Tommy Naik Gelanggang

Belakangan beredar kabar bahwa Tommy, anak bungsu Pak Harto alm., tampaknya menunjukkan minat untuk menjadi ketua umum Golkar, pasca lengsernya Pak JK.  Kok, bisa ya? Logika apa yang mendasari niat dan langkahnya itu? Saya hampir tidak bisa mencerna. Alasannya sederhana:

Pertama, meski sudah sebelas tahun yang lampau, tapi sisa euforia reformasi kan masih ada. Segala atribut orde baru, ramai-ramai kita campakkan. Bahkan, orang-orang yang dibesarkan orde baru pun berusaha agar terlihat steril, dan ikut-ikutan kaum reformis meneriakkan: reformasi! Dalam situasi seperti ini, tak dinyana, anak kandung orde baru berani maju menjadi ketua Golkar. Malah, konon, itu akan dijadikan sebagai batu loncatan untuk menuju 2014. Weleh!

Ke dua, bukankah dia alumni Nusakambangan? Bukan tahanan politik, lho! Kalau tahanan politik, no problem. Ini tahanan kasus pembunuhan berencana seorang hakim agung, masih terkait kasus korupsi.

Atau, begini mungkin logikanya:

Pertama, reformasi, meskipun telah mengantarkan kita menjadi negara demokrasi yang disegani di dunia, tetapi tidak cukup dikatakan berhasil. Kondisi ekonomi kita masih morat-marit. Utang secara absolut masih tinggi, bahkan meningkat. Kemiskinan dan pengangguran masih identik dengan pertengahan dekade 1990-an. Belum dikatakan lebih baik dari orde baru. Harga-harga melonjak tajam. Stabilitas keamanan juga makin kacau.

Meskipun para ekonom bilang: “pondasi ekonomi orde baru itu rapuh!”, “Lebih besar pasak daripada tiang!”, “Sarat KKN dan perburuan rente!” Tapi, toh, rakyat kebanyakan tidak mengerti itu. Mereka cuma tahu beras dan pangan murah, negara aman, tidak ada teror bom, tidak ada wilayah yang lepas. Masih ada sebagian, bahkan mungkin jumlahnya tidak sedikit, orang yang menganggap kondisi orde baru lebih baik, dalam banyak sisi.

Dengan begitu, majunya Tommy mungkin tidak sepenuhnya menentang arus sejarah. Tidak sedikit orang yang ingin membalik arus sejarah, kembali ke kejayaan orde baru, minus KKN tentunya.

Ke dua, logika uang masih bekerja dengan baik di tubuh banyak partai, terutama Golkar. Sebagai orang kaya, bahkan kaya raya, tentu bukan soal yang sulit untuk masuk ke jantung partai. Apalagi, untuk jadi seorang ketua umum partai, kan cuma perlu merangkul DPD di tingkat kabupaten/kota. Jumlahnya tidak sampai lima ratus. Kalau satu orang ketua DPD ditransfer 1 M, pasti mereka grogi.

Ke tiga, kaitan antara korporasi dan politik amat dekat. Untuk melindungi kepentingan korporasi, politik adalah instrumen yang sangat penting. Apalagi, korporasi ini awalnya memang dibangun dari kekuasaan politik, sarat perburuan rente, dan sudah tentu  jauh dari efisiensi dan daya saing. Tanpa sokongan politik, nasib korporasi ini cukup menghawatirkan di masa depan.

Ke empat, tidak diragukan lagi, bahwa bangsa ini memiliki ingatan yang pendek. Mereka lupa apa yang diperbuat pemimpinnya di masa lalu. Mereka selalu memaafkan, seghingga track record menjadi kurang penting. Kuncinya, menangkan popularitas, maka engkau akan memenangkan hati rakyat. Dan itu cuma masalah pencitraan. Dengan duit berkarung-karung, tentu pencitraan adalah soal yang tidak terlalu sulit.

Namun demikian, saya cukup yakin, Ical dan Surya Paloh bukan figur yang layak disepelekan. Tommy bisa jadi akan menghadapi ganjalan serius. Kita lihat saja nanti.

15 thoughts on “Tommy Naik Gelanggang

  1. Saya rasa ini hanya keinginan Tommy, dan boleh2 saja bukan ? Mengenai layak tidaknya ia menjadi ketua Umum Golkar, pasti terdapat pro kontra di internal golkar sendiri dan yang pasti tidak semudah yang dibayangkan…..

    Apalagi untuk menjadi RI.1 pada 2014…saya yakin masyarakat Indonesia tidak bodoh…saya kurang setuju dengan point keempat di atas Mas yang mengatakan bahwa bangsa kita memiliki ingatan yang pendek, menurut saya analisis seperti itu hanya terjadi di media yang menurut saya analisis tersebut salah salah….

    Coba ingat waktu Pilpres…fenomena tentang populeritas JK… sangat luar biasa bukan ? Seolah-olah JK pasti menang…tetapi sekali lagi ternyata itu hanya di media… tidak menggambarkan kondisi riil masyarakat Indonesia….

    Walah terlalu panjang nih komen…. 🙂 Nice post Mas🙂

    • Sependapat Yep.. Rakyat kita memang sudah cerdas. Point 1 s.d 4 di atas itu kan upaya sy utk memahami logika Tommy; mengapa dia sampe “nekad” naik gelanggang? Apa logika dia?
      Sy percaya, bahwa pd akhirnya keputusan ada di tangan rakyat. Dia juga mungkin akan menghadapi ganjalan yg serius di tubuh Golkar. Ical dan Surya Paloh tentu bukan figur yg layak disepelekan.
      Btw, utk kasus JK kemaren, dia hanya memenangkan “hati media”, bukan “hati rakyat”. SBY-lah yg sesungguhnya masih memenangkan hati rakyat, melalui citra dia, bukan kapabilitas yg sesungguhnya.. itu yg saya maksudkan citra, bukan kompetensi.
      Trims sudah bersedia kasih komen, ditunggu komen2 selanjutnya Yep… (sy juga jadi ikutan panjang nanggepinnya nih…🙂 )

  2. Marhaban Ya Ramadhan,
    Kita lihat saja nanti bagaimana nasib Golkar….
    Klo memang Si Tom terpilih dan maju jadi Ketum Golkar, aku yakin golkar bukan malah naik tapi anjlok….
    Kecuali golkar mau nostalgilaan ya ga papa…
    NKRI negara demokrasi, dan sudah cerdas dalam memilih, kecuali pencitraan dan duit bisa merubahnya, sepakat dengan yang Dira bilang.
    Terima kasih….

  3. hmm pemilu besok bakal tambah seru tuh ^^ dengan kehadiran Tommy ya Pak ^^,hehehe tapi itulah politik mewarnai nya hehehe,tapi kalo dengan kehadiran Tommy dengan kekayaannya yang melimpah juga bisa jadi tantangan berat bagi Prabowo ya Pak,hehehe blognya bagus pak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s