Satu Lagi Tentang IPO Pertamina

Yang luput saya kaji dari tulisan sebelumnya adalah soal privilege Pertamina. Di samping beberapa kekhawatiran yang sudah saya jelaskan sebelumnya, masalah terkait privilege ini jauh lebih mengkhawatirkan, terutama bagi masa depan Pertamina sendiri secara internal.

Pertama, dari sisi historis, kita tahu bahwa Pertamina memperoleh sekian banyak wilayah kerja migas di Indonesia berkat privilege dari Negara sebagai pemilik sumberdaya migas. Melalui UU Pertamina No 8 tahun 1971, Pertamina bisa mengusahakan WK migas di mana pun ia mau, tentu sepanjang mendapat persetujuan dewan komisaris yang terdiri dari para menteri. Meskipun UU migas No 22 tahun 2001 kemudian mempreteli wewenang Pertamina tersebut, tetapi sejauh ini Pertamina secara korporasi masih diakomodir dan diberikan keutamaan untuk mengelola blok-blok migas yang akan diterminasi, terlepas dari beberapa kasus lepasnya beberapa blok migas potensial ke tangan korporasi Amerika.

Khusus untuk Pertamina Hulu Energi (PHE) yang akan IPO tahun ini, wilayah kerja migas yang dikelola merupakan kerjasama antara Pertamina dengan perusahaan lain, baik swasta nasional maupun asing. PHE juga mengelola blok-blok Pertamina di luar negeri. Dari sekitar 30-an blok yang dikelola, hampir sepertiganya dikelola oleh PHE sendiri sebagai operator.

Melihat proses perolehan WK Pertamina yang lebih merupakan privilege dari negara, tentu tidak fair kalau sebagiannya akan dialihkan ke swasta. Pihak yang bisa membeli mayoritas saham PHE yang ditawarkan akan sangat diuntungkan, karena secara tidak langsung ikut menikmati privilege tersebut. Begitu juga dengan blok-blok luar negeri. Katakanlah di Irak, Qatar, Sudan atau Libya. Pemerintah mereka tentu melihat Pertamina sebagai representasi dari Negara Republik Indonesia yang mayoritas muslim, sehingga akses masuk ke sana menjadi relatif mudah.

Ke dua, konsekuensi dari adanya privilege tersebut, bagian migas Pertamina juga lebih besar dibandingkan dengan kontraktor migas swasta. Jika swasta hanya menikmati net share minyak sekitar 15%, maka Pertamina bisa memperoleh net share-nya hingga 40%. Dengan digulirkannya IPO, bisa jadi term kontrak ini akan berubah. PHE sebagai anak kandung Pertamina tidak lagi menikmati net share yang besar, melainkan disamakan dengan kontraktor swasta. Jika hal ini terjadi, maka kerugian langsung yang dialami PHE bisa dikalkulasi. Akan tetapi, jika net share bagi PHE ini tidak berubah, maka lagi-lagi, pihak swasta yang membeli meyoritas saham PHE yang dijual akan sangat diuntungkan.

Ke tiga, ini sesungguhnya yang paling mengkhawatirkan: di masa yang akan datang, PHE sebagai pengelola blok-blok baru Pertamina tidak lagi memiliki privilege untruk mengusahakan blok-blok migas yang akan diterminasi, karena di dalamnya sudah ada kepemilikan swasta. PHE akan kehilangan begitu banyak blok-blok potensial yang telah berakhir masa kontraknya. Jalan satu-satunya adalah Pertamina harus melakukan perombakan struktur korporasi secara internal. Kebijakan bahwa PHE merupakan anak perusahaan yang menampung blok-blok baru Pertamina harus diubah. Pertamina EP dalam hal ini harus kembali “dipugar” dan diperluas kewenangannya agar dapat mengelola blok-blok baru tersebut.

Di luar topik privilege ini, ada satu hal lagi yang menjadi concern kawan saya : apakah mungkin porsi saham PHE yang dijual ke publik ini akan menyusut di masa-masa mendatang? Katakanlah jika Pertamina sudah memiliki cukup modal untuk melakukan buy back saham tersebut?

Yang saya khawatirkan, kejadian di Indosat juga akan terjadi di Pertamina. Sejak saham Indosat dijual ke publik pada tahun 1994 silam, saham Pemerintah awalnya memang masih mayoritas. Seiring dengan berjalannya waktu, porsi saham yang dijual terus membesar. Kini Pemerintah hanya menguasai 14% saham Indosat, pada saat skala perusahaan ini sudah semakin membesar. Negara kehilangan potensi pendapatan begitu besar.

7 thoughts on “Satu Lagi Tentang IPO Pertamina

  1. Saya setuju jika rencana IPO Pertamina (dan anak perusahaannya) mesti dikaji ulang secara mendalam, dan analisis jangka panjang… Karena perusahaan negara ini mengurusu sumber daya yang cukup vital dan masal bagi negar dan rakyatnya. Saya yakin masih banyak opsi lain untuk mencari sumber investasi. Belajarlah dari pengalaman…

    PGN saja, sejak IPO di 2003 kalau tak salah awalnya pemilikan saham pemerintah sekitar 59%. baru2 ini malah terdengar wacana akan menurunkan porsinya hingga 55%…

    Kesuwun kang….

    • Ya, tetapi kelihatannya proses IPO tetap berjalan kang asep.. sayang sekali, masih banyak opsi lain yg bisa dilakukan utk membuat Pertamina tumbuh besar dan sehat, tanpa harus menjual sebagian sahamnya ke swasta.. Kesuwun info tentang PGN-e kang asep…

  2. Assalamu’alaikum,

    Lama sekali tidak berkunjung ke sini.
    Ada sesuatu yang saya kira, mungkin saya salah, Pertamina ini karena milik Pemerintah, segala kebijakannya tampaknya didominasi oleh Pemerintah saja, sedangakn direksi hanya pekerja saja. Mungkin perkiraan ini jauh dari benar, karena saya tidak banyak tahu tentang Pertamina ini.

    Terima kasih Kang.
    Salam

    • Waalaikumsalam,

      Memang betul Pak, Direksi BUMN ditentukan oleh Pemerintah. Lebih spesifik lagi adalah oknum Pemerintah yang sedang memegang tampuk kepemimpinan. Apalagi ada Menteri BUMN. Setiap kebijakan yang diambil pasti, setidak-tidaknya, atas restu Menteri BUMN.

      Makasih udah berkunjung Pak. Saya sendiri sudah lama tdk berkunjung ke blog sahabat2.

      Salam dari Indramayu.

  3. “A leader in well testing and early production facilities for the oil & gas industry”

    As a group company with world-class capabilities in well testing and fluid, our top priority is to offer the best service for business-based energy and resources in Indonesia. Dwipa Group was established as a company providing Non Destructive Testing for the oil and gas industry. We believe that through commitment, determination and passion for growth, opportunities are endless.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s