Tumpang Tindih Wilayah Kerja Pertambangan

Kalau sempat, cobalah Anda sesekali melihat peta wilayah kerja perminyakan di Indonesia. Lalu, lihat pula peta wilayah kerja pertambangannya, khususnya batubara. Kebetulan, sy sendiri tidak punya soft file-nya untuk diperlihatkan di sini. Di situ akan terlihat bagaimana kedua peta itu saling tumpang tindih. Artinya, satu daerah bisa merupakan daerah pertambangan dan perminyakan sekaligus.

Tindih menindih itu makin ruwet, kalau Anda meng-overlay-kan satu lagi peta wilayah kerja CBM (Coalbed Methane, atau gas metana batubara). Ya, CBM merupakan gas yang terkandung di dalam lapisan batubara. Belakangan, Pemerintah berniat untuk mengembangkan sumber energi yang satu ini, sebagai salah satu energi alternatif. Cadangannya (resources) memang luar biasa. Indonesia merupakan yang terbesar ke dua di dunia setelah China.

Dengan menggabungkan peta-peta itu, saya menyadari betul bahwa tanah Indonesia raya ini memang kaya. Amat sangat kaya. Untuk wilayah kerja pertambangan saja, satu daerah bisa ada tiga kavling yang berbeda: wilayah migas, pertambangan dan CBM, pada satu titik. Migas mengambil kekayaan bumi Indonesia pada kedalaman (rata-rata) di atas 500 meter. Pertambangan batubara mengeruk kekayaan alam di permukaan sampe kedalaman 200 meteran. Sementara CBM menyedot gas yang ada di lapisan batubara pada kedalaman 300 – 1000 meter.

Tiga tumpang tindih itu belum memasukkan penggunaan lahan permukaan, baik untuk perkebunan, kehutanan, maupun pemukiman. Praktis, tanah di Indonesia ini sudah seperti kue dikerubung semut. Semut itu adalah kavling-kavling pertambangan, perkebunan, dan lain-lain. Tetapi, di sini saya hanya membicarakan tumpang tindih kavling-kavling pertambangan saja.

Tumpang tindih antara wilayah kerja perminyakan dan batubara selama ini sudah menimbulkan persoalan. Banyak infrastruktur migas yang rusak akibat proses eksploitasi batubara. Padahal, akibatnya bukan hanya kerugian pada kontraktor migas, melainkan beresiko juga mencemari lingkungan, jika minyak atau gas berceceran ke lingkungan. Persoalan ini sudah diketahui Pemerintah, tapi kelihatannya belum ditanggapi serius. Malah mereka menyerahkan sepenuhnya ke masing-masing kontraktor, untuk membuat semacam perjanjian agar tidak saling mengusik dan merusak.

Jika masing-masing kontraktor mengutamakan kepentingan bersama, termasuk kepentingan bangsa dan negara ini, tentu akan mudah diselesaikan. Tapi mengharapkan kontraktor, terutama kontraktor batubara swasta, untuk mendahulukan kepentingan bangsa, tak ubahnya mimpi di siang bolong. Menghabiskan cadangan batubara dalam waktu sesingkat mungkin adalah obsesi mereka. Tentu dengan menekan biaya serendah mungkin. Ini terkait masalah keuntungan bisnis. Tak peduli dengan lingkungan yang cemar. Masa bodoh dengan rusaknya infrastruktur migas.

Sebelum tahun 2009 ini, wilayah pertambangan batubara (Kuasa Pertambangan (KP) Batubara) bisa didapatkan hanya dengan mendekati bupati/walikota setempat. Pantas saja, jumlahnya membludak hanya dalam waktu beberapa tahun. Seiring digulirkannya rencana pengembangan CBM oleh Pemerintah, jumlahnya makin beranak-pinak, terutama yang menindih wilayah kerja migas. Dengan memiliki KP batubara, diharapkan mereka juga memiliki kesempatan untuk mendapatkan wilayah kerja CBM. Peraturan Menteri ESDM No.33/2006 mengaturnya demikian.

Lucunya, kalau kita lihat status KP – KP itu, banyak yang sudah beberapa tahun didiamkan saja. Mereka cuma “membeli” wilayah kerja. Setelah itu tidak diapa-apakan. Mungkin dijual? Karena itu, kawan saya pernah bilang, bahwa saat ini bukan hanya ada supermarket barang, tapi juga supemarket KP. Lebih lucu lagi, beberapa KP Batubara ada di wilayah yang tidak ada batubara sama sekali di permukaannya. Ini kan konyol. Rupanya KP itu cuma jadi batu loncatan, agar mereka mendapatkan kesempatan untuk mengembangakan bisnis CBM. Dan itu mereka lakukan dengan sangat mudah. Wuedan!

Akibat mudahnya memperoleh KP batubara ini, tumpang tindih wilayah kerja benar-benar semakin runyam. Saya tidak bisa membayangkan, bagaimana para kontraktor migas dan CBM mengelola lapangan yang tumpang tindih ini. Saya melihat setidaknya ada dua resiko. Pertama, kegiatan operasional dipastikan terhambat. Yang ke dua, infrastruktur migas dikhawatirkan akan semakin banyak yang rusak. Ke depannya pasti tambah ruwet, jika tidak ada regulasi yang mengaturnya dengan lugas.

7 thoughts on “Tumpang Tindih Wilayah Kerja Pertambangan

  1. Saya mengucapkan SELAMAT menjalankan PUASA RAMADHAN.. sekaligus Mohon Maaf Lahir dan Bathin jika ada kata kata maupun omongan dan pendapat yang telah menyinggung atau melukai perasaan para sahabat dan saudaraku yang kucinta dan kusayangi.. semoga bulan puasa ini menjadi momentum yang baik dalam melangkah dan menghampiriNYA.. dan menjadikan kita manusia seutuhnya meliputi lahir dan bathin.. meraih kesadaran diri manusia utuh.. meraih Fitrah Diri dalam Jiwa Jiwa yang Tenang

    Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabat Sahabatku terchayaaaaaank
    I Love U fullllllllllllllllllllllllllllllll

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s