Ketergantungan

Di abad informasi ini, handphone tampaknya sudah menjadi ‘kebutuhan pokok’ masyarakat di semua lapisan, di semua profesi. Apakah anda bisa bayangkan, hidup seminggu, atau bahkan sehari, tanpa handphone? Dalam situasi tertentu, apalagi ‘dipaksakan’, mungkin bisa. Dalam kondisi normal, saya yakin cukup berat. Ya, demikian tergantungnya kita pada alat komunikasi mungil itu. Dan itu hanya salah satu dari sekian hal yang membuat kita, baik secara individu maupun kolektif, sangat tergantung (dependent).

Apa pun situasinya, ketergantungan kita pada sesuatu selalu menimbulkan kerawanan. Jika sesuatu itu lepas dari tangan kita, secara psikologis kita bisa goyah. Tanpa hp, barangkali kita akan merasa ‘tersekat’. Bagi para profesional, tanpa hp bisa berarti kehilangan begitu banyak produktivitas.

Baiklah, contoh hp barangkali kurang menggigit.

Lihatlah bagaimana masyarakat Libya begitu tergantungnya pada sosok Khadafi. Empat puluh tahun sudah dia memimpin Libya, dan tuntutan mundurnya Khadafi harus dibayar dengan instabilitas negara itu. Libya tergoncang. Mereka belum sempat menyiapkan kader pengganti Khadafi.

Mari kita tengok juga sejarah bangsa kita sendiri satu dasawarsa lalu. Tiga puluh dua tahun Pak Harto memimpin negeri ini. Diakui atau tidak, kita begitu lama tergantung pada sosoknya sebagai ‘bapak pembangunan’. Kita lengah menyiapkan kader-kader negarawan pengganti – dan para ‘wakil rakyat’ waktu itu lebih suka menjunjung tinggi-tinggi beliau. Pada saat arus sejarah menyeret Pak Harto dari kursinya, kita kelabakan. Bangsa kita bukan hanya goyah, tetapi nyaris pecah berkeping-keping. Butuh waktu lama untuk memperbaiki efek akibat ketergantungan kepemimpinan nasional itu.

Dalam bentuknya yang lebih elegan, Singapura juga nyaris mengalami ketergantungan yang akut pada kepemimpinan Lee, atau Malaysia dengan Mahatirnya.  Namun, tidak seperti Indonesia atau Libya, Singapura dan Malaysia segera menyadari kekeliruannya. Rotasi kepemimpinan nasional berjalan baik di kedua negara itu.

Ya, ketergantungan memang selalu menimbulkan kerawanan.

Ketergantungan: Akar Krisis Minyak

Bahaya wabah ketergantungan ini lebih terlihat jelas pada minyak bumi. Secara kolektif, masyarakat dunia saat ini sangat bergantung pada minyak bumi sebagai sumber energi.  Meskipun potensinya diperkirakan hanya 6% dari total potensi energi dunia, tetapi minyak bumi terus mendominasi penggunaan energi dunia – lebih dari 40%. Pada masa-masa yang lalu, angka ini bahkan lebih tinggi lagi.

Bagaimana ketergantungan terhadap minyak bumi ini menggoyahkan dunia, bisa kita baca dengan baik dari catatan sejarah. Jauh sebelum OPEC terbentuk, minyak telah menjadi salah satu penyebab meletupnya perang dunia II pada era 1940-an. Satu dekade kemudian, pada saat krisis Terusan Suez tahun 1957 turut mengganggu kestabilan arus minyak dunia, suhu politik internasional memanas.

Pada saat perang Arab-Israel tahun 1970-an lalu, OPEC menunjukkan taringnya dengan mengembargo Amerika dan Eropa dengan produk minyaknya. Amerika dan Eropa sesak nafas, karena ketergantungan mereka yang akut terhadap minyak bumi.

Ketergantungan pada minyak bumi ini telah menimbulkan banyak konflik berlumuran darah di bumi ini: Irak, Afganistan, Kuwait, bahkan perang Pasifik juga diindikasikan terkait penguasaan ladang-ladang minyak di Asia Tenggara – Indonesia salah satunya.

Terhadap kehidupan ekonomi global, minyak juga telah menyebabkan krisis yang mematikan. Kenaikan harga minyak dunia hampir selalu membuat ekonomi limbung, terutama bagi negara-negara pengimpor minyak. Meskipun secara global, pengaruhnya ternetralisir oleh ‘rejeki nomplok’ (windfall profit) yang diterima negara-negara penghasil minyak – hal ini tercermin dari penurunan out put global yang tidak terlalu signifikan akibat kenaikan harga minyak.

Bagi Indonesia, ketergantungan terhadap minyak kerap menimbulkan instabilitas sosial-politik. Pada masa Orde Baru, hal ini tidak begitu tampak, karena ada ‘tangan besi’ yang dengan ketat menstabilkan harga-harga kebutuhan pokok, termasuk minyak (tanah). Saat memasuki era reformasi, yang diiringi dengan deregulasi dan liberalisasi sektor migas, terlebih setelah Indonesia resmi menjadi net oil importer sejak 2004 lalu, krisis minyak menjadi momok yang menakutkan. Kenaikan harga minyak dunia tahun 2005 lalu, yang direspon dengan kebijakan kenaikan harga BBM lebih dari 120%, telah memberikan pelajaran yang mendalam bagi Pemerintahan SBY, untuk tidak gegabah menaikkan harga BBM di kemudian hari.

Karena itu, kenaikan harga minyak dunia tahun 2008 lalu hanya diimbangi dengan sedikit kenaikan harga BBM, lalu kemudian diturunkan lagi seiring dengan anjloknya harga minyak. Belakangan, awal tahun 2011 ini, Pemerintah dengan cukup hati-hati mewacanakan pembatasan BBM bersubsidi. Tetapi sampai saat ini, toh belum juga berani dilaksanakan.

Untuk mengatasi pengaruh krisis minyak, tidak ada cara lain, betapa pun menyakitkannya, selain dengan memutuskan ketergantungan pada minyak itu sendiri. Konversi minyak tanah ke LPG, lepas dari segala kekurangannya, adalah solusi yang cukup jitu dalam memutus ketergantungan itu.

Beberapa jalan rintisan lain yang bisa ditempuh di antaranya: mengembangkan sepenuhnya potensi 27 giga watt geothermal untuk listrik; menyetop bahan bakar minyak untuk listrik PLN – ganti dengan gas atau batubara; mengembangkan konsep gas kota untuk daerah-daerah penghasil gas – untuk penerangan, memasak, kendaraan bermotor;  memperkuat kebijakan agar bioenergi menjadi lebih ekonomis – dengan insentif harga, dukungan lahan dan tata ruang untuk pengembangan tanaman bioenergi; dan sebagainya.

Dalam jangka menengah-panjang, industri otomotif juga harus turut berbenah, agar memungkinkan kendaraan berbahan bakar gas tumbuh – tentu dengan diiringi pengembangan infrastruktur pengisian bahan bakar gas. Barangkali ini yang paling kritikal, karena sektor transportasi paling banyak menenggak BBM.

Selama masyarakat masih tergantung pada minyak bumi, dan selama belum ada sumber energi massal lainnya yang terjangkau (dari sisi harga dan ketersediaan), maka kebijakan apa pun terkait energi tidak akan pernah efektif, kecuali sebagai “aspirin” semata.

49 thoughts on “Ketergantungan

  1. (Maaf) izin mengamankan PERTAMAX dulu. Boleh, kan?!
    Setuju sekali, Kang. Dalam bidang apapun ketergantungan pada satu hal membuat kita lebih mudah ‘kelimpungan’. Dan soal BBM, inovasi-inovasi untuk menemukan berbagai sumber energi lainnya (terutama yang lebih ramah lingkungan) hendaknya bukan sekedar jargon-jargon kosong belaka.

    • Barangkali ketergantungan terhadap utang ini termasuk yang paling rawan: rawan intervensi oleh ‘orang lain’ terhadap urusan rumah tangga bangsa kita.

  2. lag-lagi saya selalu termenung setiap membaca tulisan kang casdira…….
    saatnya bangsa kita mencari energi alternatif agar ketergantungan di masa depan dapat teratasi….

  3. Mau ga mau penggunaan sumber energi di Indonesia emang harus beralih Kang.
    Klo untuk pindah ke teknologi nuklir/panel surya/hidrogen terlalu kejauhan
    paling tidak kita punya sumber energi yang berlimpah seperti gas
    Semoga ada investor yang mau membangun dan bertindak nyata dalam pengurangan ketergantungan ini hehehe Thanks ya….

    • Ya, memang betul. Banyak sekali pilihan sumber energi. Dan memang sudah banyak yang dibuat – dalam skala pilot project atau kecil2an (geothermal, panel surya, angin, bioenergi, dsb). Sebetulnya investor sudah banyak, tetapi sulit berkembang sampai pada skala massal – seperti BBM, karena problemnya ada pada tataran kebijakan makro, bukan di level mikro – industri.

    • investor yang mau membangun dan bertindak nyata dalam rangka meminimalisir dependent ini tidak lah lain kita sendiri…
      Pertanyaannya, mau tidak hal itu menjadi penting sehingga terasa kritikalnya……
      Khusus bagi saya, yang tidak bersentuhan langsung dengan hal itu, mungkin dengan jalan lain, yaitu memasyarakatkan internet sehat kepada yang bisa saya jangkau sehingga memungkinkan masyarakat tersebut lebih melek teknologi apapun, tidak terkecuali teknologi nuklir/panel surya/hidrogen yang mas bilang terlalu kejauhan…
      bentuk konkretnya adalah dengan ajakan blogging getoo…bukan FB-FBan doank…
      BTW…
      Udah ada waisya nih…
      Semoga wamagrib juga ikutan nimbrung…wkwkwkwkwkw…

      • Untuk gas, sekali lagi saya tekankan, problemnya adalah pada tataran kebijakan makro. Karena faktanya saat ini: investor sudah memproduksikan gas (perusahaan minyak juga) dalam skala yang cukup, tetapi mereka mengekspor sebagian besar gas-nya ke Jepang, China, dll. Sementara PLN menghidupi listriknya dari BBM – yang mahal dan harus impor.
        Soal peran kita sendiri, kalau Eka via blog, saya saat ini sudah “nyemplung” di dalam pengembangan gas metana batubara (coalbed methane) – salah satu energy alternatif yang baru saja dikembangkan di Indonesia dan diharapkan akan menggantikan peran minyak dan gas konvensional beberapa tahun ke depan.
        Tulisan ini tentu hanya sebuah gagasan. Tetapi perlu juga kita ketahui: perubahan-perubahan besar selalu dimulai dari gagasan yang menyebar seperti “virus”. Contoh baru-baru ini: revolusi mesir dimulai dari gagasan kolektif dari dunia maya.
        Btw, washubuh sekalian ya Ka..🙂

  4. Mungkin ga ya pengaruh pendidikan juga membuat kita keterantungan akan sesuatu hal? Karena masih banyak sekolah-sekolah yang menberikan doktrin bukan memberi kesempatan murid untuk lebih kreatif lagi. Misalkan dari dulu kita ditanamkan rasa kekreatifan, mungkin akan banyak ide kreatif untuk mendapatkan/menciptakan sumber energi alternatif selain minyak bumi.

    • Betul juga tuh.. termasuk listrik. Bisakah hidup tanpa listrik? pasti sulit, tetapi kita sesekali perlu membuktikan bahwa tanpa listrik pun kita bisa tetap produktif..

  5. Memang, ada benarnya juga, ketergantungan adalah suatu hal yang sangat dekat dengan kita, manusia pasti ketergantungan akan segala hal, tapi tinggal kita melihatnya dari sisi mana manusia ketergantungan.

    Saya setuju dengan tulisan diatas, sangat membuka sekali pikiran saya..

    salam kenal, aziz hadi

  6. sepertinya dan rasa2nya memang perkembangan dunia itu seperti itu khan bang??
    selayaknya roda pedati.
    Imperium pertama adalah Romawi kemudian Persia,
    keduanya dikalahkan oleh imperium Khalifah Islam selama berabad2.
    Khalifah kemudian terpecah antara abbasiyah di timteng dan umayyah di spanyol serta syiah (ini klo kita menganggap syiah adl islam). setelah itu muncullah Mongolia menghancurkan Abbasiyah. Lalu Mongolia menjadi muslim dan masih menguasai sepertiga dunia. Lalu menurun pengarunya.
    Dan terakhir menyisakan Turki Usmani. Pengaruhnya menurun seiring Inggris Raya yg naik bersaing dg Perancis. Inggris menurun, naiklah AS – Soviet sebagai pemenang PD II. Soviet jatuh krn masalah internal, kini AS leading sendirian dg ancaman dr China.
    Demikianlah kehidupan dunia hingga nanti sampai hri kiamat. krn sejak keturunan pertama Adam – Hawa lahir ke dunia, sudah ada konflik diantara anak2nya sampai salahsatunya meninggal. 😀
    (wah, komen sy kok g nyambung ya?😀 hehehehe)

  7. Aku masih belum bisa melepasnya bang, okh rasanya ku tak bisa hidup tanpa dia digenggamanku hehehe hp memang sesuatu yang menjadi kebutuhan yang lumayan penting dijaman sekarang,,,,

    • Justeru peran OPEC saat ini sudah pudar mbak.. para trader multinasional yang saat ini menguasai ‘permainan’ harga. Termasuk para trader di Singapura yang menyuplai minyak ke Indonesia.

  8. kehidupan manusia emang tidak bisa lepas dari ketergantungan pihak/benda lain. untuk itulah kita dituntut untuk selalu bersahabat dengan semua pihak!
    bisa kita bayangkan jika seseorang sudah bisa lepas dari ketergantungan orang lain, bagaimana jadinya dia bersikap semena-mena dengan kesombongannya.
    Amerika contohnya, dengan segala keunggulannya berlaku sesuka mereka terhadap bangsa lain seolah-olah bangsa itu tidak membutuhkan kerjasama/pertolongan bangsa lain!
    sama halnya dengan sejarah bapak angkat ane “Firaun”😀 hehehe…

    • Harus dibedakan antara “ke-saling-tergantung-an” dan “ketergantungan”. Ketergantungan sifatnya “sepihak”: diri kita yang tergantung pada sesuatu “di luar kita”. Kalau hubungannya “saling tergantung”, misalnya antara kita dan keluarga kita, memang itulah fitrahnya..🙂
      Yang harus diwaspadai adalah “ketergantungan”, bukan “kesalingtergantungan”…

  9. Salam persohiblogan
    Daku kembali menyapamu kawan
    Kembali ke dunia yang penuh persahabatan ini
    Rindu rasanya
    Ada puisi anget untukmu🙂

    Kadang kalo saya ketinggalan HP di rumah
    Rasanya gimana gitu🙂

  10. Kalau saja semua sistem dijalankan dengan jujur dan semestinya, mungkin semuanya akan terasa mudah. Sayangnya, ada sebagian orang yang sudah terlanjur “nyaman” dengan kondisi ini dan tidak ingin kenyamanannya itu hilang karena adanya kebijakan konversi BBM.
    Mudah-mudahan prasangka saya itu ga benar, hehehehe…

    • Yang saya bahas hanya soal “apa” (system, kebijakan); dan berusaha menghindari bicara “siapa” (yang nyaman, yang diuntungkan atau yang mengambil keuntungan). Gitu Krish..🙂

  11. “A leader in well testing and early production facilities for the oil & gas industry”

    As a group company with world-class capabilities in well testing and fluid, our top priority is to offer the best service for business-based energy and resources in Indonesia. Dwipa Group was established as a company providing Non Destructive Testing for the oil and gas industry. We believe that through commitment, determination and passion for growth, opportunities are endless.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s