Terorisme di Indonesia: Dagelan?

Tulisan ini bisa jadi tidak “anget” lagi, karena isu terorisme tidak sedang dalam “peak season“. Topik ini saya tulis tidak lain karena hari ini, Kamis 26 Agustus 2010, jam 14:00 s.d. 16:00, ada satu forum diskusi yang diadakan oleh salah satu ormas di Jakarta dengan topik: “Benarkah Polisi ikut andil sebagai ‘dalang’ rekayasa isu terorisme?“. Sayangnya, saya tidak (akan) bisa menghadiri.

Topik diskusinya cukup sensitif menurut saya. Bahkan bisa jadi banyak yang mengerutkan dahi, setidaknya karena dua hal. Pertama, benarkah isu terorisme itu “rekayasa”? Ke dua, ini yang lebih sensitif, benarkan polisi ikut andil sebagai “dalang”? Tulisan ini tidak hendak menilai, apalagi menjawab, dua pertanyaan itu. Hasil diskusi tersebut mungkin akan bisa menjawabnya.

Namun demikian, saya punya catatan tersendiri terkait dengan fenomena terorisme di Indonesia ini. Pertama, fenomena ‘bom bali’ masih menyisakan pertanyaan serius: benarkah para “santri” yang “ngelmu” di pesantren tradisional itu mampu merakit bom dengan daya ledak setara (atau bahkan sebenarnya) C4? Apalagi, dari berita yang beredar, bahan-bahan untuk merakitnya dibeli di toko kelontong. Meskipun, konon, sebagian dari mereka adalah “alumni” Afganistan, tetapi faktanya: tidak semua negara besar mampu merakit bom dengan daya ledak yang mengerikan itu. Jelas, ini keganjilan yang nyata.

Ke dua, yang sering kita dengar, motif terorisme adalah “kebencian” terhadap Amerika dan sekutu-sekutunya. Atas nama Agama dan solidaritas terhadap umat Islam yang tertindas di belahan bumi lainnya, mereka kemudian membalaskan dendam ‘saudaranya’ itu. Tampak heroik sekali.

Banyak yang percaya, bahwa motifnya memang demikian. Karena itulah, banyak para pengamat, tokoh politik, negarawan yang bijak bestari, ulama yang ‘moderat’, para penganut ‘agama pluralisme’, dan masyarakat pada umumnya, berupaya untuk mencarikan solusi preventif. Mereka ingin “menyadarkan” para penganut agama yang terjerembab ke dalam radikalisme-anarkis itu. Pendekatannya macam-macam: ada yang menggunakan dalil-dalil agama yang shahih untuk membongkar keyakinan palsu para teroris itu; ada yang menyentil dari sisi etika kemanusiaan universal; ada yang mendekatinya dari sisi sosial-ekonomi (terutama kemiskinan yang diyakini sebagai pemicu utama terjebaknya seseorang ke dalam radikalisme agama); dan sebagainya.

Saya termasuk yang tidak mempercayai begitu saja bahwa motif utamanya memang demikian. Mari kita lihat. Jika mereka memang membenci Amerika dan sekutunya, manakah di antara “kepentingan” Amerika yang diledakkan? Kedubes AS? Namru-II? Perusahaan multinasional Amerika yang mengeruk SDA kita? Nothing.

Seolah ada komando imajiner di antara ‘tokoh di belakang layar’ kepada para ‘amunisi di lapangan’: “Yakinkan publik bahwa motifnya memang karena ideologi-agama tertentu, membenci ‘kaum kafir penindas’, tetapi kalian jangan sekali-kali mengganggu kepentingan negara yang dibenci itu, karena ini hanya sandiwara. Kalian paham!” Ah, ini hanya dialog imajiner.

Ke tiga, ini yang selalu saya tanyakan di dalam pikiran saya sendiri, bahwa sumber berita tentang terorisme selalu dari satu pihak: polisi! Para santri yang kerjanya ‘jualan’ di pasar, yang bahkan mertua atau isterinya sendiri tidak pernah tahu kalau suami atau menantunya “sebiadab” itu, tidak pernah diberikan kesempatan untuk menjelaskan duduk persoalannya. Setelah ditangkap, mereka seolah hilang ditelan bumi, kecuali hanya sesekali tampil di kamera meneriakkan: “Allahu akbar!” Barangkali untuk meyakinkan publik bahwa motifnya memang agama dan ideologi keblinger. Jadilah mereka dikutuk sejadi-jadinya.

Saya bukan tidak percaya bahwa kelompok radikal-anarkis yang tega membunuh manusia itu tidak ada. Saya hanya melihat isu terorisme ini terlalu banyak menyimpan misteri. Sudut pemikiran saya yang lain malah mengatakan, “ini hanya dagelan sadis! dari orang-orang yang punya kepentingan di Indonesia. Entah siapa dan apa kepentingannya itu.”

10 thoughts on “Terorisme di Indonesia: Dagelan?

  1. Sebetulnya tidak misteri beberapa literatur banyak membuktikan bahwa terorisme memang dibentuk dan diagendakan. Maaf beberapa literatur yang saya baca tidak aku catat. dan banyak analisa para pakar tentang boom mengatakan tidak bisa menguatkan bahwa pembuat miro nuklir adalah orang indonesisia dan bahan ini terbatas hanya yang mampu negara adidaya dan sekutunya.

    aku jadi heran … hmmm bisa jadi memang isu yang dibuat dan diagendakan.
    cuma apakah kita punya bukti?

    • Itulah yang saya maksud misteri, karena kita masih belum memiliki “bukti” cukup untuk mengatakan bahwa ini diagendakan, oleh si itu atau si anu, maksudnya ini, tujuannya itu..

      Thanks udah mampir kawan lama yang blognya lama tidak saya kunjungi..🙂

  2. (Maaf) izin mengamankan KETIGAX dulu. Boleh, kan?!
    pengetahuan dan pemahaman saya masalah politik dan terorisme sangat terbatas. Tapi sering kali saya juga geleng-geleng kepala sambil melongo tanpa bisa komentar apa-apa jika mendengar berita tentang sebuah aksi maupun rencana terorisme. Keknya ada yang kurang…

    • Betul mas, sebagaimana saya tulis di paragraf terakhir, saya percaya orang2 sejenis itu memang ada. Yang saya tidak percaya adalah “mereka mampu memobilisasi dana dan kekuatan sendiri untuk aksi-aksi mereka itu”.

  3. Ping balik: Terorisme Indonesia; Fakta atau Sandiwara? « Maula

  4. Ping balik: .daydreamer. - Terorisme Indonesia; Fakta atau Sandiwara?

  5. “A leader in well testing and early production facilities for the oil & gas industry”

    As a group company with world-class capabilities in well testing and fluid, our top priority is to offer the best service for business-based energy and resources in Indonesia. Dwipa Group was established as a company providing Non Destructive Testing for the oil and gas industry. We believe that through commitment, determination and passion for growth, opportunities are endless.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s