Pak Wid dan Energi di Indonesia

Sabtu petang, 21 April, tersiar kabar bahwa Wamen ESDM, Prof. Widjajono Partowidagdo, atau yang kerap disapa Pak Wid, telah meninggal dunia. Saya cukup tersentak, mengingat sebelumnya tak terdengar keluhan apa pun tentang kesehatan beliau. Rupanya beliau dipanggil Yang Maha Kuasa saat mendaki Tambora, NTB.

Tiga hari sebelumnya, Rabu, 18 April, beliau masih tampak gagah membawakan sambutan di forum petemuan tahunan komunitas industri CBM (Coalbed Methane) di JCC. Saya sendiri hadir menyimak apa yang disampaikan beliau. Tak dinyana, umur memang hak prerogatif Sang Khalik. Lagipula, dibalik posturnya yang masih tegap, Pak Wid memang sudah tergolong sepuh, sudah kepala 6.

Saya bukan pengagum sosok beliau. Bahkan saya seringkali tak sepaham dengan pemikiran beliau, terkait pengelolaan sektor energi di Indonesia. Namun, ada beberapa butir pandangan beliau yang sederhana – namun filosofis – yang saya sukai. Di antaranya: “Orang miskin kalau selalu mbeli barang mahal pasti hidupnya susah”. Dalam banyak kesempatan, frase ini sering beliau ungkapkan.

Filosofi ini, kurang lebih, dimaksudkan untuk menyindir gaya hidup bangsa kita yang cenderung boros BBM. Ya, BBM adalah barang mahal, karena harus diangkat dengan teknologi, biaya dan kualifikasi SDM yang mumpuni. Namun, karena faktor subsidi, harga BBM jadi lebih murah dari yang seharusnya. Hal ini membuat masyarakat tidak pernah menyadari sepenuhnya bahwa yang mereka konsumsi sebetulnya adalah barang mahal, dan karena itu harus hemat dalam penggunaannya. Pak Wid juga tak bosan-bosannya mengajak kita untuk segera ‘hijrah’ meninggalkan BBM, dan memakai energi lainnya yang keberadaannya jauh lebih melimpah.

Butir pemikiran lainnya: “Orang tidak berpikir untuk menghemat energi atau BBM, tetapi menghemat uang”. Karena itu, jika ingin masyarakat berhemat dalam penggunaan energi, maka lebih mudah dilakukan dengan instrumen kebijakan harga. Dalam arti, beliau cenderung setuju untuk mengurangi, bahkan bila perlu menghapuskan, subsidi BBM. Dengan kata lain, harga BBM harus diperlakukan sesuai harga pasar – yang cenderung mahal, sehingga orang akan berhemat memakai BBM.

Dengan kebijakan harga BBM seperti itu, diharapkan energi alternatif bisa tumbuh, karena dari sisi harga akan bisa bersaing dengan BBM fosil. Beliau meyakini bahwa harga BBM yang rendah cenderung menghambat pengembangan energi alternatif di Indonesia.

Saya menyukai gagasan-gagasan beliau, meskipun bukan berarti menyetujuinya. Banyak catatan yang harus dituangkan, agar gagasan-gasan beliau bisa diterapkan.

Tetapi dalam tulisan ini, saya tidak hendak mendiskusikan hal itu.

Saya hanya ingin menyampaikan penghargaan atas kiprah beliau dalam mewarnai kebijakan energi di Indonesia, baik semasa masih menjadi profesor tulen, menjadi anggota DEN (Dewan Energi Nasional) sejak tahun 2009 lalu, hingga menjadi Wamen ESDM sejak tahun 2011. Beliau dikenal aktif menyuarakan pemikiran-pemikirannya. Satu buku beliau sudah saya koleksi, “Migas dan Energi di Indonesia”, meskipun belum saya baca secara tuntas.

Beliau cukup konsisten memperjuangkan gagasan-gagasannya. Pada saat polemik kenaikan harga BBM akhir Maret lalu, Pak Wamen, dengan penuh kepercayaan diri – juga dengan gayanya yang nyentrik dan blak-blakan, menanggapi semua opini yang menentang kenaikan harga BBM. Bahkan seolah-olah beliau menjadi ‘bemper’ kebijakan Pemerintah yang sangat tidak populis itu.

Selamat jalan Pak Wid. Semoga diberikan tempat yang baik di sisi-Nya.

12 thoughts on “Pak Wid dan Energi di Indonesia

  1. saya juga merasakan sendiri, masih boros BBM. kebijakan mendorong transportasi massal dan gaya hidup sehat juga harus dijadikan kebijakan yang mendukung. dalam kondisi yg sudah mepet spt sekarang ini, memang perlu pemimpin yang mampu melaksanakan kebijakan tidak populis

    • Sy dapet dari perpustakaan Pertamina, yg kebetulan ada stok 1 biji utk dijual. Sy kurang tahu, apa masih ada di pasaran. Sy sendiri blm pernah nemu di luaran.

  2. asalnya aku nggak tau itu siapa..
    pas liat di berita..
    waw.. ternyata seorang pembelajar ya..
    hebat..
    semoga amal ibadahnya diterima Allah Swt..
    Aamiin

  3. “A leader in well testing and early production facilities for the oil & gas industry”

    As a group company with world-class capabilities in well testing and fluid, our top priority is to offer the best service for business-based energy and resources in Indonesia. Dwipa Group was established as a company providing Non Destructive Testing for the oil and gas industry. We believe that through commitment, determination and passion for growth, opportunities are endless.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s