SDA atau SDM?

Tulisan ini tidak hendak mengulas pilihan mana yang lebih utama antara SDA dan SDM, tetapi justeru ingin mempertanyakan: betulkah keduanya adalah pilihan? Betulkah jika kita sudah berupaya membangun sumberdaya manusia dengan baik, maka sumberdaya alam bukan lagi menjadi wacana serius dalam membangun bangsa ini – dan karena itu bisa kita abaikan?

Pemikiran ini berangkat dari obrolan saya bersama seorang kawan, yang baru saja mengikuti sebuah diskusi dengan seorang tokoh yang sangat konsen dengan pembangunan sumberdaya manusia Indonesia. Dalam pandangan tokoh itu, sebagaimana buktinya secara empiris bisa kita temui pada masyarakat Jepang, Amerika Utara dan Eropa Barat, sumberdaya manusia adalah kunci bagaimana membangun bangsa ini.

Sampai detik ini, nyaris tidak ada satu pun contoh negara yang maju berkat kekayaan alamnya. Dalam konteks ini, barangkali kita harus bisa membedakan antara “negara kaya” dan “negara maju”. Arab Saudi adalah contoh “negara kaya”; Jepang adalah sampel “negara maju”. Determinasi “kemajuan” lebih dekat kepada kualitas sumberdaya manusia, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta aplikasinya pada sektor ekonomi-industri di negaranya – yang sifatnya dinamis. Sementara “kekayaan” identik dengan sumberdaya alam – dan bersifat statis.

Dari sisi ini, dan dalam lingkup negara secara “individual”, bukti empiris peran sumberdaya manusia ini nyaris tak terbantahkan. Jepang, negara yang sering dijadikan role model, memberikan satu bukti kuat bahwa SDM adalah kunci kemajuan suatu bangsa. Jepang bahkan seolah-olah tak pernah menganggap penting isu soal keterbatasan dan pengelolaan kekayaan alam mereka.

Namun, jika kita kaji lebih jauh, timbul satu pertanyaan: apa yang dibutuhkan oleh manusia-manusia Jepang, Amerika Utara dan Eropa Barat untuk membangun negaranya? Jawaban dari pertanyaan ini akan mengarah pada satu titik: bahan-bahan mentah dari alam yang mereka “sulap” menjadi produk-produk bernilai tambah tinggi!

Fakta ini mengarahkan kita pada pertanyaan selanjutnya: dari manakah bahan-bahan mentah dari alam yang mereka olah itu?

Dalam lingkup global, manusia-manusia cerdas tetap membutuhkan input sumberdaya alam untuk membangun negaranya. Mereka membutuhkan suplai bijih logam, silikon, minyak dan gas bumi, batubara, mineral, sumberdaya hayati, serat alam dan bahan-bahan mentah lainnya dari negara-negara yang kaya SDA – yang umumnya adalah negara berkembang. Indonesia adalah salah satunya.

Dalam lingkup global pula, kita akan melihat gambaran besar bagaimana rantai proses industrialisasi ini berlangsung: bahan mentah berasal dari negara berkembang, lalu diolah di negara maju, kemudian dipasarkan ke seluruh dunia – termasuk ke negara berkembang tempat bahan-bahan mentah itu berasal. Dari sini jelas terlihat, bahwa negara berkembang memiliki dua peran sekaligus: sebagai sumber bahan mentah dan sekaligus pasar yang sangat potensial. Negara-negara pengolah akan menikmati keuntungan ekonomi terbesar dari seluruh rantai proses ini.

Di sisi lain, negara-negara berkembang yang kaya sumberdaya alam harus mulai mewaspadai rantai proses ini. Meskipun hal ini sudah berlangsung selama beberapa abad terakhir, tetapi saat ini dan di masa-masa mendatang, proses pengurasan sumberdaya alam ini akan semakin cepat dari sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh sedikitnya dua faktor: teknologi yang semakin canggih dan pertumbuhan penduduk kelas menengah – yang sangat konsumtif – di seluruh dunia.

Jangan sampai kenaifan ini terjadi: kekayaan alam mereka terus dikeruk dengan sangat cepat dan rakus, untuk menyuplai proses industrialisasi di negara-negara maju. Pada saat yang sama, negara-negara berkembang itu berupaya keras membangun SDM negaranya – dengan mengabaikan fakta bahwa kekayaan alamnya saat ini terus terkuras.

Lalu, bayangkan kondisi berikut:  pada saat kualitas SDM negara-negara berkembang itu membaik, dan secara kolektif mereka membutuhkan input bahan-bahan mentah untuk membangun negaranya, mereka sudah kehilangan “stok” kekayaan alam. Lalu, dari mana lagi mereka mendapatkan suplai bahan-bahan mentah?

Tidakkah mereka mulai berpikir untuk mengelola sumberdaya alam mereka dengan sebaik-baiknya, melakukan konservasi, diversifikasi, dan tidak membiarkan korporasi multinasional mengeruk kekayaan alam mereka dengan rakus dan seenaknya?

Karena itu, saya melihat pembangunan sumberdaya manusia kita ini penting, tetapi tidak untuk mengabaikan pentingnya pengelolaan kekayaan alam kita. Yang lebih mengenaskan: jika kekayaan SDA kita terus dikuras, sementara pembangunan SDM kita pun masih setengah hati.

39 thoughts on “SDA atau SDM?

  1. ah, iya benar…
    seharusnya pembangunan SDA dan SDM dapat berjalan secara seimbang ya….
    miris memang melihat fakta yg terjadi di negara kita…😦

    *slm knl dan mksih sdh mampir di blogkuw*

  2. Dilihat dari perannya dalam ekonomi, menurut saya SDM dan SDA kita sudah seimbang, yang belum seimbang kan pengatur SDM dan SDA itu(baca oknum pemerintah)….makanya terjadi fenomena SDM yang pas-pasan mengelola SDA yang ekonomis hanya karena ia mempunyai teman dekat dan lain sebagainya. Sementara SDM kita yang sangat berkualitas banyak yang tidak dihargai dinegeri sendiri sebagaimana perusahaan Asing yang mengontrak jasanya….
    Yah, menurut saya muara dari pembicaraan itu (SDM dan SDA) di Indonesia terletak bagaimana peran pengatur, _dlm hal ini yang paling berwenang adalah pemerintah, baik saat ini yang menjabat, maupun mungkin kita-kita kelak jika berkesempatan duduk dalam jajaran pemerintahan_, untuk mengkondisikan terjadinya sinergi demi kemajuan bangsa.
    Jepang saja bisa mensinergiakan kedua hal itu diawali dengan Restorasi meiji hal mana dirintis oleh yang paling berwenang saat itu…baca Pemerintahnya…

    • Sebetulnya, probelmnya bukan pada “seimbang atau tidak seimbangnya” peran SDM dan SDA di dalam ekonomi. SDA kita memang telah memberikan kontribusi sekitar 25% APBN, dan untuk PDB entah berapa, saya belum punya angkanya. Tetapi jika kita lihat, sebagian besarnya (90%?) adalah “barang mentah”: minyak dan gas bumi, yang sebagian besar (sekitar 85%) dikuasai pengelolaannya oleh perusahaan asing. Kekayaan alam lainnya tidak terlihat memberikan sumbangsih signifikan, meskipun negara ini amat kaya sumberdaya alam.
      Persoalannya: pertama, penguasaan asing yang begitu dominan terhadap kekayaan alam Indonesia; ke dua, kita belum bisa memanfaatkan sendiri kekayaan alam kita – dengan menjadikannya produk bernilai tambah tinggi.
      Jadi, dua-duanya bermasalah: pembangunan SDM kita masih tertatih (angka IPM kita masih termasuk terendah di dunia); di sisi lain, SDA kita juga belum terkelola dengan baik. Ini PR kita bersama sebagai bangsa.

  3. Yang jelas SDM kita seharusnya lebih bisa ditingkatkan terutama keperdulian terhadap SDA karena jika tidak, kepunahan SDA berdampak kepada hancurnya SDM

    menurut saya lho

    • Tidak harus menunggu kawan, karena roda kehidupan terus berputar.🙂 Bekerjasama dengan pihak luar tidak jadi masalah, asal jelas posisi dan kedudukan masing-masing: Negara tetap berdaulat, kepentingan nasional di atas kepentingan bisnis, tetapi kontraktor tetap mendapatkan keuntungan ekonomis secara proporsional – sehingga kerjasama Negara – swasta (asing sekalipun) akan tetap menguntungkan kedua belah pihak.
      Makasih udah berkunjung balik ya..

  4. kalo saya mending tingkatin SDM nya dulu, dengan makin naik kualitas SDM maka SDA pun akan bisa lebih di maksimalkan, dan engga selalu ngasih makan orng luar terutama amerika,,,SDA kita ko yang untung org lain…piye toh

  5. sebagaimana yg menjadi tabiat “orang kaya”. “orang kaya” umumnya males untuk mengembangkan dirinya, lebih suka mencari cara bagaimana mempertahankan kekayaannya. sementara “orang tidak kaya” berjuang sekuat tenaga untuk bisa memperoleh pendidikan agar mereka bisa “maju”.😀

    Sovyet (Rusia) barangkali adalah satu contoh negara kaya dan maju.
    Begitupula China. gmn Gan?????

  6. semoga negara indonesia belajar banyak tentang kualitas sdm di negara jepang dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta aplikasinya pada sektor ekonomi-industri di negaranya – yang sifatnya dinamis. Sementara “kekayaan” identik dengan sumberdaya alam – dan bersifat statis

  7. “A leader in well testing and early production facilities for the oil & gas industry”

    As a group company with world-class capabilities in well testing and fluid, our top priority is to offer the best service for business-based energy and resources in Indonesia. Dwipa Group was established as a company providing Non Destructive Testing for the oil and gas industry. We believe that through commitment, determination and passion for growth, opportunities are endless.

  8. Tanpa menghormati dari isi artikel anda kami denature indonesia hanya sekedar memberikan solusi obat herbal untuk penyakit yang sedang anda deerita, mohon dimaafkan jika tidak berkenan obat gonore atau kencing nanah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s