Filosofi Indonesia Satu Tubuh

Secara sederhana, filosofi “satu tubuh” kerap kita artikan bahwa jika satu bagian merasakan sakit, maka yang lain pun akan merasa sakit. Hal ini mudah dipahami, mengingat tubuh manusia merupakan suatu sistem organik yang multikompleks dan saling terkait. Terganggunya satu fungsi organ tubuh akan berimbas pada kelancaran fungsi organ yang lain, baik secara langsung atau tidak.

Secara sederhana pula, kita bisa melihat kehidupan berbangsa dan bernegara ini dalam perspektif sistem organik yang saling kait-mengait. Untuk memudahkan memahaminya, saya menganalogikan beberapa “organ” bangsa dan negara ini ke dalam sistem organ tubuh manusia. Analogi ini dibuat untuk memberikan gambaran betapa strategisnya peran migas bagi kepentingan organ-organ lainnya.

Eksekutif, atau Pemerintah selaku pengatur dan penata kehidupan berbangsa dan bernegara, kita analogikan sebagai “otak”. Otaklah yang mengatur segala gerak-gerik tubuh. Sementara legislatif, selaku perwakilan dari rakyat dan berperan sebagai pengontrol terhadap kinerja eksekutif, kita analogikan sebagai “hati”. Fungsi hati kita harapkan sebagai detoksifikasi, atau penetral racun, sehingga tubuh bebas racun yang akan mematikan fungsi organ dan sel-sel tubuh. Sel-sel tubuh kita analogikan sebagai rakyat Indonesia. TNI dan Polri kita analogikan sebagai “tangan” yang berfungsi untuk mempertahankan diri dari serangan luar dan membersihkan tubuh bagian luar dari “kotoran” (penyakit masyarakat). PLN sebagai “penerang”, kita analogikan sebagai mata yang membuat kita bisa melihat lingkungan sekitar dengan terang benderang. Telkom atau Indosat sebagai “sistem saraf” yang mengkomunikasikan pesan dari “otak” ke seluruh organ tubuh. Kehutanan sebagai “rambut” yang melindungi dari bahaya kepanasan akibat sinar ultraviolet (pemanasan global). Sementara pertanian merupakan “paru-paru” yang berfungsi menyerap oksigen (makanan) dari luar dan menyebarkannya ke seluruh sel tubuh (rakyat).

Pertamina sendiri merupakan “jantung dan pembuluh darah” yang berfungsi menyediakan dan mengalirkan darah (BBM) ke seluruh sel-sel tubuh. Jantung adalah Pertamina bagian hulu yang berperan menyediakan minyak dan gas bumi melalui kegiatan ekplorasi dan produksi. Sementara pembuluh darah merupakan jaringan distribusi BBM yang tersebar di seluruh pelosok nusantara. Perumpamaan Pertamina sebagai jantung kita ambil dari istilah “jantung dunia”, yang tidak lain adalah kawasan Timur Tengah yang mengandung cadangan minyak terbesar.

Jika kita menilai kondisi kehidupan berbangsa dan bernegara ini dengan melihat kondisi masing-masing “organ” tersebut, maka bisa dipastikan kondisi “tubuh” kita tidak sehat, bahkan kritis. Banyak organ tubuh yang tidak berfungsi dengan baik. Telkom atau Indosat sebagai sistem saraf, di dalamnya sudah “ditransplantasi” dengan benda asing. Bahkan kandungan “benda asing” di dalam sistem saraf ini mencapai enam puluh persen. Ditambah lagi di dalamnya sudah ditanam “microchip”, sehingga seluruh gerak tubuh kita mudah terdeteksi oleh pemilik “benda asing” itu.

Legislatif sebagai “hati” yang semestinya berfungsi membersihkan racun (detoksifikasi), bahkan di dalam hatinya sendiri justeru menyimpan “racun”. Karena itu, dia tidak bisa memfilter kebijakan eksekutif (otak) yang merugikan rakyat (racun). Bahkan produk legislasi yang dihasilkannya sendiri kerap merugikan rakyat (menyimpan racun). Kepala kita juga sebagian besar sudah botak, akibat rambut (hutan) yang digunduli. Yang membuat miris, penggundulan kepala itu kita lakukan juga dengan tangan sendiri (keterlibatan oknum TNI dan Polri), dengan membiarkan, bahkan menikmati, pembalakan liar (illegal logging) yang terjadi.

Pertamina sendiri sebagai jantung mengalami beberapa masalah. Masalah pertama adalah pelindung organ jantung itu sendiri. Selama tiga puluh tahun, dari tahun 1971 – 2001, jantung kita (Pertamina) dilindungi oleh tulang rusuk yang kokoh (UU No 8/1971). Akan tetapi, dengan diberlakukannya UU No 22/2001, jantung kita tidak lagi terlindungi dengan aman. Di saat organ utama tidak lagi terlindungi, kita justeru membuat organ tambahan (BPMIGAS dan BPH MIGAS) untuk menyediakan dan menyalurkan darah (BBM) ke seluruh organ dan sel-sel tubuh (rakyat). Sebagai catatan penting, organ tambahan ini sama sekali tidak memiliki infrastruktur pengadaan dan penyaluran darah (BBM). Akibatnya, distribusi darah sering tersendat.

Tersendatnya penyaluran darah (BBM) ke mata (PLN) bisa menyebabkan keadaan menjadi gelap gulita. Otak (eksekutif) pun tidak dapat bekerja maksimal. Ia kerap meminta sel-sel tubuh (rakyat) untuk hemat darah (BBM). Untuk mengimbangi kebutuhan darah yang semakin tinggi yang kadang membuat sel-sel tubuh terkapar (krisis kelangkaan BBM), otak kemudian meminta transfusi darah (impor BBM). Transfusi darah tentu mengandung sejumlah resiko. Pertama, harga darah yang mahal dan akan semakin mahal, karena kita membeli darah di pasar bebas (Singapore) yang harganya ditentukan oleh trader multinasional. Ke dua, jika kita tidak mampu membeli darah dengan harga sesuai harga pasar, maka si pemilik darah akan memilih untuk menjualnya ke pasien lain (negara importir lain). Krisis pasokan darah (BBM) sudah diambang pintu. Ke tiga, botol infus juga ukurannya tidak terlalu besar. Suatu saat pasti akan mencapai “titik darah penghabisan”.

Mirisnya, sampai saat ini kita tidak berusaha membeli dari orang yang mau mendonorkan darahnya (negara produsen minyak), untuk mengamankan pasokan darah segar dalam jumlah yang mencukupi dalam jangka panjang. Persediaan darah di dalam tubuh kita sendiri (cadangan dan produksi minyak nasional) dikuasai oleh organ asing yang setiap saat mengeluarkan darah kita (ekspor minyak) ke orang lain. Padahal tubuh kita sendiri sedang transfusi darah. Bisa dibayangkan bagaimana kompleksnya penyakit yang diderita tubuh ini.

19 thoughts on “Filosofi Indonesia Satu Tubuh

  1. Ping balik: Best Of The Best Artist In The World | CiTrO uNiK

  2. yu mari kita sembuhkan satu per satu organ tubuh yang sakit…. biar badan kita sehat… sakit itu kan ga enak lho…

  3. Ping balik: Filosofi Indonesia Satu Tubuh

  4. “A leader in well testing and early production facilities for the oil & gas industry”

    As a group company with world-class capabilities in well testing and fluid, our top priority is to offer the best service for business-based energy and resources in Indonesia. Dwipa Group was established as a company providing Non Destructive Testing for the oil and gas industry. We believe that through commitment, determination and passion for growth, opportunities are endless.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s