Syukur Wajib,Terima Kasih Harus

Orangnya terbilang kreatif, agamis, menokoh di kampungnya, serta pencetus ide-ide yang tak banyak dipikirkan orang. Aku mengenalnya cukup dekat. Juga banyak belajar darinya.

Suatu ketika, seperti waktu-waktu sebelum dan sesudahnya, aku berdiskusi dengannya. Dia mengatakan, “Saya sudah sampaikan ke Si Anu dan Si Itu, kamu tidak perlu menjadikan beasiswa yang kamu terima itu sebagai beban. Kamu jangan berpikir karena kamu telah disekolahkan oleh Pemda Indramayu, maka kamu harus memberikan sesuatu untuk Indramayu.”

“Sudahlah. Nikmati saja, jangan jadikan beban. Itu rejeki dari Tuhan. Pemda hanya perantara. Beasiswa itu cuma salah satu cara Tuhan memberikan rejeki, agar kamu bisa melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi”. Kira-kira seperti itu tuturnya.

Tak ada bantahan sama sekali dariku. Aku tahu maksud dia baik.  Aku cuma berpikir, itu cara berpikir yang bagus, tetapi pincang. Rejeki memang dari Tuhan, tapi Tuhan punya mekanisme (sunnatullah) penyaluran rejekinya tersendiri. Tuhan punya “kepanjangan tangan-Nya” di muka bumi. Tuhan punya “agen-agen” penyalur rejeki, pengikat jodoh dan penjemput kematian.

Dalam mushaf-Nya yang suci, Tuhan mengajari kita untuk berbakti pada orang tua, lebih-lebih pada sang ibu. Kita semua mafhum, bahwa ‘hidup’ itu mutlak kehendak Tuhan. Tapi Tuhan juga menyiapkan “agen” tempat bersatunya jasad dan ruh kita, sehingga kita bisa hidup. “Agen” itu adalah ibu. Ya, ibu yang telah melahirkan semua manusia.

Mengapa kedudukan ibu begitu mulia dalam pandangan Tuhan? Bahkan menempati urutan ke tiga, setelah pengabdian kita kepada Tuhan dan Utusan-Nya? Bukankah kita bisa mengatakan, “Kita tak usah berterima kasih pada ibu, apalagi berbakti. Toh, hakikatnya Tuhan yang “melahirkan” kita, menghidupkan kita”?

Bakti kita kepada ibu adalah bentuk terima kasih paling agung, kepada sesama makhluk-Nya, karena jasa-jasanya yang begitu besar. Tuhan ingin, selain agar manusia bersyukur pada-Nya, juga berterima kasih pada makhluk-Nya yang berjasa.

Ketika kita diberi rejeki, entah berupa hadiah atau apa, kita tentu wajib bersyukur pada-Nya. Tetapi kita juga harus berterima kasih pada orang yang jadi “agen” penyalur rejeki kita. Bentuk terima kasih yang paling ringan adalah ucapan. Bentuk terima kasih paling agung adalah bakti.

Aku sendiri termasuk penerima beasiswa pendidikan tinggi itu. Aku pun tentu wajib bersyukur, karena hakikatnya itu rejeki dari Yang Kuasa. Tetapi aku pun harus berterima kasih, pada “agen” penyalur rejeki itu, yaitu Rakyat Indramayu, melalui kebijakan Pemerintah Daerahnya. Karenanya, bakti pada masyarakat Indramayu, sebagai bentuk terima kasih paling agung, adalah konsekuensi yang wajar. Apalagi, beasiswa itu diberikan dengan sejumlah asa, agar kelak yang diberi beasiswa itu mampu mengangkat nama harum Indramayu. Oh, sungguh, itu suatu amanah yang berat.

Bagi siapa pun kita, jika tak sanggup memberikan bakti sebagai persembahan terima kasih yang terbaik, cukup ucapkan setulus-tulusnya. Bahkan, kalau pun tak ada ketulusan dari yang menyalurkannya, tetap ucapkan. Karena itu sarat minimal, agar kita tak digelari manusia tak tahu terima kasih.

Reorientasi ‘Perspektif’ dan ‘Dimensi’ Kalbu Indramayu

Kalbu Indramayu adalah salah satu forum mahasiswa asal Indramayu, yang anggotanya tersebar di berbagai kota: Bandung, Jogja, semarang, dan Jakarta. Forum ini didirikan pada tahun 2004, sebagai kumpulan mahasiswa penerima beasiswa dari Pemda Indramayu. Komitmen Kalbu Indramayu adalah untuk menghasilkan alumni-alumni yang diharapkan mampu memberikan kontribusi ril bagi kemajuan Indramayu di masa-masa mendatang.

Ketika akan merintis KALBU, saya mencoba memproyeksikan diri ke ‘alam masa depan’, untuk masa 10 – 20 tahun ke depan. Saya mencoba menangkap ‘pesan filosofis’ dari program learning camp yang sudah kita lalui bersama, tentunya juga dengan perspektif jangka panjang.

Di sisi lain, saya juga sadar, bahwa kita hidup pada masa sekarang; saat ini, di sini. Oleh karena itu, konteks ke-kini-an juga tidak bisa kita abaikan.

Dengan berlandaskan dua perspektif tadi, lalu saya susun satu untaian pemikiran, untuk menghimpun alumni-alumni learning camp ke dalam suatu wadah moral. Hasilnya adalah KALBU, dengan segenap kekurangan dan sedikit kelebihannya.

Jadi, sebelum jauh kita mengulas KALBU secara mendalam, perspektif kita harus utuh; jangka pendek dan jangka panjang. Munculnya stigma negatif tentang KALBU disebabkan karena perspektif jangka pendek tadi. Tidak salah memang, karena orang-orang di luar KALBU, bahkan mungkin sebagian warga KALBU sendiri, belum bisa melihat perspektif jangka panjang tersebut.

Lantas apa perspektif jangka panjang yang dimaksud? Tidak lain adalah “kiprah alumni KALBU di masa depan, di Indramayu khususnya, dan di tengah-tengah masyarakat pada umumnya”.

Dari sini terlihat, bahwa KALBU semestinya dilihat dari dimensi ‘manusia’nya, bukan ‘organisasi’nya. Sering saya katakan bahwa KALBU adalah ‘organisasi’ yang berorientasi ‘kepemimpinan’, kepemimpinan yang akan melahirkan pemimpin-pemimpin (saya tentu tidak akan mengulas definisi ‘pemimpin’. Sudah cukup banyak pakar dan buku yang bisa dibaca untuk memahami istilah ini). Konsekuensi logisnya adalah: wujud KALBU merupakan ‘organisasi pembinaan’ yang orientasinya ‘ke dalam’.

Satu-satunya output utama yang diharapkan dari KALBU adalah lahirnya pemimpin-pemimpin tadi, baik dalam perspektif jangka pendek, maupun jangka panjang. Sekali lagi, bukan terletak pada performance ‘organisasi’nya, melainkan ‘manusia’nya.

Itu dulu dipahami.

Selanjutnya saya akan mengulas konteks jangka pendek – jangka panjang tadi secara lebih mendalam.

Perspektif Jangka Panjang

Saya teringat kata-kata Sang Proklamator negeri ini yang amat populer. Meski sudah bias, tapi kira-kira bunyinya seperti ini: “Beri aku sepuluh orang tua, maka aku akan angkat sebuah gunung. Tapi beri aku sepuluh orang pemuda, maka akan ku goncangkan dunia”. Saya berpikir sejenak, benarkah ‘hanya’ sepuluh orang? Tidakkah berlebihan bahwa jumlah yang amat sedikit bisa membuat suatu perubahan sedemikian besar? Lantas saya coba sedikit melongok ke masa-masa awal kemerdekaan RI, masa pada saat Sang Proklamator tadi hidup. Saya melihat fakta sederhana, bahwa sejarah hanya mengukir sedikit nama di balik peristiwa 1945 yang jadi tonggak lahirnya bayi bernama ‘Indonesia’. Soekarno, Hatta, Syahrir, Agus Salim, M. Natsir, adalah bagian dari yang sedikit tadi.

Pada tahun 1957, Indonesia mulai mengirimkan beberapa mahasiswa ke USA, tepatnya di Univ. Berkeley. Mereka mendalami bidang ekonomi, dengan biaya dari Ford Foundation. Kira-kira 10 tahun kemudian, pada masa awal pemerintahan Soeharto, mereka kembali sebagai ‘arsitek’ ekonomi Indonesia. Soemitro, Widjojo, Emil Salim, JB. Soemarlin adalah bagian dari golongan yang sedikit, yang menentukan wajah ekonomi Indonesia hingga 32 tahun kemudian. Bahkan hingga 10 tahun setelah masa reformasi, 2008, jejak pondasi ekonomi yang mereka ‘cetak’ masih mengakar kuat. Kaderisasi pun berlanjut hingga Dorodjatun Koentjoro Jakti, dan terakhir Sri Mulyani, yang ditengarai masih satu aliran dengan sesepuhnya. Anda tentu tahu istilah ‘Mafia Berkeley’? Merekalah orangnya.

Mungkin saya cukupkan penjelasan saya sampai di sini, untuk meyakinkan bahwa: Tidak dibutuhkan banyak orang untuk membuat perubahan besar, pada tataran apa pun. Bahwa suatu perubahan butuh momentum dan banyak dukungan, ya !! Tapi hanya sedikit orang yang bisa membidani lahirnya momentum dan menarik dukungan tadi.

Langkah Bupati Indramayu untuk menyekolahkan ‘segelintir’ orang dari Indramayu, tentu didasari hasrat akan adanya perubahan besar. Lantas perubahan besar apa yang dikehendaki Pemda Indramayu? Tentu bukan pertanyaan yang penting untuk dijawab. Yang terpenting adalah, perubahan besar apa yang bisa diberikan oleh orang-orang yang disekolahkan tadi untuk Indramayu?

Kalau mau disederhanakan, KALBU adalah ‘tempat duduk’ untuk memikirkan, merenungi dan merencanakan jawaban atas pertanyaan tersebut. Setelah ketemu jawabannya, barulah ‘silahkan berdiri’ untuk melangkahkan kaki menjemput puncak perubahan. Jadi, jejak KALBU pada jiwa anggotanya adalah jawaban atas pertanyaan: “perubahan besar apa yang bisa saya berikan untuk Indramayu?”. Tidak lebih. Karena selebihnya Anda sendiri yang menentukan, dalam bidang apa, dengan cara apa dan dari mana memulainya.

Apakah berarti ke depan kita akan berjalan sendiri-sendiri untuk menyongsong perubahan besar tadi? Nah, inilah poin inti yang ingin saya sampaikan. Fakta sederhana yang ke dua adalah: perjuangan untuk suatu perubahan, betapa pun kecilnya, ia selalu bersifat ‘kolektif’, bukan ‘individual’. Untuk itulah dibutuhkan pertanyaan lanjutan, “langkah kolektif apa yang bisa kita lakukan untuk suatu perubahan besar di Indramayu?”.

Pengangguran, kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan, adalah sedikit dari akar persoalan yang melanda Indramayu. Bukankah tidak asing lagi kita mendengar “TKW asal Indramayu mengalami ini dan itu?”, “para petani dan nelayan di Indramayu gagal itu dan anu?”, “tingkat prostitusi, penjualan wanita dan anak di Indramayu masih begitu?”, dan seterusnya? Meskipun fakta-fakta seputar itu sekarang tertutupi oleh gegap gempita keberhasilan Pemerintah Daerah dalam membangun pilar-pilar simbolis.

Dibutuhkan langkah kolektif dan terintegrasi untuk mengatasi seabreg persoalan tersebut, tidak sepotong-sepotong, dan bergerak dari sendi yang paling dasar. Impossible itu semua bisa dilakukan, tanpa manusia-manusia yang punya ‘kapasitas besar’. Impossible itu semua bisa dilakukan, tanpa keselarasan langkah.

Indramayu butuh Soekarno-Hatta-Natsir-Syahrir yang baru, yang akan membebaskan Indramayu dari ‘penjajahan kemiskinan dan kebodohan’. Indramayu butuh “Mafia Berkeley” yang baru, yang akan menjadi ‘arsitek’ ekonomi-pertanian di Indramayu, untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang hakiki.

Oleh karena itu, mari selaras dan serasikan langkah menggapai Indramayu masa depan yang jauh lebih baik dan bermartabat, di bawah naungan ridho dari Allah SWT.

Perspektif Jangka Pendek

Sebelum kita jauh terbuai oleh romantisme masa depan tersebut, mari kita kembali ucek-ucek mata kita, untuk menyadari keberadaan kita saat ini. Karena inilah yang seringkali menjadi ‘kerikil’ yang akan mematahkan langkah kaki perjuangan kita selamanya. Orang seringkali selamat dari batu sandungan yang besar, tapi tidak jarang yang terperosok jatuh akibat kerikil yang kecil.

KALBU yang masih ringkih, hadir di tengah-tengah komunitas kemahasiswaan Indramayu lainnya. Meski diawali dengan satu niatan tulus dan idealisme yang tinggi, tetap saja tidak pernah lepas dari kontroversi. Apa saja yang menjadi kontroversi tersebut? Itu tidak akan saya ulas di sini. Saya hanya mengajak KALBU untuk menempati posisi yang tepat, agar tidak terkesan ‘mengancam teritori’ organisasi lainnya, atau pun menyentil ego kemapanan kultural dan struktural kemahasiswaan Indramayu.

Sebagaimana saya uraikan di awal, hendaknya KALBU dilihat dari dimensi ‘manusia’nya, bukan ‘organisasi’nya. Saya sama sekali tidak keberatan, kalau ‘organisasi KALBU’ raib. Toh, paling lambat 2015, ketika kebijakan learning camp berakhir bersama Pak Yance di 2010, ‘organisasi KALBU’ akan pamitan juga. Tapi saya cukup risau, ketika ‘manusia KALBU’ yang luntur. Kalaupun harus memilih, biarlah ‘organisasi KALBU’ menghilang, tapi ‘manusia KALBU’ tetap utuh, daripada saya harus memilih sebaliknya.

Ingat, ‘manusia KALBU’ di sakunya ada 2 pertanyaan: (1) Perubahan besar apa yang bisa SAYA berikan untuk Indramayu?, dan (2) Langkah kolektif apa yang bisa KITA lakukan untuk perubahan besar di Indramayu?. Karena letaknya ada di ‘saku’, pertanyaan itu bisa Anda buang dengan mudah, jika mau. Tapi sebaiknya itu tidak Anda lakukan. Mengapa? Ada 2 alasan, (1) Pertanyaan itulah salah satu sumber kemuliaan hidup, yang bahkan Rasulullah sendiri memujinya, “sebaik-baik manusia ialah yang paling bermanfaat bagi manusia”. (2) Pertanyaan itulah yang merupakan ‘pesan filosofis’ dari program learning camp yang saya maksudkan di awal.

Kalau kita proyeksikan 2 pertanyaan tadi ke dalam perspektif jangka pendek, maka pertanyaannya menjadi: (1) Perubahan besar apa yang bisa SAYA berikan untuk kemahasiswaan Indramayu? Dan (2) Langkah kolektif apa yang bisa KITA lakukan untuk memajukan kemahasiswaan Indramayu?.

Terlihat paradoks memang. Satu sisi kita mendirikan ‘organisasi KALBU’, tapi semangatnya bukan membangun ‘organisasi KALBU’, melainkan untuk membangun ‘selain KALBU’. Sebenarnya kalau kita cermati ambiguitas ini, akan tersibak dengan jelas hakikat keberadaan KALBU bagi organisasi mahasiswa Indramayu lainnya. Tapi syaratnya kita harus benar-benar bisa membedakan antara ‘dimensi manusia’ dan ‘dimensi organisasi’ KALBU itu sendiri.

KALBU hadir bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk sesuatu yang lebih besar, yaitu ‘kemahasiswaan Indramayu’. Itu tidak lain, karena ‘dimensi manusia’nya yang berperan. KALBU akan sangat bangga ketika ‘manusia’nya menjadi pelopor di IKA DHARMA AYU, menjadi penggerak di HIKMI, menjadi motor di KAPMI, serta menjadi agen-agen perubahan dalam kemahasiswaan Indramayu di mana pun.

Dengan semangat itu, kita akan menempatkan persoalan-persoalan yang sifatnya ‘formal-kelembagaan’ antara KALBU dengan organisasi mahasiswa Indramayu lainnya, ke dalam prioritas ke sekian, mungkin ke seribu. Dan dengan perspektif demikian pula, maka segala friksi dan gesekan-gesekan ‘kekanakan’ akan bisa kita sikapi dengan lebih bijak.

Terakhir, bagi siapa pun yang ingin ‘maju’ membangun KALBU, bangunlah ‘manusia’nya, bukan ‘organisasi’nya. Namun demikian, bukan berarti kita abaikan sama sekali. Bangunlah dimensi organisasi Kalbu dengan elok dan elegan, karena itu akan diperlukan untuk membangun dimensi manusianya.

Wallahu a’lam

Divergensi Peran, Konvergensi Visi: Perspektif Memaknai KALBU

‘Dimensi Organisasi’ dan ‘Dimensi Manusia’ Kalbu: Paradoks Pertama

Untuk menganalisis Kalbu secara lebih tajam, kita harus terlebih dahulu mengenali ‘dimensi organisasi’ dan ‘dimensi manusia’nya. Tujuan hakiki dari pendirian Kalbu sesungguhnya adalah menyangkut ‘dimensi manusia’nya (sebagaimana pernah saya tekankan pada artikel sebelumnya).  Pengembangan ‘dimensi organisasi’ Kalbu sejatinya diarahkan untuk mendukung pembangunan ‘dimensi manusia’nya.

Sebagian anggota Kalbu mungkin menilai, bahwa kegiatan Kalbu akhir-akhir ini mulai surut. Gegap gempitanya mulai redup. Keaktifan anggotanya menyusut. Milisnya makin sepi. Kerjasama dengan organisasi mahasiswa Indramayu lainnya mulai tidak nampak. Dan yang vital, intensitas silaturahim antar anggota mulai berkurang. Perlu diketahui, selain persoalan yang terakhir disebutkan, sebagian besar ‘realitas-realitas’ tersebut menyangkut ‘dimensi organisasi’ Kalbu. Artinya, itu adalah persoalan-persoalan sekunder Kalbu, meskipun bukan berarti kita abaikan sama sekali.

Sewaktu saya menanyakan kepada salah seorang pengurus Kalbu, “Kenapa Kalbu kok sepi-sepi aja?”. Dia menjawab, “Kita masih fokus ngurusin beasiswa kang, khususnya untuk anak-anak 2008 yang terancam DO”. Saya terenyuh. Jika memang benar, saya menilai apa yang dilakukan oleh pengurus Kalbu sudah tepat. Mengapa? Itulah salah satu contoh persoalan primer yang menyangkut ‘dimensi manusia’ Kalbu. Sampai di sini, sepintas mungkin akan samar membedakan ‘dimensi manusia’ Kalbu dengan ‘kepentingan pribadi’ anggotanya, sebagaimana tersirat dari persoalan beasiswa tadi. Untuk itu, mari kita lihat di mana ‘irisan’nya.

Bila ada seorang mahasiswa asal Indramayu terancam DO, secara langsung, memang itu persoalan pribadi (juga keluarganya). Orang sekitarnya pun secara simultan akan tergerak membantu karena empati dan naluri kemanusiaan. Namun, konsekuensi persoalannya kadang tidak sesederhana itu. Tengoklah beberapa pertanyaan berikut. Bagaimana jika ia sebenarnya anak yang berbakat, bahkan berpotensi menjadi ‘orang besar’? Bagaimana jika anak itu sebenarnya memendam obsesi yang agung untuk memajukan masyarakatnya? Bukankah di masa depan ia akan menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang di sekitarnya? Akankah peran-peran besarnya di masa depan terhalang oleh himpitan finansial ‘semata’? Jika memang demikian kondisinya, Indramayu patut sedih.

Pertanyaan-pertanyaan di atas menggambarkan bahwa benang merah antara keduanya (‘kepentingan Kalbu’ dan ‘kepentingan pribadi anggotanya’) adalah ‘peran anggota Kalbu di masa depan’. Mengapa? Analogi berikut ini mungkin akan memperjelas maksud saya.

Ada dua tebing terjal yang dipisahkan oleh ngarai yang menganga dan dalam. Sisi tebing yang satu adalah ‘kepentingan pribadi’, sisi lainnya adalah ‘kepentingan masyarakat Indramayu’ (kepentingan sosial dalam konteks Kalbu), dan ngarai itu adalah ego dan ambisi pribadi! Kedua tebing itu dihubungkan oleh jembatan ‘kontribusi’, atau bahasa lainnya ‘peran’. Keberadaan ‘dimensi organisasi’ Kalbu adalah untuk membangun dan mengokohkan jembatan ‘peran’ anggota Kalbu bagi Indramayu. Ego dan ambisi pribadi tentu tidak bisa dihilangkan sepenuhnya (sebagaimana kita tidak mungkin mengurug ngarai yang memisahkan dua tebing), tapi ‘peran’ itulah yang akan menjembataninya.

Peran-peran besar tentu harus ditopang oleh prestasi-prestasi besar dari manusia-manusia yang punya kelimpahan mental untuk berbagi terhadap sesamanya. Dari sini terlihat ada dua aspek mendasar yang harus dibangun dalam diri ‘manusia Kalbu’. Pertama, pengembangan kapasitas. Ke dua, pengembangan moralitas. Pengembangan kapasitas diri menyangkut wawasan, keahlian, profesionalisme, jaringan, serta kemampuan untuk menghasilkan karya-karya positif. Pengembangan moralitas menyangkut pembangunan mental-spiritual yang mengarah kepada semangat untuk berbagi serta keberanian mengambil peran di tengah masyarakat, tentunya setelah ditopang oleh kapasitas tadi. Pada titik inilah, ‘kepentingan (yang seolah-olah) pribadi’ bagi anggota Kalbu menjadi ‘kepentingan Kalbu’. Inilah letak paradoksnya.

Divergensi Peran, Konvergensi Visi: Paradoks ke Dua

Dengan menekankan pada aspek pengembangan ‘dimensi manusia’ Kalbu, setidaknya ada dua konsekuensi yang melekat. Pertama, Kalbu mewujud menjadi semacam ‘organisasi pembinaan’. Tentu, maksud pembinaan di sini sama sekali tidak terkait dengan ideologi tertentu, layaknya sekte-sekte religi, atau ‘isme-isme’ sosial. Pembinaan di sini difokuskan pada bagaimana agar anggota Kalbu memiliki visi pribadi dan visi sosial yang jelas. Selanjutnya, bagaimana agar tangga demi tangga untuk mencapai visi itu mulai dipijak dan dirintis bersama.

Ke dua, karena pada dasarnya setiap individu punya kecenderungan, bakat-bakat, serta cara-cara yang berbeda untuk mencapai tujuannya, maka pembinaan di Kalbu sifatnya persuasif dan terdiversifikasi. Kalbu tidak hendak memaksakan, atau bahkan sekedar memberikan pilihan terbatas, pada anggotanya. Kalbu juga tidak menghendaki adanya ‘penyeragaman’ yang melucuti karakter. Memang, Kalbu menginginkan setiap anggotanya memiliki visi, tetapi apa pun visinya, itu sepenuhnya merupakan kehendak bebas dari nurani masing-masing. Kalbu harus membiarkan, sekaligus memberikan program-program yang mendukung, pertumbuhan bakat setiap anggotanya.

Kita tahu bahwa kehidupan bermasyarakat dan barbangsa memiliki banyak dimensi: ekonomi, politik, sosial-budaya, agama, serta sektor-sektor turunannya. Dalam lingkup wilayah yang lebih kecil pun, misalnya kabupaten, tidak akan banyak mereduksi kompleksitas bidang-bidang tersebut, kecuali intensitas atau mungkin cakupannya saja. Oleh karenanya, membangun atau memajukan kehidupan suatu masyarakat, pada tataran apa pun, jelas bukanlah perkara sederhana.

Namun demikian, jika kita cermati, setiap bidang-bidang kehidupan tersebut memiliki ‘aktor-aktor kunci’. Karena sifatnya ‘kunci’, tentu tidak banyak sosok dalam lingkaran tersebut. Pertengahan dekade 1990-an, hampir setiap anak bangsa ini menyaksikan karya besar seorang Habibie, yang berhasil menerbangkan N250, pesawat jet komersil yang bisa disejajarkan dengan produk Boeing (AS) maupun Airbus (Eropa). N250 hanyalah puncak gunung es dari serangkaian prestasi pengembangan teknologi yang dilakukan Habibie di Indonesia. Sayangnya, gunung es itu harus meleleh oleh arus panas yang mengalir deras dari kubangan ekonomi-politik.

Dalam bidang ekonomi, kita pun mengenal ‘aktor kunci’ yang lain, Widjojo, yang diyakini sebagai arsitek sekaligus peletak batu pertama pondasi ekonomi orde baru. Begitu sentralnya peran Widjojo, sampai pada masa itu berkembang istilah “widjojonomics”. Ide dan pemikiran ekonominya kemudian diwariskan dan dikembangkan secara turun temurun oleh ‘mafia berkeley’. Salah satu aktor kunci yang bisa kita saksikan kiprahnya hari ini, di antaranya ialah Sri Mulyani, sosok menteri keuangan terbaik di Asia, yang diyakini punya peran besar dalam pembangunan ekonomi pada periode SBY. Siapa pun yang mengamati kondisi departemen keuangan saat ini, akan sulit membantah prestasi kepemimpinan ekonom UI yang satu ini.

Dalam bidang-bidang yang lain, kita pun akan dengan mudah menemukan aktor-aktor kunci. Yang jadi persoalan, kadang di antara aktor-aktor kunci ini tidak terjalin kesamaan visi, keharmonisan langkah, atau bahkan sekedar ‘empati sektoral’ (saling memahami urgensi bidang yang lain), apalagi kerjasama yang saling menguatkan satu sama lain. Dekade 1990-an, masih menceritakan kiprah sosok di atas, kita menyaksikan ‘perang dingin’ antara dua paham: “widjojonomics” versus “habibienomics”, yang berakhir dengan rontoknya “habibienomics”. Andai saja keduanya bisa bersinergi, tentu kondisinya akan jauh lebih baik.

Meski lingkupnya jauh lebih besar, uraian pendek tentang ‘aktor-aktor kunci’ di atas memberikan beberapa pelajaran penting bagi Kalbu. Pertama, jika kita ingin memiliki ‘peran besar’ dalam kehidupan bermasyarakat, khususnya di Indramayu, kita harus berani bervisi untuk menjadi ‘aktor kunci’. Ke dua, agar efektif, aktor-aktor kunci ini harus tersebar di berbagai bidang. Ke tiga, aktor-aktor kunci ini harus mampu bersinergi. Di sinilah paradoksnya: kita harus menyebar ke berbagai bidang (divergensi peran) dan, pada saat yang sama, kita harus memiliki satu visi (konvergensi visi). Visi yang dimaksud adalah membangun Indramayu.

Melihat ‘prestasi’ akademik yang dimilikinya, saya cukup yakin bahwa anggota Kalbu punya potensi untuk menjadi ‘aktor-aktor kunci’, khususnya dalam lingkup Indramayu. Namun, seberapa banyak yang bisa menjadi aktor kunci, bergantung pada seberapa banyak yang mau mengembangkan potensinya. Inilah tantangan terbesar Kalbu.

Background jurusan yang beragam juga menjadi peluang bagi anggota Kalbu untuk berkiprah dalam berbagai bidang. Pertanyaan besarnya, sudahkan kita punya visi yang jelas, dalam bidang apa kita akan berperan? Pertanyaan ini menuntut konsekuensi yang lain, yaitu: kompetensi apa yang kita miliki dan akan kita kembangkan?

Apa pun bentuk programnya, Kalbu harus bisa membantu anggotanya untuk menjawab kedua pertanyaan tersebut, karena “peran anggota Kalbu bagi Indramayu di masa depan” adalah makna terdalam dari ‘dimensi manusia’ Kalbu. Dan inilah persoalan pimer yang harus kita pecahkan bersama. Oleh karenanya, sepinya ‘kegiatan’ Kalbu tidak lebih merisaukan dibandingkan sepinya ‘prestasi’ anggota Kalbu.