Peran Strategis Minyak dan Gas Bumi

Strategisnya peranan minyak dan gas bumi bagi perekonomian nasional bisa kita lihat dari beberapa sisi. Pertama, dari data PDB (Produk Domestik Bruto). Data PDB berdasarkan harga berlaku pada tahun 2000 sampai dengan 2008 menunjukkan bahwa sektor migas menyumbang sekitar 9% – 14%. Meskipun jika dilihat dari komponen penyusunnya, sektor industri manufaktur, perdagangan dan pertanian, masih merupakan penyumbang terbesar PDB Indonesia. Namun demikian, angka ini tentu belum menunjukkan peran sektor migas secara keseluruhan bagi perekonomian, mengingat migas juga merupakan penggerak sektor lainnya, terutama industri manufaktur, transportasi, listrik, dan sebagainya. Dari data EIA (2003), sebagaimana dikutip oleh Surjadi (2006), menunjukkan bahwa intensitas penggunaan minyak dalam konsumsi energi primer di Indonesia sebesar 0,507. Artinya, separuh lebih konsumsi energi primer yang menggerakkan perekonomian kita berasal dari minyak bumi.

Ke dua, dari sisi penerimaan negara. Kita bisa melihat data APBN dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2010. Dalam lima tahun terakhir, sektor migas mampu menyumbang pendapatan negara sebesar 16% hingga 32%, atau rata-rata sekitar 25%. Pada tahun 2005, sektor migas menyumbang 138 trilyun, dari APBN sekitar 490 trilyun, atau 28%. Pada tahun 2006, kontribusinya meningkat menjadi 32%, atau sebesar 201 trilyun dari sekitar 636 trilyun APBN. Tahun 2007 menurun menjadi 24%, dan naik lagi menjadi 29% pada tahun 2008 lalu, tepat pada momen kenaikan harga minyak dunia. Pada tahun 2010, kontribusi sektor migas diperkirakan turun menjadi “hanya” 16%. Tetapi angka-angka itu belum termasuk bagian laba BUMN yang bergerak di bidang Migas, yaitu Pertamina dan PGN. Jika diproyeksikan laba bersih Pertamina pada 2010 mencapai 20 trilyun (Detik Finance, 15/01/2010) dan laba PGN minimum sama dengan tahun 2009 sebesar 4,4 trilyun (Detik Finance, 26/10/2009), maka angka penambahannya pada pendapatan negara cukup signifikan.

Perlu digarisbawahi, bahwa data-data tersebut mencerminkan kondisi saat ini, dimana Indonesia statusnya telah menjadi net oil importer sejak tahun 2004. Pada masa lalu, terutama pada era bonanza minyak dekade 1980-an, sektor migas menyumbang hingga 70% APBN (Syeirazi, 2009). 

Ke tiga, kita bisa melihat vitalnya sektor migas terhadap perekonomian pada kasus kenaikan harga minyak. Contohnya terjadi pada tahun 2008 lalu. Tambunan (2009) mengilustrasikan dampak kenaikan harga BBM terhadap perekonomian dengan cukup baik (Gambar 1). Sebagai negara net importir, baik minyak mentah maupun BBM, kenaikan harga minyak akan membuat atau meningkatkan defisit APBN, terutama untuk mensubsidi harga BBM. Untuk menyikapinya, Pemerintah biasanya akan mengambil beberapa opsi: menaikkan harga BBM untuk mengurangi subsidi; memangkas anggaran pos-pos lainnya, termasuk pendidikan, kesehatan dan anggaran pembangunan; menggedor BUMN untuk meningkatkan laba; atau mencari sumber lainnya, termasuk utang.

Defisit APBN akan mengurangi kemampuan Pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi melalui pengeluarannya. Di samping itu, BBM merupakan salah satu faktor produksi penting yang menggerakkan perekonomian, sehingga naiknya harga minyak akan meningkatkan ongkos produksi: dari mulai pedagang kaki lima sampai industri manufaktur skala besar. Akibatnya, kegiatan produksi bisa menurun, termasuk untuk barang-barang yang diekspor. Dengan demikian, cadangan devisa juga bisa ikut berkurang. Kuncoro (2009) juga menyatakan bahwa naiknya harga BBM dapat mengakibatkan turunnya permintaan dan penawaran agregat sekaligus. Akibatnya, output perekonomian secara umum juga akan menurun.

Kenaikan BBM juga akan meningkatkan inflasi. Harga-harga barang, termasuk dan terutama harga kebutuhan pokok, akan meningkat seiring dengan meningkatnya harga minyak. Hal ini secara langsung akan berdampak pada kehidupan masyarakat. Angka kemiskinan dipastikan akan meningkat. Selain itu, inflasi juga berpengaruh negatif terhadap kesempatan kerja. Pengangguran akan meningkat. Dengan demikian, efeknya akan kembali ke pendapatan negara, karena berkurangnya pendapatan dari sektor pajak pendapatan. Meningkatnya kemiskinan juga akan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi, akibat menurunnya permintaan.

16 thoughts on “Peran Strategis Minyak dan Gas Bumi

  1. Assalamu’alaikum,

    Alahmdulillah, akhirnya kesampaian juag menulis bukunya.
    Hanya bacan tentang minyak dan gas ini cukup berat bagi saya.
    Potensi migas di negeri kita sangat besar, hanya kadang banyak perilaku yang tidak sehat dari oknum tertentu dalam bisnis migas ini merugikan bangsa. Hal ini bisa kita lihat seperti penyelundupan, kebocoran mobil tanki minyak tanah dulu, juga sekarang banyak tabung gas LPG yang kurang isinya,

    Mudah-mudahan migas ini bisa lebih banyak memberikan kotribusi bagi negara dan bangsa.

    Semoga sukses dengan bukunya.
    Salam

    • Waalaikumsalam.. iya, mudah2an bisa rampung pak. Rencananya memang akan mengupas amburadulnya tata kelola migas di Indonesia. Tulisan di atas “hanya” cuplikan pd bab pendahuluan..

  2. assalammualaikum,
    mas, mau tanya nih, kira2 harga minyak (icp) ada pengaruhnya dengan kurs yang kita anut gak ya?? apakah kurs kita dapat mempengaruhi harga minyak kita (karena semuanya dihirung dengan US$)?

    • Waalaikumsalam..
      Mengenai hubungan kurs kita dg icp sy kurang tahu persis mas didik. Kelihatannya perlu kajian yg cukup mendalam, utk melihat keterkaitannya. Lagipula, icp sendiri dasar penentuannya adalah harga minyak dunia, dg formula tertentu.
      Harga minyak lebih ditentukan oleh “gejolak” eksternal: baik akibat supply-demand, spekulasi (future trading?), maupun faktor geopolitik (oil-related conflict?). Selanjutnya, jika harga minyak naik, impor kita memang akan jadi mahal, karena perlu rupiah yg lebih byk utk “membeli” dolar.. Faktor lainnya, kenaikan harga minyak sendiri bisa diakibatkan oleh melemahnya US$, mengingat transaksi minyak dunia menggunakan US$. Barangkali inilah titik masuk pengaruh harga minyak terhadap kurs kita. Ada kemungkinan rupiah akan sedikit menguat, manakala kenaikan harga itu dipicu oleh melemahnya US$. Di sisi lain, jika terlalu banyak US$ yg dibawa “ke luar” utk impor minyak, bisa jadi kelangkaan US$ dan rupiah kita akan melemah. Sy kira mungkin lebih cocok bertanya ke ahli ekonomi makro kali ya..🙂
      Barangkali itu jawaban sederhananya. Maklum masih belajar mas..

  3. bagaimana cara mengantisipasi krisis energi domestik..?
    bagaimana pandangan masyrakat terhadap pemerintah yang menggunakan BBM bersubsidi bagi kendaraan yang berplat merah (kendaraan dinas)..?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s