Hentikan Eksploitasi Sumberdaya Alam!

Jangan salah menafsirkan judul di atas. Itu bukan kalimat yang muncul dari saya, tetapi dari seorang akademisi senior dari salah satu kampus besar di Bandung. Beliau adalah seorang ahli kebumian, tetapi sangat konsen dengan kelestarian dan keindahan alam. Maklum, beliau sendiri saat ini menekuni bidang pariwisata, dan mendapat gelar guru besar, atau profesor, di bidang itu.

Sabtu kemaren, 21 November 2009, saya bersama beliau sama-sama mengisi sebuah seminar kecil, tentang bidang keahlian geologi. Sesi pertama diisi oleh beliau, sesi ke dua baru saya.

Selama beliau presentasi, saya cukup konsen mendengarkan, karena ingin belajar banyak dari beliau. Di tengah presentasi, saya cukup surprise ketika beliau mengatakan kurang lebih, “Bagi para ahli kebumian, tolong hentikan paradigma bahwa sumberdaya alam itu untuk dieksploitasi!” Beliau melanjutkan, bahwa Jepang, salah satu contohnya, membiarkan ikan-ikannya hidup dengan tenang, dan lebih memilih untuk membeli ikan dari Indonesia. Begitu juga dengan hutan mereka. AS pun melakukan hal serupa, mereka tidak menambang habis emas-emasnya, dan lebih memilih untuk mengambilnya dari Papua.

Beliau mempunyai ide bahwa sumberdaya alam Indonesia, khususnya barang-barang tambang, sebaiknya tidak diambil. Kita tetap bisa mengambil manfaat ekonomi dari sumberdaya alam tersebut, tanpa harus menggali dan menimbulkan kerusakan lingkungan. Caranya yaitu dengan menjual informasinya. Dengan kata lain, nilai wisatanya yang diangkat. Beliau mendasarkan argumennya pada fakta bahwa devisa negara terbesar ke dua, setelah minyak dan gas bumi, berasal dari pariwisata.

Indonesia, menurutnya, memiliki potensi wisata yang sangat besar. Wilayah Indonesia bagian timur, beliau mencontohkan keindahan alam Papua, sebagian besar belum digali. Teluk-teluk di sana sungguh mempesona. Pantai-pantainya yang eksotik, airnya yang jernih, ikan-ikannya yang indah, serta rumput-rumput laut yang menawan, dan sebagainya. Seandainya Indonesia bisa membuat kapal yang bagian bawahnya terbuat dari kaca, tentunya yang anti bocor akibat tumbukan karang, pastilah laku keras dan memiliki nilai jual wisata yang tinggi. Dari situ kita bisa tetap mengambil manfaat ekonomi dari sumberdaya alam, tanpa mengeksploitasinya.

Sebagai seorang yang berlatar belakang eskplorasionis, serta bekerja di Industri perminyakan yang kerjanya “mengeksploitasi” minyak dan gas bumi, dahi saya langsung berkerut mendengarkan ide-ide cemerlang beliau. “Apa bisa ya, kita mendapatkan manfaat ekonomi suatu sumberdaya alam dengan optimal, tanpa mengambil dan memanfaatkannya?” Ide brilian beliau tentu sangat saya apresiasi. Namun, saya masih memiliki catatan-catatan kecil, sebelum dapat menerima ide beliau itu secara bulat.

Saya memiliki keyakinan bahwa sumberdaya alam yang ada di bumi ini seluruhnya adalah karunia Allah bagi kesejahteraan manusia, untuk dikelola dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Persoalannya, bagaimana agar  ‘pengelolaan’ dan ‘pemanfaatan’  tersebut dilakukan dengan cara-cara terbaik.

Dengan demikian, saya memandang bahwa sumberdaya alam, khususnya barang-barang tambang, bisa saja kita gali sesuai kebutuhan. Syaratnya: pertama, nilai ekonomisnya lebih besar jika ditambang, dibandingkan dengan cara lainnya, katakanlah dengan dijual nilai wisatanya. Untuk minyak dan gas bumi, meskipun cukup sulit untuk bisa membandingkannya secara kuantitatif, saya melihat bahwa dengan ditambang, jelas manfaat ekonominya lebih besar.

Ke dua, tidak merusak alam, atau mengganggu keseimbangan ekologis. Saya melihat, kerusakan alam akibat kegiatan pertambangan bukan persoalan teknis, tetapi lebih merupakan masalah moral. Reklamasi adalah persoalan mudah secara teknis, begitu juga dengan reboisasi, meskipun kadang cukup mahal. Tetapi para penambang, baik penambang resmi maupun gelap, seringkali meninggalkan begitu saja lahan yang diperahnya. Sejauh lingkungan pasca penambangan bisa di-recovery, maka eksploitasi bisa dibenarkan.

Ke tiga, swakelola, atau mandiri dalam pengelolaannya. Sayangnya, hal ini belum  mampu kita lakukan sepenuhnya. Lihat bagaimana cadangan dan produksi minyak dan gas bumi kita, yang sekitar 80%-nya dikuasai asing. Dengan konsep production sharing, maka otomatis sebagian, atau mendekati separuh, minyak bumi kita dimiliki asing. Dari sekitar 950 ribu barel minyak bumi yang diangkat dari perut bumi kita, 300 – 400 ribu barelnya diboyong oleh kontraktor asing ke luar negeri, itu di luar ekspor minyak mentah kita.

Begitu juga dengan tambang emas di Freeport. Saya cukup prihatin, salah satu tambang emas terbesar di dunia, dan merupakan yang terbesar di Indonesia tersebut, “hanya” memberikan sumbangan ke negara 1 milyar dollar saja setiap tahunnya. Saya pikir itu sangat tidak sebanding dengan kerusakan yang terjadi, dan terkuras-habisnya mineral berharga tersebut dari bumi pertiwi.

Untuk kasus Freeport, saya sepakat dengan sang profesor tadi.

19 thoughts on “Hentikan Eksploitasi Sumberdaya Alam!

    • seujut itu yang penting bukan untuk dimanfaatkan pribadi atau golongan
      kalau untuk bangsa kita kan juga kebagian, yang penting masih dalam batas wajar dan tetap menjaga kelestarian tidak asal ekploitasi tanpa memperhitungkan batas dan dampaknya

      top post
      sukses buat akang dira selalu

      • Betul sekali.. Yang penting manfaat ekonominya jelas bagi bangsa, lingkungan tetap lestari, dan tidak dibawa kabur oleh Londo dan “Londo2 modern” lainnya…

  1. Salam Takzim
    Di kampung saya penceramah kedua justru penceramah kondangnya, ya lebih tinggi dari ustadz lah, nah kalau bapak menyajikan dikampung saya berarti level bapak lebih tinggi dibanding bapak professor. Sajian yang memberikan insfirasi bagi pemegang kebijakan lingkungan hidup ya.. Agar bumi Indonesia tidak menjadi galian yang terus digali..
    Salam Takzim Batavusqu

    • Makasih sudah mampir…
      Btw, kebetulan saja saya yg diminta membawakan materi inti yg relevan dengan topik seminar tersebut.. Profesor jelas lebih afdhol..🙂

  2. kalau saja dimanfaatkan utk kepentingan rakyat, tentu tdk apa2 ya Mas.
    namun bagi saya yg awam ini, yg penting sumber daya alam itu, kalau memang bisa janganlah terlalu di eksploitasi seperti free port, lalu apa nanti yg akan ditinggalan utk anak cucu.
    salam.

    • Jawabannya bisa simpel, bisa jg complicated. Simpelnya: kita harus “selektif” dalam memanfaatkan SDA. Tdk semuanya dikuras habis.. Yg cimplicated, sy mesti belajar lg. Di dalamnya menyangkut aspek politik, hukum, ekonomi, moral dan kebijakan.. Wallahu a’lam.

  3. Ping balik: Peran Pariwisata Alternatif Dalam Pelaksanaan Pariwisata Berkenlanjutan | Mind Palace of mine

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s