Kereta

Hari ini, saya betul-betul tidak tahan untuk menuliskan tentang situasi di dalam kereta yang sudah tidak manusiawi.

Setiap hari, saya pergi-pulang kantor menggunakan kereta commuter line, rute Depok – Kota. Di banding kereta ekonomi, tentu jenis kereta ini relatif lebih nyaman. Di dalamnya ada AC, atau setidaknya kipas angin, meskipun pendingin yang ada seringkali tidak sanggup melawan arus panas yang dikeluarkan oleh tubuh manusia – yang berjejal di dalamnya.

Setiap hari kerja, terutama pagi dan sore, kereta memang penuh-sesak. Tetapi setiap Senin pagi, tingkat kesesakannya na’udzubillah. Bahkan tulang-tulang rusuk dan bahu pun terasa terhimpit. Untuk masuk kereta, seringkali kita harus sedikit pasang kuda-kuda, mendorong orang yang berjejal di pintu kereta. Tanpa itu, kita sulit masuk.

Sesampainya di dalam, manusia sudah tampak seperti tumpukan baju di koper.

Yang bikin saya tidak tahan adalah kejadian pagi tadi: seorang bapak paruh baya menggendong seorang anak perempuan, sekitar 3 tahun usianya, dan menggandeng seorang anak lelaki – sekitar 7 tahun. Masuk ke “tumpukan baju”, anak lelakinya mulai tak nyaman. Wajahnya terus menengadah, mencari udara di tengah sesaknya orang, sambil sesekali meringis menahan himpitan tubuh orang di sekelilingnya yang jauh lebih besar.

Melewati beberapa stasiun, anak perempuan kecilnya mulai gelisah. Orang yang berjejal di kereta itu, termasuk bapak yang menggendongnya, terombang-ambing akibat badan kereta yang terus meliuk kanan dan kiri. Tangisnya mulai pecah. Mungkin karena gerah; mungkin juga karena takut dengan kerumunan orang.

Saya sempat terpikir: bapaknya yang gendeng. Tega-teganya dia menggendong dan menggandeng dua anaknya masuk ke kereta dalam kondisi penuh sesak seperti itu. Orang dewasa, namun pendek, pun sudah cukup “sengsara” naik kereta seperti itu. Apalagi anak kecil.

Dalam kondisi anak kecilnya yang ngamuk, saya menyarankannya agar dia turun dulu di Manggarai, untuk menenangkan si kecil. Toh, tinggal naik kereta berikutnya, berangkali lebih kosong.  Tak perlu bayar lagi.

Sambil terus menghibur, dan setengah mengibul: “Sebentar lagi turun, sayang”, sang bapak tidak menggubris saran saya. Padahal dia turun di Kota – sekitar delapan stasiun lagi dari Manggarai. Ya sudah lah. Saya yang berada di sebelahnya, hanya bisa berusaha sekuat tenaga menghalau, agar tubuh saya dan orang-orang di sekelilingnya tidak menghimpit bocah lelaki kecil itu. Bisa repot kalau sampai terjadi apa-apa.

Sementara itu, anak perempuan kecil yang digendong terus meraung-raung. Tangan dan kaki mungilnya terus menggeliat, menonjok dan menendang muka bapaknya. Suasana gaduh. Semua perhatian penumpang tertuju pada sang bapak dan dua bocahnya itu.

Yang saya ceritakan ini situasi di commuter line, yang berpendingin. Kebayang bagaimana situasi kereta ekonomi dalam kondisi penuh sesak. Bahkan di atap kereta pun, saya lihat, orang berjejal menantang maut.

Saya tidak tahu persis apa masalahnya, sehingga kondisi transportasi publik kita sedemikian amburadul. Yang jelas, Jabodetabek memang luar biasa crowded. Ini dari sisi “demand” transportasi publik itu sendiri. Dari sisi “supply“, kereta yang ada jelas tak memadai. Itu pun, yang saya tahu, kereta-kereta itu merupakan hibah dari Jepang. Lalu, apa yang sudah kita buat?

Jangan tanya soal kondisi di sekitar jalur kereta: kumuh bukan main (gambar diambil dari sini). Tidak ada penanganan berarti. Seringkali upaya yang dilakukan pemerintah sifatnya sporadis dan bernada “penertiban” – yang kerap mengintimidasi warga.

SBY memang sempat naik kereta dari Priuk ke Senen, April 2009 lalu, untuk melihat-lihat situasi di sepanjang lintasan kereta. Instruksi sudah diberikan untuk “membenahi” situasi di sekitar rel itu. Sayang, saya belum melihat instruksi itu dilaksanakan.

Saya juga pernah melihat peta Jakarta tahun 1930-an, jaman Belanda dulu. Ternyata jalur rel kereta pada waktu itu lebih banyak daripada hari ini. Ini yang bikin saya heran setengah mati. Jadi, setelah 60 tahun lebih merdeka, infrastruktur kita, khususnya kereta, bahkan lebih buruk dari jaman penjajahan dulu? Ah, yang bener aja.

11 thoughts on “Kereta

  1. IKut prihatin dan miris setiap mendengar kisah dalam moda transportasi di negeri ini. Kenyaman penumpang tidak pernah mendapatkan perhatian. Baik di kereta api, busway, apalagi bis umum dan angkot.

  2. saya juga kerap prihatin tatkala melihat keadaan transportasi, karena saya juga kerap kali menggunakan kereta ..
    Semoga kelak lebih baik lagi ^_^

    makasih wat infonya ^_^

  3. “A leader in well testing and early production facilities for the oil & gas industry”

    As a group company with world-class capabilities in well testing and fluid, our top priority is to offer the best service for business-based energy and resources in Indonesia. Dwipa Group was established as a company providing Non Destructive Testing for the oil and gas industry. We believe that through commitment, determination and passion for growth, opportunities are endless.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s