Pertamina Kini

UU No 22 Tahun 2001 mengubah secara drastis tata kelola migas di Indonesia. UU tersebut lahir dengan semangat liberalisasi dan deregulasi, yang “dipaksakan” oleh IMF terhadap sektor-sektor strategis di Indonesia, antara lain migas, listrik dan air, melalui skema LoI (Letter of Intent). Berbeda dengan dua UU sebelumnya yang terlihat lebih “nasionalis”, UU ini lebih didominasi oleh intervensi asing. Hal ini diakui secara terbuka oleh USAID dalam situs resminya, http://www.usaid.gov/pubs/cbj2002/ane/id/497-013.html. Di situ dinyatakan dengan jelas: “USAID helped draft new oil and gas policy legislation submitted to Parliament in October 2000”.

Diberlakukannya UU baru tersebut membawa beberapa konsekuensi bagi Pertamina. Pertama, Pertamina bukan lagi pemegang Kuasa Pertambangan migas, melainkan diserahkan kepada BPMIGAS. Ke dua, Pertamina diperlakukan sebagai pemain “biasa” dalam industri migas. Pertamina tidak lagi sebagai perusahaan istimewa yang didirikan secara khusus berdasarkan UU, melainkan harus tunduk kepada UU BUMN dan UU Perseroan Terbatas. Ke tiga, sektor hulu dan hilir harus dipecah (unblunded) ke dalam ranting-ranting usaha hulu dan hilir. Pertamina bukan lagi an integrated state oil company. Ke empat, kewajiban Pertamina dalam menjamin pasokan BBM dalam negeri dihapus. Meskipun sampai saat ini, karena kelengkapan infrastruktur distribusi BBM yang dimiliki, Pertamina masih diberi kepercayaan untuk melakukannya. Ke lima, Pertamina bukan lagi sebagai satu-satunya “pintu” investasi migas bagi para kontraktor, baik nasional maupun asing. Kini, para kontraktor tersebut harus melalui tiga pintu: Ditjen Migas, BPMIGAS dan Depkeu cq Bea dan Cukai.

Di bawah UU migas yang baru tersebut, Pertamina dihadapkan pada tantangan yang cukup berat. Pertamina dituntut untuk memperbaiki tata kelola perusahaan, sekaligus memupus citra buruk yang selama ini melekat, antara lain: KKN, inefisien, kualitas pelayanan yang buruk, tidak transparan, dan sebagainya. Namun, tantangan tersebut ditanggapi oleh Pertamina secara positif, dengan melakukan pembenahan dalam berbagai sisi, melalui program yang dikenal dengan “Transformasi Pertamina”.

Melalui program transformasi, Pertamina kini memiliki long-term plan (RJPP) yang jelas – hal yang sebelumnya tidak pernah dilakukan, dengan target menjadi world class national oil company pada 2023. Perubahan budaya organisasi dan pengembangan SDM menjadi perhatian utama. Pertamina juga berusaha lebih fokus pada core bisnisnya. Tata nilai perusahaan dibangun sedemikian rupa, bersama-sama dengan program pencitraan yang masif, dalam rangka memupus citra buruk tadi.

Hingga tahun 2009 ini, hasil proses transformasi itu sudah mulai terlihat. Program breaktrough project (BTP) menjadi salah satu bukti perubahan budaya organisasi menuju budaya kinerja. Di sektor hilir, perubahan itu terlihat jelas dengan melihat perkembangan SPBU-SPBU, serta market share pelumas Pertamina yang terus meningkat, di tengah serbuan merek-merek pelumas asing. Di sektor hulu, hasil transformasi juga terlihat dengan pencapaian produksi yang terus meningkat, di tengah menurunnya produksi kontraktor-kontraktor migas lainnya.

Sekilas, memang terlihat bahwa transformasi yang terjadi di tubuh Pertamina seolah-olah tidak terlepas dari perubahan statusnya sebagai PT, akibat diberlakukannya UU No 22 Tahun 2001. Namun, jika kita kaji lebih jauh, peran UU tersebut sebenarnya terletak pada “efek psikologis” yang ditimbulkannya, bukan sebagai “pijakan” transformasi itu sendiri. Mari kita lihat bagaimana efek psikologis itu bekerja.

Pertama, UU tersebut membuat Pertamina merasa “kecil”, akibat statusnya sebagai pemain “biasa”. Sejumlah kewenangannya telah diambil alih oleh BPMIGAS dan BPHMIGAS. Pendapatan Pertamina pun, kini, murni dari hasil usahanya sendiri. Karenanya, Pertamina perlu berjuang keras agar bisa survive di tengah ketatnya persaingan usaha migas. Ke dua, dengan perubahan statusnya menjadi PT, Pertamina lebih “fleksibel” dalam menentukan arah dan kebijakan perusahaan, termasuk dalam penyusunan RJPP, proyek-proyek terobosan (BTP), pengembangan SDM, dan sebagainya.

UU No 22 Tahun 2001, serta PP 35 Tahun 2004 yang merupakan peraturan pelaksananya, sama sekali tidak memberikan pijakan hukum yang “membesarkan” Pertamina. Yang terjadi justeru sebaliknya: Pertamina dikerdilkan. “Efek psikologis” dari UU itulah yang men-trigger Pertamina agar tumbuh besar dengan usahanya sendiri. 

24 thoughts on “Pertamina Kini

  1. ketika sang surya pagi sinarnya terlindungi oleh gumpalan awan, sejuknya pagi membuat raga enggan tuk beranjak dari peraduan, namun hati terbesit untuk memberi ucapan kepada para sahabatku tersayang, sekedar sebuah harapan, selamat pagi, selamat memulai pengembaraan di hari yang penuh harapan ini, semoga Tuhan senantiasa memberikan kita tuntunan dalam setiap langkah,

    dituliskan bersama tetes embun bagi semua sahabat

    Ruanghati.com

  2. itulah modus amerika agar mereka bs masuk selangkah demi selangkah melalui perusahaannya hingga bisa mengeruk/menguasai migas yg ada di indonesia,…dan yg parah lagi para pemimpin negara kita malahan setuju..setuju saja,ya…bginilah…

    • Rina, artikel ini saya buat sendiri, tetapi memang mengacu ke berbagai sumber, termasuk buku, internet serta pandangan saya sendiri dalam berkecimpung di industri migas.
      Beberapa buku yg bisa diacu:
      1. Di bawah bendera asing, kholid syeirazi, 2009.
      2. Transformasi Pertamina, Tim UGM, 2009/2010.
      3. Power house, Renald Kasali, 2008.
      4. dll. buku tentang dunia migas.
      Utk mendapatkan referensi yg cukup lengkap, bisa berkunjung ke perpus Pertamina di Kantor Pusat Pertamina.

  3. trimakasih bapak yang sudah memposting artikel ini , setelah saya membaca artikel ini saya mendapatkan berbagaib referensi yang berkaitan dengan dunia migas .,.

  4. Ping balik: Transformasi pada Pertamina | TRANSFORMASI KISELINDONESIA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s