Mendiang Soeharto: Pahlawan? (1)

Pagi ini, sebelum berangkat ke kantor, televisi masih saja ramai membicarakan mengenai rencana pemberian gelar “pahlawan” bagi Pak Harto. Pro-kontra jelas ada. Ada juga yang menilai “belum saatnya”, atau “menunggu waktu yang pas”. Mereka, para “pakar”, menilai kondisi bangsa saat ini belum “tenang”, sehingga pemberian gelar itu sebaiknya ditunda. Toh, gelar pahlawan seringkali disematkan setelah berpuluh-puluh tahun yang bersangkutan wafat. Mengapa Pak Harto mesti terburu-buru? Masuk akal juga.

Memang, bahwa sebagai seorang presiden, juga sebagai manusia biasa, kekurangan atau kelemahan adalah hal biasa. Lagipula, jasa beliau juga tidak sedikit, setidaknya saya bisa melihat dari indikator makro-ekonomi sebelum dan sesudah Pak Harto bertahta. Visi “stabilitas politik” dan “pertumbuhan ekonomi” beliau sangat power full, sehingga dalam waktu kurang dari 30 tahun, Indonesia dijuluki sebagai “Asian Miracle” di era 90-an, setelah ekonomi kita luluh lantak pada pertengahan 60-an. Pertumbuhan ekonomi kita melaju sekitar 7%. Angka kemiskinan menurun tajam, dari sekitar 56% pada tahun 1970, menjadi sekitar 13% pada tahun 1997 (meskipun kita masih bisa berdebat tentang “paramater” atau “kriteria” kemiskinan yang dimaksud). Inflasi juga cenderung rendah, sebagai implikasi dari upaya mengedepankan “stabilitas” politik dan ekonomi. Fokus pada pemenuhan kebutuhan dasar (basic needs) penduduk juga merupakan upaya yang patut diapresiasi.

Sebagai kepala negara, beliau juga sangat visioner, dengan membuat rencana jangka menengah dan panjang (Repelita) yang terencana dan sistematis. Hal ini bahkan tidak terlihat sama sekali dari presiden-presiden setelah beliau.

Dari sisi pembangunan infrastruktur, tentu banyak yang dibangun selama 32 tahun kepemimpinan Pak Harto, baik itu sarana pendidikan, kesehatan, jalan, pelabuhan, bandara dan sebagainya. Bagi saya yang tinggal di kampung, “kehadiran” pak Harto bisa dilihat dari pembangunan sektor pertanian, mulai dari infrastruktur pertanian seperti irigasi dan bendungan, maupun sarana penunjang usaha pertanian lainnya semisal dolog (tempat penyimpanan beras), KUD-KUD yang berkembang pesat dan sebagainya. Bersamaan dengan “revolusi hijau” yang terjadi di berbagai belahan dunia, Indonesia juga mengalami akselerasi peningkatan produktivitas sektor pertanian sejak tahun 70-an. Hingga puncaknya terjadi pada tahun 1984, untuk pertama kalinya, Indonesia mengalami swasembada beras.

Pertanyaannya, dengan sederet “jasanya” itu, pantaskan gelar pahlawan disematkan? Kita patut menilik, sejauh mana seseorang “yang berjasa” itu layak disebut pahlawan. Hal ini penting, agar tidak “mengaburkan” makna bagi mereka yang memang betul-betul sosok pahlawan sejati. Tanpa kehati-hatian memberikan gelar pahlawan, maka nilai “kepahlawanan” itu sendiri akan menjadi absurd.

13 thoughts on “Mendiang Soeharto: Pahlawan? (1)

  1. (Maaf) izin mengamankan KEDUAX dulu. Boleh, kan?!
    Sayangnya dulu sewaktu masih hidup pengadilan untuk beliau selalu tertunda sehingga sampai sekarangpun pendosa atau pahlawankah beliau begitu samar.

    • Saya kira semua orang suka gelar, termasuk masyarakat Amrik, makanya banyak acara “kontes” di dunia ini, utk mendapat “gelar” tertentu, dari mulai American idol, ….. go talent, dan sebagainya.
      Gelar memang punya daya tarik tersendiri..

  2. Hehe masih kecil kok di omongi tentang kenegaraan, tapi ya gak apa-apa sih, negeri ini memang sudah porak-poranda. Hancur tak beraturan. Hukumnya pun sudah menjelma hukum rimba.

    • Iya… realitas. Meskipun optimisme masih harus kita tumbuhkan. Banyak sisi baik yg belum terungkap, termasuk orang2 yg bersih dan berdedikasi kepada bangsa dan negara ini..

  3. Pak Harto, sebagai manusia punya sisi baik dan buruk. Tapi sayangnya, hal-hal yang baik yang berhubungan dengannya dibabat habis.

    Terima kasih Kang atas tulisan menarik ini.
    Salam.

    • Pada saat Pak Harto lengser, memang semua orang yg dekat dan “dibesarkan” oleh orde baru cuci tangan..berusaha melepaskan diri dari semua atribut orde baru, jadilah yg baik2 pun dilibas…

  4. “A leader in well testing and early production facilities for the oil & gas industry”

    As a group company with world-class capabilities in well testing and fluid, our top priority is to offer the best service for business-based energy and resources in Indonesia. Dwipa Group was established as a company providing Non Destructive Testing for the oil and gas industry. We believe that through commitment, determination and passion for growth, opportunities are endless.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s