Mimpi Itu tentang “Menjadi”, bukan “Memiliki”

Masih tentang mimpi. Setiap kali saya menyampaikan kepada adik-adik saya, bahwa di dalam hidup ini kita perlu memiliki ‘mimpi’, hampir selalu saja muncul pertanyaan semacam ini: “Buat apa kita bermimpi? Toh, kalau tidak tercapai, kita akan kecewa.” Dalam logika sebagian kita, bahwa semakin tinggi mimpi, semakin sakit jatuhnya, jika mimpi itu tidak kesampean. So, mending biarkan hidup ini ‘mengalir’ apa adanya. Tak perlu mimpi. Tak perlu neko-neko. Jika takdir sudah menentukan, kita akan sampai juga.

Hal senada, tetapi lebih bernada optimistis dan positif, saya dengar dari seorang CEO majalah mingguan ternama. Beliau menyampaikan kepada saya, dan juga beberapa orang kawan lainnya, bahwa kita tidak perlu bermimpi yang terlalu kompleks, muluk dan mengawang-awang, katanya. Tugas kita, masih katanya, adalah melakukan semua hal dengan sungguh-sungguh, di mana pun kita bertugas dan diberi amanah. Niscaya, katanya lagi, kita akan diberi tugas dan amanah yang lebih tinggi lagi. Proses itu akan mengalir, hingga kita mencapai tangga tertinggi. Kadang, puncak tangga itu tidak bisa kita perkirakan sebelumnya. Itulah ‘keberuntungan’ bagi siapa yang melakukan semua hal yang ada di hadapannya dengan sungguh-sungguh.

Penjelasan itu cukup logis dan menggugah pusat kesadaran kritis saya. Mungkin itu bisa menjadi paradigma alternatif bagi mereka yang betul-betul ingin menggapai puncak kemuliaan hidup, dan tidak puas dengan keadaan “biasa-biasa” saja. Tetapi buat saya, sampai sejauh ini, mimpi masih memegang peranan kunci bagi kesuksesan pribadi. Mimpi, yang betul-betul merupakan mimpi, bukan sekedar angan-angan, akan membangun kekuatan dan semangat dari dalam diri. Ia adalah sumber motivasi internal yang tak kan lekang, meski situasi eksternal kuat menggerus dan mendemotivasi.

Lalu, bagaimana agar mimpi-mimpi kita itu tidak membuat kita kecewa di ujung hari, apabila kita gagal meraihnya? Jawaban normatif, sekaligus bisa menghibur diri, mungkin cukup banyak. Kita bisa mengatakan bahwa itu adalah “kesuksesan yang tertunda”, atau “mungkin bukan hal yang terbaik buat kita”, atau “sabar dan tawakallah, semua pasti ada hikmahnya”. Tetapi bagi saya, selama ini, jawaban-jawaban normatif itu belum cukup memuaskan. Lantas, pertanyaan ini selalu menggelayut di dalam benak: “Bagaimana caranya kita memiliki mimpi, tetapi, apa pun hasilnya, pasti kita tidak akan kecewa di kemudian hari?”

Selama pertanyaan itu masih muncul, ada hal yang paradoksal di dalam diri saya. Di satu sisi, saya memiliki keyakinan, bahwa mimpi itu adalah kunci pertama kesuksesan. Kunci berikutnya, tentu, adalah kesungguhan dalam meraihnya. Tetapi di sisi lain, muncul getaran halus ketakutan di dalam hati, bagaimana jika mimpi itu tidak tercapai? Akan kecewakah saya? Jujur, sampai mendekati ujung usia kepala dua ini, di saat orang lain sudah mampu menikmati puncak kesuksesan mimpi-mimpinya, saya secara internal masih membahas, “apa dan bagaimana mimpi itu?” Bahkan kadang masih muncul pertanyaan, “apa mimpi saya sesungguhnya?”. Sebagian kawan lama, yang memang tahu persis bagaimana awalnya saya, memang sudah menganggap saya saat ini sudah sukses. Tetapi, ah, rasanya diri ini masih jauh dari kata sukses yang sesungguhnya. Saya masih belum puas, kawan!

Beberapa tahun belakangan, saya mulai menemukan jawabannya. Dan ternyata itu sederhana: mimpi itu tentang “menjadi”, bukan “memiliki”. Bedanya? Mari kita lihat. Apakah Anda bisa menjelaskan, apa perbedaan antara “menjadi presiden” dan “menjadi negarawan”? Maksud saya, bukan perbedaan antara presiden dan negarawan, tetapi perbedaan makna kata “menjadi” pada kedua frase itu?

Pengertian “menjadi…” yang pertama sesungguhnya bukanlah “menjadi”, melainkan “memiliki”. Ya, kata “menjadi presiden” itu makna sebenarnya adalah “memiliki” jabatan presiden. “Memiliki” terkait dengan hal-hal yang ada di luar kita, sedangkan “menjadi” adalah segala sesuatu yang menjelaskan: “siapa diri kita”? Dan “menjadi” itu adalah perubahan yang ada di dalam diri, bukan sesuatu di “luar sana” yang melekati diri kita: harta, pangkat, jabatan, pasangan, relasi, dan sebagainya.

“Menjadi negarawan” adalah betul-betul tentang “menjadi…”, karena ia melambangkan kualitas dan kapasitas diri kita secara internal. Ia bukan jabatan, atau gelar yang disematkan di depan nama kita.  Tentu, negarawan hanyalah salah satu contoh mimpi tentang “menjadi”. Masih banyak contoh-contoh lainnya yang lebih “kecil”. Misalnya, “menjadi ahli penyakit dalam” (bedakan dengan “menjadi dokter spesialis penyakit dalam”), “menjadi ahli kebumian” (bedakan dengan “menjadi dosen geologi”), dan sebagainya. Intinya, gali substansi kemuliaan dari mimpi kita itu. Lupakan bungkusnya.

Menjadi bupati adalah bungkusnya, membangun daerah adalah substansinya. Menjadi dokter adalah bungkusnya, menolong orang sakit adalah substansinya. Menjadi kiyai adalah bungkusnya, menyadarkan atau menjadi sarana hidayah bagi orang lain adalah substansinya. Memiliki kekayaan melimpah adalah bungkusnya, membantu sebanyak mungkin fakir miskin adalah substansinya.

Sekali lagi, lupakan bungkusnya dan temukan kemuliaan substansinya. Itulah yang seharusnya menjadi mimpi kita. Dan itulah makna terdalam dari kata “menjadi”.

Jika kita memiliki mimpi untuk “menjadi” seseorang, betul-betul yang perlu dirubah adalah diri kita sendiri, bukan sesuatu “di luar sana”. Dan karenanya kita tidak akan pernah kecewa. Yakinlah itu!

38 thoughts on “Mimpi Itu tentang “Menjadi”, bukan “Memiliki”

  1. (maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?!
    Saya lebih memilih kecewa karena mimpi yang tak terwujud ketimbang tidak kecewa karena tidak punya mimpi. Karena dari kegagalan itu saya pasti mendapatkan pembelajaran.

  2. wah bahasanya mbulet hehe. biasa nya cita-cita seseorang sering di kaitkan dengan mimpi. padahal mimpi kan hanya ada ketika kita tidur hehe ini komentku nyambung apa enggak mas?

  3. Assalamu’alaikum,
    Saya setuju, jika kita memiliki mimpi untuk “menjadi” seseorang, betul-betul yang perlu dirubah adalah diri kita sendiri, bukan sesuatu di luar sana, perubahan memang harus kita mulai dari diri kita sendiri.
    (Dewi Yana)

  4. Selamat Tahun Baru 2010
    Hati Hati ARUS PERCEPATAN menimpa Nusantara
    Sahabat semuanya tahun 2009 sudah di belakang kita..
    DEMI MASA..
    DEMI WAKTU..
    WAL ASRI..
    semuanya sudah kita lalui bersama sama..
    Canda tawa riang Gembira Tangis suka duka nan pilu telah berlalu..
    semua telah kembali ke alam LAMUNAN TUHAN..
    Tahun 2010 akan datang Menyongsong kita semuanya..
    Tahun 2010 akan segera kita jalani setapak demi setapak..
    Semua itu masih menjadi RAHASIA TUHAN..
    Sesungguhnya Masa yang akan Datang Masih Berada dalam Sirr nya TUHAN..
    Bahkan Sirr/ubun ubun manusia selalu berada dalam Genggaman Tangan Tuhan
    Sesungguhnya Hidup Manusia berada dalam Genggaman Tangan Tuhan..
    Sahabat.. mari kita diam sejenak melamun di alam lamunan Tuhan..
    Membuka kembali perjalanan Tahun 2009 yang baru kita lalui bersama sama..
    Diam dalam tafakur perenungan diri yang dalam..
    Bukankah waktu yang lalu adalah guru untuk ESOK lebih baik
    Bukankah kita harus mengambil hikmah perjalanan kemarin demi perbaikan
    Sahabat Jangan Sia Siakan Waktu sebelum waktu berbalik melindas kita
    Mari kita benahi diri kita masing masing dan belajar serta terus belajar
    Menemukan Tujuan Hidup Manusia dalam Kesadaran Sepenuhnya
    Walau kemungkinan tahun 2010 akan berjalan dengan berat..
    Keadaan mungkin semakin tiada menentu dan semakin sulit saja
    Fenomena alam dan gejolaknya semakin kerap bertambah melanda
    Tapi biarlah semua itu menjadi pelajaran untuk ber SEGERA
    Segera melangkah membenahi diri.. diri lahir dan diri bathin..
    Membenahi Perjalanan Lahiriah dan Perjalanan Bathiniah yang terabaikan
    Ingat sahabatku semuanya sekali lagi bahwa dirimu meliputi lahir dan bathin
    Jika tiba Saat dan Waktunya maka diri lahir akan kembali kepada tanah
    Tetapi sekali lagi INGAT !!! karena diri Bathin akan bangkit melanjutkan perjalanan
    Diri Bathin akan menuai hasil apa yang selama ini kita tanam dan perjuangkan
    Menangis DARAHpun percuma saja jika kau lalai selama di sini
    Sahabat mulailah berfikir untuk menata kehidupan bathin kita masing masing
    Sebab ketahuilah kehidupan bathin adalah sebuah perjalanan spiritual panjang
    Diri Lahiriah melambangkan nilai manusia di hadapan manusia lainnya..
    Sedangkan Diri Bathiniah melambangkan Nilai Manusia dihadapan Tuhan..
    yayaya.. Sesungguhnya NILAI MANUSIA dihadapan ALLAH ada di sini..
    Sahabat biarlah tahun 2010 menjadi tahun kebangkitan bagi kita semua
    Tahun 2010 menjadi Momentum Bangkitnya Kesadaran dalam Diri
    Mari Sahabatku semuanya gapailah esok lebih baik dan lebih baik lagi
    Sekali lagi MELANGKAHLAH SEGERA.. jangan SIA SIA kan waktumu..
    Sebelum TERLAMBAT
    Selamat Tahun Baru 2010

  5. Selamat Tahun Baru
    Semangat Baru
    Menemukan Diri Sebenar Diri
    Meraih Kehidupan Sejati..
    😆😆😆😆😆

    RAIHLAH “JATI DIRI MANUSIA”.. untuk

    MENGEMBALIKAN JATI DIRI BANGSA INDONESIA

    Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabatku terchayaaaaaank

    I Love U fullllllllllllllllllllllllllllllll

    • Pasti lah kang dadang, masa memiliki isteri berarti menjadi isteri, lesbi dong, hehe…
      Btw, “memiliki isteri” dan “menjadi suami”, keduanya identik, tetapi tidak sama. Memiliki isteri (tok) tdk perlu mimpi, cukup dg naluriah. Tetapi kalau ingin memiliki isteri yang begini-begitu-begono, nah baru perlu mimpi. Tetapi mimpi yg berangkat dari paradigma ingin “memiliki”, sangat berpotensi menimbulkan kekecewaan. Mimpilah menjadi suami yang begini-begitu-begono, itu lebih baik, karena yg kita rubah adalah diri kita sendiri…
      Trims kang dadang..

  6. hampir setiap orang punya mimpi utk hidupnya, itu masih lebih baik, ketimbang orang yang tak punya mimpi samasekali,
    walaupun dlm kehidupan sebenarnya mimpi itu hrs direalisasikan dgn kerja keras agar jadi kenyataan,
    jangan hanya mimpi sekedar mimpi,krn sebenarnya mimpi bisa menjadi motivasi kita utk maju dan berusaha mewujudkannya.
    salam.

  7. maaf mampir lagi mas, seperti biasa silaturahmi, ohya barusan saya menulis artikel tentang pelecean islam. jika tidak keberatan tolong beri responya. dan terimakasih sebelumnya.

  8. Saya memang punya mimpi. Tetapi saya tidak bersikeras mimpi-mimpi saya harus teraih. Sebagian mimpi saya sudah teraih, sedang mimpi saya yang lain mungkin tinggal menunggu waktu saja ….hehehe.
    Salam hangat jabat erat dariku.

  9. Saya datang membawa misi perdamaian.
    Dengan rasa bangga saya juga ingin memperkenalkan Bhirawa
    Sebuah blog baru yang masih membutuhkan petunjuk,bimbingan, saran dan masukan serta kritik yang konstruktif dari para blogger senior.
    Sekalian mohon doa restu semoga Bhirawa bisa bersinar terang.
    Terima kasih
    Salam hangat dari Kota Pahlawan

    • Selamat datang di dunia blogger Pak. Sy juga masih banyak belajar nih. Mungkin bapak bisa byk belajar juga dari blogger asal kota Pahlawan: Pak Dhe Cholik..

  10. Assalamu’alaikum,

    Wah terlambat, baru bisa ke sini lagi.
    Artikelnya menarik sekali. Kita memang perlu impian yang realistik, dan itu menunjukkan sebuah optimisme.
    Yang kita raih tentu seharusnya diutamakan adalah “to be” bukan “to have”.

    Dalam dunia keagamaan pun semakin menggejala banyaknya orang belajar agama tapi hanya sekedar untuk “he/she has” bukan “he/she is”.

    Ungkapan, “Menjadi kiyai adalah bungkusnya, menyadarkan dan menjadi sarana hidayah adalah substansinya.” Itu sangat tepat.

    Terima kasih banyak,
    Salam.

  11. Saya baca mengikuti alur kata per kata, saya resapi sampai ke hati yang terdalam….

    Terima kasih atas sharing pikirannya Mas…

    Saya memiliki mimpi menjadi seorang ahli engineering, beda kan dengan seorang electrical engineer? atau civil engineer? Dan mulai saat ini saya ingin serius menggapai mimpi saya itu…

    Semoga mimpi mas Dira yang belum tercapai akan cepat terealisasi… Dan saya yakin, ketika semua itu tercapai maka masih juga dikatakan, saya belum sukses, kawan !

    Karna mimpi pun bagai anak tangga yang tak berujung, setelah anak tangga pertama tergapai maka masih ada anak tangga selanjutnya dan selanjutnya…

    Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s