Mereka, Para Kepala Daerah Berprestasi (2)

Bahwa pendidikan adalah pangkal kemajuan suatu bangsa, semua orang tahu itu. Pertanyaannya, berapa banyak pemimpin yang betul-betul memperjuangkan pendidikan masyarakatnya? Artinya, bukan sekedar retorika dan bebas motif mempolitisasi? Mungkin hanya segelintir! Salah satunya adalah Bupati Gowa:  Ichsan Yasin Limpo. Dia bahkan rela dicemooh, demi menggratiskan pendidikan di daerahnya. Lho, kok bisa? Begini ceritanya.

Pria kelahiran Makassar, 9 Maret 1961 ini, adalah satu dari segelintir pemimpin yang betul-betul peduli pendidikan. Komitmennya lahir dari keprihatinan akan tingginya angka buta huruf di daerahnya. Banyak anak-anak yang putus sekolah, atau bahkan tidak bisa mengenyam pendidikan sama sekali. Komitmennya ia buktikan pada saat dilantik menjadi Bupati Goa pada tanggal 13 Agustus 2005 lalu. Dia langsung menandatangani kontrak politik di bidang pendidikan.

Segera dia bangun sanggar pendidikan anak saleh, atau SPAS, di 154 desa. Sebanyak 26 ribu eksemplar lebih, buku yang ia gelontorkan untuk siswa SD dan SMP dari kalangan keluarga miskin. Pendidikan pun lantas ia gratiskan, dari tingkat SD hingga SMA, mulai tahun 2007 lalu. Tak hanya siswa, tenaga pendidik pun kecipratan. Kesejahteraan mereka dinaikkan. Pemda pun menyediakan mobil antar jemput, bagi guru-guru yang jauh dari tempat tugas. Hasilnya bisa ditebak. Hanya dalam kurun empat tahun, angka buta huruf menurun tajam. Dari semula 25 ribuan orang, saat ini tinggal 11 ribuan orang. Target dia, angka itu betul-betul zero di 2010. Luar biasanya lagi, perhatian dia juga tidak luput dari angka buta huruf Al-Quran. Subhanallah!

Siapa pun pasti setuju, atas langkah yang diambilnya itu. Tetapi, meski itu sebuah langkah terpuji, masih saja ada ganjalan. Banyak oknum pendidikan, utamanya para kepala sekolah, yang tidak sepaham. Sebagian mereka khawatir, bahwa dengan digratiskan, kualitas pendidikan akan menurun. Terjadilah pembangkangan di sana-sini. Berbagai pungutan masih saja dilakukan, baik untuk keperluan seragam sekolah, buku, LKS, bahkan saran fisik. 

Dia mengeluarkan Perda No 4/2008, sebagai instrumen yang mengawal kebijakannya itu, sekaligus mengatasi oknum-oknum pendidikan yang mangkir. Tak pelak, sejak pendidikan digratiskan, sudah 10 kepala sekolah yang dibebastugaskan. Dua kepala cabang dinas, dan satu orang guru dimutasi ke dataran tinggi. Jadilah, cemoohan datang dari sana-sini. Tetapi rupanya ia pantang mundur. Dan keyakinannya itu terbukti, bahwa meskipun pendidikan digratiskan, kelulusan tetap 100%.

Setidaknya dua hal, yang saya lihat, yang dia jadikan pertimbangan dalam mengambil keputusan untuk menggratiskan pendidikan. Pertama, angka kemiskinan di Goa masih cukup tinggi, yakni sekitar 37%. Wajar, jika angka putus sekolah, bahkan angka tidak sekolah, cukup tinggi. Ke dua, rupanya dia sudah mengkalkulasi, bahwa biaya yang dibutuhkan untuk menggratiskan pendidikan dari SD sampai SMA, angkanya masih di bawah 15 milyar. Itu jumlah yang relatif kecil, untuk volume APBD sebuah kabupaten.

Belakangan, dia pun menambah instrumen yang mengawal kebijakannya itu, dengan dibuatnya Perda No 10/2009 tentang wajib belajar. Di dalamnya diatur tentang kewajiban bagi anak usia sekolah, untuk bersekolah. Jika tidak, siap-siap saja, orang tua yang bersangkutan harus menanggung resiko enam bulan penjara, atau denda 50 juta. Berbagai program inovasi di dalam pendidikan pun tengah ia garap, misalnya dengan pengembangan media audio visual, atau pembelajaran matematika melalui media game, dan sebagainya. Menyusul, dia juga punya rencana untuk menggratiskan biaya kesehatan bagi masyarakat. Lanjutkan, Pak! 

20 thoughts on “Mereka, Para Kepala Daerah Berprestasi (2)

  1. Assalamu’alaikum,
    Theme blognya baru ya Mas Dira, terakhir saya kesini, belum seperti ini. Kepala Daerah yang berprestasi, akan sadar bahwa pendidikan modal utama kita untuk maju dan akan memperjuangkannya. Karena kalau bodoh, mana mungkin bisa maju. (Dewi Yana)

  2. Pendidikan saat ini memang menjadi elemen penting bagi masyarakat, apalagi kalau masih ada yg buta huruf segala.
    Benar2 gerakan yg penuh arti dan bermanfaat utk memajukan masyarakat.
    salut sekali dgn kepala daerah yg seperti beliau .
    Alhamdulillah, ditengah carut marutnya kondisi hukum di negeri ini, ada setitik cahaya bagi rakyat.
    salam.

  3. Kepala Daerah yg patut dijadikan contoh, mudah2an semakin banyak kepala daerah berprestasi.

    btw: terima kasih sdh pasang link, link blog Mas Dira juga suda sy pasang dgn nama Casdiraku.
    Salam sukses!

  4. Assalamu’alaikum,
    Warisan yang paling berharga adalah ilmu pengetahuan, harta yang banyak tanpa ilmu yang tepat dalam pengelolaannya, akan habis tidak karuan. Karena itulah betapa pentingnya ilmu pengetahuan dan pondasi agma yang mendampinginya. (Dewi Yana)

  5. Assalamu’alaikum,

    Kkepala daerah yang seperti Pak Untung Wiyono dan Pak Ichsan Yasin Limpo memang tidak banyak, bahkan sangat sedikit. Oleh karena itu pimpinan daerah lainnya perlu selalu diingatkan oleh rakyat dan DPRD agar bekerja penuh kesungguhan untuk mensejahterakan rakyat.

    Selain dua bupati di atas, ada juga Bupati Jemberana, Bali yang sukses membangun daerahnya. Dia adalah Prof. Dr.drg. I Gede Winasa. Ia mematok 50% APBD untuk pendidikan dan menggratiskan kesehatan. Awal Januari lalu ia dinobatkan sebagai salah seorang Tokoh Perubahan 2009 oleh Harian Republika.

    Terima kasih Kang.

    Salam hangat dari Cianjur.

    • Waalaikumsalam..
      Betul pak, memang belum semua kepala daerah yg dianggap berhasil dituliskan. Ada Jembrana, Gorontalo, Musi Banyuasin, dan lainnya yg mungkin saya tidak tahu. Makasih pak, salam dari Indramayu..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s