Hot, Flat and Crowded

Barangkali ada di antara kawan blogger, atau pengunjung, yang sudah mengenali frase di atas? Ya, itu adalah judul buku ke lima Thomas L. Friedman, seorang wartawan senior New York Times yang keranjingan masalah “hijau”: trend perubahan global terkait isu lingkungan dan perubahan iklim. Buku setebal 580-an halaman itu hampir selesai saya lahap, meskipun mungkin hanya sebagian yang betul-betul saya serap.

Tulisan ini tentu tidak hendak merangkum semua ide brilian dan futuristik dari penulisnya, tetapi saya hanya ingin menyampaikan kembali topik-topik yang menurut saya paling menyentil. Hot, Flat dan Crowded adalah tiga kata yang menggambarkan kondisi planet dan kehidupan yang ada di atasnya saat ini. 

Bumi kita makin panas, hot, akibat kenaikan temperatur yang signifikan selama periode 150 tahun terakhir.  Sebagai catatan, suhu bumi memang mengalami fluktuasi sepanjang sejarah geologi. Konon, fluktuasinya mencapai plus – minus 6 derajat celsius. Tetapi laju kenaikan dan penurunan temperatur alami amat sangat lambat. Ordenya paling tidak puluhan hingga ratusan ribu tahun. Kenaikan temperatur yang relatif cepat satu setengah abad terakhir, oleh banyak orang, diyakini akibat ulah kita, bukan alam. Kenaikan suhu 2 derajat celsius saja, dalam tempo relatif singkat, maka akibatnya tidak akan sanggup kita saksikan.

Flat, adalah nature kehidupan modern. Teknologi informasi dan komunikasi menjadikan planet kita tidak lagi bulat dengan radius lebih dari 40 ribu km, melainkan hanya sebuah pinggan yang datar. World wide web, handphone dan teknologi informasi publik memungkinkan, bukan hanya pertukaran informasi, tetapi juga akulturasi budaya global. Melalui teknologi, masyarakat pedalaman Sumatra bisa mengakses dan meniru cara berpakaian orang Amerika. Seorang yang terlihat sering mengunci diri di kamarnya, di tengah pemukiman kumuh Kota Bandung, mampu bertransaksi dengan pebisnis di London atau Moskow.

Crowded, sesak, akibat pertumbuhan populasi yang semakin menghawatirkan. Dalam beberapa dekade ke depan (2030?), manusia penghuni planet ini diperkirakan mencapai 9 milyar, atau bertambah 50% dari kondisi saat ini. Malthus telah lama merasa pesimis akan kemampuan bumi dalam memberi makan seluruh warga yang numpang di atasnya. Meskipun rasa pesimisnya itu tidak terbukti. Sampai saat ini, bumi masih sanggup menjalankan tugasnya!

Emisi CO2 dianggap biang kerok utama memanasnya suhu bumi. Sebagai catatan pula, alam sebetulnya mengeluarkan CO2 sendiri. Tetapi, sekali lagi, peningkatan CO2 dalam abad ini jauh melebihi kemampuan alam dalam memproduksi CO2. Industri dan produk-produknya yang rakus energi adalah salah satu penyebab utama. Penyebab lainnya yang tak kalah penting adalah pembabatan hutan. Indonesia mendapat perhatian dunia karena “berprestasi” dalam memproduksi emisi CO2 melalui penggundulan hutan-hutannya.

Berbicara konsumsi energi, AS memang rajanya. Mereka pun sebetulnya sadar, bahwa konsumsi energi mereka 32 kali lipat rata-rata penggunaan energi masyarakat Kenya. China segera menyusul AS. Pertumbuhan ekonominya yang mencengangkan tidak bisa dinikmati dengan gratis. Dampak serius pada lingkungan (eksternalitas?), akibat industri-industrinya yang rakus energi dan gemar mencemari lingkungan, sungguh mengerikan. Pertumbuhan ekonominya telah mengantarkan jutaan orang China menjadi makmur. Populasi kelas menengah tumbuh pesat di sana. Ini membawa dampak serius lainnya yang tidak kalah mengerikan.

Sebagaimana masyarakat AS, selain di China, tumbuhnya masyarakat kelas menengah di berbagai belahan dunia, khususnya di negara-negara yang sedang bangkit ekonominya,  akan menyebabkan konsumsi meningkat tajam: bahan makanan yang lebih banyak dan berkualitas, penyejuk udara, lemari pendingin, mobil-mobil pribadi mereka, telfon genggam, mesin cuci, dan sebagainya. Daya serap ekonomi mereka akan memaksa pembangunan industri besar-besaran, untuk memproduksi makanan kemasan dan barang-barang itu. Barangkali tesis Malthus sedikit meleset. Bukan bertambahnya populasi yang menyebabkan bumi kewalahan menyediakan kebutuhan sehari-hari manusia, melainkan tumbuhnya masyarakat kelas menengah yang masif di seantero jagat.

Anda, termasuk saya juga, barangkali bisa menyaksikan pergeseran budaya masyarakat miskin pedesaan di sekitar kita. Mereka kini mulai memiliki dan selalu menggunakan sepeda motor, telfon genggam, mulai makan makanan cepat saji, tidak peduli bahwa itu semua mereka dapatkan dengan berhutang. Kalangan miskin saja sudah mampu menyerap jutaan produk sepeda motor Jepang, lalu bagaimana dengan pesatnya pertumbuhan masyarakat kelas menengah di Jakarta, Surabaya, Bandung dan Medan? Perlahan tetapi pasti, kelas menengah yang baru tumbuh ini akan mendekati prilaku masyarakat AS dalam mengkonsumsi energi.

Pertambahan 2 milyar saja kelas menengah yang mengkonsumsi energi setara masyarakat Amerika, dampaknya barangkali akan lebih buruk daripada pertambahan populasi sebanyak 70 milyar penduduk, dengan konsumsi energi setara masyarakat Kenya.

Karena itu, Friedman, dalam banyak bagian di bukunya, mengingatkan “kesalahan” masyarakat Amerika dalam memberikan contoh kepada seluruh dunia akan pola rakus energinya. Friedman juga mengakui, bahwa mereka tentu tidak bisa melarang masyarakat di belahan dunia lain untuk menghentikan pertumbuhan ekonomi mereka dan menikmati gaya hidup a la Amerika. Solusinya, menurut dia, mulai saat ini kita – seluruh penduduk bumi – harus sama-sama menjadi “hijau”. Bukan back to nature dan merubah gaya hidup kita sepenuhnya, tetapi bagaimana prinsip “hijau” itu diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan kita: mobil-mobil harus lebih “hijau”, dengan mengkonsumsi lebih sedikit bahan bakar minyak; penyejuk udara kita harus “hijau”, mengkonsumsi sangat sendikit listrik – yang sebagian besar dibangkitkan dari batubara dan minyak bumi; seluruh peralatan rumah tangga kita, bola lampu, mesin cuci, seopeda motor, TV, dan sebagainya, juga harus “hijau”, dengan mengkonsumsi energi jauh lebih sedikit.

Itu solusi terdekat kita. Solusi jangka penjangnya adalah dengan berupaya menciptakan sumber-sumber energi dari elektron yang berlimpah, ramah lingkungan, murah, dan tentunya membawa manfaat ekonomi bagi siapa pun, baik produsen maupun konsumen. Pembangkit-pembangkit listrik dari energi “kotor”: minyak dan batubara, harus direduksi sampai pada level yang signifikan. Industri-industri beroperasi juga dengan energi elektron yang bersih dan ramah lingkungan: energi surya dan angin.

Energi bersih tentu akan sulit diciptakan, tanpa adanya upaya “menciptakan” pasar. Peran regulasi dan kebijakan negara sangat penting dalam menggulirkan “revolusi” energi bersih ini. Selama AS dan negara-negara lainnya masih menjadikan minyak sebagai priomadona, sampai rela berdarah-darah demi mendapatkan pasokan minyak dari Timut Tengah, selama itu pula energi bersih itu tidak akan berkembang sampai pada skala yang diinginkan.

 

 

Hentikan Eksploitasi Sumberdaya Alam!

Jangan salah menafsirkan judul di atas. Itu bukan kalimat yang muncul dari saya, tetapi dari seorang akademisi senior dari salah satu kampus besar di Bandung. Beliau adalah seorang ahli kebumian, tetapi sangat konsen dengan kelestarian dan keindahan alam. Maklum, beliau sendiri saat ini menekuni bidang pariwisata, dan mendapat gelar guru besar, atau profesor, di bidang itu.

Sabtu kemaren, 21 November 2009, saya bersama beliau sama-sama mengisi sebuah seminar kecil, tentang bidang keahlian geologi. Sesi pertama diisi oleh beliau, sesi ke dua baru saya.

Selama beliau presentasi, saya cukup konsen mendengarkan, karena ingin belajar banyak dari beliau. Di tengah presentasi, saya cukup surprise ketika beliau mengatakan kurang lebih, “Bagi para ahli kebumian, tolong hentikan paradigma bahwa sumberdaya alam itu untuk dieksploitasi!” Beliau melanjutkan, bahwa Jepang, salah satu contohnya, membiarkan ikan-ikannya hidup dengan tenang, dan lebih memilih untuk membeli ikan dari Indonesia. Begitu juga dengan hutan mereka. AS pun melakukan hal serupa, mereka tidak menambang habis emas-emasnya, dan lebih memilih untuk mengambilnya dari Papua.

Beliau mempunyai ide bahwa sumberdaya alam Indonesia, khususnya barang-barang tambang, sebaiknya tidak diambil. Kita tetap bisa mengambil manfaat ekonomi dari sumberdaya alam tersebut, tanpa harus menggali dan menimbulkan kerusakan lingkungan. Caranya yaitu dengan menjual informasinya. Dengan kata lain, nilai wisatanya yang diangkat. Beliau mendasarkan argumennya pada fakta bahwa devisa negara terbesar ke dua, setelah minyak dan gas bumi, berasal dari pariwisata.

Indonesia, menurutnya, memiliki potensi wisata yang sangat besar. Wilayah Indonesia bagian timur, beliau mencontohkan keindahan alam Papua, sebagian besar belum digali. Teluk-teluk di sana sungguh mempesona. Pantai-pantainya yang eksotik, airnya yang jernih, ikan-ikannya yang indah, serta rumput-rumput laut yang menawan, dan sebagainya. Seandainya Indonesia bisa membuat kapal yang bagian bawahnya terbuat dari kaca, tentunya yang anti bocor akibat tumbukan karang, pastilah laku keras dan memiliki nilai jual wisata yang tinggi. Dari situ kita bisa tetap mengambil manfaat ekonomi dari sumberdaya alam, tanpa mengeksploitasinya.

Sebagai seorang yang berlatar belakang eskplorasionis, serta bekerja di Industri perminyakan yang kerjanya “mengeksploitasi” minyak dan gas bumi, dahi saya langsung berkerut mendengarkan ide-ide cemerlang beliau. “Apa bisa ya, kita mendapatkan manfaat ekonomi suatu sumberdaya alam dengan optimal, tanpa mengambil dan memanfaatkannya?” Ide brilian beliau tentu sangat saya apresiasi. Namun, saya masih memiliki catatan-catatan kecil, sebelum dapat menerima ide beliau itu secara bulat.

Saya memiliki keyakinan bahwa sumberdaya alam yang ada di bumi ini seluruhnya adalah karunia Allah bagi kesejahteraan manusia, untuk dikelola dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Persoalannya, bagaimana agar  ‘pengelolaan’ dan ‘pemanfaatan’  tersebut dilakukan dengan cara-cara terbaik.

Dengan demikian, saya memandang bahwa sumberdaya alam, khususnya barang-barang tambang, bisa saja kita gali sesuai kebutuhan. Syaratnya: pertama, nilai ekonomisnya lebih besar jika ditambang, dibandingkan dengan cara lainnya, katakanlah dengan dijual nilai wisatanya. Untuk minyak dan gas bumi, meskipun cukup sulit untuk bisa membandingkannya secara kuantitatif, saya melihat bahwa dengan ditambang, jelas manfaat ekonominya lebih besar.

Ke dua, tidak merusak alam, atau mengganggu keseimbangan ekologis. Saya melihat, kerusakan alam akibat kegiatan pertambangan bukan persoalan teknis, tetapi lebih merupakan masalah moral. Reklamasi adalah persoalan mudah secara teknis, begitu juga dengan reboisasi, meskipun kadang cukup mahal. Tetapi para penambang, baik penambang resmi maupun gelap, seringkali meninggalkan begitu saja lahan yang diperahnya. Sejauh lingkungan pasca penambangan bisa di-recovery, maka eksploitasi bisa dibenarkan.

Ke tiga, swakelola, atau mandiri dalam pengelolaannya. Sayangnya, hal ini belum  mampu kita lakukan sepenuhnya. Lihat bagaimana cadangan dan produksi minyak dan gas bumi kita, yang sekitar 80%-nya dikuasai asing. Dengan konsep production sharing, maka otomatis sebagian, atau mendekati separuh, minyak bumi kita dimiliki asing. Dari sekitar 950 ribu barel minyak bumi yang diangkat dari perut bumi kita, 300 – 400 ribu barelnya diboyong oleh kontraktor asing ke luar negeri, itu di luar ekspor minyak mentah kita.

Begitu juga dengan tambang emas di Freeport. Saya cukup prihatin, salah satu tambang emas terbesar di dunia, dan merupakan yang terbesar di Indonesia tersebut, “hanya” memberikan sumbangan ke negara 1 milyar dollar saja setiap tahunnya. Saya pikir itu sangat tidak sebanding dengan kerusakan yang terjadi, dan terkuras-habisnya mineral berharga tersebut dari bumi pertiwi.

Untuk kasus Freeport, saya sepakat dengan sang profesor tadi.