Membangun Mimpi di 2010

Bahwa akhir-akhir ini sedang nge-top film Sang Pemimpi, itu kebetulan saja. Jauh sebelum Andrea Hirata menulis novel, saya termasuk orang yang hobi bermimpi.  Meskipun mimpi itu “tidak besar”, dan berubah-ubah sepanjang waktu. Tapi tak mengapa. Mimpi ibarat tujuan dalam perjalanan. Ke mana pun engkau berjalan, tujuan adalah hal pertama yang harus didefinisikan. Jangan sekali-kali engkau naik bus, atau angkot, atau sepeda motor, tanpa tujuan. Berbahaya. Setidaknya engkau akan menghabiskan waktu, tenaga dan uang. Tidak nyasar saja sudah untung.

Mimpi yang berubah-ubah, itu tak jadi soal buat saya. Yang penting, tidak sedetik pun perjalanan hidup ini dilalui tanpa mimpi. Sewaktu SD, saya ingin sekali menjadi tentara. Maklum, anak-anak memang selalu mengidolakan seorang jagoan yang gagah berani dalam membela kebenaran. Bagi saya, dulu, tentara adalah sosok yang cukup mewakili seorang jagoan. Gagah berani membela bangsa dan tanah air, dari serangan penjajah. Meskipun belakangan saya sadar, bahwa tentara juga bisa dipakai untuk membela penguasa haus darah.

Sewaktu SMP, saya putar haluan: ingin menjadi guru matematika. Saya melihat figur guru adalah sosok ‘jagoan’ yang lain, yang dengan ulet mendidik anak-anak bangsa agar menjadi pintar, cerdas dan berbudi. Meskipun gaji tak seberapa, hidup pun sederhana, tetapi profesi guru amat menentramkan di mata saya. Mimpi itu bertahan hingga kelas tiga SMA. Setelah saya sadar bahwa biaya kuliah tidak ada, saya berusaha untuk mere-set kembali mimpi dan angan-angan itu. Butuh waktu cukup lama, sampai pada suatu ketika, program beasiswa dari Pemda Indramayu itu datang. Akhirnya saya bisa kuliah, di jurusan yang tidak terbersit sama sekali sejak SD dulu, sejak saya mengidolakan tentara dulu.

Di waktu kuliahlah akhirnya mimpi-mimpi itu dibangun kembali, setelah menjadi puing-puing akibat keterbatasan ekonomi. Di jurusan yang baru, saya mendapatkan input-input baru, tentang ranting-ranting kehidupan yang kemungkinan bisa saya lalui. Di atas sana tergambar pucuk-pucuk kemuliaan hidup. Saya tinggal menentukannya, pucuk mana yang hendak saya capai. Setelah ditimbang-timbang dalam waktu yang cukup panjang, akhirnya terdefinisikan sudah pucuk itu. Tetapi engkau tidak perlu tahu, pucuk mana yang saya maksud, kawan! Karena itu masih menjadi rahasia saya.

Maksud tulisan ini sebenarnya hanya ingin menuangkan satu penggalan saja, dari tangga mimpi-mimpi itu. Di tahun 2010, saya, dan tentunya engkau juga, kawan, ingin memiliki kehidupan yang lebih baik dari tahun 2009 yang lalu. Untuk menyusun mimpi yang baik, saya banyak belajar dari tulisan Stephen Covey, tentang “merujuk pada tujuan akhir“. Bahwa, apa pun mimpi saya itu, harus saya awali dengan pertanyaan, “apa yang akan dikenang oleh orang-orang terdekat kita, jika kita sudah tiada?”

Kita bisa mengambil makna dari kematian Gus Dur, tentang pelajaran “merujuk pada tujuan akhir” itu. Orang-orang kini mengenangnya sebagai “tokoh perdamaian”, atau “tokoh toleransi dan pluralisme beragama”. Sederet pujian mengalir dari penjuru tanah air, meskipun semasa ia menjabat RI1, cacian datang bertubi-tubi. Orang justeru akan bisa melihat jati diri kita yang asli, ketika kita sudah meninggalkan mereka. Itulah mengapa pertanyaan, “…..apabila kita sudah tiada?” itu penting dalam membangun mimpi-mimpi dalam kehidupan kita.

Kembali ke mimpi 2010. Di tahun itu, semoga Allah berkenan, mimpi saya adalah mempersembahkan hadiah terbaik bagi orang-orang terdekat saya, terutama kedua orang tua. Apa itu bentuknya, mungkin tidak perlu saya share di sini. Saya yakin, kawan-kawan blogger pun memiliki satu impian jangka panjang: kelak akan sampai di pucuk mana. Tetapi jangan lupa, mimpi jangka panjang itu terdiri dari potongan-potongan terkecil. Potongan terkecil seperti apa di tahun 2010 ini?

Selamat menyongsong tahun baru 2010, dengan mimpi-mimpi yang memuliakan hidup kita…

22 thoughts on “Membangun Mimpi di 2010

  1. seperti koment sebelumnya, Selamat menempuh tahun baru
    semuanya. Semoga di tahun 2010
    ini kita bisa menambah iman dan
    taqwa, tambah wawasan tambah
    ilmu se iring bertambahnya umur
    kita,

  2. Renung jiwa saat malam berganti siang
    Awan biru seakan tak mau berpisah
    Angin pun bertiup ungkapkan sebuah hasrat
    Burungpun ingin berenang bersama ombak
    Pasir tak mau terpisahkan oleh pantai
    Semua ingin menatap hari esok
    Suara riuh gundah sepanjang malam
    Menyambut suasana haru yang terdalam
    Akankah hadirku membawamu terbang
    Lambaian tanganku menemani langkahmu
    Peluk eratku mendekap kehadiranmu
    Tahun yang lalu adalah guruku
    Tahun yang akan datang adalah asaku

    Ruang Hati Berbagi
    ===============
    http://ruanghati.com

  3. Berkunjung di pagi hari. Silaturahmi kepada sahabat semua, selamat ya kita sudah berhasil memasuki tahun 2010, semoga di tahun 2010 ini penuh berkah dan rahmat dari sang maha agung, di jauhkan dari segala macam bencana di hindarkan dari segala macam mara bahaya, sehingga kita hidup penuh kedamaian,

  4. Assalamu’alaikum,
    Selamat Tahun Baru, semoga ditahun ini, semakin bertambah ketakwaan kita kepada Allah Swt, dan semoga kita bisa lebih sukses dari tahun sebelumnya. Maaf, saya lama absen ngeblog, jadi baru sempat balas kunjungan sekarang. (Dewi Yana)

  5. saya juga punya bnyk mimpi lo.. waktu kecil pengen jadi insinyur, trus agak gedean pengen jadi pilot, agak gedean lg pengen jd dokter,, dsb.. hehe, bermimpi memang indah

  6. sangat bahagia jk kita dimulai dr keluarga kita adalah bs menjadi contoh,slanjutnya mengajak agar mreka beriman dan bertaqwa pd Allah Ta’ala, mlaksanakan sgla printahnya dan menjauhi sgla larangnnya,pa lg skr kemusrikan sungguh merajalela dlm bnyk bntuk nya,…dan sperti dalm firman Allah Ta’ala “jk sj manusia beriman pd allah,akan aku limpahkan nikmat dan berkah yg tiada henti di bumi ini”,…tentulah kita tdk berharap azab Allah dtg?!!…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s