Harta

Dalam Islam, kita sudah maklum, bahwa setiap diri akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT, kelak, tentang beberapa soal. Jika terkait umur, masa muda dan soal lainnya akan ditanya sekali saja, maka soal harta kita akan ditanya dua kali: dari mana harta itu kita dapatkan?; ke mana harta itu kita belanjakan?

Soal harta ini memang pelik. Banyak fitnah yang menyelimutinya. Fitnah harta, kata seorang ustadz, dapat kita pisahkan menjadi dua domain: fitnah dalam ‘mencari’ dan fitnah dalam ‘membelanjakan’. Dalam pergulatan kita mencari harta, banyak sekali duri, atau lubang, atau perangkap, atau apa lah namanya, yang bisa menjerat kita ke dalam dosa dan kehinaan. Fitnah dalam ‘mencari’ harta dikategorikan menjadi dua. Pertama, mencari harta dari ‘sumber’ maupun dengan ‘cara’ yang haram. Korupsi, suap, nodong, nipu, jual beli barang haram, dan sebagainya, adalah contoh-contoh sumber harta yang sudah jelas haram.

Harta yang haram, kata ustadz, akan membawa kerusakan bagi yang mencari dan menerimanya, baik dunia maupun akhirat. Di dunia, jelas harta itu tidak akan membawa berkah. Anak-isteri yang dinafkahi barang haram juga tidak akan memberikan kebahagiaan sejati. Banyak sudah contohnya, bagaimana harta yang haram ini meluluhlantakkan rumah tangga seseorang: isteri membangkang atau bahkan selingkuh; anak terlibat kasus obat terlarang, atau sekolahnya amburadul, dan sebagainya.

Ke dua, selain yang sudah jelas haram, juga harta yang melalaikan kita dari jalan Allah. Harta jenis yang ke dua ini juga tidak kalah daya rusaknya terhadap kehidupan sesorang, dunia maupun akhirat. Disadari atau tidak, kita seringkali lalai melaksanakan ibadah, manakala disbukkan denga urusan duniawi yang profan. Bagi saya sebagai karyawan, tentu harus lebih berhati-hati dari jenis fitnah ini, karena memang seorang karyawan tidak memiliki keleluasaan waktu. Jam kantor sudah tertentu, meskipun seringkali menerabas waktu-waktu ibadah. Atau kadang meeting yang panjang, melelahkan sekaligus melenakan. Juga bagi yang tinggal di Jakarta, seringkali di waktu-waktu sholat, kita masih terjebak di tengah belantara kemacetan.

Jadi, boleh saja kita bersyukur bahwa kita tidak mencari harta dari sumber maupun dengan cara yang haram, tetapi perhatikan betul fitnah ke dua ini:  jika itu dilakukan dengan melalaikan kewajiban transendental kita kepada Allah SWT, maka tetap saja hal itu menjadi sumber kehinaan!

Andai pun kita masih lolos dari jebakan fitnah dalam ‘mencari’ harta, maka jangan dulu merasa lega. Masih ada beberapa fitnah yang masuk dalam domain ‘membelanjakan’ harta. Pertama, bakhil, alias kikir, bin medit, saudaranya pelit, masih satu klan dengan kucrit. Tidak sedikit yang hartanya 100% halal, tetapi tidak luput dari sifat ini. Konsekuensinya serupa, yaitu kerusakan!

Ke dua, sifat tabdzir (mubazir), atau foya-foya dengan hartanya, untuk sesuatu yang minim makna. Kita memang punya justifikasi yang rasional untuk melakukannya. Karena jika harta itu halal sepenuhnya, hasil tetesan keringat sendiri, lalu saya menikmati sesuka saya, why not? Toh, tidak ada orang yang saya dzolimi? Inilah jebakan halus yang bisa merusak hidup kita, terutama para agniyaa, atau orang-orang mapan.

Patut kita ingat, bahwa di dalam Islam, harta hanya boleh dialokasikan untuk dua hal saja. Pertama, mencukupi kebutuhan hidup pribadi dan keluarga kita. Sewajarnya. Ke dua, diinfakkan ke jalan Allah. Fii sabilillah. Menabung untuk anak-anak kita sekolah, atau untuk cadangan kita berobat jika sakit, adalah termasuk kebutuhan tadi. Jika kebutuhan hidup kita sudah ‘wajar’: rumah layak, kendaraan pantas, kebutuhan sehari-hari tercukupi, anak-anak mendapatkan pendidikan yang baik, orang tua dan saudara-saudara kita tidak terlantar, maka sisa harta itu hukumnya wajib diinfakkan di jalan Allah.

Infak di jalan Allah tentu tidak melulu dalam bentuk sumbangan untuk mesjid, panti asuhan atau madrasah. Membangun sebuah perusahaan, dengan itikad baik untuk mengentaskan kemiskinan, memuliakan kehidupan kaum muslimin, adalah termasuk di dalamnya. Karena itu, berbahagialah mereka yang dikaruniai harta yang banyak, dan dengan hartanya itu dia banyak berinfak di jalan Allah. Abu Bakar Shidiq adalah teladan yang baik untuk hal ini. Bukan sebaliknya: hartanya menghinakan dirinya dengan serendah-rendahnya. Dan Qorun adalah role model untuk yang terakhir ini.

Itulah, sekelumit pelajaran yang saya tangkap dari sang khatib, Jumat siang tadi.

17 thoughts on “Harta

  1. dah seabad rasanya bunda gak bertamu kesini,😳
    rumah Mas Dira dah di cat baru……..🙂

    terimakasih utk tulisan yg mencerahkan ini,Mas Dira.
    kita sesama muslim memang wajib saling mengingatkan dlm kebaikan.
    krn harta biasanya mampu membuat kita melupakan kewajiban yg telah tertulis jelas di Al-Qur;an dan hadist.
    salam

  2. Harta yang paling berharga adalah iman. Terkadang kita sibuk cari harta dengan berbagai jalan semantara itu kita juga lupa bahwa ada harta yang mesti kita jaga seutuhnya yaitu iman.

    Insya Allah kalau iman tetap melekat, apapun yang menjadi milik kita akan amanah di jalan Allah.

  3. @Miftah membuka aib.. Hehe..

    Terimakasih sudah sharing di sini kang, sangat mencerahkan! Yang paling dekat dengan kita mungkin yang ‘halus2’ itu tadi.. Lalai waktu sholat, kikir, dan mubadzir…

  4. membelanjakan harta dalam bentuk sidkah kpd orang miskin pun sebaiknya dilakukan secara bijak. sebab tidak sedikit niat kita dalam membantu orang miskin justru malah menjerumuskan mereka ke dalam lubang “mental pengemis” yang sudah mengakar di kalangan masyarakat negeri kita.

    • Pada dasarnya, tugas kita hanya berinfak pada orang2 yg berhak, sesuai dg ketentuan di dalam agama. Soal itu menjadikan mental pengemis, itu urusan mereka secara pribadi dg Tuhan mereka.
      Yg jelas, kalau mengemis sudah dijadikan “profesi”, itu sudah tdk bener.. dan kita tentu tdk perlu tolong-menolong utk sesuatu yg tdk bener.

  5. “A leader in well testing and early production facilities for the oil & gas industry”

    As a group company with world-class capabilities in well testing and fluid, our top priority is to offer the best service for business-based energy and resources in Indonesia. Dwipa Group was established as a company providing Non Destructive Testing for the oil and gas industry. We believe that through commitment, determination and passion for growth, opportunities are endless.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s