Pertamina dan Subsidi BBM

Tampaknya, rencana penghapusan subsidi BBM semakin mendekati kenyataan. Pemerintah sudah terang menyatakan akan membatasi volume BBM bersubsidi, efektif mulai 1 Januari 2010. Yang jadi ‘pilot project’ adalah wilayah  Jabodetabek. Jadi, menjejak tahun 2011 mendatang, hanya “plat kuning” dan “roda dua” yang boleh mengkonsumsi BBM bersubsidi, baik solar maupun premium. Sementara “plat hitam”, juga “plat merah”, tidak diperbolehkan lagi menikmati subsidi.

Manajemen Pertamina menyambut baik rencana ini. Wajar, karena selama ini, mekanisme subsidi BBM sangat membebani keuangan korporasi. Pembayaran dari Pemerintah yang sering molor, membuat Pertamina kerap harus menalangi. Jumlahnya tak tanggung-tanggung: trilyunan rupiah! Jika kondisi fulus BUMN terbesar ini tidak baik, tentu sudah ambruk sejak lama. Dan, saya cukup yakin, belum ada yang sanggup mengambil alih ‘tugas mulia’ ini sepenuhnya.

Petronas jelas tersenyum lebar. Pasalnya, pembatasan BBM bersubsidi akan semakin meluaskan pasar mereka di Indonesia, meskipun sebetulnya mereka juga punya kesempatan untuk terlibat dalam pendistribusian BBM bersubsidi. Rencana ini memang sudah lama ditunggu-tunggu oleh pemain BBM asing di Indonesia. Selama Pertamina menjual BBM bersubsidi, sementara mereka tidak, selama itu pula SPBU asing akan ‘sepi’. Karena itu, barangkali Shell dan Total juga mulai tersenyum simpul, karena ‘arena permainan’ sudah semakin rata.

Tidak banyak yang tahu, bahwa untuk BBM industri yang non-subsidi, pangsa pasar Pertamina sudah banyak tergerus. Kini, pemain asing akan semakin leluasa mencaplok pangsa pasar BBM transportasi – sektor yang paling banyak menenggak BBM. Barangkali ini akan menjadi dilema bagi Pertamina sendiri. Dengan berkurangnya volume BBM bersubsidi, keuangan Pertamina akan sedikit tertolong. Di sisi lain, pelan tapi pasti, pangsa pasar Pertamina akan semakin aus.

Pertamina tidak akan bisa mengatasi dilema ini sendirian, karena solusinya harus dari dua sisi sekaligus. Pertama, dari sisi internal mereka sendiri, kualitas BBM non-subsidi Pertamina mesti betul-betul kompetitif. Begitu pula dari sisi marketingnya. SPBU ‘pasti pas’ harus diupayakan sebanyak mungkin, paling tidak harus menjangkau seluruh kota-kota besar di Indonesia. Untuk daerah ‘pinggiran’, apalagi terpencil, pemain asing jelas enggan untuk terjun ke sana. Selain marketnya kecil, mereka juga belum punya infrastruktur yang memadai hingga ke daerah. Karena itu, kota-kota besarlah ‘arena kompetisi’ sesungguhnya. Paling tidak, ini bisa bertahan hingga dekade mendatang.

Ke dua, dari sisi eksternal, loyalitas konsumen jelas diperlukan. Seandainya karakter masyarakat kita sudah seperti di Jepang, yakni mencintai produk bangsa sendiri, persoalan ini tidak begitu merisaukan. Kalau pun belum sebagus produk kompetitornya, setidaknya mereka akan memberi kesempatan bagi anak bangsa sendiri untuk berbenah. Lagipula, kualitas produk Pertamina sendiri sudah terbukti bisa bersaing di pasar dunia. Untuk pelumas, sejak beberapa tahun terakhir produk Pertamina sudah merambah ke ASEAN, Australia, Timur Tengah, dan tahun ini akan penetrasi ke Jepang. Bahkan untuk produk avtur, bahan bakar yang paling menuntut kualitas ketat, produk Pertamina sudah dibeli oleh Shell dan dipasarkan ke Inggris sejak Juni 2009 lalu.

Sebagai konsumen, kita memang punya hak untuk memilih produk dengan merek dan kualitas yang kita ‘anggap’ bagus. Tetapi perlu kita perhatikan, bahwa sebagai perusahaan Negara, Pertamina merupakan penyumbang deviden dan pembayar pajak terbesar ke APBN. Lebih jauh, suplai ‘darah’ perekonomian kita juga sangat bergantung pada kinerja BUMN migas ini. Kalau BUMN pabrik gula bangkrut, barangkali dampaknya bisa kita abaikan. Bahkan jika ‘industri strategis’ sekelas PTDI pailit, kita pun masih bisa berbesar hati. Tetapi jika Pertamina goyang, aliran BBM tersendat, dua-tiga hari saja, saya tidak bisa membayangkan dampaknya bagi Negara ini. Tidak saja dalam perekonomian, tetapi juga sosial-politik!

3 thoughts on “Pertamina dan Subsidi BBM

  1. pertamax… hehe

    sip mas, meski belum ngerti spenuhnya,, tp mdh2n kinerja dan kualitas pertamina bs terus meningkat… kan klo kualitas produk pertamina bagus,, knp hrus takut??

  2. “A leader in well testing and early production facilities for the oil & gas industry”

    As a group company with world-class capabilities in well testing and fluid, our top priority is to offer the best service for business-based energy and resources in Indonesia. Dwipa Group was established as a company providing Non Destructive Testing for the oil and gas industry. We believe that through commitment, determination and passion for growth, opportunities are endless.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s