Pertamina-Medco Batal “Kawin”

Beberapa hari lalu, saya sudah mengulas tentang rencana Pertamina untuk mengakuisisi 60,6% saham Encore Energy International (EEI). EEI merupakan induk perusahaan Medco Energy International (MEI), yang merupakan imperium bisnis keluarga Panigoro. Dengan membeli EEI, Pertamina akan menguasai secara tidak langsung 27,9% saham MEI. Keduanya telah sepakat untuk melanjutkan proses tersebut ke periode eksklusif, hingga 30 November 2010.

Tepat pada hari berakhirnya periode eksklusif tersebut, Pertamina memutuskan untuk batal mengakuisisi saham EEI. Secara serentak, nyaris seluruh media terkemuka memberitakan akhir dari penjajakan merger dua “raksasa” migas domestik itu. Namun demikian, masih belum jelas alasan mengapa keputusan itu diambil.

Bagaimana pun, transaksi yang ditengarai akan merugikan negara itu memang harus diurungkan.

Meski Direksi Pertamina masih belum memberikan penjelasan lugas soal alasan pembatalan transaksi itu, namun bisa jadi dua hal berikut yang menjadi ganjalan.

Pertama, beredar kabar bahwa dua fraksi besar di Dewan, Golkar dan PDIP, menentang keras rencana akuisisi tersebut. Saya jadi berspekulasi, apakah ada kaitannya dengan petinggi kedua partai tersebut? Namun, sumber dari Tempo menyebut, bahkan semua fraksi di Dewan menolak, termasuk Komisi VII – Komisi Energi.

Soal mengapa Golkar dan PDIP menolak rencana tersebut, juga masih misteri. Namun, Komisi VII terang menolak akuisisi tersebut karena Pertamina bukan membeli interest di blok-blok yang sudah produksi, malah membeli saham. Dengan begitu, jelas, Pertamina tidak akan mendapatkan minyak atau gas, kecuali secuil deviden dari perusahaan yang kinerjanya tengah melempem itu.

Benarkah alasan penolakannya memang demikian? Atau, seperti biasa, logika kepentingan yang bermain? Entahlah. Yang jelas, bagi Direksi Pertamina, tentu penolakan dari semua fraksi plus komisi yang membawahi persoalan migas itu merupakan ganjalan serius.

Ke dua, akhir Oktober lalu, Serikat Pekerja Pertamina telah melayangkan surat ke Dirut Pertamina, untuk meminta klarifikasi soal rencana akuisisi Medco yang dinilai terlalu mahal dan soal mundurnya Direktur Hulu Pertamina. Surat itu tembus ke mana-mana: ke Kementrian BUMN, ESDM, Sekretariat DPR, serikat pekerja BUMN strategis, LSM, dan sebagainya.

Entah kebetulan atau bukan, tak lama setelah surat itu beredar, Direksi Pertamina beberapa kali dipanggil untuk dimintai klarifikasi oleh DPR. Salah satu LSM yang sangat kritis soal migas dan tambang, IRESS (Indonesia Resources Studies), juga menerbitkan satu pernyataan keras menolak akuisisi tersebut. Pernyataan itu juga disebarkan ke mana-mana. Opini publik pun terbentuk.

Sudah tentu, pemanggilan oleh DPR dan opini publik yang negatif tersebut merupakan tekanan yang cukup kuat bagi para pengambil keputusan di Pertamina.

Saya sendiri berharap, jangan sampai Pertamina digerogoti secara perlahan oleh kelompok kepentingan eksternal. Kasihan negara ini, jika BUMN harus membeli perusahaan swasta dengan harga yang kelewat mahal, seperti kasus Pertamina-Medco ini, sementara BUMN sendiri dijual dengan harga murah ke swasta, semisal kasus IPO Krakatau Steel tempo hari.

9 thoughts on “Pertamina-Medco Batal “Kawin”

  1. Soal IPO KS, itu yang 80% sudah dijual ke salah satu “pihak”, dan yang dilepas ke “publik” cuma 20%.

    Saya belum menangkap keseluruhan argumen Cas, soal penolakan merger. Bisa dibahas nggak, performa internal dua sisi, baik dari Medco maupun Pertamina ? Bagaimana prospek keduanya jika tetap berpisah, dan bagaimana jika merger ?

    Terus, bisa dibahas nggak ( minta lagi), soal pembolehan lahan hilir dimasuki pemain luar ? Soalnya, sepemahaman saya, kualitas pertamax Pertamina, tidak lebih bagus dibanding kompetitor luar, dari situ pun sudah kalah, apalagi kalau harganya disamakan, jelas kalah telak.

    Trims ya

    • Jadi, sebagian petanyaan sudah terjawab ya lih..🙂
      Untuk performance Pertamina, mudah2an bisa saya tulis di lain kesempatan. InsyaAllah akan saya tulis dari beberapa view: produksi migas, pendapatan dan laba, operasional, human capital dsb.
      Soal kualitas Pertamax, saya sendiri belum menemukan fakta “lmiah”, bahwa memang produk Pertamina tdk lebih baik. Saya masih melihatnya sebagai “persepsi”. Barangkali dari kawan2 teknik kimia atau mesin-otomotif bisa membahas lebih dalam masalah ini.
      Sy juga sudah mengulas sedikit masalah liberalisasi hilir migas di beberapa tulisan di blog ini.

  2. Soal beda kualitas itu fakta atau persepsi, ada baiknya tim intelijen bisnis Pertamina menindaklanjuti. Kenapa ? Kasus di industri farmasi lokal, soal perbandingan obat generik dengan obat bermerk, sudah menjadi isu tersendiri di kalangan dokter. Obat generik disinyalir menggunakan bahan pembantu ( eksipien) yang beda kualitas, dengan obat bermerk.

    Saya paham jika untuk efisiensi, tapi, memang industri farmasi sendiri, tidak akan pernah merilis soal pembeda ini, karena obat generik ini politis, soal keterjangkauan daya beli. Teknologi formulasi yang dipakai oleh industri farmasi jelas sama, hanya beda eksipien dan komponen akselerator pelepas zat aktif, mungkin satuannya mikro.

    Ini juga saya coba konfirmasi ke dokter yang di asosiasi rumah sakit daerah, karena pemakain jenis obat di RS, itu kan otoritas komite medik, yang anggotanya dokter spesialis. Kalau di RS swasta, sudah pasti memilih obat bermerk, karena ada jatah komisi buat dokternya, kalau RSUD, kemungkinan itu kecil.

    Begitulah🙂

    • Saya sendiri melihat, kualitas produk Pertamina tidak kalah dengan produk dunia. Buktinya, dalam hal pelumas, Pertamina sudah melakukan penetrasi ke pasar dunia, termasuk Australia dan Jepang. Soal Pertamax, yang saya tahu itu kan soal bilangan oktan saja. produk BBM dengan nilai oktan yang sama, mestinya kualitasnya juga sama.
      Kalau di bidang farmasi, mungkin bisa begitu Lih, karena masing2 industri bisa leluasa menggunakan resources yg berbeda. Kalau ini kan sama2 dari perut bumi.
      Ini mungkin masih perlu dikonfirmasi dengan pembuktian performance mesin yg menggunakan produk Pertamina dan produk kompetitor. Sekali lagi, saya belum punya datanya..🙂

  3. Pertamax tidak lebih bagus dari competitor….
    setahu saya baru shell dan petronas yg asli produk mereka…
    SPBU Total produknya msh order dari pertamina & di beberapa kota Petronas pun msh order dari pertamina.
    Sama kasusnya dengan oli banyak perusahaan kompetitor yg membeli oli curah dari pabrik blending pertamina di jakarta dan surabaya…truzz merka bikin kemasan dan buat iklan yang ‘wah’ di media….

    • Petronas juga masih ngambil BBM dari Plumpang, punya Pertamia tuh..🙂
      Pertamax tidak lebih bagus, tetapi tidak kalah bagus juga kan..🙂
      Yah.. begitulah. Salah satu impact deregulasi dunia migas di tanah air.

  4. “A leader in well testing and early production facilities for the oil & gas industry”

    As a group company with world-class capabilities in well testing and fluid, our top priority is to offer the best service for business-based energy and resources in Indonesia. Dwipa Group was established as a company providing Non Destructive Testing for the oil and gas industry. We believe that through commitment, determination and passion for growth, opportunities are endless.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s