Ujian Proaktifitas

Tempo hari, saya merasakan pengalaman batin yang betul-betul menguji integritas saya. Siang itu, saya mengisi sebuah acara sharing session di perusahaan tempat saya bekerja. Untuk ke sekian kalinya, dalam beberapa kesempatan yang berbeda, saya menyampaikan bedah buku Seven Habits of Highly Effective People: salah satu buku yang paling saya suka.

Kabiasaan utama dan pertama yang dianjurkan buku itu adalah sikap proaktif. Kebajikan inti dari sikap proaktif adalah: “Tidak ada seorang pun, atau suatu hal pun, yang bisa menyakiti kita, kecuali kita mengijinkannya.”

Kita bebas menentukan “respon” apa pun sesuai dengan kehendak bebas, kesadaran diri dan nurani kita, tanpa dikendalikan oleh “stimulus” yang kita terima. Boleh saja ada seseorang yang menyakiti kita, tetapi kita bebas “memilih” untuk merasa sakit atau tidak. Bisa saja ada kejadian buruk menimpa kita, tetapi kita tetap bisa “memilih” untuk merasa terpuruk atau tidak. Bisa saja orang tua kita selama ini mendidik kita dengan cara yang lembut atau bahkan sangat keras, tetapi kita tetap bisa menjadi pribadi terbaik yang kita inginkan. Boleh jadi lingkungan tempat kita tinggal dan dibesarkan itu penuh warna kultur amoral atau asusila, terbelakang, konservatif, tetapi kita tetap bisa menjadi pribadi yang santun dan progresif.  

Intinya, kita lah yang mengendalikan diri kita, karakter, sikap dan situasi emosional kita, serta respon apa yang akan kita berikan terhadap semua jenis stimulus yang menimpa kita. Itulah salah satu inti pesan moral yang saya sampaikan dalam sharing session tersebut.

Sore harinya, saya ke luar kota naik kereta. Tanpa diduga, jalur kereta yang biasa saya lalui itu bermasalah. Ada kereta yang anjlok, sehingga semua kereta yang menuju stasiun pusat di Jakarta itu dialihkan ke stasiun lainnya. Seluruh penumpang diangkut oleh bus Damri menuju stasiun yang dituju. Sedianya kereta berangkat jam 6.30 petang, tetapi kemudian molor hingga jam 10 malam. Kejadian itu cukup meresahkan penumpang. Maklum, menunggu selama 3,5 jam bukanlah waktu yang pendek. Wajar pula, jika banyak penumpang yang kesal dan mulai emosional.

Sebagai pribadi yang proaktif, kejadian itu semestinya tidak lebih sebagai stimulus negatif. Pada situasi seperti itu, saya sebetulnya bisa “memilih” untuk merasa kesal atau tidak, emosi atau tidak. Karena itu, akhirnya saya “memutuskan” untuk tidak merasa kesal atau emosi. Saya lah yang berhak mengatur dan mengendalikan situasi emosional saya sendiri, bukan stimulus negatif itu.

Selama menunggu, saya berusaha mengisi waktu luang dengan membaca surat kabar. Kebetulan topik hari itu banyak mengulas seputar perekonomian Indonesia: topik yang sedang saya dalami. Beberapa perspektif baru saya dapatkan dengan membaca beberapa artikel di surat kabar terbesar di Asia Tenggara itu. Salah satunya adalah diskursus negara versus pasar. Saat ini, kata para ekonom, bukan saatnya lagi kita membenturkan antara “negara” dan “pasar” di dalam ekonomi, tetapi bagaimana kedua “aktor” ini bisa bersinergi untuk membangun perekonomian bangsa.

Ketimbang saya larut dalam situasi yang emosional akibat harus menunggu terlalu lama, saya “memilih” memanfaatkan sepenuhnya waktu yang ada untuk menyelami khasanah pemikiran ekonomi kontemporer. Saya betul-betul “menikmati” waktu menunggu itu, sehingga menjadi terasa tidak begitu lama.

Mengenai kasus anjloknya kereta tersebut, saya jadi teringat kisah “angsa” dan “telur emas” yang juga saya sampaikan di dalam sharing session siang sebelumnya. Kisah itu sangat relevan untuk menjelaskan fenomena kereta yang anjlok sore itu.

Kebanyakan kita terlalu fokus untuk mendapatkan “telur emas”, dan melupakan “angsa” yang menghasilkan telur emas itu sendiri. Seringkali suatu perusahaan terlalu fokus bagaimana menghasilkan tingkat produksi yang besar, biaya yang efisien, tetapi lupa mengalokasikan waktu dan biaya yang cukup untuk merawat mesin-mesin mereka, mengelola sumberdaya manusia mereka secara baik, hingga mereka mampu meraup laba (“telur emas”) yang besar di satu sisi, tetapi membiarkan kondisi mesin-mesin dan manusia (“angsa”) mereka yang sekarat di sisi lain. Dalam jangka pendek, langkah itu mungkin akan efektif, tetapi pasti akan menjadi bom waktu yang suatu saat justeru akan menuntut pengeluaran biaya, bahkan mungkin menimbulkan kerugian, yang jauh lebih besar.

Pihak pengelola kereta api barangkali terlalu fokus pada tingkat penjualan tiket dan efisiensi biaya operasional, tanpa mengalokasikan waktu dan biaya yang cukup untuk merawat mesin-mesin lokomotif, rangkaian gerbong dan rel kereta. Jika situasi demikian terus berlanjut, maka anjloknya kereta berikutnya barangkali tinggal menunggu waktu saja.

9 thoughts on “Ujian Proaktifitas

  1. (Maaf) izin mengamankan PERTAMAX dulu. Boleh, kan?!
    Soal kesal atau enggak emang sebuah pilihan. Tetapi jika dihadapkan pada realita harus menunggu selama 3 jam lebih gara2 PT KAI hanya memburu telur emas dan melupakan angsanya, sebel juga keknya.

    • Aman kang alam..
      Ya, memang sejujurnya menyebalkan. Tetapi, sekali lagi, kita bisa “memutuskan” untuk kesal atau tidak. Toh, kita kesal atau tidak, masalahnya tetap tidak akan selesai..
      Yg kita harapkan tentu adanya perbaikan sistem dan manajemen transportasi kita..

  2. “A leader in well testing and early production facilities for the oil & gas industry”

    As a group company with world-class capabilities in well testing and fluid, our top priority is to offer the best service for business-based energy and resources in Indonesia. Dwipa Group was established as a company providing Non Destructive Testing for the oil and gas industry. We believe that through commitment, determination and passion for growth, opportunities are endless.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s