang berbeda, saya menyampaikan bedah buku Seven Habits of Highly Effective People: salah satu buku yang paling saya suka.

Kabiasaan utama dan pertama yang dianjurkan buku itu adalah sikap proaktif. Kebajikan inti dari sikap proaktif adalah: “Tidak ada seorang pun, atau suatu hal pun, yang bisa menyakiti kita, kecuali kita mengijinkannya.”

Kita bebas menentukan “respon” apa pun sesuai dengan kehendak bebas, kesadaran diri dan nurani kita, tanpa dikendalikan oleh “stimulus” yang kita terima. Boleh saja ada seseorang yang menyakiti kita, tetapi kita bebas “memilih” untuk merasa sakit atau tidak. Bisa saja ada kejadian buruk menimpa kita, tetapi kita tetap bisa “memilih” untuk merasa terpuruk atau tidak. Bisa saja orang tua kita selama ini mendidik kita dengan cara yang lembut atau bahkan sangat keras, tetapi kita tetap bisa menjadi pribadi terbaik yang kita inginkan. Boleh jadi lingkungan tempat kita tinggal dan dibesarkan itu penuh warna kultur amoral atau asusila, terbelakang, konservatif, tetapi kita tetap bisa menjadi pribadi yang santun dan progresif.  

Intinya, kita lah yang mengendalikan diri kita, karakter, sikap dan situasi emosional kita, serta respon apa yang akan kita berikan terhadap semua jenis stimulus yang menimpa kita. Itulah salah satu inti pesan moral yang saya sampaikan dalam sharing session tersebut.

Sore harinya, saya ke luar kota naik kereta. Tanpa diduga, jalur kereta yang biasa saya lalui itu bermasalah. Ada kereta yang anjlok, sehingga semua kereta yang menuju stasiun pusat di Jakarta itu dialihkan ke stasiun lainnya. Seluruh penumpang diangkut oleh bus Damri menuju stasiun yang dituju. Sedianya kereta berangkat jam 6.30 petang, tetapi kemudian molor hingga jam 10 malam. Kejadian itu cukup meresahkan penumpang. Maklum, menunggu selama 3,5 jam bukanlah waktu yang pendek. Wajar pula, jika banyak penumpang yang kesal dan mulai emosional.

Sebagai pribadi yang proaktif, kejadian itu semestinya tidak lebih sebagai stimulus negatif. Pada situasi seperti itu, saya sebetulnya bisa “memilih” untuk merasa kesal atau tidak, emosi atau tidak. Karena itu, akhirnya saya “memutuskan” untuk tidak merasa kesal atau emosi. Saya lah yang berhak mengatur dan mengendalikan situasi emosional saya sendiri, bukan stimulus negatif itu.

Selama menunggu, saya berusaha mengisi waktu luang dengan membaca surat kabar. Kebetulan topik hari itu banyak mengulas seputar perekonomian Indonesia: topik yang sedang saya dalami. Beberapa perspektif baru saya dapatkan dengan membaca beberapa artikel di surat kabar terbesar di Asia Tenggara itu. Salah satunya adalah diskursus negara versus pasar. Saat ini, kata para ekonom, bukan saatnya lagi kita membenturkan antara “negara” dan “pasar” di dalam ekonomi, tetapi bagaimana kedua “aktor” ini bisa bersinergi untuk membangun perekonomian bangsa.

Ketimbang saya larut dalam situasi yang emosional akibat harus menunggu terlalu lama, saya “memilih” memanfaatkan sepenuhnya waktu yang ada untuk menyelami khasanah pemikiran ekonomi kontemporer. Saya betul-betul “menikmati” waktu menunggu itu, sehingga menjadi terasa tidak begitu lama.

Mengenai kasus anjloknya kereta tersebut, saya jadi teringat kisah “angsa” dan “telur emas” yang juga saya sampaikan di dalam sharing session siang sebelumnya. Kisah itu sangat relevan untuk menjelaskan fenomena kereta yang anjlok sore itu.

Kebanyakan kita terlalu fokus untuk mendapatkan “telur emas”, dan melupakan “angsa” yang menghasilkan telur emas itu sendiri. Seringkali suatu perusahaan terlalu fokus bagaimana menghasilkan tingkat produksi yang besar, biaya yang efisien, tetapi lupa mengalokasikan waktu dan biaya yang cukup untuk merawat mesin-mesin mereka, mengelola sumberdaya manusia mereka secara baik, hingga mereka mampu meraup laba (“telur emas”) yang besar di satu sisi, tetapi membiarkan kondisi mesin-mesin dan manusia (“angsa”) mereka yang sekarat di sisi lain. Dalam jangka pendek, langkah itu mungkin akan efektif, tetapi pasti akan menjadi bom waktu yang suatu saat justeru akan menuntut pengeluaran biaya, bahkan mungkin menimbulkan kerugian, yang jauh lebih besar.

Pihak pengelola kereta api barangkali terlalu fokus pada tingkat penjualan tiket dan efisiensi biaya operasional, tanpa mengalokasikan waktu dan biaya yang cukup untuk merawat mesin-mesin lokomotif, rangkaian gerbong dan rel kereta. Jika situasi demikian terus berlanjut, maka anjloknya kereta berikutnya barangkali tinggal menunggu waktu saja.

India

Saya punya adik perempuan. Semasa remaja, waktu itu adik saya mulai menginjak remaja, kami sering bersitegang. Masalahnya sepele. Adik perempuan saya gandrung dengan lagu-lagu india. Dia seringkali menyalakan radio di dekat telinganya hingga tertidur, ditemani senandung lagu-lagu hindustan yang, kala itu, masih merajalela. Sampai program radio selesai, lewat tengah malam, tinggallah suara kresek-kresek: bunyi radio yang masih memancarkan frekwensi, sementara programnya telah usai. Esok paginya, atau kadang saya memergokinya tengah malam, saya matikan radio itu. Tentu sambil ngomel-ngomel. Adik saya sering tidak terima, tetapi reaksinya kerap hanya cemberut, tak berani melawan kakak lelakinya ini. Itu terjadi sekitar pertengahan tahun 90-an. Adik saya hanya salah satu dari sekian banyak penikmat lagu-lagu India yang begitu populer pada masa itu.

Selain musik, industri film India juga waktu itu merangsek pasar film nasional sedemikian kuat, khususnya segmen pasar masyarakat pinggiran. Sampai anak-anak dan remaja di kampung saya, kala itu, mengenal Amitabh Bachan sama baiknya dengan mengenal Rhoma Irama, atau mengenal Sri Devi sama akrabnya dengan Elvy Sukaesih. Itulah kehebatan India yang pertama kali saya kenal. Industri hiburan mereka sudah melanglangbuana. Saya tidak yakin film-film Rhoma Irama, Barry Prima atau Roy Marten, dikenal oleh anak-anak dan remaja India pada waktu itu.

Meskipun demikian, dari latar film-film mereka, saya bisa memprediksi bahwa kehidupan sosial-ekonomi masyarakat India tak jauh beda dengan Indonesia: pemukiman kumuh, pedagang kaki lima dan pasar tradisional, kekentalan budaya dan tradisi, hingga mental polisi yang korup.

Sepuluh tahun berlalu. Saya sudah lulus dari perguruan tinggi. Dalam proses rekruitmen sebuah perusahaan Amerika terkemuka, seorang eksekutif muda menjelaskan dengan bahasa inggris yang amat fasih, tentang prospek perusahaan itu. Dia orang India. Dari situ saya bisa melihat bagaimana profesionalitasnya. Sayangnya, atau mungkin untungnya, saya tidak lolos seleksi di perusahaan itu.

Empat tahun kemudian, saya mengikuti sebuah pelatihan yang diadakan oleh perusahaan tadi. Dari sekian banyak bule yang ada, ternyata keynote speaker-nya adalah orang India. Yang membuat saya berdecak, ternyata eksekutif muda India itu langsung didatangkan dari Colorado, AS, untuk memberikan materi pelatihan yang ilmunya masih langka di Indonesia itu. Ternyata dia memang bagian dari segelintir orang di dunia ini yang benar-benar piawai di bidang CBM – Coalbed Methane.

Dalam forum lainnya, saya juga beberapa kali mengikuti workshop singkat tentang CBM. Yang memberikan materi juga orang India. Saya jadi bertanya, kenapa begitu banyak pakar CBM dari India? Sampai saat ini, di Indonesia, yang dianggap betul-betul ahli di bidang CBM adalah salah seorang India yang bekerja di perusahaan minyak patungan AS – Inggris.

Dalam konferensi CBM Internasional di Jakarta, saya sempat ngobrol dengan seorang peneliti dan akademisi salah satu universitas swasta terkemuka di Jakarta. Saya katakan padanya, “Pakar-pakar CBM dunia kebanyakan orang India”. Saya sedikit tersentak ketika dia mengatakan, “Bukan hanya CBM.” Lalu dia melanjutkan, “…hampir di semua bidang, India memiliki seabreg pakar dan eksekutif-profesional yang menyebar ke seluruh dunia”. Mulai dari bidang IT, perminyakan, mesin dan otomotif, keuangan dan sebagainya. Atasan saya sendiri di kantor pernah bilang, “Sewaktu saya ikut konferensi CBM internasional di Singapore, sekitar 60% peserta yang hadir adalah orang India”.

Pada tulisan saya sebelum ini, yakni tentang kilang minyak Jamnagar, juga memotret salah satu ambisi India untuk merajai bisnis hilir migas dunia.

Sampai di situ, meskipun saya berdecak kagum pada India, tetapi saya tidak berusaha untuk mempelajari tentang India lebih jauh: apa yang sudah dicapai India, apa latar belakang pencapaiannya, strategi apa yang sedang mereka kembangkan, serta nilai atau spirit apa yang mereka pegang teguh, sehingga mereka menjelma menjadi sekumpulan manusia yang betul-betul haus akan kemajuan di segala bidang.

Sampai saya ketemu bukunya Thomas L. Friedman: The World is Flat. Dalam banyak bagian di bukunya, Friedman selalu mengangkat India sebagai contoh bahwa bumi ini “datar”, akibat kolaborasi unik antara para teknisi India dan perusahaan terkemuka AS. Bangalore menjadi semacam “silicon valley” bagi India. Di kota kecil itulah berkumpul pakar dan teknisi IT yang menjadi salah satu penyokong perkembangan IT dunia. Bangalore menjadi tempat outsourcing pilihan raksasa-raksasa IT Amerika Serikat, dari awal perkembangannya hingga saat ini. Bangalore juga menjadi tempat inovasi berbagai produk game komputer, yang mengerjakan pesanan dari daratan Eropa dan Amerika. Yang menghentakkan, bahkan pekerjaan penghitungan pajak warga AS juga dilakukan di India, dengan memanfaatkan teknologi telekomunikasi.

Jika ditelusuri sejarahnya, Nehru memang telah membangun pondasi pembangunan SDM India dengan cukup baik. Tahun 1951, dia membangun 7 institut teknologi di India, yang akan menyeleksi ratusan juta manusia India yang penuh ambisi. Karena ekonomi India masih berkiblat ke Soviet, yang kurang memungkinkan para lulusan itu terserap di negaranya, maka sejak itu puluhan ribu lulusannya bermigrasi ke Amerika, untuk mengaktualisasikan ilmu dan keahlian mereka di perusahaan-perusahaan berteknologi tinggi di sana.

Tahun 1991, menteri keuangan India, Manmohan Singh, membuka ekonomi negaranya terhadap investasi asing. Secara perlahan, seiring dengan runtuhnya imperium Soviet, kiblat ekonomi India berpaling ke Barat. Dari situlah kemudian terjadi dua konvergensi kekuatan besar: jutaan lulusan perguruan tinggi India yang berbakat dan penuh ambisi, dengan aliran modal atau investasi asing yang mulai merangsek. Jadilah mereka seperti kesetanan mengejar kemajuan di segala bidang. Hampir semua perusahaan multinasional berteknologi tinggi ada di India. Mereka benar-benar melihat India sebagai tempat subur yang dipenuhi tenaga profesional berkualitas dengan tingkat upah seperempat atau sepertiga tenaga kerja AS atau Eropa, dengan kualifikasi yang sama.

Hasilnya bisa kita lihat: ekonomi India tengah menggeliat!