Peran Strategis Perpustakaan Daerah (2)

Nyambung tulisan sebelumnya, setelah terpotong acara nikahan minggu yang lalu. Kali ini, ide sederhana yang ke dua yaitu tentang “faktor pendorong”.

Perpustakaan daerah tentu tidak cukup hanya dengan “memoles” dirinya sendiri, agar orang tertarik untuk berkunjung dan membaca. Dia juga perlu bantuan dari pihak-pihak lainnya, agar ikut mendorong. Berikut ini faktor-faktor yang menentukan.

Pertama, pendidikan sejak dini di dalam keluarga. Budaya membaca, tentu, tidak datang dengan sendirinya. Pembiasan sejak masih anak-anak jauh lebih baik. Dalam hal ini, keluarga sangat berperan dalam “membentuk” kebiasaan anak untuk membaca. Jika ribuan keluarga melakukan hal yang sama, niscaya tahun-tahun mendatang akan tercipta generasi penerus yang gemar membaca dan hobi nguber-nguber perpustakaan. 

Upaya yang bisa dilakukan oleh perpustakaan daerah sendiri yaitu dengan melakukan sosialisasi. Misalnya, mengadakan event-event tertentu secara berkala yang melibatkan banyak keluarga dari berbagai kalangan. Di dalamnya dilakukan sosialisasi dan promosi pengembangan budaya baca tulis di dalam keluarga. Mahal? Bisa jadi. Namanya juga usaha.

Ke dua, lingkungan yang mengapresiasi.  Jujur, di satu sisi, saya sendiri kadang malu untuk membaca di dalam angkutan umum, di pos kamling, di trotoar jalan, di tempat-tempat nongkrong, atau di tempat-tempat umum lainnya. Kalau di Jakarta atau Bandung, mungkin tak jadi soal. Tetapi kalau di kampung, saya cukup khawatir. Dengan membaca di tempat umum, saya akan menciptakan kesan ‘elitis’ dan ‘intelek’, di tengah-tengah masyarakat petani yang minim pendidikan. 

Di sisi lain, adik-adik pelajar kita juga membutuhkan contoh dan teladan, agar mereka tidak malu dan sungkan-sungkan untuk membaca, di mana pun berada. Kita perlu lingkungan yang mengapresiasi budaya akademik, khususnya membaca. Peran perpustakaan daerah adalah mengajak seluruh komponen masyarakat, untuk melakukan hal demikian.

Ke tiga, peran perpustakaan sekolah. Antara perpustakaan sekolah dan perpustakaan daerah ini, idealnya, terjadi saling komunikasi dan kordinasi. Perpustakaan sekolah hendaknya bisa merefensikan perpustakaan daerah, dalam hal jika di dalam perpus sekolah tersebut minim koleksi literaturnya. Bahkan, sekolah yang belum memiliki perpustakaan sama sekali, bisa memanfaatkan keberadaan perpustakaan daerah, sebagai referensi bagi murid-muridnya yang membutuhkan. Begitu juga dengan pengadaan event-event bersama, yang turut menciptakan lingkungan yang kondusif bagi tumbuh-kembangnya budaya baca masyarakat.

Ke empat, kerja sama dengan ormas-ormas daerah. Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, peran asosiasi-asosiasi petani, nelayan, pedagang, seniman, dan sebagainya, bisa juga menjadi semacam ‘corong’ bagi komunitasnya, agar mereka menjadi terbuka dengan ilmu pengetahuan. Dengan keterbukaan terhadap buku, petani dan nelayan bisa melengkapi pengalamannya dengan ilmu pengetahuan, demi kemajuan mereka, baik secara individu maupun komunitas. Kenyataan bahwa mereka sebagian besar buta huruf, itu bisa diatasi dengan bimbingan dan bantuan dari sebagian mereka yang lebih terdidik. Dengan demikian, ilmunya bisa diserap, tanpa harus membaca sendiri.

Ke lima, payung kebijakan pemerintah daerah. Misalnya, terkait dengan tulisan sebelumnya, poin ke lima, kebijakan tentang kegiatan penyuluhan berbasis perpustakaan. Kita tahu bahwa selama ini program penyuluhan dilakukan oleh mantri-mantri penyuluhan, yang hanya sesaat mendampingi masyarakat. Bahkan, kadang mereka hanya menceramahi masyarakat, kemudian pulang, tanpa pendampingan sama sekali. Jadilah program-program semacam itu tidak efektif.

Perpustakaan daerah, dalam hal ini, bisa mengambil peran dengan menyediakan literatur-literatur yang relevan dengan materi penyuluhan yang sedang dilakukan oleh pemerintah. Penyuluh juga hendaknya merefensikan perpustakaan daerah kepada masyarakat, agar selepas penyuluh tersebut mudik, masyarakat bisa tetap mengakses ilmu yang diberikan, atau bahkan memperkaya sendiri ilmu yang sudah didapat di dalam penyuluhan.

Mungkin ide-ide sederhana ini masih perlu dijabarkan secara rinci, untuk bisa dituangkan ke dalam langkah-langkah operasional. Wong, namanya juga iseng-iseng nulis tentang ini.

13 thoughts on “Peran Strategis Perpustakaan Daerah (2)

  1. Ketigaaaxxzz nih..
    Kalau saja semua orang sadar akan perlunya membaca 😛
    Dengan demikian perpustakaan sudah jelas sangat dibutuhkan..
    Sanes kitu ? 😀

  2. Kang Dira, kapan ada waktu mewujudkan impian besar ini?… saya sering bercita-cita bisa mendirikan perpustakaan di desa, cuma sepertinya akan ditangapi biasa saja oleh masyarakat setempat… maklum terkadang kalau bukan proyek yang berbau “uang” rata2 akan cuek dan seolah acuh tak acuh…

    • Wallahu a’lam… Sy belum menyusunnya ke dalam rencana hidup saya. Yg pasti, sy baru bermimpi punya perpus pribadi, yg bisa juga dimanfaatkan oleh tetangga-tetangga..🙂

  3. Perpustakaan daerah yang ada di tempat saya ibarat mati segan hidup tak mau.
    Pengunjungnya yang sepi berbanding lurus dengan koleksi buku dan bacaan yang dipunyainya.
    Entah pemda dan pengelola yang kurang optimal, entah masyarakat yang kurang antusias, entah kombinasi kedua-duanya.

  4. mantap……..bravo perpustakaan…….Perpustakaan tempat bengkel otak, pencerah peradaban, tempat untuk berkontemplasi,dll…….

    saya sudah punya perpustakaan desa kang, tempatnya di rumahku……..untuk masyarakat sekitar saya……….

    Linknya sudah saya pasang kang….. di menu LINK.

    “ada kejahatan yang lebih buruk daripda membakar buku. Salah satunya adalah tidak membaca buku”
    –Joseph Brodsky–

    jangan lupa buat masyarakat dermayu, ayo jadikan “INDRAMAYU MEMBACA” dengan menjadi partisipan photo di http://photo.arpusindramayu.com/

    • Wah, terobosan yg bagus.. saya sendiri baru koleksi aja mas, itu pun koleksi yg saya punya keliatannya belum cocok utk konsumsi masyarakat sekitar, terlalu “berat” bacaannya..🙂
      Nice info..trims udah mampir ya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s