India

Saya punya adik perempuan. Semasa remaja, waktu itu adik saya mulai menginjak remaja, kami sering bersitegang. Masalahnya sepele. Adik perempuan saya gandrung dengan lagu-lagu india. Dia seringkali menyalakan radio di dekat telinganya hingga tertidur, ditemani senandung lagu-lagu hindustan yang, kala itu, masih merajalela. Sampai program radio selesai, lewat tengah malam, tinggallah suara kresek-kresek: bunyi radio yang masih memancarkan frekwensi, sementara programnya telah usai. Esok paginya, atau kadang saya memergokinya tengah malam, saya matikan radio itu. Tentu sambil ngomel-ngomel. Adik saya sering tidak terima, tetapi reaksinya kerap hanya cemberut, tak berani melawan kakak lelakinya ini. Itu terjadi sekitar pertengahan tahun 90-an. Adik saya hanya salah satu dari sekian banyak penikmat lagu-lagu India yang begitu populer pada masa itu.

Selain musik, industri film India juga waktu itu merangsek pasar film nasional sedemikian kuat, khususnya segmen pasar masyarakat pinggiran. Sampai anak-anak dan remaja di kampung saya, kala itu, mengenal Amitabh Bachan sama baiknya dengan mengenal Rhoma Irama, atau mengenal Sri Devi sama akrabnya dengan Elvy Sukaesih. Itulah kehebatan India yang pertama kali saya kenal. Industri hiburan mereka sudah melanglangbuana. Saya tidak yakin film-film Rhoma Irama, Barry Prima atau Roy Marten, dikenal oleh anak-anak dan remaja India pada waktu itu.

Meskipun demikian, dari latar film-film mereka, saya bisa memprediksi bahwa kehidupan sosial-ekonomi masyarakat India tak jauh beda dengan Indonesia: pemukiman kumuh, pedagang kaki lima dan pasar tradisional, kekentalan budaya dan tradisi, hingga mental polisi yang korup.

Sepuluh tahun berlalu. Saya sudah lulus dari perguruan tinggi. Dalam proses rekruitmen sebuah perusahaan Amerika terkemuka, seorang eksekutif muda menjelaskan dengan bahasa inggris yang amat fasih, tentang prospek perusahaan itu. Dia orang India. Dari situ saya bisa melihat bagaimana profesionalitasnya. Sayangnya, atau mungkin untungnya, saya tidak lolos seleksi di perusahaan itu.

Empat tahun kemudian, saya mengikuti sebuah pelatihan yang diadakan oleh perusahaan tadi. Dari sekian banyak bule yang ada, ternyata keynote speaker-nya adalah orang India. Yang membuat saya berdecak, ternyata eksekutif muda India itu langsung didatangkan dari Colorado, AS, untuk memberikan materi pelatihan yang ilmunya masih langka di Indonesia itu. Ternyata dia memang bagian dari segelintir orang di dunia ini yang benar-benar piawai di bidang CBM – Coalbed Methane.

Dalam forum lainnya, saya juga beberapa kali mengikuti workshop singkat tentang CBM. Yang memberikan materi juga orang India. Saya jadi bertanya, kenapa begitu banyak pakar CBM dari India? Sampai saat ini, di Indonesia, yang dianggap betul-betul ahli di bidang CBM adalah salah seorang India yang bekerja di perusahaan minyak patungan AS – Inggris.

Dalam konferensi CBM Internasional di Jakarta, saya sempat ngobrol dengan seorang peneliti dan akademisi salah satu universitas swasta terkemuka di Jakarta. Saya katakan padanya, “Pakar-pakar CBM dunia kebanyakan orang India”. Saya sedikit tersentak ketika dia mengatakan, “Bukan hanya CBM.” Lalu dia melanjutkan, “…hampir di semua bidang, India memiliki seabreg pakar dan eksekutif-profesional yang menyebar ke seluruh dunia”. Mulai dari bidang IT, perminyakan, mesin dan otomotif, keuangan dan sebagainya. Atasan saya sendiri di kantor pernah bilang, “Sewaktu saya ikut konferensi CBM internasional di Singapore, sekitar 60% peserta yang hadir adalah orang India”.

Pada tulisan saya sebelum ini, yakni tentang kilang minyak Jamnagar, juga memotret salah satu ambisi India untuk merajai bisnis hilir migas dunia.

Sampai di situ, meskipun saya berdecak kagum pada India, tetapi saya tidak berusaha untuk mempelajari tentang India lebih jauh: apa yang sudah dicapai India, apa latar belakang pencapaiannya, strategi apa yang sedang mereka kembangkan, serta nilai atau spirit apa yang mereka pegang teguh, sehingga mereka menjelma menjadi sekumpulan manusia yang betul-betul haus akan kemajuan di segala bidang.

Sampai saya ketemu bukunya Thomas L. Friedman: The World is Flat. Dalam banyak bagian di bukunya, Friedman selalu mengangkat India sebagai contoh bahwa bumi ini “datar”, akibat kolaborasi unik antara para teknisi India dan perusahaan terkemuka AS. Bangalore menjadi semacam “silicon valley” bagi India. Di kota kecil itulah berkumpul pakar dan teknisi IT yang menjadi salah satu penyokong perkembangan IT dunia. Bangalore menjadi tempat outsourcing pilihan raksasa-raksasa IT Amerika Serikat, dari awal perkembangannya hingga saat ini. Bangalore juga menjadi tempat inovasi berbagai produk game komputer, yang mengerjakan pesanan dari daratan Eropa dan Amerika. Yang menghentakkan, bahkan pekerjaan penghitungan pajak warga AS juga dilakukan di India, dengan memanfaatkan teknologi telekomunikasi.

Jika ditelusuri sejarahnya, Nehru memang telah membangun pondasi pembangunan SDM India dengan cukup baik. Tahun 1951, dia membangun 7 institut teknologi di India, yang akan menyeleksi ratusan juta manusia India yang penuh ambisi. Karena ekonomi India masih berkiblat ke Soviet, yang kurang memungkinkan para lulusan itu terserap di negaranya, maka sejak itu puluhan ribu lulusannya bermigrasi ke Amerika, untuk mengaktualisasikan ilmu dan keahlian mereka di perusahaan-perusahaan berteknologi tinggi di sana.

Tahun 1991, menteri keuangan India, Manmohan Singh, membuka ekonomi negaranya terhadap investasi asing. Secara perlahan, seiring dengan runtuhnya imperium Soviet, kiblat ekonomi India berpaling ke Barat. Dari situlah kemudian terjadi dua konvergensi kekuatan besar: jutaan lulusan perguruan tinggi India yang berbakat dan penuh ambisi, dengan aliran modal atau investasi asing yang mulai merangsek. Jadilah mereka seperti kesetanan mengejar kemajuan di segala bidang. Hampir semua perusahaan multinasional berteknologi tinggi ada di India. Mereka benar-benar melihat India sebagai tempat subur yang dipenuhi tenaga profesional berkualitas dengan tingkat upah seperempat atau sepertiga tenaga kerja AS atau Eropa, dengan kualifikasi yang sama.

Hasilnya bisa kita lihat: ekonomi India tengah menggeliat!

19 thoughts on “India

  1. Link blogger dermayune ndi kang ?

    Join lagi ya, kemarin2 ada masalah hosting. skr wiralodra.com insyaallah stabil, krn sudah dpt sumbangan hosting dari salah satu blogger indramayu🙂

    Kopda ?
    Atur ae skedule….

  2. Ping balik: India

  3. mungkin krn India memang lebih mementingkan pendidikan di negerinya, dgn demikian lahirlah para profesional yg benar2 faham akan bidangnya, krn mereka diberikan kesempatan utk meraih ilmu setinggi mungkin.
    bunda dulu pernah ke india, dan masyarakat disana boleh sekolah setinggi apapun mereka mau, dan hebatnya, gratis, harga bukupun sangat2 murah sekali.
    Beda dgn negeri kita, biaya pendidikan tdk terjangkau bagi masyarakat kebanyakan, buku2 harganya selangit.
    Mungkin ini hanya salah satu faktor saja,Mas.
    salam

    NB: maaf komennya kepanjangan🙂

    • Makasih sharingnya bunda. Ya, tampaknya India memang menyadari betul bagaimana pentingnya pendidikan, sehingga meskipun puluhan tahun menganut sistem ekonomi sosialis, ledakan potensi SDM yang mereka ciptakan tak terbendung..

  4. ada beberapa hal utama mnurut q ttg india:
    – pemerintahnya mndukung org2 yg cerdasnya serta mewadahinya
    – masyarakat cinta produk dlm negeri yg sangat besar+diharuskan dikembangkan berkelas international bahkan pemerintahnya mendukung dlm smw program
    – kebijakan pemerintahnya yg pro rakyat, baik pendidikan,dsb

  5. hahah
    aku juga suka dengan music2 hindia
    dulu sempat mo ambil s2 di india selain murah ya mutu pendidikanya bagus..
    tapi gak jadi males banget😀

    • Ya, begitulah fenomena negara yg sedang tumbuh. India dan China tak jauh beda, di samping menikmati pertumbuhan ekonomi, mereka juga menghadapi problem lingkungan dan urbanisasi..

  6. ya, orang2 cerdas di india memang tak pernah kehilangan akal untuk terus berkembang sampai sekarang.. yg paling sering terlihat adalah dr dunia perfilman. Kualitas film2 india semakin bagus,,, sampe sy ga bosen liatnya…🙂

  7. “A leader in well testing and early production facilities for the oil & gas industry”

    As a group company with world-class capabilities in well testing and fluid, our top priority is to offer the best service for business-based energy and resources in Indonesia. Dwipa Group was established as a company providing Non Destructive Testing for the oil and gas industry. We believe that through commitment, determination and passion for growth, opportunities are endless.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s