Sangatta dan Ironi Pembangunan

Mengunjungi tempat baru memang menyenangkan. Setidaknya itu akan menjadi pengalaman baru. Terlebih kalau perjalanan yang kita tempuh cukup jauh, harus menembus awan dan melintasi lautan. Ya, maksud saya kali ini adalah mau berbagi pengalaman batin selama mengunjungi tempat baru di seberang Laut Jawa, yaitu Kalimantan. Tepatnya di Sangatta (foto di samping berasal dari sini), ibu kota Kabupaten Kutai Timur. Maklum, baru sekali ini saya menginjakkan kaki di pulau Borneo itu.

Kesan perjalanan dimulai saat melintasi langit tenggara Kalimantan. Kebetulan cuaca sangat cerah. Ada sedikit rasa optimis, ketika melihat hamparan hutan yang masih cukup luas di bawah sana. Meskipun setelah dipikir lagi, muncul rasa pesimisme: jangan-jangan hutan-hutan di bawah sana tidak akan bertahan dalam hitungan puluhan tahun! Sebentar lagi tangan-tangan rakus manusia akan membabat habis hutan-hutan malang itu. Rasa pesimisme itu menguat, setelah dalam hitungan menit, terhampar padang yang tak kalah luas dengan hutan-hutan tadi. Mungkin itu bekas penebangan hutan, entah liar atau legal. Terlihat juga beberapa lahan luas kuning kecoklatan, tanpa vegetasi sama sekali. Yang itu mungkin bekas penambangan, atau penggalian tanah untuk mengurug tanah-tanah pinggiran kota yang akan dibangun perumahan atau perkantoran.

Wajah hutan-hutan kita memang mengenaskan. Konon, laju penggundulan hutan di nusantara ini mencapai 2 juta hektar per tahun. Fantastic! Karena itu, wajar kita termasuk negara yang “berkontribusi” besar bagi pertumbuhan CO2 di atmosfer.

Saat mendarat di Balikpapan, saya sempat teringat bandara Changi, Singapore. Posisinya hampir mirip. Landasan bandara langsung berbatasan dengan laut, sehingga terlihat eksotis. Tapi bedanya jelas: bandara-bandara di Indonesia dikelilingi perumahan yang tampak kumuh dari udara, tak terkecuali Balikpapan. Selain kumuh, soal tata ruang memang menjadi masalah kota-kota di Indonesia. Perumahan di sekeliling landasan bandara jelas sangat beresiko. Sementara Singapore jelas tidak. Perumahan penduduk cukup jauh dari bandara. Masalah keindahan penataan bandara di sana tak usah ditanya lagi. Ah, Singapore memang tidak layak kita sandingkan dengan Indonesia.

Dari Balikpapan, saya kemudian meluncur ke Sangatta dengan bus. Hanya selang sekitar satu jam, saya melintasi satu bukit yang rindang. Kanan kiri hutan. Sesekali terlihat papan yang dipatok di pinggir jalan bertuliskan: “hati-hati binatang buas melintas”. Bukit itu dinamakan “Bukit Soeharto”. Wow!

“Memang Soeharto yang dimaksud adalah Pak Harto”, kata asisten supir bus yang mengantar kami. Rupanya bos cendana itu memang betul-betul raja. Sampai-sampai bukit dan hutan pun menggunakan nama dia. Kita sudah maklum, nama-nama pahlawan memang kerap dipakai untuk nama tempat, gedung atau jalan. Tetapi bukan atas kehendak sendiri, melainkan manusia sesudah mereka yang memberikan nama, sebagai tanda penghormatan atas jasa-jasa yang mereka torehkan kepada bangsa dan negara ini. Yang ini lain. Manusia yang masih hidup, waktu itu, menobatkan namanya sendiri untuk dipakai sebagai nama bukit dan hutan yang begitu luas di pinggiran timur Kalimantan.

“Bukit Soeharto” adalah salah satu bukti “mengakarnya” kepemimpinan Pak Harto di negeri ini. Ajaibnya, sepanjang jalan dari Balikpapan – Sangatta, yang memakan waktu perjalanan darat hampir 8 jam, bukit itulah yang terlihat paling rindang. Tampak tidak ada tangan-tangan nakal yang berani mengusik kerimbunan pepohonan di situ. Wibawa Pak Harto memang luar biasa. 

Perjalanan terus berlanjut. Sepanjang Balikpapan – Samarinda – Bontang, jalanan di sana cukup bagus, apalagi untuk ukuran luar Jawa. Meski bagaimana pun, Pantura Jawa memang jalur yang paling ramai dan lebar di banding jalanan mana pun di Indonesia ini. Dari kondisi jalan negara saja, kita bisa melihat ketimpangan pembangunan antar daerah, baik antar kota-desa maupun barat-timur, di negara yang amat luas ini.

Jalanan dari Bontang – Sangatta tidak begitu bagus dan masih sempit. Bus dan truk besar tidak akan berani menginjak gas saat melintas berlawanan arah. Seringkali yang satu harus berhenti sejenak, pada jalanan yang nanjak. Kondisi jalanan itu cukup kontras dengan pemandangan tebing di kanan-kiri jalan yang sering memamerkan kekayaan batubara di sana. Dari pinggir jalan pun kita bisa melihat sumur minyak yang menyala-nyala. Saya jadi berpikir, apa memang benar, tidak ada hubungan antara kekayaan alam dengan kondisi infrastruktur, jalan, misalnya?

Gubuk-gubuk yang berbentuk panggung menghias sepanjang jalan di propinsi terkaya di Indonesia itu. Sepanjang jalan itu juga berjejer baliho yang memajang foto-foto manusia dan sederet kalimat yang menyejukkan, misalnya: “Saatnya masyarakat Kaltim sejahtera”, dan sebagainya. Beberapa baliho itu ditancap di halaman gubuk rakyat miskin di sana. Begitu gagahnya foto-foto yang mengenakan jas dan sederet gelar akademis di depan dan belakang nama mereka itu!

Sekitar jam 7 malam kami tiba di hotel paling bagus di Sangatta. Rupanya banyak juga bule yang menginap di situ. Tetapi itu tidak begitu mengejutkan, mengingat Sangatta adalah kota minyak dan tambang batubara. Dua sektor industri itu membutuhkan teknologi tinggi, serta tenaga kerja high quality, sehingga keberadaan tenaga kerja asing sulit dihindari. Yang bikin saya terkejut, rupanya di hotel itu juga berseliweran “hotel’s wife”. Naudzubillah. “Jika begini kondisinya, mungkin kekayaan alam Sangatta tidak lagi berkah, karena justeru mengundang kemaksiatan”, gumam di hati saya.

Esok paginya saya bersama tim mengunjungi tambang batubara terbesar di Indonesia. Saking besarnya, sampai-sampai perusahaan itu membuka rute penerbangan sendiri dari Balikpapan ke Sangatta. Jangan harap anda bisa nebeng pesawat itu, pada saat pejabat perusahaan itu sedang berkunjung. Namanya sangat familiar di industri tambang. Wajar, pemiliknya adalah salah satu orang terkaya negeri ini. Tidak kurang dari 45 juta ton batubara diboyong oleh mereka dari perut bumi Kutai Timur. Dari sejumlah itu, tahukah kawan, pemerintah hanya menerima 13,5% hasil bersih tambang. Dari 13,5% persen itulah, 80%-nya untuk daerah, dan 20%-nya untuk pusat. Saya jadi teringat, akhir-akhir ini berkembang isu bahwa perusahaan tambang itu diduga mengemplang pajak hingga trilyunan rupiah. Dari situ saya bisa memahami, mengapa jalanan menuju Sangatta masih sempit dan bolong-bolong, tidak “sehitam” batubara yang ada di sana.

40 thoughts on “Sangatta dan Ironi Pembangunan

    • Iya, asik kalo naik sepeda menelusuri lintas timur kalimantan, jalannya kayak roll coaster pak.. bisa ngos2an…🙂
      Makasih udah mampir pak..

  1. hhmmmm saya mau banget pak melihat keindahan alam pulau kalimantan

    saya berharap kita bisa segera sadar betapa pentingnya hutan untuk kita …

    kejadian longsor yang menimpa selama ini semata-mata karena hilangnya pengikat tanah yaitu akar pohon

    salam

  2. Wah..Dalam r4angka mau bisnis batubara juga sepertinya sobat ini…
    Kalo dah jadi orang terkaya di Indonesia ulah hilap ka abdi yah Kang !!!
    He..he..hee

    • Hehe..ndak, saya cuma bagian dari Industri yg mengusahakan gas yg ada di batubara. Amin… jangankan terkaya di Indonesia, terkaya se-Kabupaten aja mau saya..🙂

  3. Pengalaman yang luar biasa,,karena tidak semua orang bisa melakukan hal tersebut..
    Sekali lagi Selamat Mas atas perjalanannya dan makasih kita telah dibagi pengalamannya…
    Soal jalannya banyak lobang mungkin karena bos batubara selalu naik capung terbang jadi gak tahu beliau-beliau itu, biar nanti kita urus agar mulus…
    Wakkkakaakaaakkakkkk

  4. catatan perjalanan yang indah dan mengalir, dikemas dengan rangakaian kata-kata yang asik untuk dibaca. Semoga para pengemplang pajak dan para oknum yang bermain disana bisa sadar, sehingga jalanan bisa lebar dan tidak bolong-bolong lagi.

    • kabar baik.. ya, asik banget. Apalagi rutenya naik – turun kaya rollcoaster, ratusan bukit bergelombang yg dilalui, sempat pusing2..🙂

  5. Membacanya tuliannya saja sudah langsung terbayang keindahannya yg menakjubkan, apalagi kalo mengunjunginya langsung. Sayang sy sama sekali ga pernah kesana😦 ,

  6. blogwalking…..
    ea setuju ama komeng yg diatas, klo dikasih foto2 tmbah seru kang hehehehe….biar si pembaca ngerasa berada disana jg, jadi bs menikmati jg gt walaupun cm dalam khayalan xixixixi….^^

    gud luck…

    salam sayank….^^

  7. Ironis sekali Kang. Kalimantan yang kaya dengan barang tambang, tapi penduduknya banyak yang miskin. Dan kekayaan hutannya pun tentu dikeruk bukan oleh orang sana, mereka hanya buruh saja, atau mencuri kecil-kecilan.

    Kesenjangan itu memang merata. Di daerah yang kaya seperti Aceh, Riau dan Papua juga begitu.

    Kapan ironi ini akan berakhir ?

  8. saya pernah bincang-bincang dengan seseorang tentang kalimantan
    di sana bukan sekedar bauksit yang ditambang, tapi tanah tambang juga diangkut untuk bahan urukan disuatu tempat
    bahkan jangka panjang ada penafsiran akan ada tempat yang tenggelam
    bukan memberikan kemaslahatan, namun akan menghasilkan suatu petaka. entah benar apa tidak

    salam dari pamekasan madura

    • Iya mas, yg saya lihat juga banyak tanah yg ditambang. Maklum, daerah pinggiran kota masih banyak rawa, jadi kalau mau mbangun kawasan mesti ngurug dulu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s