Bupati Indramayu – Dari Masa ke Masa

 

 

 

 

 

 

 

Sekedar ikut mencatat sejarah, siapa tahu berguna bagi warga Indramayu khususnya, dan bagi siapa pun yang berkepentingan terhadap sejarah Indramayu pada umumnya.

1. R. Singalodra (Wiralodra I)

2. R. Wirapati (Wiralodra II)

3. R. Sawedi (Wiralodra III)

4. R. Banggala (Wiralodra IV)

5. R. Banggali (Wiralodra V)

6. R. Samaun (Wiralodra VI)

7. R. Krestal (Wiralodra VII)

8. R. Marngali

9. R. Wiradibrata I

10. RT. Suranenggala

11. R. Djilari (Purbadinegara I) – (1900 – …)

12. R. Rolat (Purbadinegara II) – (1900 – 1917)

13. R. Sosrowardjojo (1917 – 1932)

14. R. AA Moch. Soediono (1933 – 1944)

15. Dr. R. Murdjani (1944 – 1946)

16. R. Wiraatmadja (1946 – 1947)

17. MI Syafiuddin (1947 – 1948)

18. R. Wachyu (1949 – 1950)

19. Tikol Al Moch. Ichlas (1950 – 1951)

20. TB. Moch. Cholil (1951 – …)

21. R. Djoko S. Prawirowidjojo (1952 – 1956)

22. R. Hasan Surjasatjakusumah (1956 – 1958)

23. R. Firman Ranuwidjojo (1958 – pj)

24. Entol Dj. Setiawihardja (1958 – 1960)

25. HA Dasuki (1960 – 1965)

26. M. Dirlam Sastromihardjo (1965 – 1973)

27. R. Hadian Suria Adiningrat (1974 – 1975)

28. HA Djahari, SH (1975 – 1985)

29. H. Adang Suryana (1985 – 1990)

30. H. Ope Mustofa (1990 – 2000)

31. DR. H. Irianto MS Syafiuddin (2000 – 2010)

32. Hj. Anna Sophanah (2010 – …sekarang)

 

Demikian.

Dimuat di Radar Indramayu, 7 Oktober 2010.

 

‘Kehilangan’ Bisa Berarti ‘Menemukan’

Sudah beberapa pekan, Blackberry saya tidak bisa digunakan. Asal ceritanya, di suatu pagi, saya dan beberapa orang kawan sedang berbincang di lingkungan suatu kampus di Jakarta. Posisi gadget ada di saku celana. Sambil ngobrol, sesekali saya pantau pesan-pesan yang masuk. Tak ada indikasi bahwa gadget itu akan rusak. Tiba-tiba saya lihat layar smartphone itu putih bersih, tak ada noktah sedikitpun. Saya coba telpon dengan hp lain, ternyata masuk. Masih nyambung. Wah, gawat nih… LCD-nya rusak!

Saya coba bawa untuk diperbaiki, karena garansinya masih berlaku. Ternyata, setelah dikonfirmasi, tidak bisa. Alasannya ada cacat sedikit di tombol kunci. Wueleh…

Sejak itu, karena saya belum sempat memperbaikinya di luar, rasanya ada yang hilang. Maklum, dengan smartphone itu, saya terbiasa berselancar mencari info-info yang saya minati dengan gampang. Salah satunya, dan yang utama, adalah soal isu pengelolaan sektor energi di Indonesia. Di samping itu, tentu saja, kita bisa terhubung dengan komunitas dan jejaring sosial kapan pun dengan mudah.

Tanpa gadget itu, saya agak sulit mengikuti arus topik-topik utama yang sedang hangat di media secara “real time”, baik soal politik, ekonomi, juga sesekali seputar dunia sepak bola – meskipun saya tidak begitu gandrung main bola. Di kantor pun, waktu untuk berselancar tak begitu banyak, hanya di sela-sela jam istirahat. Praktis, ‘jendela’ info yang saya miliki adalah media ‘konvensional’: TV di rumah, juga langganan majalah Tempo yang sepekan sekali singgah di meja kerja saya.

Sebetulnya, sebelum gadget itu saya punyai, rasanya biasa saja. Toh, dunia tetap mengalir, dengan atau tanpa keterlibatan kita di dalamnya. Lagipula, terlalu banyak sampah informasi yang masuk, juga tak bagus. Terlebih jika kita tengok, pemberitaan yang tak elok lebih sering mendapat tempat dibandingkan dengan info yang bisa memupuk rasa optimisme kita berbangsa.

Salah seorang tokoh bahkan pernah berbagi tips: bacalah buku, bukan berita.

Namun tetap saja, ada yang hilang…

Tak perlu waktu lama, saya segera mendapatkan poin penting dari ‘kehilangan’ ini. Sejak saya punya smartphone, praktis, jam baca buku menurun drastis. Jika sebelumnya saya bisa menghabiskan satu buku dalam sepekan, setelah saya punya gadget itu, saya bahkan pernah membaca satu buku lebih dari sebulan. Itu pun tidak kelar.

Saya lebih asik berselancar, ber-bbm, bahkan ber-game – hal yang sebelumnya sangat jarang saya lakukan.

Bahkan, sesekali, kecenderungan saya yang terlalu akrab dengan gadget itu juga sempat menurunkan kualitas hubungan dengan orang-orang terdekat, lantaran waktu yang saya sediakan untuk mereka tidak sebanyak sebelumnya.

Memang sudah jadi pemandangan yang lumrah, dua orang yang bersebelahan, kerap saling mengacuhkan kehadiran satu sama lain, saking fokusnya pada ‘dunia’nya masing-masing yang luasnya tak lebih dari lima inch itu.

Rupanya, dengan rusaknya smartphone itu, saya bukan kehilangan, malah menemukan kembali kebiasaan yang sudah lama terbangun di dalam diri saya. Saya kembali membaca buku dengan lebih sering dan lebih fokus.

Saat bergelantungan di kereta, tak ada aktivitas lain yang berarti, selain membaca. Waktu setengah – satu jam bisa untuk melahap puluhan halaman buku, yang berisi ilmu dan wawasan yang lebih bermakna, ketimbang mengikuti arus berita yang berserakan di media online.

Saya kembali menemukan gairah membaca, yang sebelumnya sempat mengendur, akibat godaan teknologi informasi yang menawarkan begitu banyak kemudahan.

Ya, dengan ‘kehilangan’ smartphone, saya malah ‘menemukan’ kembali sesuatu yang berharga – kebiasaan dan semangat membaca buku. Bahkan, lebih dari itu, kualitas hubungan dengan orang-orang terdekat  juga kembali membaik.

Ini sama sekali bukan soal sentimen negatif ke smartphone. Gadget semacam itu bisa memberikan banyak manfaat. Tetapi dengan kejadian ini, ke depan, saya akan mendudukkan posisi smartphone secara proporsional. Dia tidak boleh merampas kebiasaan berharga saya, apalagi menurunkan kualitas hubungan saya dengan orang-orang tercinta.

Tiga Kunci Untuk Tiga Situasi

Ada tiga kunci, kata seorang ustadz, bagi seorang muslim untuk hidup bahagia, baik di dunia maupun di akhirat. Tiga kunci ini sekaligus sebagai penawar untuk tiga kondisi umum yang pasti dialami oleh setiap kita.

Situasi pertama adalah di saat kita mendapatkan nikmat, baik berupa kekayaan – meskipun sedikit, jabatan yang baik, kelapangan dan kesehatan yang prima, hubungan yang harmonis, prestasi yang membanggakan, dan sebagainya. Dalam situasi ini, kunci yang harus dipegang oleh seorang muslim, kata ustadz tadi, adalah ‘syukur’. Ya, bersyukur saat mendapatkan nikmat adalah konskuensi logis.

Syukur yang paling agung, masih kata ustadz tadi, adalah ‘membalas’ pemberian Tuhan dengan bertauhid: tidak menyekutukannya dengan apa pun! Memurnikan ketaatan kepada-Nya adalah bentuk syukur paling afdol. Ibadah-ibadah amaliah adalah konsekuensi praktisnya.

Di samping itu, orang yang benar-benar bersyukur tidak akan menggunakan nikmat yang diperolehnya itu untuk maksiat kepada-Nya. Jadi, substansi ‘syukur’ ini ternyata jauh lebih dalam dari sekedar melafalkan: “Alhamdulillah”. Syukur yang timbul dari sanubari akan memberikan keindahan tersendiri di dalam hidup kita. Inilah pangkal kebahagiaan sesungguhnya.

Situasi yang ke dua adalah di saat kita dihadapkan pada situasi sulit, tempaan musibah, kehilangan keluarga atau harta, dicabutnya nikmat sehat, drop-out atau PHK, cerai dan sebagainya. Dalam situasi ini, kata ustadz juga, kunci yang harus dipegang adalah ‘sabar’.

Allah dengan lugas menyatakannya di dalam Qur’an: agar kita mencari pertolongan melalui ‘sabar’ dan sholat, di saat kita tertimpa petaka. Kata Imam Ali, kalau saya tidak salah kutip, ‘sabar’ adalah seumpama ‘kepala’ bagi keimanan seseorang. Ya, begitu sentral peran kesabaran ini di dalam menyokong keimanan. Sangat masuk akal, karena ketidaksabaran adalah salah satu titik lemah bagi robohnya keimanan.

Sama dengan ‘syukur’, untuk bersabar, kita juga perlu betul-betul meyakini bahwa memang cobaan itu adalah ‘kreasi’ Tuhan untuk menguji kita. Bahkan dalam suatu dalil dinyatakan, kurang lebih: jika Tuhan mencintai seseorang, Dia akan betul-betul mengujinya. Keyakinan ini akan mengarahkan kita pada sudut pandang yang tetap positif, seburuk apa pun situasinya. Wajar, jika dengan ‘sabar’, seseorang akan bahagia – pada akhirnya.

Situasi yang ke tiga adalah saat kita khilaf. Setiap manusia, sudah menjadi semacam aksioma, pasti tidak luput dari salah. Adalah penting untuk selalu waspada agar tidak melakukan kesalahan dan maksiat. Tetapi yang jauh lebih penting, karena aksioma tadi, adalah bagaimana tindakan kita apabila sadar telah melakukan kesalahan. Di sinilah peran kunci ke tiga: ‘taubat’.

Ya, taubat adalah ‘sahabat’ ke tiga setelah ‘syukur’ dan ‘sabar’, untuk mengarungi hidup ini. Bertebaran janji Allah di dalam Al-Qur’an, bahwa Dia Maha Pengampun dan akan mengampuni dosa hambanya yang bertaubat. Karena itu, manfaatkan sifat kemuliaan-Nya ini dengan sebaik-baiknya. Tidak ada jaminan, orang yang melakukan kebaikan akan selalu masuk surga. Juga tidak ada yang tahu, bahwa yang melakukan maksiat pasti punya kavling di neraka. Ya, rahasianya adalah ‘taubat’.

Itulah sekelumit makna yang saya serap, dari khatib Jumat siang tadi.

Indonesia Tuan Rumah Piala Dunia 2022 ?

Saya penikmat pertandingan bola, tetapi bukan penggemar atau pemerhati sepak bola. Jadi, jangankan tahu peta sepak bola dunia, nama-nama pemain top pun banyak tidak tahu.

Saya pun tidak begitu mengikuti perkembangan dunia sepak bola tanah air, jadi tidak tahu banyak sejauhmana sistem persepakbolaan kita dikelola. Yang saya tahu, selama 65 tahun merdeka, kita belum pernah sekalipun lolos ke piala dunia. Karena itu kening saya berkerut, melihat beberapa media publikasi yang menyatakan keinginan kita untuk menjadi tuan rumah piala dunia 2022 (gbr di samping dari sini). Beberapa sumber menyebutkan kita telah dicoret sebagai calon tuan rumah piala dunia 2018 dan 2022, tetapi sebagian dari kita tampaknya masih berupaya memperjuangkannya. Spanduk-spanduk yang mempromosikan ide itu juga masih terpasang.

Saya sendiri masih belum yakin, kalau pun nanti FIFA meralat keputusannya dan memberikan kesempatan kepada kita untuk menjadi tuan rumah piala dunia 2022, kita akan mampu. Berikut ini beberapa hal yang jadi pertimbangan saya.

Pertama, apa kita bisa menjamin, dari tahun 2010 hingga mendekati 2022, tidak ada bom meledak lagi? Masih ingat kasus “penyambutan” kedatangan MU ke tanah air? Semua berantakan, bahkan ketika tiket sudah habis terjual. Saya tidak tahu, apakah nanti kalau kita sudah ditetapkan menjadi tuan rumah oleh FIFA, terus ada bom meledak dan even akbar itu batal, Indonesia kena sanksi? Kalau pun tidak ada sanksi, mau ditaro di mana muka bangsa kita nanti?

Ke dua, banyak yang memprediksi bahwa dalam beberapa tahun ke depan, Jakarta akan macet total. Tentu itu terjadi jika tidak ada upaya radikal untuk mengatasinya. Tanpa ada arus masuk turis pun, Jakarta sudah macet bukan main. Lalu, bagaimana jika dalam waktu singkat, manusia dari berbagai belahan dunia tumpah ruah di Jakarta? Siapkah Jakarta dengan transportasi massal yang ramah dan manusiawi? Bagaimana juga kesiapan Surabaya, Bandung, atau Palembang?

Ke tiga, ini barangkali yang sangat merisaukan, bisakah para supporter tanah air menghormati tamunya dengan santun? Kita tahu bahwa beberapa tahun belakangan ini, para supporter sepak bola tanah air kerap bikin ricuh, bahkan dengan masyarakat sekitar. Jika dengan sesama anak bangsa saja demikian, lalu bagaimana dengan orang asing? Akan “selamat” kah mereka selama menonton sepakbola di Senayan, Jalak Harupat atau Jaka Baring? Jika selama dua belas tahun ke depan para supporter ini tidak juga berproses menjadi dewasa, bukan saja percuma, tetapi akan sangat berbahaya jika kita menjadi tuan rumah piala dunia 2022.

Ke empat, apa kabar dengan kemampuan para pemain kita? Saya tahu, selama 12 tahun ke depan, kita bisa membina para tunas-tunas muda kita. Tetapi apa yang sudah kita lakukan saat ini? Jika pola pembinaan instan yang kita terapkan selama ini terus bertahan, saya cukup pesimis akan memberikan hasil, meskipun hingga 2030.

Mengirim pesepak bola ke luar negeri penting, tetapi jauh dari cukup. Dibutuhkan sistem sepak bola nasional yang benar-benar kompetitif dan berkualitas, bukan saja untuk menempa skill permainan, tetapi juga mental “world class” dalam bertanding.

Ke lima, saya membaca satu media iklan yang menyatakan bahwa piala dunia tahun 2022 adalah “hadiah” dari Pak SBY untuk rakyat Indonesia. Menjadi jelas buat saya, bahwa motif dari keinginan besar itu ada bau politiknya.

Saya bukan tidak yakin bahwa kita bisa, tetapi realitas saat ini berbicara keras sekali ke telinga saya, bahwa kita belum siap. Belum ada tanda-tanda perbaikan manajemen sepak bola nasional. Belum ada tanda-tanda perbaikan infrastruktur dan manajemen transportasi massal kita. Belum ada tanda-tanda bahwa kita mampu mengerem laju pertumbuhan kendaraan yang memacetkan Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Belum ada tanda-tanda peningkatan kualitas pemain nasional kita, bahkan saya melihatnya ada kemunduran di banding era 1980-an, atau bahkan era 1938.

Belum ada tanda-tanda supporter sepak bola nasional kita membaik. Juga belum ada tanda-tanda bahwa Indonesia bebas dari bom.

Saya hanya percaya, bahwa dengan menjadi piala tuan rumah piala dunia 2022, stadion dan jalan-jalan menuju stadion akan bagus. Aspalnya akan bagus, taman-taman di sepanjang jalan itu juga akan bagus. Pedagang kaki lima bersih, setidaknya sesaat sebelum dan sesudah even piala dunia 2022. Saya sudah melihatnya dari beberapa tempat.

Tol Cipularang dibangun menjelang KAA di Bandung. Jalan-jalan di Bandung pun mendadak jadi bagus. Palembang pun sama, menjadi agak bagus setelah menjadi tuan rumah PON. Begitu juga dengan Manado, infrastruktur dibangun menjelang konferensi internasional kelautan di sana.

Karena itu saya yakin, dengan menjadi tuan rumah piala dunia, beberapa kota di Indonesia akan menjadi sedikit bagus. Itulah tabiat kita: berbenah hanya jika dipaksa oleh keadaan