Be Proactive!

Jadilah proaktif! Itulah kebiasaan pertama yang harus dilakukan, kata Stephen Covey, jika kita ingin menjadi manusia yang efektif. Namun, Anda jangan salah mengartikan kata ini. Umumnya kita mengartikan kata proaktif ini identik dengan: tampil dominan, mengambil inisiatif, selalu ingin di depan, dan sikap-sikap lain yang mencerminkan sikap yang energik dan positif. Itu betul, tapi di sini maknanya lebih dalam dari itu. Berikut saya uraikan makna proaktif yang dimaksud.

Pertama, tidak reaktif. Ya, kelihatannya sesimpel itu. Tapi mari kita lihat kebiasaan mendasar manusia. Umumnya kita selalu memberikan reaksi sesuai stimulus yang diberikan oleh lingkungan. Dipuji kita senang, dicaci kita berang. Dipukul ingin membalas memukul, disanjung ingin balas menjunjung. Diperlakukan pelit, jawaban kita kikir. Dibenci, ingin balik membenci. Diramahi, kita juga ramah. Dan sebagainya. Intinya, stimulus negatif dibalas negatif. Pun sebaliknya. Sikap kita umumnya dikendalikan oleh stimulus ini. Reaktif.

Stimulus ini termasuk perlakuan lingkungan kita di masa lalu. Seringkali kita memaklumi seseorang, karena melihat latar belakang dia. Misalnya, “Anak ini terlihat suka memaksakan pendapat. Mungkin dia lahir dari keluarga yang tidak demokratis”. Atau, “Orang itu sering depresi, mungkin dia dibesarkan oleh keluarga broken home“. “Dia sangat santun. Maklum, dia kan lulusan pesantren”. “Dia kan orang Sumatera, jadi ngomongnya keras begitu”. Dan sebagainya.

Latar belakang seseorang, entah keluarga, pendidikan, kultur sosial-budaya, atau lainnya, sering membentuk karakter dan sikap seseorang tanpa sadar. Perlahan tapi pasti, manusia dibentuk oleh lingkungannya. Inilah pemahaman umum kita. Tapi, benarkah manusia tidak bisa lepas dari pengaruh lingkungannya? Mungkinkah orang Batak bicara selembut orang Sunda? Mungkinkah lulusan sekolah musik sealim lulusan pesantren? Mungkinkah seorang anak yang sangat baik lahir dari keluarga penjahat? Jawabannya adalah “mungkin”. Nabi Muhammad SAW adalah contoh ideal manusia yang tidak reaktif. Lingkungan Quraish yang bejat pada waktu itu tidak mampu “membentuk” kepribadian Beliau.

Sikap proaktif adalah kemampuan kita untuk membuat suatu space antara stimulus dan respon. Begitu stimulus datang, kita tidak secara simultan memberikan reaksi serupa, tetapi dicerna terlebih dahulu di dalam space, atau ruang. Space itu berisi nilai-nilai kemanusiaan yang mendasar: suara hati atau nurani. Ya, dengan suara hati, kita akan memberikan respon terbaik. Tidak peduli stimulus yang datang seperti apa, tetap kita lah yang menentukan reaksi apa yang kita berikan.

Kemampuan mengelola space ini akan membuat kita menjadi manusia yang proaktif, tidak reaktif. Kita bisa memberikan senyum, pada orang yang cemberut. Kita bisa berderma, pada tetangga kita yang pelit. Kita bisa menjadi manusia yang demokratis, meski dilahirkan di keluarga yang amat otoriter. Kita bisa menjadi manusia yang amat santun, di tengah lingkungan yang kelewat keras dan kasar. Ya, kuncinya pada pengelolaan space itu. Semakin lebar space-nya, semakin besar peranan nurani bicara, sebelum kita memberikan respon terbaik kepada lingkungan kita. Sebaliknya, semakin sempit space tersebut, semakin reaktif kita jadinya.

Ke dua, fokus pada lingkungan pengaruh. Covey membagi lingkaran kehidupan kita menjadi lingkaran pengaruh dan lingkaran kepedulian. Lingkaran pengaruh adalah segala sesuatu yang bisa kita kendalikan. Contohnya adalah diri kita sendiri, atau segala sesuatu yang kita memiliki kuasa terhadapnya. Sementara lingkaran kepedulian adalah sesuatu yang ada di sekitar kita, mempengaruhi kita, tetapi tidak bisa kita kendalikan. Misalnya cuaca, prilaku orang lain, kemacetan, kondisi perekonomian, dan sebagainya.

Orang yang proaktif, selalu fokus pada lingkaran pengaruhnya. Dia tidak berharap agar orang lain merubah sikap negatifnya. Dia tidak menunggu-nunggu hujan reda untuk melakukan aktivitas. Dia tidak menggantungkan pada perilaku orang lain untuk berbuat baik. Dia tidak akan risau dengan kondisi politik bangsanya. Bukan karena tidak peduli, tapi karena dia sadar bahwa itu di luar jangkauannya. Hal-hal yang ada di luar kemampuannya untuk merubah atau mengendalikan, tidak membuat energinya terkuras. Dia fokus pada apa yang bisa: dia lakukan, dia perbuat, dia ubah, dan sebagainya. Be proactive, and you will be an affective people!

28 thoughts on “Be Proactive!

  1. setuju cas, lebih baik dan mudah mengontrol/menata ke diri sendiri untuk berbuat sesuai yang diharapkan daripada memaksakan mengubah lingkungan luar. hohohoho

      • Wah…pas banget ya permisalannya. Tapi nggak salah tangkep kan ya…🙂
        Hanya permisalan saja, bahwa kebiasaan orang susah dilepaskan dari pengaruh lingkungan dia dibesarkan….

  2. Assalamu’alaikum,
    Saya suka dgn kata-kata: Orang yang proaktif, selalu fokus pada lingkaran pengaruhnya. Dia tidak berharap agar orang lain merubah sikap negatifnya. Dia tidak menunggu-nunggu hujan reda untuk melakukan aktivitas. Dia tidak menggantungkan pada perilaku orang lain untuk berbuat baik… Tuylisan yang bagus Pak. Ohya, tentang bagi-bagi tips menulis, saya masih belajar, tapi mungkin bisa Bapak lihat di halaman, “buku saya”, ada pertanyaan yg hampir sama, dan sudah saya jawab disana, terima kasih Pak, semoga silaturahim kita selalu terjaga. Wah tema blog kita sama ya…(Dewi Yana)

  3. bundo baru kali ini kerumah Dira ya..?😀
    orang yang luar biasa pasti selalu penuh dengan gagasan
    punya jiwa pemberontak **dalam arti positif.. selalu tanggap dan peduli dengan sekeliling

    bundo masih jauh niyh, sering kalah sebelum perang
    ada rasa lelah untuk mulai membenahi sekeliling, iman masih selemah kerupuk **duh

    hehhe bundo malah jadi curhat ya..? selamat sore diraaa..🙂

  4. Tertunduk ku dimalam ini
    Terdiam mencoba berucap nada CINTA
    Alunan Zikir alam semesta sayup terdengar
    menyapa mesra diri lemah tiada daya
    kudengungkan dalam qolbu terdalam
    Nyanyian pengagungan dan penyembahan
    Hadirkan diri dalam CINTA membara
    Perlahan tapi pasti getar menyambut
    Bagaikan gelombang membuat diri tergetar
    Hanyut sudah dalam buaian syahdu
    Diri hilang lenyap dalam pangkuanNYA
    Terang benderang padang terawangan..
    hilang.. lenyap.. tiada keberadaan..

    doooooh nikmaaaaatnyaa

  5. tulisan yang bagus banget .. saya suka banget..
    sepertinya saya harus mulai mengubah cara fikir saya .. dulu.. saya berpikir reaktif itu merupakan tanda proaktif .. ternyata salah ..
    satu hal yang agak sulit, bagaimana caranya meredam kebiasaan yang reaktif ini ..

    Iklan Gratis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s