Pertamina Akuisisi Medco, Apa Untungnya?

Jelang akhir tahun 2010, isu dunia migas Indonesia kembali ramai. Kali ini, tentang rencana Pertamina untuk mengakuisisi saham Medco Group. Konon, Pertamina akan mengambil saham Encore Energi International (EEI), pemilik 50,7% saham Medco Energi International (MEI). Dengan mengambil saham EEI, Pertamina secara tidak langsung akan menguasai 27,9% saham MEI.

“Ini untuk memperkuat posisi Pertamina,” kata Menteri BUMN dalam suatu kesempatan.  Dalam kesempatan lain, Arifin Panigoro, selaku pendiri dan pemilik Medco Group,  juga menganggap hal ini menjadi bagian dari upaya mewujudkan “Indonesia incorporated”.  Konon, hal ini juga akan memperkuat kedua perusahaan, dengan mensinergikan kemampuan teknis, finansial, bisnis dan sumberdaya dari kedua perusahaan minyak nasional. Sumber dari Pertamina sendiri mengaku bahwa transaksi ini merupakan langkah korporasi dalam rangka pemenuhan target peningkatan produksi. Benarkah demikian?

Saya melihat transaksi itu malah tidak begitu jelas apa untungnya bagi Pertamina. Pertama, pembelian (saham) perusahaan kurang tepat dengan “nature” bisnis Pertamina. Seharusnya, jika memang peningkatan produksi yang diinginkan, maka seharusnya yang dibeli adalah di level participating interest (PI) aset atau blok-blok yang sudah produksi, bukan saham atau di level SPV (special purpose vehicle). Dengan membeli saham, Pertamina hanya akan mendapat deviden, bukan entitlement berupa minyak atau gas bumi, sehingga tujuan untuk menambah produksi minyak adalah statement yang kosong.

Ke dua, kondisi aset migas Medco ditengarai tidak begitu bagus. Banyak lapangan-lapangan Medco yang masih dalam tahap eksplorasi. Artinya masih membutuhkan investasi yang besar untuk pengembangan. Tidak semua blok cadangannya bagus. Di samping itu, yang sudah berproduksi pun tidak kinclong. Sayangnya, dengan membeli perusahaan, artinya Pertamina membeli aset-aset Medco secara “gelondongan”, ibarat membeli satu keranjang buah yang isinya ada yang bagus dan ada yang tidak. Karena itu menjadi pertanyaan: mengapa tidak dipilih aset-aset yang bagus saja? Dengan kata lain, membeli PI di blok-blok yang produksi saja?

Ke tiga, dengan melihat kondisi aset migas yang kurang bagus tadi, hal itu dibuktikan dengan minimnya laba perusahaan. Konon, tahun 2010 ini, laba perusahaan yang akan dibeli itu hanya 12 juta US dolar. Tahun 2009 bahkan hanya 9,5 juta US dolar. Sangat kecil untuk ukuran Pertamina.  Ditambah lagi utang-utangnya yang banyak, sekitar 900 juta dolar AS (versi IRESS), atau 1,32 milyar dolar AS (sumber Tempo). Utang-utang itu juga akan menjadi beban Pertamina pasca akuisisi. Tanpa hitung-hitungan bisnis yang rumit pun, membeli perusahaan dengan laba sedemikian kecil dan utang sedemikian besar, jelas tidak prospek. Salah satu sumber, yang sudah melakukan kalkulasi, juga mengatakan bahwa IRR (internal rate of return) korporate Medco negatif. Jadi, secara keekonomian, perusahaan itu jelas tidak bagus.

Dengan laba sebegitu kecilnya, dan utang-utang yang setumpuk, sangat tidak masuk akal jika Medco pasang harga 700 juta US dolar. Memang, Medco membanggakan satu aset migas mereka di Libya yang konon memiliki cadangan 300 juta barel lebih. Konon, pada puncaknya, lapangan itu bisa menghasilkan 160 ribu barel per hari. Tetapi, toh, itu juga belum produksi, masih perlu pengembangan yang memakan investasi tidak sedikit. Belum lagi Pertamina tidak bisa menikmati minyaknya secara langsung, sekali lagi, hanya deviden perusahaan.

Belakangan, terdengar kabar bahwa Medco menyatakan minatnya untuk mengelola Blok Mahakam bersama Pertamina. Hal ini menguatkan dugaan bahwa aset Medco esksisting tidak begitu bagus, karena itu mereka jual. Karena itu pula, pendapat bahwa Medco akan beralih fokus ke bisnis energi terbarukan menjadi kabur. Buktinya, mereka masih mengincar aset migas yang mentereng.

Yang dikhawatirkan sesungguhnya adalah adanya pihak-pihak yang berkuasa dan memiliki kepentingan terhadap transaksi trilyunan rupiah ini. Hal ini diperkuat dengan indikasi adanya pengunduran diri seorang direktur hulu Pertamina. Jangan-jangan, memang ada “tekanan” yang kuat dari pihak eksternal? Wallahu a’lam.

22 thoughts on “Pertamina Akuisisi Medco, Apa Untungnya?

  1. Saya sepakat sekali dengan point ke-2 kang… kan sangat merugi jika ternyata ‘aset-aset’ yang dibeli gelondongan itu malah menjadi beban Pertamina..

    Semoga hal-hal semacam ini juga dipikirkan oleh para pemilik keputusan ya…

    • Logikanya sih memang sederhana kang asep, orang yg beli buah di pasar aja bisa mengambil keputusan, apakah beli sekeranjang buah (yg baik dan busuk bercampur) atau memilih buah yg bagus2 saja.. Lagi2, ini bukan soal logika bisnis, tetapi logika kepentingan..

  2. Ping balik: Pertamina-Medco Batal Kawin « Mengais Makna

  3. Oke, maaf, pertanyaan saya koreksi lagi, sebagian terjawab disini.

    Kepentingan Arifin Panigoro sendiri, apakah sudah ada yang membuka ? Soal Indonesia Incorporated itu, skala ekonominya kan juga harus dihitung, saya kok masih belum jelas dengan motifnya ya.

    Kalau performa Pertamina sendiri, bagaimana Cas ? Ini baru sisi Medco kan ? Mohon ada lanjutan tulisannya ya🙂

    • Justeru saya melihat motif aksi korporasi masih “samar2”. Yg jelas, keluarga Panigoro akan untung besar, bila transaksi ini jadi. Wong, yg dibeli oleh Pertamina itu tidak jelas perusahaannya ada di mana, jangan2 cuma “paper company”. Kita tdk pernah tahu apa itu Encore Energy, sang induk Medco itu.

  4. “A leader in well testing and early production facilities for the oil & gas industry”

    As a group company with world-class capabilities in well testing and fluid, our top priority is to offer the best service for business-based energy and resources in Indonesia. Dwipa Group was established as a company providing Non Destructive Testing for the oil and gas industry. We believe that through commitment, determination and passion for growth, opportunities are endless.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s