Kenapa Tidak Membangun Kilang?

Tulisan ini dibuat setelah saya membaca artikel di buletin internal sebuah perusahaan. Ada bagian menarik yang menyentil saya, yakni tentang Jamnagar. Saya yakin banyak yang tidak tahu, ya kan? Termasuk saya juga sebelumnya. Wajar. Toh, itu  hanya nama sebuah kota kecil di bagian barat India, yang berbatasan dengan Pakistan. Lalu, apa yang istimewa dari kota itu? Sebetulnya tidak ada.

Nama kota itu dikenal lebih luas setelah India membangun dua buah kilang minyak raksasa dengan total kapasitas 1,24 juta barel per hari.  Angka itu kira-kira sama dengan kebutuhan BBM Indonesia. Komplek kilang seluas 32 km persegi itu dibangun mulai tahun 1999 dan hanya diselesaikan dalam waktu 39 bulan. Reliance, perusahaan minyak dan petrokimia asal India, yang mengerjakan semua itu. Fantastic! Yang menjadi catatan menarik: India bukan negara penghasil migas! Lalu, mengapa mereka membangun kilang sedemikian besar?

Ada tiga kemungkinan jawaban. Pertama, Jamnagar terletak di tepian Laut Arab: dekat dengan kawasan yang menyimpan cadangan dan produksi minyak terbesar dunia. Karena itu, posisi kota ini cukup strategis secara geografis. Ke dua, ancaman krisis minyak global bukan dari sisi suplai minyak mentah itu sendiri, melainkan kapasitas kilang minyak dunia yang belum memadai. Untuk pasokan crude (minyak mentah), OPEC pasti menyanggupi, berapa pun angka kenaikan demand global. Itu masuk akal. Mereka menguasai 70 persen cadangan minyak dunia. Namun, tidak demikian halnya dengan produk BBM. Betapa pun pasokan crude itu aman, setidaknya untuk beberapa dekade ke depan, dunia tetap menghadapi acaman pasokan BBM, karena keterbatasan kapasita kilang minyak dunia saat ini. Menteri Energi Qatar memahami betul persoalan ini, tetapi India telah mengambil kesempatan itu terlebih dahulu, sebelum pemimpin negara-negara OPEC menyadarinya.

Ke tiga, India saat in memang tengah mengalami eskalasi proses industrialisasi. Meski tidak diungkap secara terbuka, bisa jadi ini merupakan bagian dari upaya “menandingi” industrialisasi China yang masif. Sektor industri telah menopang 46 persen GDP China, sementara untuk India “baru” 27 persen (2006). Barangkali semangat mengejar “ketertinggalan” inilah yang memicu pembangunan kilang minyak terbesar di dunia itu.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Kita sudah dikenal luas oleh dunia sebagai salah satu penghasil minyak. Pada puncaknya di era 1976-1981, produksi kita bahkan mencapai 1,6 juta barel per hari. Namun demikian, kita “hanya” memiliki kilang dengan total kapasitas sekitar 1 juta barel. Itu pun tersebar di enam kilang yang dibangun secara bertahap selama puluhan tahun. Yang terakhir dibangun yaitu kilang minyak Balongan dengan kapasitas 125 ribu barel per hari. Dengan tingkat konsumsi sekitar 1,3 barel per hari, setidaknya kita membutuhkan 300 ribu barel kapasitas kilang minyak tambahan. Pertanyaannya, mengapa kita tidak segera membangun kilang?

Pertanyaan itu jelas bukan barang baru. Juga bukan saya sendiri yang menanyakannya. Banyak sudah orang yang melontarkan pertanyaan serupa. Tetapi rupanya sampai saat ini belum terjawab. Yang saya tahu, kita sebetulnya sudah memiliki rencana membangun kilang di Banten dan Jawa Timur, serta rencana untuk menambah kapasitas kilang existing. Tahun 2017 direncanakan semua kilang itu mampu memproduksi sekitar 1,6 produk BBM. Tetapi sampai saat ini belum ada realisasi. Entah mandeg di mana.

Di samping itu, rupanya ada saja sebagian orang yang tidak sepakat dengan pembangunan kilang itu. Berikut ini beberapa alasan yang mengemuka. Pertama, membangun kilang menghabiskan sedikitnya 5 milyar dolar, atau sekitar 50 trilyun rupiah. Jauh lebih murah membeli produknya, daripada repot-repot membangun kilang sendiri. Ke dua, margin kilang sangat “tipis”, alias untungnya cekak. Pengalaman Pertamina mengelola kilang tidak memberikan keuntungan yang berarti dibandingkan total pendapatan perusahaan. Ke tiga, suplai minyak dalam negeri yang semakin mengecil. Kita tahu bahwa produksi crude kita saat ini tinggal 950 ribuan barel. Proyeksi tahun 2010 bahkan menurun ke angka 870 ribuan barel.

Bisa jadi alasan-alasan itu hanya kedok. Alasan sesungguhnya yang jarang terungkap adalah adanya pihak-pihak yang diuntungkan dengan impor BBM itu. Bahkan, kalau boleh menggunakan sedikit teori konspirasi, bisa jadi ada kepentingan yang lebih besar, yang tidak ingin Indonesia mengalami kemandirian energi. Kita tahu bahwa geopolitik dunia saat ini pekat dengan warna minyak. Intervensi politik bisa jadi memainkan peranan agar pembangunan kilang minyak di Indonesia ini terus urung. Sementara tetangga nakal kita, Singapore, mengintip-intip kebutuhan pasar BBM dalam negeri yang terus melonjak. Sama halnya dengan India yang tidak punya minyak, Singapore kini memiliki kilang minyak yang cukup besar. Kilang inilah salah satu pemasok BBM nasional. Bodohnya kita!

29 thoughts on “Kenapa Tidak Membangun Kilang?

  1. (maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?!
    Kebijakan2 di Indonesia itu sering kali terasa aneh. Keknya semua kebijakan itu hanya diambil berdasarkan itung2 profit waktu dekat. Itupun profit untuk pribadi….

  2. (maaf) izin mengamankan KEDUA dulu. Boleh kan?!
    Kalau membangun kilang minyak berarti si pembuat kebijakan tentang pembangunan kilang gak mendapat keuntungan justru pembuat kebijakan selanjutnya yang akan untung….
    pola pikir seperti ini yang masih berlaku, sepertinya…

  3. Ahay.. Artikel yang bagus banget sekali pisan kang Cas…

    Negeri ini terlalu banyak pengambil ‘kebijakan’ yang hanya menginginkan ‘kebijakan’ bagi dirinya sendiri…

  4. menyapa sobat di pagi hari
    cocok dengan kata yang tdapat dalam blog ini
    mengais makna dengan kata.

    maaf mas cas mengajak blog baru BW
    salam dari pamekasan madura

  5. wah tulisan anda bagus dan kritis sekali.. saya ingin belajar menulis seperti itu..
    di negeri ini saya rasa yg penting untung dl makanya apa2 slalu itung2an dulu..

    oh iya salam kenal ya😀 pak dira..

  6. hmm…memang yg mnjadi persamalahanya skr ttg kilang adalah blm memenuhinya target pemenuhan BBM nasional,sehingga wajar sj pemerintah dlm hal ini terutama pertamina selaku pemain utama pengolah migas BBM msh belum berani dikarenakan alasan2 yg anda tuliskan tsbt di atas, dan jg memang membangun kilang jk hnya dgn desain menghasilkan produk BBM (bensin,solar,myk tanah, LPG) adalah rugi, berbeda jk membangun kilang dgn mengutamakan produk ringannya (paraxylene atau propylene) dimana harganya bs 4x lipat harga crude. mungkin sepengetahuan yg sy ketahui, kilang2 skr sdg berusaha memproduksi produk samping yg bernilai tinggi, agar walau tetap memproduksi BBM untuk kebutuhan nasioal jg untuk menjaga agar tidak rugi kilang tsbt…

    • oya,dlm berita di detik.com beberapa hr lalu, bahwasannya pertamina menargetkan bs memenuhi kebutuhan BBM nasional pd tahun 2015 yg mana kilang2 yg ada di indonesia skr tidak akan ditambah/membangun kilang br lagi, tetapi adalah dengan menambah kapasitas produksinya sj….dan sy berharap setelah produksi BBM nasional terpenuhi, maka diharapkan kilang2 tsbt bs terus mencari profit dengan meningkatkan produksi produk non-BBM nya, walau memang perlu dana lagi dan teknologi yg hebat untuk meronovasinya…semoga sj…

  7. Begitulah Indonesia Gan..
    Maunya instan terus..
    lebih senang dengan shortcut (jalan pintas)..

    AnakBangsa telah kembali,, setelah terlelap sekian waktu lamanya.. Mohon dimaafkan atas absennya AnakBangsa..

    Selamat hari senin Juragan..
    Semoga apa yang Juragan alami pada hari senin ini membawa kebahagiaan dalam hidup Juragan..

    Salam AnakBangsa..
    Salam Perubahan..

    http://celotehanakbangsa.wordpress.com/2010/04/30/peraturan-sederhana-hidup-bahagia/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s