Minyak dan AS

Sejak minyak bumi mulai ditemukan secara komersial oleh Kolonel Edwin L. Drake pada tahun 1859 di Titusville, negara bagian Pensylvania, peran minyak bumi mulai menggeser batubara yang waktu itu masih sebagai sumber energi utama. Sifatnya yang likuid, mudah diangkut dan dipipakan, relatif lebih bersih dari batubara, dan lebih mudah disimpan serta menghasilkan berbagai produk turunan yang serba guna, membuat minyak bumi menjadi sumber energi paling strategis dalam tempo relatif singkat. Jantung ekonomi dunia, terutama sektor industri manufaktur yang berkembang pesat kala itu, sejak paruh ke dua abad 19 tersebut dipacu oleh sumber energi hidrokarbon ini.

Ketergantungan ekonomi-industri terhadap energi minyak bumi berlangsung sampai hari ini, baik di negara berkembang maupun negara maju. Bagi negara maju, meskipun minyak hanya menyumbang sebagian kecil GNP mereka, tetapi minyak bumi merupakan faktor penting yang menggerakkan roda ekonomi-industri mereka. Oleh karena itu, minyak bumi bukan saja merupakan komoditas energi, melainkan sudah menjadi komoditas politik dunia.

Pembahasan geopolitik minyak tidak bisa dilepaskan dari dua aktor berikut: Amerika Serikat dan Timur Tengah. Kedua aktor inilah yang paling berpengaruh terhadap konstelasi politik perminyakan dunia. Hal itu mudah dipahami, mengingat aktor pertama, Amerika Serikat, adalah konsumen terbesar minyak dunia. Sementara aktor ke dua, Timur Tengah, merupakan produsen sekaligus penguasa cadangan minyak terbesar di dunia.

Dibanding negara lainnya, Amerika Serikat memiliki ketergantungan paling tinggi terhadap minyak. Bahkan sebagian orang menyebut AS sebagai negara pecandu minyak. Kita bisa melihatnya dari dua sisi. Pertama, dilihat dari tingkat konsumsi minyaknya. AS mengkonsumsi sekitar 25 persen produksi minyak dunia, padahal jumlah penduduknya “hanya” 5 persen penduduk dunia. Dari sekitar 80 juta barel produksi minyak dunia, AS mengkonsumsi sekitar 20 juta barel. Sementara tingkat produksi dan penguasaan cadangan minyak mereka sendiri “hanya” masing-masing sekitar 10 persen dan 2 persen minyak dunia. Artinya, AS harus mengimpor sekitar 12 juta barel, atau sekitar 60 persen kebutuhan minyak domestiknya. Departemen Energi AS sendiri memprediksi ketergantungan pada minyak impor ini akan terus meningkat sampai 70 persen pada tahun 2025. Defisit minyak yang demikian besar membuat AS haus akan sumber minyak.

Ke dua, dilihat dari pengaruh gejolak minyak terhadap perekonomian mereka. Penelitian Brown et.al. (2003) menunjukkan bahwa sembilan dari sepuluh resesi yang terjadi di Amerika Serikat dari mulai era perang dunia ke dua hingga tahun 2002 terkait dengan harga minyak. Bernanke et.al. (1997) juga menemukan bahwa separuh dari penurunan output perekonomian AS disebabkan oleh kenaikan harga minyak. Meskipun minyak hanya menyumbang 5 persen GDP mereka, tetapi minyak merupakan sumber energi utama yang menggerakkan perekonomian AS. Karena itu, dapat dipahami bahwa implikasi naiknya harga minyak akan berdampak serius bagi perekonomian mereka. Lebih jauh, bahkan minyak merupakan tulang punggung sektor pertahanan mereka. Kapal induk, jet-jet tempur, tank-tank, helikopter mereka, semuanya bergantung pada minyak.

Kondisi tersebut sebenarnya sudah jauh-jauh hari diprediksi oleh para analis AS. Selama perang dunia I dan II, AS masih mampu mencukupi kebutuhan minyaknya sendiri1, terutama berasal dari cadangan minyak di barat daya AS, Meksiko dan Venezuela. Para analis AS meyakini bahwa suplai minyak domestik mereka tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan AS dan Eropa, pasca era perang tersebut. Sejak saat itu, mereka secara intensif mempelajari dan berusaha menemukan sumber cadangan minyak di belahan bumi lainnya. Hasil kajian mereka menemukan bahwa Timur Tengah merupakan satu-satunya kawasan yang mengandung minyak dalam jumlah berlimpah dan mampu mencukupi kebutuhan AS. Lebih spesifik, mereka menyebutkan bahwa minyak tersebut sebagian besar berada di Arab Saudi.

Bertolak dari kajian itu, akhirnya pemerintah AS mulai merencanakan strategi untuk mendapatkan suplai minyak dari Arab Saudi. Pada awalnya, mereka menerapkan strategi dengan membuat perusahaan minyak negara yang akan mengakuisisi ladang-ladang minyak di sana. Inilah cikal bakal kerjasama Arab Saudi dan AS dalam membentuk ARAMCO (Arabian American Oil Company). Namun demikian, upaya ini dianggap belum cukup aman, terutama menyangkut stabilitas keamanan Arab Saudi dalam jangka panjang. Jika terjadi gejolak politik, baik akibat pengaruh internal maupun eksternal, eksistensi perusahaan tersebut terancam. Untuk itulah, Presiden Roosevelt kemudian mengadakan pertemuan dengan King Abdul Aziz, pendiri rejim Arab Saudi modern, di sebuah kapal perang AS di terusan Suez, pada tanggal 14 Februari 1945. Klare (2001) menyebut pertemuan itu sebagai salah satu kejadian “luar biasa” dalam catatan sejarah politik modern AS. Melalui peristiwa bersejarah itu, Klare juga menyatakan bahwa Roosevelt merupakan presiden AS pertama yang menjadikan minyak sebagai pusat kebijakan luar negeri AS, hingga berlangsung lebih dari setengah abad.

Sampai saat ini, isi pertemuan itu tidak terpublikasikan. Namun demikian, kuat dugaan bahwa Roosevelt menjanjikan perlindungan militer bagi pemerintahan Arab Saudi, baik dari serangan internal maupun eksternal, dengan kompensasi AS akan mendapatkan jaminan pasokan minyak. Hasil perundingan itu telah memberikan keuntungan yang berlimpah bagi kedua belah pihak. AS mendapatkan pasokan minyak dari Arab Saudi sebanyak 1,6 juta barel per hari, sedangkan keluarga kerajaan dapat melenggang menikmati kekuasaan dan mengumpulkan kekayaan, tanpa khawatir akan terjadi “serangan”, baik dari internal maupun eksternal. Bagi AS, simbiose itu juga terbukti menguntungkan, bahwa meskipun akhirnya Arab Saudi kemudian menasionalisasi induk perusahaan ARAMCO pada tahun 1976, perusahaan itu masih tetap diberi kewenangan mengelola produksi dan memasarkan minyak Arab Saudi ke seluruh dunia.

Kecanduan terhadap minyak betul-betul menguasai sendi-sendi negara AS. Pasca keberhasilan upaya Roosevelt dalam mengamankan pasokan minyak dari Timut Tengah itu, pemimpin AS selanjutnya, seperti Truman, Eisenhower, Nixon and Carter, begitu terobsesi untuk terus mendominasi kawasan Teluk Persia itu demi mengamankan pasokan minyaknya. Bahkan Carter pada tahun 1980 menyatakan bahwa AS akan menggunakan kekuatan militer untuk melindungi pasokan minyak dari Timur Tengah. Ia lalu membentuk RDJTF (Rapid Deployment Joint Task Force). Reagen, penerus Carter, kemudian mengubahnya menjadi Central Commands (CentCom), yang berfokus melindungai aliran minyak dari Timur Tengah ke AS. Aksi CentCom ini terlihat pada Perang Teluk, dalam mengusir pasukan Irak yang menduduki Kuwait.

Pasca Perang Teluk, AS kemudian memutuskan untuk memperbanyak kehadiran pasukan mereka di Arab Saudi, untuk mengantisipasi meluasnya agresi Saddam Husein ke kawasan Timur Tengah lainnya. Praktis, kondisi itu menimbulkan kemarahan dari kaum “konservatif” Arab Saudi, termasuk Osama bin Laden, yang menciptakan jaringan Al-Qaeda. Bin Laden kemudian memerintahkan seluruh jaringannya untuk menyerang kepentingan AS di Timur Tengah, termasuk di AS sendiri. 

8 thoughts on “Minyak dan AS

  1. tambahan:
    AS juga menggunakan minyak untuk menguatkan hegemoni dolarnya di seluruh dunia. Abis perang vietnam, dan AS bangkrut, dolar dilepaskan dari cadangan emas. ada perjanjian antara OPEC & AS untuk menggunakan dolar sebagai mata uang resmi transaksi minyak. karena minyak merupakan komoditas paling banyak demand-nya, otomotis tiap negara harus meminta dolar dulu untuk beli minyak..dus, dollars in high demand, dan AS tinggal nyetak (soale ga lagi di-peg dengan gold reserve). Tiap negara jadi tergantung AS, dan punya kepentingan dgn bagusnya dollar AS…

    berani ga ya Saudi ‘melawan’ AS? nasibnya bisa kayak Iran-Irak, yang mau pake Euro buat transaksi minyak…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s