Tiga Kunci Untuk Tiga Situasi

Ada tiga kunci, kata seorang ustadz, bagi seorang muslim untuk hidup bahagia, baik di dunia maupun di akhirat. Tiga kunci ini sekaligus sebagai penawar untuk tiga kondisi umum yang pasti dialami oleh setiap kita.

Situasi pertama adalah di saat kita mendapatkan nikmat, baik berupa kekayaan – meskipun sedikit, jabatan yang baik, kelapangan dan kesehatan yang prima, hubungan yang harmonis, prestasi yang membanggakan, dan sebagainya. Dalam situasi ini, kunci yang harus dipegang oleh seorang muslim, kata ustadz tadi, adalah ‘syukur’. Ya, bersyukur saat mendapatkan nikmat adalah konskuensi logis.

Syukur yang paling agung, masih kata ustadz tadi, adalah ‘membalas’ pemberian Tuhan dengan bertauhid: tidak menyekutukannya dengan apa pun! Memurnikan ketaatan kepada-Nya adalah bentuk syukur paling afdol. Ibadah-ibadah amaliah adalah konsekuensi praktisnya.

Di samping itu, orang yang benar-benar bersyukur tidak akan menggunakan nikmat yang diperolehnya itu untuk maksiat kepada-Nya. Jadi, substansi ‘syukur’ ini ternyata jauh lebih dalam dari sekedar melafalkan: “Alhamdulillah”. Syukur yang timbul dari sanubari akan memberikan keindahan tersendiri di dalam hidup kita. Inilah pangkal kebahagiaan sesungguhnya.

Situasi yang ke dua adalah di saat kita dihadapkan pada situasi sulit, tempaan musibah, kehilangan keluarga atau harta, dicabutnya nikmat sehat, drop-out atau PHK, cerai dan sebagainya. Dalam situasi ini, kata ustadz juga, kunci yang harus dipegang adalah ‘sabar’.

Allah dengan lugas menyatakannya di dalam Qur’an: agar kita mencari pertolongan melalui ‘sabar’ dan sholat, di saat kita tertimpa petaka. Kata Imam Ali, kalau saya tidak salah kutip, ‘sabar’ adalah seumpama ‘kepala’ bagi keimanan seseorang. Ya, begitu sentral peran kesabaran ini di dalam menyokong keimanan. Sangat masuk akal, karena ketidaksabaran adalah salah satu titik lemah bagi robohnya keimanan.

Sama dengan ‘syukur’, untuk bersabar, kita juga perlu betul-betul meyakini bahwa memang cobaan itu adalah ‘kreasi’ Tuhan untuk menguji kita. Bahkan dalam suatu dalil dinyatakan, kurang lebih: jika Tuhan mencintai seseorang, Dia akan betul-betul mengujinya. Keyakinan ini akan mengarahkan kita pada sudut pandang yang tetap positif, seburuk apa pun situasinya. Wajar, jika dengan ‘sabar’, seseorang akan bahagia – pada akhirnya.

Situasi yang ke tiga adalah saat kita khilaf. Setiap manusia, sudah menjadi semacam aksioma, pasti tidak luput dari salah. Adalah penting untuk selalu waspada agar tidak melakukan kesalahan dan maksiat. Tetapi yang jauh lebih penting, karena aksioma tadi, adalah bagaimana tindakan kita apabila sadar telah melakukan kesalahan. Di sinilah peran kunci ke tiga: ‘taubat’.

Ya, taubat adalah ‘sahabat’ ke tiga setelah ‘syukur’ dan ‘sabar’, untuk mengarungi hidup ini. Bertebaran janji Allah di dalam Al-Qur’an, bahwa Dia Maha Pengampun dan akan mengampuni dosa hambanya yang bertaubat. Karena itu, manfaatkan sifat kemuliaan-Nya ini dengan sebaik-baiknya. Tidak ada jaminan, orang yang melakukan kebaikan akan selalu masuk surga. Juga tidak ada yang tahu, bahwa yang melakukan maksiat pasti punya kavling di neraka. Ya, rahasianya adalah ‘taubat’.

Itulah sekelumit makna yang saya serap, dari khatib Jumat siang tadi.

23 thoughts on “Tiga Kunci Untuk Tiga Situasi

  1. Yang ‘kasihan’ adalah ketika kita harus mengelus dada menghadapi orang yang tidak menerima taubat kita…..
    Sampai men’judge’, bahwa Kekhilafan yang benar-benar disadari oleh kita adalah akar utama kegagalan yang akan menimpa kita dimasa yang akan datang, tanpa mau melihat apalagi mensyukuri apa yang sedang kita lakukan dalam rangka taubat Itu…
    Bagaimana kita sebaiknya menghadapi orang semacam itu..
    Sampaikan kepada Ustadznya y kang??? (tapi siapa y ustadz itu???) kayaknya kalau ditunjukin saya kenal…Alumni SMA Krangkeng angkatan 2002 yang kuliah di ITB yang multitalented itu bukan???
    Semoga benar…cz saya gak perlu jauh-jauh kalo ada yang ingin ditanyakan…

    • Yang itu ustadz yang mana ya Ka?🙂
      Kalau pendapat saya yang bukan ustadz, simpel saja: kepada Tuhan, tugas kita hanya ‘meminta ampun’ atas kesalahan – soal diampuni atau tidak itu urusan Dia; kepada manusia, tugas kita hanya ‘minta maaf’ atas kekhilafan – soal dimaafkan atau tidak, bukan urusan kita lagi.
      Selebihnya, biar waktu yang akan membuktikan..🙂

    • Sama2 sob..
      Memang gampang dimengerti, tetapi berat utk dilaksanakan..
      Kadang, semakin banyak kita menerima nikmat, semakin tidak terasa nikmatnya.. jadilah kita semakin rakus.

  2. Saya kira syukur, sabar dan ikhlas. Karena itu yang saya coba jalankan selama ini. Ternyata ada 1 lagi yaitu taubat. Alhamdulillah dapat masukan lagi. Trims untuk sharingnya🙂 Dan semoga kita menjadi orang-orang yang selalu bersyukur, bersabar, ikhlas dan bertaubat.

  3. “A leader in well testing and early production facilities for the oil & gas industry”

    As a group company with world-class capabilities in well testing and fluid, our top priority is to offer the best service for business-based energy and resources in Indonesia. Dwipa Group was established as a company providing Non Destructive Testing for the oil and gas industry. We believe that through commitment, determination and passion for growth, opportunities are endless.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s