Inlander

Akhirnya kesampean juga bisa jalan-jalan ke Bali. Beberapa minggu lalu, ada satu even internasional yang mempertemukan para geoscientist dari beberapa negara, meskipun mayoritas dari Indonesia. Di situ saya ikut ambil bagian, mempresentasikan satu makalah ilmiah. Alhamdulillah lancar dan respon audience cukup antusias. Diskusi jadi hidup dan berkembang. Bahkan saya mendapat satu input dari salah satu audience yang bisa saya pakai untuk menuliskan paper berikutnya. 

Tentu tidak seru kalau ke sana “hanya” sekedar ikut pertemuan formal dan ilmiah yang cenderung menjemukan. Karena itu, hari terakhir di sana saya manfaatkan untuk menikmati beberapa tempat wisata di Pulau Dewata itu, antara lain Kuta, Ubud, Tanah Lot dan diakhiri dengan dinner di Jimbaran. Beruntung, hotel tempat saya nginap persis berada di tepi pantai Kuta, sehingga tak perlu repot turun dan jalan kaki untuk menikmati pemandangan pantai yang eksotik itu. Cukup dengan membuka jendela kamar, maka salah satu potret keagungan Tuhan itu terlihat jelas. Subhanallah.

Sebelum “terlena” dengan keindahan wisata Bali, saat saya berada di Airport Ngurah Rai, saya mendapatkan satu perspektif yang unik. Saya cukup kaget saat diperlakukan “sebelah mata” oleh para penjaga loket penyewaan kendaraan. Mereka tampak “antusias” dan “ramah” sekali kepada para turis berambut pirang dan berkulit putih, sementara mereka melayani saya dengan nada yang sedikit merendahkan.

“Permisi mas…”, saya menyapa dengan nada bersahabat. Mereka masih asik “beramah-tamah” dengan tamu-tamu bule, sementara kehadiran saya mereka abaikan. Saya ulangi sekali lagi, “Permisi…”. Saat itu, salah seorang di antara mereka melirik saya dan menyuruh temannya untuk meladeni saya. “… Saya mau pesan taksi.” Dengan wajah datar, mereka tidak membalas sapaan saya. Mereka lalu menunjuk ke poster-poster yang terpasang di dinding, memampang beberapa jenis kendaraan “pertamax plus” semacam Mercedes Benz, Alphard, dan mobil-mobil “sekelas”. Yang paling “rendah” kelasnya adalah Camry.

“Adanya cuma mobil-mobil ini mas…”, sahut mereka. “Taksi anu ada…?”, tanya saya, karena saya melihat masih satu perusahaan. Kembali mereka tidak begitu antusias menjawab dan langsung menyuruh saya, “Mending jalan ke depan sana aja mas, di sana pasti dapat taksi”. Mereka menunjuk ke arah jalan raya. Dalam sekejap mereka kembali “terlena” meladeni tamu-tamu bule. Saya pun segera pergi.

Hari berikutnya, saya jalan-jalan di pusat keramaian Kuta, mencari barang-barang kerajinan yang bagus. Kebetulan saya dapat pesanan dari keluarga. Saya menghampiri satu kios kecil. Penunggunya sedang asik menata barang-barang dagangannya. Dia sama sekali tidak menyapa saya yang sudah memegang barang-barang dagangannya. “Ada bros, mas?”, tanya saya. Lagi-lagi, dengan wajah datar, sambil asik dengan pekerjaannya, dia menyahut, “Tidak ada.” Tidak lama kemudian ada seorang bule datang. Si penjaga kios tadi bergegas menghentikan aktivitasnya dan langsung menyapa, “Hai…”, selanjutnya dia menanyakan apa keperluann si bule tadi. Saya pun bergegas pergi.

Saya melanjutkan pencarian, sembari mengingat kejadian di Jogja satu minggu sebelum hari itu. Waktu itu, saya sedang mengikuti training. Trainernya dari Texas, USA. Ada juga dua orang peserta bule. Waktu itu, kami, semua peserta training yang jumlahnya 11 orang, panitia dan trainernya sedang santap makan siang. Sang panitia begitu asik meladeni bule-bule itu, sambil sesekali menawarkan, “Would you like coffee?”. Sementara kami, yang berambut hitam dan berkulit sawo matang yang ada di sebelahnya, tidak ditawari apa pun. Padahal, panitia tadi juga berambut hitam dan berkulit sawo matang seperti kami.

Jauh sebelum itu, sebetulnya saya sudah kerap menyaksikan pemandangan serupa di industri migas, khususnya di perusahaan asing. Banyak dari karyawan lokal yang bekerja di sana begitu respek kepada bule-bule mereka, sementara tidak demikian halnya dengan sesama orang lokal. Kadang, bahkan mereka lebih “bule” daripada bule sendiri. Tidak terlihat sama sekali nasionalisme mereka. Bahkan sebagian dari mereka kerap menjadi “tameng” bagi perusahaan asing untuk “bertarung” dengan sesama anak bangsa sendiri.

Dalam konteks yang lebih besar, saya juga melihat bagaimana para pemimpin dan sebagian elit bangsa ini begitu respek terhadap “bule”. Mereka begitu “ramah” kepada kepentingan negara-negara besar, tetapi bengis terhadap rakyat kecil. “Demi iklim investasi”, katanya. Atau, “demi kepercayaan dunia internasional”, alasan mereka. Semua itu mereka jadikan alibi untuk “menyambut” bule yang menguras sumberdaya alam kita, atau bule yang memberikan utang dan kemudian menyetir dan mencampuri urusan rumah tangga bangsa kita.

Malam itu saya terus berjalan menyusuri keramaian Kuta, dengan menimbang-nimbang satu kesimpulan: bangsa kita memang bangsa yang “ramah”. Yang saya maksudkan: “ramah” kepada bangsa asing, tetapi tidak terhadap sesama anak bangsa sendiri. Karena itu pula saya maklum, mengapa kita begitu lama dijajah oleh bangsa asing, akibat keberadaan para inlander itu.

16 thoughts on “Inlander

  1. Oh gitu ya mas…??
    Kayanya setiap toko atau penyedia layanan jasa dibali harus menyediakan karyawan yg khusus meladeni bule dan orang lokal.. Biar ga terbagi2 konsentrasinya.. He..

  2. iyah mas.. saya sering juga mengalami ini. tamu bule lebih diperhatikan karena dianggap lebih bonafide kale yah hihihi.. padahal waktu di SG, tamu2 indonesia diperlakukan sangat baik, pelayanannya mengagumkan untuk semua tamu.. gak dibeda-bedain😛 eh di negara sendiri kok dinomerduakan, padahal engga semua bule itu kantongnya tebel.. banyak juga yang melancong kesini ala backpackers, modal dikit kepuasan optimal ehehe

  3. Jadi ikut esmosi nih kang…
    Kebanyakan di kontrak2 kita dengan perusahaan asing juga ditulis dlm bhs bule, percakapan surat atau suret pun dlm bahasa bule.. Kalo saya sih biar saja saya pake bahasa Indonesia, biar mereka yg translate sendiri.. (padahal mah memang saya gak jagonulis bule kang.. hehe..)

    Oleh2 sing Balie, ngko dijeput pas kopdar Lebaran ya…😀

  4. Kebetulan saya April dan Mei lalu juga ke Bali, selama ini sih nggak ngalamin kejadian seperti itu.

    Bahkan barusaja, saya menerima sms dari sopir mobil yang saya sewa selama di Bali mengucapkan selamat menunaikan puasa! Wow, padahal itu udah 4 bulan lalu saya kenalnya. Nomer saya masih disimpan juga.

    Tapi kalo soal bule jadi prioritas sih memang ada benarnya juga. Terbukti ada hotel di Bali yang tak menerima orang lokal menginap. Padahal kalo kita boleh protes, masak iya, kita nggak boleh nginep di negeri sendiri? Apa dipikirnya kita tak mampu bayar? Tapi ya sudahlah. Hehehe…

    Oh iya, salam kenal, baru pertama nih kayaknya mampir di sini.

  5. Saya gak sempet ke Tanah Lot, ubud dkk…up load fotonya atuh cas di fb, biar bisa lihat2 :)…

    Btw, saya gak ngalamin dicuekin gitu cas, karena pesen via telpon…
    Kalo pesen langsung, curiga sama perlakuannya..ckckckc…

  6. “A leader in well testing and early production facilities for the oil & gas industry”

    As a group company with world-class capabilities in well testing and fluid, our top priority is to offer the best service for business-based energy and resources in Indonesia. Dwipa Group was established as a company providing Non Destructive Testing for the oil and gas industry. We believe that through commitment, determination and passion for growth, opportunities are endless.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s