“Ledakan” LPG, UU Migas dan BPH Migas

800 Tabung LPG "Siap Ledak" (Antara)Isu “ledakan” LPG memang sudah mereda, meskipun tempo hari masih ada satu kasus yang muncul di layar kaca. Namun, bukan berarti persoalan itu selesai. Kita tahu, sebuah isu kerap jauh terlihat lebih besar dari yang sesungguhnya, manakala ada kepentingan tertentu yang dituju. Begitu juga sebaliknya, hal-hal besar terjadi, tetapi tidak muncul ke permukaan, lantaran terbentur kepentingan tertentu yang lebih besar. Hal yang sama bisa terjadi dengan ledakan LPG.

Dari sekian banyak pemberitaan dan analisis yang muncul, sebagian besar menyorot Pertamina selaku produsen dan distributor LPG, padahal sederet lembaga negara lainnya juga turut andil dan bahkan seharusnya lebih bertanggungjawab.

Kalau kita amati, penyebab terjadinya ledakan ini ada dua. Pertama, kondisi tabung dan aksesorisnya yang tidak layak pakai, akibat banyaknya produsen, pengedar maupun pengecer “liar” tabung LPG beserta aksesorisnya. Bisa dimaklumi, mengingat ini merupakan ladang bisnis baru bagi orang-orang yang mau mengambil keuntungan dengan cara-cara yang kotor. Saya kira, itu sudah lazim terjadi di negara kita.

Ke dua, faktor human error, akibat minimnya pengetahuan masyarakat tentang pemakaian LPG yang benar dan aman. Salah satunya pemakaian selang yang asal-asalan, dililit pakai isolasi, diikat dengan kawat, dan sebagainya. Tidak sedikit juga yang menyimpan tabung dan kompor pada posisi yang sejajar dan berdekatan. Jika terjadi kebocoran, kontan saja ledakan terjadi. Padahal, jika posisi tabung diletakkan semestinya, kecil kemungkinan terjadi ledakan, sekalipun tabung bocor, karena berat jenis LPG relatif lebih besar daripada udara.

Di samping itu, lingkungan atau ruang dapur yang buruk juga turut memicu terjadinya ledakan. Salah satunya karena minim ventilasi, atau bahkan ruang dapur yang menyatu dengan ruang tidur dan sebagainya. Harus diakui, ini memang sulit dihindari karena faktor kemiskinan. Kawan penyuluh Pertamina malah punya joke, banyak masyarakat miskin yang tidak tahu bahwa LPG yang dipakainya bocor, lantaran tidak bisa membedakan bau LPG dengan got di sebelah rumahnya.

Faktor lemahnya pengawasan dan minimnya sosialisasi barangkali turut jadi penyebab maraknya kasus ledakan LPG. Siapa yang sesungguhnya paling bertanggungjawab? Apakah memang betul Pertamina? Sebagian masyarakat sudah menyadari, bahwa Pemerintahlah yang sesungguhnya bertanggungjawab, mengingat program konversi dari minyak tanah ke LPG merupakan mandat Pemerintah melalui wakil presiden yang menjabat pada waktu itu.

Nyaris tidak ada yang menyadari peran lembaga negara yang sudah dibentuk berdasarkan undang-undang dan bertugas mengatur dan melakukan pengawasan terhadap sektor hilir migas: BPH MIGAS! UU No 22 tahun 2001 telah menyudahi kewenangan Pertamina sebagai penanggungjawab sektor migas di Indonesia, baik hulu maupun hilir. “Nasib” sektor hulu telah diserahkan ke BPMIGAS, sementara sektor hilir diserahkan ke tangan BPH MIGAS.

Fakta bahwa Pertamina yang menjadi produsen dan distributor LPG, itu soal lain, karena Pertamina harus melalui proses tender untuk memenangkan “proyek” pengadaan konversi minyak tanah ke LPG. Saya tidak tahu persis bagaimana kontrak antara Pertamina dan Pemerintah soal program konversi ini. Tetapi semestinya, sebagai BUMN “biasa”, tugas Pertamina hanya sebatas pada proses “pengadaan” LPG, tabung maupun aksesorisnya – yang memang betul produk Pertamina, di luar tabung dan aksesoris abal-abal. Soal pembinaan dan pengawasan tetap menjadi tanggungjawab Pemerintah melalui BPH MIGAS, sesuai dengan amanat Undang-Undang Migas.  

Soal pengawasan produksi tabung, semestinya Departemen Perindustrian juga ikut andil. Begitu juga Departemen Perdagangan, seharusnya mereka ikut menyingsingkan lengan baju mengawasi perdagangan tabung LPG dan aksesorisnya yang beredar di pasaran. Lantas kenapa perhatian publik justeru terpusat pada Pertamina?

Inilah titik lemah lainnya dari UU Migas. Undang-undang ini memberikan mandat pengelolaan sektor hilir migas kepada BPH MIGAS yang sama sekali tidak memiliki infrastruktur pendukung. Wajar, lembaga ini kurang efektif dan nyaris tidak dikenal masyarakat luas. Bagaimana pun, sorotan publik terhadap Pertamina bisa dipahami dan mencerminkan harapan masyarakat kepada Pertamina sebagai satu-satunya badan usaha milik negara yang bisa mengemban tugas mengelola sektor migas. Pertamina lah yang memiliki kelengkapan infrastruktur pendukung, baik di sektor hulu maupun hilir. Karena itu, akan jauh lebih efektif jika pengelolaan sektor migas dikembalikan kepada Pertamina, bukan BPMIGAS dan BPH MIGAS

16 thoughts on ““Ledakan” LPG, UU Migas dan BPH Migas

  1. Mas Dira,
    Saya mau urun komentar soal LPG. Sebagai alumni Teknik Gas dan Petrokimia yang notabene ada belajar gasnya masih kerepotan kalau pasang regulator LPG. Saya jadi berpikir bagaimana orang awam, apa ngga lebih kerepotan lagi. Seharusnya konsep pemasangan regulator LPG mengacu pada konsep “plug & play” sehingga orang yang “paling bodoh” pun bisa memasang regulator tersebut.

    • Idealnya memang begitu mas. Kalau sosialisasi sulit dilakukan, salah satu solusinya kita bikin peralatannya yg mudah dioperasikan oleh semua orang. Semoga masukan ini didengar.

  2. lagi2 masalah informasi …
    lah wong yang orang jakarta aja banyak yang gtw tentang BPH Migas, apalagi yg di pedalaman
    di sekitar Kutu juga banyak yg gak paham gmana make LPG

    makanya menurut Kutu, sbenernya ini cuma masalah pembinaan n penyuluhan
    tanpa melupakan kebobrokan produksi tabung juga c

    menurut mas gmana?
    apakah pemerintah sudah baik dalam memberikan informasi n penyuluhan ??

    • Yg melakukan sosialisasi dan penyuluhan selama ini cuma Pertamina. Karena itu, mending Pertamina sekalian yg mengelola sektor hilir migas, lembaga yang “mandul” ngapain di pertahankan. Gitu mas?🙂

  3. Komen lagi nih. Ini terkait kejadian yang dialami istriku kemarin tanggal 13 Oktober 2010. Gas tiba-tiba bocor keluar dari sambungan antara tabung dan regulator. Untungnya saat itu tidak ada api yang menyala sehingga tidak terjadi accident. Hal yang ingin disampaikan adalah saat ini kadar merkaptan di LPG kurang memadai sehingga saat gas bocor tidak terlalu terasa bau gas (sanitasi di dapurku cukup baik sehingga bau sekecil apapun akan tercium). Akhirnya saya minta kepada istri saya untuk tidak pernah lagi pakai tabung melon dan hanya pakai tabung biru.

  4. Udah. sementara ‘nrimo dulu aja kalo orang ‘nylah-nyalahin’ kumpeni sampeyan kang..😀 Niscaya kebenaran akan terkuak..
    Sekarang yang kita bersama lakukan adalah meningkatkan pengetahuan masyarakat awam tentang penggunaan yang benar, dan ini tidak lantas men-judge kalau hal ini tanggung jawab suatu institusi tertentu. Kalo kita faham, maka kitalah yang wajib membagi ilmu itu..
    Gitu kali ya…

    • Ini bukan soal ‘nrimo’ gak ‘nrimo’ kang asep. Wong, gak ada ruginya jg buat pekerja Pertamina..🙂
      Maksud saya, ini soal kelembagaan, bukan person to person. Masing2 lembaga sudah digariskan bertugas dan berwenang menangani urusannya, jadi tidak men-“judge”, tetapi mengingatkan agar institusi yg berwenang “eling”, tidak lantas menghilang di saat terjadi masalah terkait dg wewenangnya.
      Sosialisasi personal itu harus, bagi yg tahu dan faham, minimal di lingkungan keluarga. Tetapi, sekali lagi, ini persoalan yg sifatnya “kolektif” dan “kelembagaan”, bukan orang-seorang. Makanya harus diselesaikan secara kolektif dan kelembagaan. Toh, berapa sih dari “kita” yg faham soal LPG dan mau sukarela melakukan sosialisasi?
      Gitu kang..
      Lagipula, tidak mungkin “kita” melakukan pengawasan terhadap trader tabung dan aksesoris LPG. ini soal institusi juga, bukan perseorangan..🙂

  5. “A leader in well testing and early production facilities for the oil & gas industry”

    As a group company with world-class capabilities in well testing and fluid, our top priority is to offer the best service for business-based energy and resources in Indonesia. Dwipa Group was established as a company providing Non Destructive Testing for the oil and gas industry. We believe that through commitment, determination and passion for growth, opportunities are endless.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s