Pribadi Utuh: Menggapai Keagungan (Greatness)

Tulisan sebelum ini telah mengulas tentang empat komponen penyusun manusia: fisik, pikiran (mental), emosional (perasaan) dan hati (jiwa). Untuk menggapai keagungan pribadi, empat komponen ini mesti kita berdayakan. Ini bukanlah pilihan – kita harus memberdayakan keempatnya sekaligus.

Jika kita bedah, berikut ini empat upaya yang dianjurkan oleh Covey, dan saya sependapat dengannya, untuk menuju keagungan pribadi.

Pertama: visi. Atau, orang sering menyebutnya “mimpi”. Ya, visi hidup adalah sebentuk pemberdayaan pikiran (mental), yang akan menuntun kita pada arah yang kita tuju. Tanpa visi, kita akan terus ‘menari’ mengikuti ‘gendang’ kehidupan yang seringkali ‘ditabuh’ oleh orang lain. Kita akan terus menjadi ‘korban’ pengaruh lingkungan, tren mode, kecenderungan sosial. Tanpa visi, sadar atau tidak, kita telah menyerahkan ‘kemudi’ kapal kita sendiri kepada orang lain.

Dalam 7 Habits, Covey telah memberikan panduan yang baik bagaimana menyusun visi ini. Segala sesuatu memang diciptakan dua kali: dalam alam “pikiran” dan “kenyataan”; dalam “desain” dan “realisasi”; dalam “maket” dan “konstruksi”. Juga dalam “lauh mahfudz” dan “alam dunia”. Dan saya sepenuhnya sependapat bahwa sebuah visi harus dimulai dari ujung perjalanan hidup kita: kematian. Ingin mati sebagai apakah kita? Bagaimana akhirnya manusia setelah kita – dan malaikat pencatat prestasi amal – menilai kualitas hidup kita?

Pertanyaan ini jauh lebih mendasar daripada sekedar: mau jadi apa kita? Untuk menggapai ‘kesuksesan’, pertanyaan ini mungkin cukup. Tetapi untuk sebuah ‘keagungan’ (greatness), jelas kurang memadai, karena bisa jadi pertanyaan “mau jadi apa” itu dijawab hanya dengan pencapaian sementara.

Ke dua, disiplin. Disiplin adalah pemberdayaan fisik, yang mewujud menjadi tindakan nyata yang sejalan dengan visi.  Disiplin tidak melulu identik dengan situasi protokoler: semua serba teratur dan menjemukan, tanpa spontanitas – yang justeru menjadi pelentur dan pemanis kehidupan.

Visi yang hebat selalu membutuhkan disiplin yang ketat untuk mencapainya. Disiplin adalah “harga” yang harus “dibayar” untuk menggapai visi. Disiplin juga mencerminkan ‘konsistensi’ dan ‘fokus’ yang kuat. Ia menuntut suatu kebiasaan yang sejalan dengan visi dan terus diulang-ulang. Satu penelitian bahkan menyatakan: kita butuh waktu 10 ribu jam latihan yang fokus untuk menjadi yang terhebat di bidangnya. Anggap kita berlatih 3 jam sehari, secara fokus dan konsisten tentunya, maka dibutuhkan waktu tidak kurang dari 9 tahun. Jika kita hanya bisa berlatih sejam sehari, tinggal kalikan tiga: 27 tahun!

Tanpa konsistensi dan fokus – dua nilai inti dari disiplin, visi tak ubahnya prasasti.

Ke tiga, passion. Ini adalah pemberdayaan emosional. Gairah yang menggelora adalah bahan bakar beroktan tinggi untuk menggerakkan tindakan disiplin. Tanpa passion, kita tidak akan mampu bertahan dalam kedisiplinan – konsistensi dan fokus – kita. Passion adalah harta milik orang-orang yang menjadi pemenang di bidangnya.

Namun demikian, untuk mendapatkan passion, tentu tidak mudah. Karena itu, kita perlu “berhenti” sejenak untuk berinteraksi dengan diri kita yang paling dalam, dan bertanya: apa mimpi kita sesungguhnya? Karena mimpi yang tidak menimbulkan passion adalah mimpi yang patut kita pertanyakan.

Ke empat, nurani. Ketiga komponen sebelumnya adalah pilar-pilar kesuksesan – yang hampir tak bisa ditawar. Tetapi nurani inilah yang menjadi penentu sekaligus pembeda: apakah ‘kesuksesan’ kita membawa ‘keagungan’ atau sebaliknya.

Tidak ada keberhasilan sejati yang bisa dicapai dengan mengubur nurani.

19 thoughts on “Pribadi Utuh: Menggapai Keagungan (Greatness)

  1. diantara keempat hal tersebut, yang saya rasakan adalah saya terlalu banyak passion sementara kedisiplinan masih kurang mangstabbbb…yah yang terpenting mah nurani saya masih mau saya pegang kuat…..
    sehingga, ketika saya berhasil memperkuat visi, hal mana membuat saya lebih disiplin…maka “keagungan” (aka Rahmatan Lil’alamien) bisa saya capai….
    bukan hanya kesuksesan…
    Sharing nyang mangstabb kang…
    Keren sih udah posting lagi (diantara kesibukan mas)…

    • Ya, menyempatkan diri menulis. Pusing juga kalau sudah sebulan belum bisa posting, melanggar kedisiplinan diri dalam mengasah kemampuan menulis..🙂

  2. Ketika saya mengetahui bahwa ada orang lain yang memiliki visi yang sama dengan saya, namun dia mempunyai disiplin, passion dan nurani yang lebih baik dari saya. Dan kemudian saya jadikan dia sebagai role model bagi saya. Apakah itu merupakan sebuah hal yang yang salah? Apakah saya tidak bisa menggapai keagungan dengan cara seperti itu?

    • Ini pertanyaan apa ngetes krish? Haha..
      Jawabannya sudah tersirat dari pertanyaan krishna sendiri, terutama pada kalimat: “…ada orang lain yg memiliki visi yang sama..”, artinya krishna sendiri sebetulnya sudah memiliki visi, dan itu artinya sudah memiliki salah satu pilar keagungan.
      Sama atau tidaknya visi, saya kira, bukanlah penentu. Bagaimana cara mengaplikasinya – dengan mencontoh atau inisiatif sendiri – juga mungkin tdk masalah.
      Yang menentukan adalah: “punya” atau tidaknya visi, disiplin, gairah, dan nurani.

      • Apa yang membuat Mas Dira berfikir saya sedang ngetes? Hehehe…
        Jika begitu, menjadi pribadi yang agung itu tidak harus jadi leader atau inisiator. Menjadi follower juga bisa, asalkan orang yang jadi “role model” itu bisa membawa kita kepada keagungan. Bukan begitu, Mas?

      • Kira2 begitu.. dan saya kira “leader” atau “follower” hanya pembagian peran semata. Orang yang jadi leader di “sini”, bisa jadi “follower” di sana. Bos saya jadi leader di kantor, tetapi di rumah dia harus patuh sama ketua RT, agar bayar iuran sampah..🙂
        Pada dasarnya, jika kita mengembangkan keempat potensi ini, dengan sendirinya kita patut jadi role model – jiwa seorang leader ada di dalamnya.

  3. Ketika saya mengetahui bahwa ada orang lain yang memiliki visi yang sama dengan saya, namun dia mempunyai disiplin, passion dan nurani yang lebih baik dari saya. Dan kemudian saya jadikan dia sebagai role model bagi saya. Apakah itu merupakan sebuah hal yang salah? Apakah saya tidak bisa menggapai keagungan dengan cara seperti itu?

  4. NUMPANG INFO YA BOS… bila tidak berkenan silakan dihapus:-)

    LOWONGAN KERJA GAJI RP 3 JUTA HINGGA 15 JUTA PER MINGGU

    1. Perusahaan ODAP (Online Based Data Assignment Program)
    2. Membutuhkan 200 Karyawan Untuk Semua Golongan Individu yang memilki koneksi internet. Dapat dikerjakan dirumah, disekolah, atau dikantor
    3. Dengan penawaran GAJI POKOK 2 JUTA/Bulan Dan Potensi penghasilan hingga Rp3 Juta sampai Rp15 Juta/Minggu.
    4. Jenis Pekerjaan ENTRY DATA(memasukkan data) per data Rp10rb rupiah, bila anda sanggup mengentry hingga 50 data perhari berarti nilai GAJI anda Rp10rbx50=Rp500rb/HARI, bila dalam 1bulan=Rp500rbx30hari=Rp15Juta/bulan
    5. Kami berikan langsung 200ribu didepan untuk menambah semangat kerja anda
    6. Kirim nama lengkap anda & alamat Email anda MELALUI WEBSITE Kami, info dan petunjuk kerja selengkapnya kami kirim via Email >> http://uangtebal.wordpress.com/

  5. Jadi kebayang maha besarnya Pencipta kita. kita sebagai manusia malah yang gak sadar bahwa kita diciptakan itu memiliki makna.. izin2 baca-baca mas. keren tulisan2 nya..

  6. “A leader in well testing and early production facilities for the oil & gas industry”

    As a group company with world-class capabilities in well testing and fluid, our top priority is to offer the best service for business-based energy and resources in Indonesia. Dwipa Group was established as a company providing Non Destructive Testing for the oil and gas industry. We believe that through commitment, determination and passion for growth, opportunities are endless.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s