Pertamina Mau IPO?

Akhir-akhir ini beredar kabar bahwa beberapa anak perusahaan Pertamina, di tahun 2010 ini, akan melakukan IPO (initial public offering). Sebagian sahamnya akan dijual ke publik. Selama ini, yang beredar adalah wacana bahwa Pertamina akan menjadi non listed public company : perusahaan publik yang sahamnya tidak diperdagangkan di lantai bursa. Pemerintah tetap memegang 100% saham Pertamina.

Langkah ini wajar dan mungkin sangat positif bagi Pertamina, karena publik bisa memantau dan mengevaluasi kinerja operasional dan keuangan perusahaan negara yang memiliki omset dan penyetor deviden terbesar itu. Semuanya akan menjadi transparan dan akuntabel, sehingga diharapkan bisa memacu kinerja insan Pertamina. Praktik-praktik yang tidak sesuai dengan good corporate governance pun bisa direduksi sedemikian rupa.

Namun dalam perkembangannya, isu tersebut bergeser menjadi IPO. Artinya bukan hanya mejeng di bursa, tetapi juga menjual sebagian sahamnya kepada publik. Rencana awalnya IPO Pertamina sendiri akan dilakukan pada tahun 2013, tetapi rupanya dipercepat, meskipun diawali dari anak perusahaannya, bukan induknya. Kabarnya sekitar 20% saham yang akan dijajakan. Dari situ, diharapkan akan terkumpul dana hingga beberapa milyar dolar AS. Saya terus terang tidak mengerti mengapa langkah IPO ini diambil. Berikut beberapa pertimbangan saya.

Pertama, Pertamina adalah BUMN yang sangat strategis nilainya bagi negara. Pertamina mengelola kekayaan minyak dan gas bumi yang sampai saat ini, setidaknya di Indonesia, belum bisa disubstitusi oleh barang lainnya. Energi alternatif pun masih sangat kecil porsinya. Lebih dari separuh konsumsi energi primer kita berasal dari minyak bumi. Sektor industri, transportasi dan kelistrikan kita masih bergantung pada energi tak terbarukan ini. Daya rusak krisis minyak terhadap perekonomian kita pun tidak diragukan lagi, termasuk problem sosial-politik yang ditimbulkannya.

Di samping itu, amanat konstitusi kita menyatakan dengan tegas bahwa bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat. Karena itu, menyerahkan kepemilikan Pertamina kepada publik, atau lebih tepatnya swasta, bertentangan dengan semangat konstitusi kita, khususnya Pasal 33 UUD 1945.

Memang, yang akan IPO adalah “anak-anaknya”, bukan induk Pertamina (persero) itu sendiri. Tetapi bukankah back bone – yang menghasilkan minyak – Pertamina adalah anak-anak perusahaannya itu? Belum lagi kalau ini dijadikan kelinci percobaan. Jika “berhasil”, tidak menutup kemungkinan akan merembet ke induknya. “Berhasil” di sini memiliki dua sayap: secara teknis-finansial memang menguntungkan; atau tidak menimbulkan gejolak, baik di internal maupun eksternal.

Ke dua, lazimnya hanya BUMN-BUMN yang berkinerja buruk dan terus merugi yang seharusnya “dijual” ke publik, atau bahkan swasta. Dalam kasus Pertamina, saya melihat kinerja keuangan perusahaan ini sangat sehat. Dalam dua tahun terakhir, Pertamina sedikitnya menyumbang 40 trilyun deviden ke negara. Itu di luar pajak.

Begitu juga dengan kinerja operasionalnya. Kita tahu bahwa produksi minyak kita terus turun. Pada awal tahun 2000-an masih 1,2 juta barel per hari. Lima tahun terakhir posisinya sudah di bawah 1 juta barel. Bahkan tahun 2010 ini diperkirakan hanya 800-an ribu barel saja per harinya. Di tengah menurunnya produksi kolektif ini, produksi minyak pertamina sendiri terus meningkat. Dua tahun terakhir bahkan mendekati angka 200 ribu barel. Ini merupakan pencapaian yang luar bisa besar, mengingat lapangan-lapangan Pertamina termasuk kategori brown field: lapangan-lapangan tua peninggalan Belanda.   

Dalam kondisi keuangan dan operasional yang cukup prima, sulit diterima oleh akal sehat bahwa Pertamina akan “dijual” ke publik.

Ke tiga, sebagai perusahaan dengan omzet antara 300-500 trilyun per tahun, serta dengan kinerja keuangan yang cukup baik, maka pada dasarnya Pertamina memiliki banyak cara untuk melakukan pembiayaan demi menopang pertumbuhan usahanya. Kapasitas utang Pertamina pun dikabarkan masih sangat besar, tetapi tidak juga dimanfaatkan secara optimal. Masih banyak bank-bank yang mau meminjami. Publik juga mungkin akan berebut obligasi yang dikeluarkan Pertamina. Kenapa opsi ini tidak diambil, dan lebih memilih untuk menjual saham?

Di lain pihak, piutangnya pun masih seabreg, tersebar di PLN, Garuda serta militer. Konon jumlahnya bisa mencapai 50 trilyun rupiah. Jika ketiga institusi ini menyelesaikan utang mereka kepada Pertamina, maka Pertamina akan kebanjiran uang. Dengan demikian, alasan untuk mencari dana segar yang cukup banyak secara “gratis” (debt free) ini menjadi tidak reasonable.

Untuk menagihnya memang tidak mudah dan mungkin akan menimbulkan gejolak internal di ketiga institusi tersebut. Tetapi bukankah ketiganya masih milik negara? Artinya Pemerintah sebetulnya bisa menengahi. Masalahnya mau atau tidak?

Ke empat, ini yang menjadi pertanyaan kritis, sebenarnya yang dimaksud “publik” itu sendiri siapa?  Dengan bahasa yang lebih lugas, 20% saham anak-anak perusahaan Pertamina itu mau dijual ke siapa sebetulnya? Adakah pihak-pihak yang bermain? Barangkali yang terakhir ini cuma su’udzon saya saja. Yang jelas, tiket kereta yang harganya puluhan ribu perak saja banyak calonya.

28 thoughts on “Pertamina Mau IPO?

  1. Mau kasih komen ah..
    Walaupun tak terlalu mengerti, tp intinya tau..
    Ya jangan sampe kejadian lagi deh masa2 pemerintahan megawati…

    Mudah2an aspirasi dr tim kecil yg mewakili buuanyak suara bisa diterima oleh pihak yg berwenang…

    • Menurut saya tidak IPO..banyak cara mengembangkan perusahaan selain dg IPO, apalagi ini perusahaan negara yg sangat strategis dan menyangkut hajat hidup – sosial-ekonomi-politik – rakyat banyak.

  2. Biasanya berlaku anjing menggonggong kafilah berlalu. Saya ikut sedih kalau segala sesuatunya asset negara ini dijual. Mari kita belajar dari kasus-kasus dahulu: menjual asset negara dengan harga murah.

  3. Ping balik: Pertamina Mau IPO? « www.iress.web.id

  4. Yang mau IPO siapa pak? Pertamina EP? Kalau Pertamina hilir sih ga mungkin kayaknya ya…

    IMHO, IPO malah bagus: pertamina bisa transparan, dilihat dan diawasi publik. Lagipula, major shareholder-nya tetap negara kok.Tetap rakyat pemilik utama. Publik juga rakyat (yang bisa beli sahamnya tapi, hehehe).

    Namun, kalau ada cara lain publik bisa mengawasi pertamina seperti perusahaan publik, saya setuju.

    • Yg mau IPO PHE (PTM Hulu Energi). Yah.. soal transparansi memang menjadi alasan yg ada di permukaan, kenapa PHE di-IPO-kan. Padahal sebetulnya ada mekanisme non-listed public company itu. Publik bisa tetap mengawasi, tetapi 100% sahamnya masih menjadi milik negara.
      Yg menggelikan, Chevron yg mengelola hampir separuh minyak negara dan memakan sebagian besar cost recovery tidak dimintai transparansi oleh publik dan Pemerintah kita… Kita lebih “berani” mencurigai dan meminta perusahaan milik kita sendiri, sementara raksasa korporasi minyak asing dibiarkan “tertutup”, tidak transparan..
      Bagi perusahaan privat, 100% saya setuju IPO bagus buat mereka.

  5. Chevron perusahaan publik mas, dan laporannya bisa diliat. Termasuk juga chevron yg di riau. Cek aja ke EDGAR, database laporan2 perusahaan yang listing di NYSE.

    Model yang baik, saya kira, StatOil di Norway. Perusahaan publik juga, 51% punya norway tapi. Perusahaan2 china, CNOOC, Petrochina, semua perusahaan publik, dan listing di NYSE. Tidak ada masalah, dan bahkan memaksa mereka ikut transparan dan aturan international, termasuk Sarbanes-Oxley Act yg njelimet.

    *baru komen lagi, baru liat sih, hehehe…

    • Chevron bukan perusahaan negara. Tak ada perdebatan bahwa listed akan bagus buat mereka.
      Induk Petrochina, CNPC, juga 100% milik negara dan “raja” (produser migas terbesar) di negaranya sendiri. CNOOC juga “raja” offshore di China dan di beberapa negara. Statoil leading di negara sendiri dan “merajai” migas offshore dunia.
      Mereka sudah cukup kuat secara internal, dan sudah bisa bersaing di kancah global untuk mengamankan pasokan energi di negara mereka sendiri (inilah “misi” perusahaan migas negara, bukan soal transparan atau tidak).
      Soal transparansi utk Pertamina, sekali lagi, ada mekanisme lain: non-listed public company. Lagipula Pertamina paling banyak diawasi oleh publik, BPK, DPR, Pemerintah.. Tak perlu kuatir soal itu.
      Yang paling mengkhawatirkan saya sebetulnya adalah proses IPO di internal Pertamina sendiri. Analoginya sederhana, saya beli tiket kereta lebaran yang harganya puluhan ribu perak saja dipusingkan dengan calo. Artinya pembeli tiket itu hanya sebagian kecil masyarakat umum (“publik”). Sisanya hanya segelintir orang yang punya “akses”, bermain dan mengambil keuntungan.

  6. Non Listed Public Company gimana detilnya? apa bedanya dengan transparansi versi pasar modal?

    Dan apakah dgn IPO misi mengamankan pasokan ke negara sendiri terganggu? IMHO, misi mengamankan pasokan sih Pertamina doang ga bisa, selama ga ada political will. Jadi masalahnya di pemerintah, bukan Pertamina.

    Dari dulu juga semua BUMN bilangnya diawasi macem2, tapi ya teteup aja…sorry kalo salah.

    IPO, saya kira, menunjukkan keseriusan pertamina buat berubah. Dan bukankah PHE diposisikan sebagai investing + operating company? Beli blok minyak dari perusahaan lain, dan agak berbeda dgn Pertamina EP ? Kalau gak IPO, apa iya investor percaya? Kecuali seluruh investasinya mau dibiayain negara atau pakai modal sendiri. Atau minjem, dgn bunga yg lebih tinggi dibanding kalo PHE itu listing.

    Mengenai masalah saat IPO…bener, banyak mafia IPO. Tapi ya diawasin dan dilaksanakan dgn bener aja dong, dan kalau Pertamina mau, bisa juga IPO-nya bagus dan bener2 buat publik.

    Lagipula, opsi buyback selalu tersedia, kalau nantinya dipandang secara ekonomis lebih menguntungkan.

    Sorry nih, cuma pandangan outsider yg sok tau, hehehe, peace…

    • Luck, harusnya saya yg nanya ke sampeyan nih yang lebih familiar dengan istilah2 ekonomi-finansial, apa itu non-listed public company (NLPC).🙂
      Yang saya tahu, NLPC itu perusahaan yang mengikuti ketentuan sebagaimana perusahaan terbuka (public company), tetapi tidak terdaftar/memperjual belikan sahamnya di bursa.
      Soal mengamankan pasokan, nah itu dia, jika sudah di-IPO, kita tidak bisa berharap banyak ada political will dari negara untuk Pertamina. Wong, sebagiannya udah swasta.
      Pertamina sudah sangat serius mau berubah, dengan program transformasi Pertamina. Lha, tinggal peran stakeholder saja yang perlu diseriuskan, terutama pemerintah dan DPR: maukah mereka membesarkan Pertamina? Sayangnya, yang terjadi justeru sebaliknya: Pertamina dikerdilkan, dengan berbagai regulasi yang makin menyudutkan.
      PHE mengelola blok Pertamina yang dikerjasamakan dengan pihak lain, dalam bentuk JOB (join operating body) atau BOB (badan operasi bersama). Ini merupakan aset terbesar PHE. Jadi, sebagian besar bukan membeli dari company lain. Sebagiannya ada penyertaan participating interest. Sejauh ini no problem.
      PHE juga mengelola blok-blok baru yang diakuisisi, baik dalam maupun luar negeri. Yang namanya penjual, mereka tidak akan ambil pusing pembeli itu perusahaan IPO atau bukan. Yang penting ada duit, harganya cocok, beres. Sejauh ini, sudah banyak blok yang bisa dibeli, dalam dan luar negeri.
      Soal pengawasan proses IPO, paling banter post-audit saja, apakah ada penyimpangan. Tetapi kalau sudah terlanjur dijual sahamnya, mau bagaimana?
      Buyback? Rasanya tidak mudah. Apalagi melihat contoh Indosat dan PGN, semakin lama malah semakin besar saham yang dijual.
      Btw, nice discussion..🙂

  7. “A leader in well testing and early production facilities for the oil & gas industry”

    As a group company with world-class capabilities in well testing and fluid, our top priority is to offer the best service for business-based energy and resources in Indonesia. Dwipa Group was established as a company providing Non Destructive Testing for the oil and gas industry. We believe that through commitment, determination and passion for growth, opportunities are endless.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s