Peran Strategis Perpustakaan Daerah (1)

Sebetulnya tidak sengaja untuk menuliskan topik ini. Awalnya karena saya barusan membaca pengumuman lomba karya tulis yang diadakan oleh perpustakaan daerah Indramayu. Lomba itu bertemakan peran perpustakaan daerah dalam meningkatkan minat baca masyarakat. Di sini, saya iseng-iseng menuliskan ide sederhana, tentang bagaimana upaya perpustakaan daerah untuk meningkatkan minat baca masyarakat.

Saya melihat ada dua (kategori) upaya yang bisa dilakukan oleh perpustakaan daerah, dalam meningkatkan minat baca masyarakat. Kategori yang pertama adalah “faktor penarik”, sedangkan kategori yang ke dua adalah “faktor pendorong”. Secara sederhana, faktor penarik ditentukan oleh bagaimana upaya perpustakaan daerah itu dalam “memoles” dirinya sendiri, sehingga orang mau datang. Tentunya mau baca. Sementara faktor pendorong ditentukan oleh upaya perpustakaan tersebut dalam merangkul pihak-pihak lain, agar mendorong orang untuk mau berkunjung.

Ada beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk meningkatkan faktor penarik. Pertama, dan yang paling sederhana, adalah bagaimana desain, fasilitas dan lingkungan perpustakaan itu dibuat nyaman dan modern. Jangan harap orang mau datang, kalau gedung perpus itu terlihat angker, atau seperti kantor pamong desa tahun 40-an. Ditambah koleksi bukunya jadul, serba manual, tidak ada akses internet, meja baca seadanya, penjaga yang miskin senyum, penataan buku yang amburadul. Ditambah lagi larangan untuk minum dan ngemil di dalem perpus, atau tidak ada kantin di sebelah-sebelahnya. Terus terang, jika kondisinya demikian, saya sendiri males. Mending baca di teras belakang rumah, sambil ngopi dan diiringi lagu kesukaan. Wuenak tenan!

Ke dua, program-program yang menarik. Salah satunya dengan bedah buku-buku populer. Untuk mengisinya, bisa mendatangkan penulis-penulis ngetop tanah air, atau penulis-penulis yang bukunya di-flimkan. Tentunya, audiens untuk program-program semacam ini cocoknya adalah pelajar, atau yang biasa megang buku. Dengan begitu, perpus akan lebih “hidup”, tidak seperti kuil.

Ke tiga, perpus yang bisa menjangkau seluruh pelosok wilayah. Contoh yang populer saat ini adalah perpus keliling. Atau, kalau mau cara yang lebih mahal, bukalah perpus-perpus cabang di tiap kecamatan, niscaya APBD bengkak!  Saya punya pengalaman yang memprihatinkan terkait hal ini. Saya baru tahu ada perpus daerah Indramayu, itu setelah saya kuliah. Entah tingkat berapa. Maklum, perpus itu diam saja di tengah kota. Dia tidak ke mana-mana. Menyapa anak-anak dan pelajar pun tidak pernah. Ditambah lagi, saya memang jarang pergi ke kota Indramayu sebelumnya.

Dengan perpus keliling, maka perpus daerah bisa meminjamkan buku-buku penunjang pelajaran bagi anak-anak SD yang tidak pernah punya buku teks. Saya lihat di kampung saya, jarang sekali anak sekolah yang punya buku teks. Mau beli mahal. Pinjem pun belum tentu dibaca. Beli LKS pun karena diwajibkan. Dalam hal ini, mungkin perpus daerah yang keliling, bisa mengambil peran.

Ke empat, penyediaan literatur-literatur yang relevan dengan kegiatan ekonomi masyarakat. Sebagai daerah agraris, sekaligus maritim, semestinya koleksi buku-buku yang bisa membantu masyarakat untuk memahami pertanian dan kelautan diperbanyak. Juga literatur tentang agrobisnis dan agro industri. Pertanyaannya, bagaimana dengan kenyataan bahwa masyarakat petani dan nelayan itu kebanyakan buta huruf? Apakah mereka suruh baca? Bagaimana pula dengan kenyataan bahwa mereka lebih percaya “pengalaman” dibanding “literatur”?

Untuk mengatasi problem ini, asosiasi-asosiasi masyarakat petani dan  nelayan juga berperan dalam membantu menyerap isi buku-buku itu, kemudian pengetahuannya dibagikan ke masyarakat. Tokoh-tokoh masyarakat lokal yang jadi anutan, khususnya yang dianggap “piawai” dalam bertani dan nelayan, bisa juga membantu meyakinkan masyarakat, agar lebih terbuka dengan pengetahuan.

Ke lima, masih terkait dengan poin ke empat di atas, ialah bagaimana perpustakaan itu menciptakan program-program penyuluhan masyarakat berbasis perpustakaan. Artinya, Pemerintah Daerah dalam memberikan penyuluhan tentang apa pun: KB, pertanian, kelautan, kepemudaan, semuanya harus mengikutsertakan peran perpustakaan sebagai sumber rujukannya. Penyuluh mungkin tidak setiap saat bisa mendampingi masyarakat, tetapi penyuluh itu bisa memberikan rekomendasi rujukan yang bisa dipakai oleh masyarakat, yang semuanya bisa diakses melalui perpustakaan daerah.

Sebetulnya saya masih ingin menuliskan faktor pendorongnya. Apa lah daya, tulisan ini sudah cukup panjang. Waktu juga sudah masuk jam kerja, jadi nanti saya sambung lain waktu ya.

 

9 thoughts on “Peran Strategis Perpustakaan Daerah (1)

  1. (maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?!
    Ngomongin perpustakaan saya sering miris melihat kenyataan banyaknya sekolah di daerah saya yang tidak mempunyai fasiltas perpustakaan.

  2. Assalamu’alaikum,
    Tulisan yang bagus. Selama ini memang kita lah yang lebih banyak mendatangi perpustakaan, kalau ada perpus keliling, yang mendatangi daerah-daerah yang agak jauh dari lokasi tempat perpustakaan berada, tentunya akan membatu dan mempermudah masyarakat sekitar.

    • Waalaikumsalam.. Iya Mbak Dewi, kelihatannya masalah perpus ini belum jadi konsen kita bersama. Lembaga pendidikan saja banyak yg belum punya. Btw, makasih atas kunjungannya Mbak..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s