West Madura Offshore: Memotret Dagelan Pemerintah

West Madura Offshore (WMO) adalah blok migas yang berada di lepas pantai barat Pulau Madura, atau sebelah utara lepas pantai Jawa Timur. Blok ini dikelola oleh Kodeco, perusahaan asal Korea, yang memegang 25% kepemilikan. Sisanya: 25% dimiliki oleh CNOOC dan 50% oleh Pertamina (Gambar dari sini).

Beberapa pekan yang lalu, blok ini sempat membuat gaduh dunia migas nasional. Pasalnya, selain baru akan memasuki masa produksi puncak, blok migas yang “mentereng” ini akan berakhir kontraknya pada tanggal 7 Mei 2011. WMO menyimpan puluhan juta barel minyak dan trilyunan kaki kubik gas. Pada puncaknya, blok ini diperkirakan mampu memproduksi lebih dari 30 ribu barel minyak dan lebih dari 200 juta kaki kubik gas per harinya. Dengan tingkat produksi demikian besar, maka puluhan trilyun uang bisa dikumpulkan dari blok itu.

Ada dua penyebab utama kegaduhan ini. Pertama, soal usulan Pertamina kepada Pemerintah untuk memiliki dan mengelola sendiri blok WMO. Permintaan itu telah dilayangkan sejak 2008 lalu, namun hingga dua tahun kemudian belum juga digubris oleh Pemerintah.

Permintaan Pertamina tersebut tentu bukan tanpa alasan. Secara regulasi, sesuai UU Migas No. 22 tahun 2001 dan PP 35 tahun 2004, Pertamina dapat mengajukan kepada Pemerintah untuk mengelola blok-blok migas yang telah habis masa kontraknya. Di samping itu, dari sisi kemampuan teknis dan finansial, Pertamina sepenuhnya sudah siap untuk mengelola blok migas lepas pantai. Pertamina terbukti mampu melanjutkan, bahkan meningkatkan, produksi migas Offshore Northwest Java (ONWJ) sejak 2009 silam.  

Ke dua, pada saat Pemerintah ogah-ogahan mengabulkan permintaan Pertamina, Pemerintah malah dengan sigap menyetujui dua perusahaan abal-abal untuk membeli 20% (masing-masing 10%) kepemilikan di blok itu. Ini suatu keganjilan yang amat kentara. Pasalnya, pembelian participating interest tersebut tarjadi menjelang kontrak blok tersebut berakhir.

Inilah inti dagelannya: pada saat Pemerintah berulang kali menyampaikan keraguan akan kemampuan Pertamina dalam mengelola blok migas lepas pantai, mereka malah menggelar karpet merah kepada dua perusahaan siluman yang sama sekali tidak dikenal track record-nya di dunia migas!  

Pada awalnya, Pemerintah menekan Pertamina agar mau menerima pembagian kue blok itu menjadi: 60% Pertamina (naik 10%), lalu sisanya dibagi rata (masing-masing 10%) untuk Kodeco, CNOOC, dan dua perusahaan abal-abal itu. Namun, karena merasa di posisi yang benar dan didukung oleh banyak kalangan, Pertamina tetap menegakkan wajah untuk meminta pengelolaan blok WMO sepenuhnya.  Pemerintah makin geram dengan posisi Pertamina. CNOOC pun akhirnya mundur, disusul menghilangnya dua perusahaan siluman itu.

Singkat cerita, akhirnya Pemerintah menetapkan kepemilikan blok WMO menjadi 80% Pertamina dan 20% Kodeco. Pertamina dalam hal ini bertindak sebagai operator.

Selama polemik berlangsung, banyak pihak yang meneriaki Pemerintah, khususnya Kementerian ESDM dan BPMIGAS, karena kelakuannya ini. Mereka menyayangkan sikap Pemerintah yang tidak nasionalis: membela dan mempertahankan kepentingan asing, sementara anak negeri sendiri harus merengek-rengek setengah mati untuk mengelola kekayaan tanah airnya sendiri.

Jangan-jangan, persoalannya sebetulnya sederhana: soal “upeti” bagi oknum pejabat? Atau, soal 2014 yang membutuhkan dana besar – dan WMO adalah sumber alternatif yang bisa digali? Ah, mungkin saya terlalu jauh su’udzon.

18 thoughts on “West Madura Offshore: Memotret Dagelan Pemerintah

  1. Iya bang.. pemerintahan sekarang malah pro sama asing…..🙂 Di Indramayu juga kalo ga kenal deket sama Bupati, malah – malah susah tuh urus-2 izinnya kalo mau buat usaha, Contohnya klinik tempat saya kerja.. ketika ada dokter spesialis mau buka praktek di tempat saya kerja, kata Pemda ga boleh alasannya belum dibutuhkan di Indramayu, tapi ketika dia (doter tsbt) mengajukan untuk praktek di tmpt lain (yng deket dengan PEMDA) malah di izinkan (Puyeng dah..)

      • ngakaaaak saya baca komen ini…
        saya lanjutin, bukan hanya pikiran Om bahwa situasi Indramayu tuh Religius, Maju, Mandiri, dan sejahtera, karena emang kenyataannya seperti itu…apalagi kalo disingkat kan REMAJA, Wajar dong kalo hari ini bilang dilarang, besok boleh, namanya juga REMAJA, mohon dimaklumi aja klo masih labil…wkwkwkwk…
        yg mengaku ulamanya aja ngmg haram klo gender ttt mjd pemimpin…eh…pas paginya melakukan serangan fajaar untuk memilih yg dilarangnya ntu..wkwkwkwk….
        Itu hanya sebagian kecil warga Indramayu, walopun sayangnya, meskipun kecil, mempunyai jabatan strategis….jadi terlihat general…

  2. soal “perut” mereka sepertinya sudah berkecukupan dan cukup gizi..
    hanya saja manusia tidak pernah puas dan merasa cukup, keinginan utk lebih menjadi keserakahan dan ego yg lebih besar dari tubuh mereka…

    • Ya, tentu. Isi “perut” tukang becak hanya sembako. Tp isi “perut” pejabat jauh lebih besar: rumah istana, sedan mewah, deposito milyaran, para bidadari simpanan, perjalanan global, gaya hidup raja-raja, dsb.🙂

      • ssiiiiiiiiiiippppppppppppp……………….. cara cuci uang, beli tanah dan rumah dimana-mana… invest ke klub di ISL…. mantapppppppppppp

  3. jadi inget pasal 33 ayat (2)
    Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.
    dengan dagelan ini saya bisa melanjutkannya, menjadi spt ini
    Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara dan negara bisa dikuasai oleh siapapun selama itu menguntungkan xxxxxx….
    ck..ck..ck..terlihat sekali dari konspirasi yg selama ini menggerogoti negeri kita…
    ternyata kita masih terjajah, selama model2 seperti itu masih ada…
    apalagi sewaktu saya lihat acara launching Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia…terlihat sekali disitu bagaimana pemerintah dengan bangganya mengatakan banyak permintaan investasi asing yang berdatangan karena Masterplan itu..
    Dengan bangganya mereka menyerahkan SDA kita di serahkan kpd para investor asing namun menutup rapat-rapat investor lokal, termasuk yg dibahas skrg, menutup rapat-rapat pintu perusahaan lokal….
    kebetulan saat acara itu, ada salah seorang pelanggan warnet saya yang mempunyai jabatan strategis di Perusahaan yg bermitra dg pertamina, sangat menyayangkan, cz pengalaman beliau, ternyata, untuk investor dan perusahaan lokal, ruang yang disediakan sangat sempit…..
    Dan seandainya negara itu tidak dikuasai oleh siapapun selama menguntungkan xxxxxx…bukan hal yang susah ketika Investor asing tidak menanamkan modalnya di sini…cz kita juga punya investor lokal yang jika diberi ruang, jaaaauh lebih baik dari investor asing…
    BTW…dagelan yg kereeen om….

  4. sayang ya. seharusnya pemerintah pro rakyat, sesuai dengan amanat undang-undang. kasihan bung karno dan bapak bangsa yang lain udah berjuang nyawa, malah amanahnya disia2kan pemimpin sekarang. duhh..😦

  5. “A leader in well testing and early production facilities for the oil & gas industry”

    As a group company with world-class capabilities in well testing and fluid, our top priority is to offer the best service for business-based energy and resources in Indonesia. Dwipa Group was established as a company providing Non Destructive Testing for the oil and gas industry. We believe that through commitment, determination and passion for growth, opportunities are endless.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s