Tentang Efek Sistemik, UMKM dan Bank Century

Saya masih ingat, kira-kira satu dekade yang lalu, saya punya banyak kawan yang bekerja di home industry yang membuat produk-produk olahan rotan: kursi, meja, dan berbagai perabot rumah tangga lainnya. Cirebon, kota yang tidak begitu jauh dari kampung saya, adalah salah satu sentra industri rotan. Sebagian besar produknya diekspor. Waktu itu maju bukan main. Sampai-sampai, kawan-kawan saya berduyun-duyun pensiun ngaji di mushola, demi mengais rejeki menjadi kuli rotan.

Tapi itu cerita lama. Industri rotan di Cirebon, kini, tinggal puing-puing. Konon, industri itu sekarat karena kehabisan suplai bahan mentah rotan. Selain resource-nya yang semakin menipis, petani rotan yang tersisa juga lebih senang mengekspor rotannya mentah-mentah. Jelas, itu karena nilai rupiah yang dijanjikan importir sana lebih menjanjikan. Itu sudah hukum ekonomi. Tak peduli dengan industri rotan dalam negeri yang ambruk. Tangan-tangan kebijakan yang berwenang pun tak mampu menyelamatkannya. Dan akhirnya, kawan-kawan saya pun nganggur lagi!

Lain ceritanya kalau yang mau ambruk itu Bank Century. Pemerintah tentu akan dengan sigap menyuntikkan dananya, bahkan sampai triliunan rupiah. Karena mereka punya anggapan, bahwa ambruknya bank itu akan membawa efek sistemik. Entah apa maksudnya. Katanya, kalau bank itu ambruk, dikhawatirkan akan terjadi rush dana nasabah besar-besaran. Perbankan akan kesulitan likuiditas. Bank-bank kecil lainnya dikhawatirkan akan ikut collaps juga. Sentimen negatif di pasar keuangan meningkat. Ketidakpastian pasar domestik menguat. Dan entah apa lagi.

Kita, atau setidaknya saya yang awam ini, tidak tahu harus percaya atau tidak. Mereka bilang itu sudah sesuai prosedur. Tetapi, bukankah prosedur itu mereka sendiri yang membuat? Kita yang melihat dari jauh, hanya mengetahui bahwa jumlah dana yang disuntikkan oleh LPS ke Bank Century itu terlalu besar, dibandingkan dengan bank nya itu sendiri. Kita juga mendapatkan informasi, bahwa beberapa pihak yang berwenang, katakanlah DPR atau wakil presiden, tidak dilibatkan. DPR hanya mengetahui bahwa jumlah dana yang akan disuntikkan sebesar 1,3 T. Nyatanya bengkak hingga 6,7 T.

Bu Ani yang saya cintai mengatakan, bahwa dana sebesar itu tidak diambil dari APBN, bahkan tidak ada implikasi ke APBN. Tapi mbok ya Ibu ingat, iku duite sopo? Waduh…aduh. Lagi-lagi saya ngilu mendengar kasus semacam ini. Kok, segitu gampangnya mereka, pentolan-pentolan di dunia perbankan dan perkonglomeratan, mengaduk-aduk duit negara dalam jumlah yang fantastis. Kasus-kasus korupsi perbankan yang jelas-jelas bejatnya saja sudah cukup banyak dan belum tertangani, ditambah lagi kasus-kasus penjarahan legal semacam ini. Gusti!

Kondisi itu tentu sangat kontras, bila dibandingkan dengan nasib kawan-kawan kita yang berjuang di indutri kecil dan menengah: yang menghasilkan produk-produk ril, menyerap sebagian besar angkatan kerja, dan sudah terbukti tahan banting menghadapi tempaan krisis. Dan untuk segala kelebihan dan sumbangsih itu, mereka rela dipandang sebelah mata oleh pemangku otoritas.

Jika mereka ambruk, tentu tidak akan ada yang mau menyelamatkannya, kecuali Yang Maha Kuasa, dan usaha mereka sendiri tentunya. Kita sama sekali tidak mengenal “LPS” bagi usaha-usaha kecil. Tangan-tangan BI pun berada di langit, tak tersentuh dan tak kan bisa menyentuh mereka. Jangankan duit triliunan disuntikkan untuk menyelamatkan mereka, sepeser pun sulit. 

Industri rotan hanya salah satu bukti kecil, bahwa sektor usaha kecil – menengah masih dipinggirkan. Oh, iya, saya lupa. Mungkin Pemerintah cuek karena beranggapan bahwa ambruknya usaha kecil – menengah tidak membawa efek sistemik bagi perekonomian. Begitu?

11 thoughts on “Tentang Efek Sistemik, UMKM dan Bank Century

  1. Assalamu’alaikum,
    Memang memprihatinkan nasib pengusaha kecil, seperti indrustri rotan yang Mas Dira bahas, padahal mereka sangat memerlukan bantuan kredit untuk menyelamatkan dan mengembangkan usaha mereka. Semoga kedepannya Bank-bank pemerintah atau swasta lebih memudahkan mereka dalam memperoleh kredit usaha kecil-menengah dan pemerintah memberikan bantuan pengarahan bagaimana mengembangkan dan mempromosikan usahanya itu, hingga bisa sukses.

  2. Kalau paid review termasuk UMKM ga yah,,hehhee,,,Pengen dilirik juga ama pemerintah.se-engga nya …turunkan tarif internet ama listrik lah,,biar Mel ga kalang kabut bayarnya hehee

  3. Sebenarnya siapa seh OKNUM dibalik perekonomian Indonesia, lebih khusus Pemerintah Indonesia?. Kok, setiap kebijakan, terlihat aneh, apa karena saya yang bodoh sehingga tidak bisa memahami.
    Dimulai dari kebijakan pemerintahan hingga kebijakan perekonomian sekarang terkait kasus Bank Century.
    Yang saya tahu RRC, India, menjadi macan Asia sekarang dengan bertopang dari usaha kecil menengah (UMKM) atau ekonomi mikro yang tidak tersentuh oleh badai krisis global. Makanya disana diutamakan, sehingga mereka bisa menjadi Macan Asia
    Kok kalau di Indonesia UMKM selalu disia-siakan mulu seh…
    Andaikan mereka-mereka mau jujur dalam bertindak hanya untuk kepentingan bangsa…saya yakin, UMKM lah yang paling diutamakan. Kalau sudah berhubungan dengan kepentingan pribadi dan golongan mah lain lagi…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s