Pasar Bebas dan Ujian Nasional (2)

Fenomena ujian nasional ini mengingatkan saya pada ekonomi pasar bebas. Sebagaimana ujian nasional, pasar bebas pun menghasilkan ‘pemenang’ dan ‘pecundang’ dalam ekonomi (gambar diambil dari sini). Hal itu tidak lain karena peluang dan kekuatan yang dimiliki masing-masing individu, atau masyarakat, atau negara, tidak sama. AS jelas lebih kuat dan memiliki peluang lebih besar dibanding, katakanlah, Kenya. Lantas, bagaimana jika kita ‘adu’ kedua negara itu dalam sistem pasar bebas? Bagaimanakah hasilnya? Mudah ditebak.

Jika ditelisik penyebabnya, akan terlihatlah keculasan negara-negara maju dalam memainkan ‘kartu’ pasar bebas ini.  Pertama, selama ratusan tahun, mereka telah melindungi ekonomi domestiknya dari sistem kompetisi pasar bebas. Di dunia perminyakan Indonesia, kita bisa membuka catatan sejarah, bahwa pemerintah kolonial Belanda sedemikian ketat melindungi anak kandungnya, Shell, dari serbuan perusahaan-perusahaan minyak AS, yang hendak mengusahakan minyak bumi di Indonesia.

Setelah ekonomi-industri mereka kuat, barulah mereka mempromosikan ideologi pasar bebas ke seluruh dunia, di saat negara-negara berkembang masih tertatih dalam membangun ekonominya. Naasnya, negara-negara berkembang itu dengan lugunya mengikuti irama permainan ekonomi negara-negara maju. Apakah masuk nalar, seekor anak kucing mampu mengalahkan singa dewasa? 

Ke dua, ternyata negara-negara maju itu pun, sampai saat ini, masih melindungi beberapa sektor ekonomi mereka yang dianggap lemah dan tidak akan mampu bersaing dengan negara-negara berkembang. Misalnya sektor pertanian. Mereka dengan garangnya meminta negara berkembang untuk membuka pasar domestiknya bagi barang-barang industri, sementara mereka sendiri menutup rapat-rapat peluang produk pertanian negara berkembang masuk ke dapur ekonomi mereka. Jelas ini sebuah kecurangan yang nyata. Mazhab pasar bebas, yang dikawal oleh lembaga-lembaga multinasional semisal IMF, Bank Dunia, WTO, ADB, dan lain-lain, ternyata tidak lebih dari ‘komoditas’ kampanye negara-negara maju untuk menembus pasar negara-negara berkembang, dan kemudian menguasainya.

Sebagai contoh, di Indonesia, IMF menekan pemerintah agar meliberalisasi sektor migas. USAID kemudian membantu membuatkan draft undang-undang migas yang mendukung agenda liberalisasi yang dimotori IMF tadi. Sementara World Bank menyiapkan kajian akademis terkait dampak-dampak proses liberalisasi. Salah satu hasil kajian World Bank yang banyak dikutip orang adalah: “subsidi BBM sebagian besar dinikmati oleh kalangan menengah ke atas”.

Di sektor hulu, meskipun kendali manajemen migas ada di Pertamina, yang kini dipegang oleh BPMIGAS, faktanya perusahaan asing sudah puluhan tahun melenggang-kangkung dan menguasai lebih dari 80 persen cadangan minyak nasional. Karena itu, liberalisasi sektor hulu migas barangkali tidak akan banyak merubah konstelasi perminyakan Indonesia.

Karena itu pula, patut diduga bahwa sasaran inti dari liberalisasi sektor migas ada pada sektor hilir, yakni agar raksasa-raksasa minyak dunia bisa menembus pasar BBM domestik yang sangat besar. Kita berharap, mudah-mudahan Pertamina tidak seperti siswa SMA yang kalah bersaing dalam ujian nasional, di sektor hilir migas, di negerinya sendiri, di saat harga BBM sudah sepenuhnya diserahkan ke pasar bebas. 

8 thoughts on “Pasar Bebas dan Ujian Nasional (2)

  1. Negara-negara maju memang serakah. Mereka denagn mengatasnamakan WB, IMF dll memakan negara-negara berkembang, termasuk negara kita ini.
    Kang, barangkali tulisan-tulisan ini sebaiknya dikirim dulu ke media cetak, baru ditampilkan di sini.

    Terima kasih.

  2. “A leader in well testing and early production facilities for the oil & gas industry”

    As a group company with world-class capabilities in well testing and fluid, our top priority is to offer the best service for business-based energy and resources in Indonesia. Dwipa Group was established as a company providing Non Destructive Testing for the oil and gas industry. We believe that through commitment, determination and passion for growth, opportunities are endless.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s