Kematangan

Seven (7)  Habit, buku yang masih jadi favorit saya sampai saat ini, mendefinisikan kematangan sebagai kombinasi dua parameter:  “keberanian” dan “tenggang rasa”. Konteks keberanian di sini adalah menyampaikan pendapat, kepentingan, kemauan, pendirian, atau nilai-nilai mendasar dalam hidup kita, kepada orang lain. Atau keberanian tampil dengan keaslian karakter. Sementara, tenggang rasa adalah kemampuan untuk tetap menjaga perasaan atau harga diri orang lain dalam berinteraksi dengan kita.

Pengertian normatif yang dipaparkan dalam buku itu, pada mulanya, tidak begitu istimewa bagi saya. Sampai pada suatu ketika, sekitar dua atau tiga minggu lalu, dalam sebuah forum rapat, saya baru benar-benar ngeh. Biar nyambung, mungkin ada baiknya saya paparkan dulu kondisi atau latar belakang seputar penyelenggaraan meeting tersebut.

Perusahaan A dan B memiliki kepentingan yang sama-sekali bertolak belakang pada awalnya. Keduanya sama-sama ngotot untuk memegang kendali operasi pada suatu blok pertambangan. Masing-masing memiliki hak, kepemilikan, pengalaman, dan bargain position yang sama. Sementara di mata Pemerintah, hanya ada satu saja bendera perusahaan yang mewakili. Membentuk perusahaan  joint venture pun bukan pilihan menarik. Lalu, siapakah yang harus mengalah? Bagaimana mempertemukan masing-masing kepentingan?

Maka, bertemulah wakil-wakil dari perusahaan itu untuk bernegosiasi. Bagaimana situasi meeting tersebut dalam bayangan anda? Kemungkinan besar: Panas! Tetapi yang saya lihat ternyata lain. Meeting berjalan begitu tenang. Adem. Tidak ada kalimat dengan “tanda seru”. Apalagi gebrakan meja. Malah, sesekali gelak tawa terdengar di ruangan itu. Saya cuma menyaksikannya dari salah satu kursi di sudut ruangan itu, sembari menganalisis bagaimana para negosiator ulung menyampaikan kepentingan masing-masing perusahaan dengan kecanggihan nalar dan kelincahan lidah. Entah di dalam hati mereka. Tetapi dari raut muka, tidak terbersit ketersinggungan atau pun kekesalan dari masing-masing pihak.

Menyaksikan fenomena itu, saya baru benar-benar meresapi arti “kombinasi keberanian dan tenggang rasa”. Masing-masing negosiator dengan berani dan lugasnya menyampaikan keinginan masing-masing pihak, disertai dasar argumen yang rasional dan meyakinkan. Sementara di sisi lain, mereka juga tampak tenggang rasa terhadap lawan bicaranya. Mereka saling menghargai. Mereka benar-benar matang. Dan kematangan itu lebih terlihat jelas dalam menyikapi perbedaan pendapat dan kepentingan.

Seandainya saya, saat itu, bertindak sebagai negosiator, tentu saya akan dengan mudah menutup negosiasi itu dengan kalimat: “Kami maunya begini. Titik.”  Atau, “Kalau Anda tidak mengakomodir kepentingan perusahaan kami, maka kami keluar dari kerjasama ini”. Itu mungkin bagian dari ketidakmatangan saya dalam menyikapi perbedaan pendapat dan kepentingan. Dan untuk itu, saya mesti belajar banyak dari mereka.

Dalam kehidupan sehari-hari, melalui ilustrasi di atas, kita juga bisa mengevaluasi sejauh mana kematangan pribadi kita. Sudahkah kita berani mengemukakan pendapat, kemauan atau kepentingan kita? Dalam keluarga atau rumah tangga, dalam organisasi, dalam kehidupan bermasyarakat? Sudahkah kita berani menampilkan keaslian karakter kita? Jika sudah, apakah pendapat, kemauan atau kepentingan itu kita sampaikan dengan penuh tenggang rasa? Tidak melukai perasaan orang lain? Jika keberanian itu sudah kita imbangi dengan tenggang rasa, maka kita layak disebut dengan pribadi yang matang.

24 thoughts on “Kematangan

  1. Selamat pagi Casdiraku, Manusia diberikan kesempatan untuk berinteraksi dengan orang lain tetapi tidak sedikit yang menyia-nyiakan kesempatan yang baik ini. Mereka menganggap bahwa kehidupan di dunia ini adalah segalanya dan tidak ada kekekalan yang menantikan mereka. Akhirnya banyak diantara mereka yang hidup dengan seenaknya dan tidak peduli dengan perkara-perkara kekekalan. Jangan berpikir bahwa setelah anda tua baru anda berpikir tentang akhirat. Sekarang saatnya anda mengenal kematian. Gunakan kesempatan ini untuk melakukan kehendak ALLAH. Gunakan kesempatan ini untuk melakukan kehendakNya dan menyenangkan hatinya, Ingat kesempatan hanya datang sekali dalam hidup anda. Terima kasih postingannya, Sukses untuk anda.

    Regards, agnes sekar

  2. samapai saat ini saya lebih kepada dibelakang layar, masalahnya saya paling tidak suka disituasi yang terkesan ingin menonjolkan sesuatu takut dianggap sombong itu yang selalus aya jauhi dilingkungan saya

    • Betul, betul… secara prinsip memang demikian. Namun “menjadi diri sendiri” dan “bertanggungjawab atas pilihan” agak susah diukur…. Anyway, dari cara mbak menulis di blog, memang terlihat sudah matang kok..🙂

  3. Bagi yang mengerti hidup adalah sebuah perjalanan untuk mencari ARTI dan MAKNA HIDUP.. yayaya.. hanya bagi yang eling dan waspada serta mengambil hikmah dari perjalanan
    salam sayang

  4. WASPADALAAAAAAAAH dan Berhati hatilah.. Bangkit dan Sadarilah.. segera melangkah dalam Taubatan Nasuha.. menemukan diri sebenar diri.. bergandengan tangan lahir dan bathin.. hidup Eling dalam kesadaran dan waspada dalam setiap langkah serta mengambil hikmah dalam kehidupan.. hayooooo.. bergandengan tangan bersama.. menemukan ketenangan JIWA.. JIWA JIWA yang MERDEKA
    Salam Sayang Selalu

    TM ITB 88

  5. Bertenggang rasa itu memang satu hal yang sulit dilakukan, para negosiator diatas nampak begitu terkendali, tetapi mungkin secara pribadi mereka belum tentu dapat melakukan hal yang sama jika menghadapi masalah kehidupan diluar urusan bisnis..akan tetapi sebagai seorang profesional mereka sangat terdidik dan terlatih untuk bernegosiasi dengan tingkatan yang lebih tinggi dan lebih terjaga.
    Saya suka cara Dira bertutur, Blog ini layak jadi referensi, terimakasih sudah mampir.

    Salam Persahabatan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s