TKW adalah Solusi?

Baru-baru ini, Kompas menyelipkan satu judul tulisan yang cukup menyentil saya, “Gadis Indramayu Lebih Tertarik Jadi TKW”. Kebetulan, saya sendiri berasal dari situ. Karena itu, tangan saya tergelitik untuk mengulasnya di sini, meskipun entah sudah berapa tulisan, berita, buku atau seminar, yang mengulas masalah ini.

Susah untuk membantah judul tulisan itu. Tapi untuk meng-iya-kannya, masih dibutuhkan catatan-catatan kecil. Pertama, itu hanya berlaku bagi yang berpendidikan rendah: SD, tidak tamat SD, atau tidak sekolah sama sekali. Bagi wanita yang agak berpendidikan, katakanlah lulusan SMP atau SMA, menjadi TKW adalah pilihan ke sekian, setelah ijazahnya tak lagi mampu menolong sedikit pun. Meskipun harus diakui, tak sedikit juga dari mereka yang akhirnya tancap gas.

Ke dua, tidak sedikit yang berangkat ke seberang sana bukan karena tertarik, melainkan terpaksa. Bukan melulu motif ekonomi, banyak juga yang bermotif ‘sosial’ semata. Menjadi TKW bisa menjadi tempat pelarian bagi ibu-ibu rumah tangga (muda) yang menghadapi poblem serius: dicerai, ditelantarkan, tidak dimanusiakan, atau diselingkuhi suaminya. Dan saya kira ini bukan monopoli persoalan Indramayu.

Bagi mereka, ibu-ibu yang mulia tapi kurang mujur itu, sejuta insentif yang dijanjikan tampak lebih menarik, dibandingkan seribu ancaman yang siap menghadang mereka. Mereka adalah orang-orang yang percaya sepenuhnya kepada nasib, bukan kepada perlakuan orang. Birokrasi yang cuek, PJTKI yang memeras, majikan yang kerap menganiaya, sorot-sorot mata yang merendahkan, suami-suami mereka yang durjana, mereka anggap sebagai lorong nasib yang sudah ditentukan Tuhan, yang harus mereka lalui. Itu bagian dari kerasnya perjuangan hidup. Mereka tegar di dalam tangisan.

Kita kadang hanya bisa mengelus dada, melihat apa yang dialami sebagian mereka. Turinah, Ratminih, Kokom, Anidah dan ribuan nama lainnya. Ada yang mengalami kebutaan, kulit mengelupas, jasad yang tidak lagi utuh, bahkan tidak sedikit yang pulang tinggal jasad. Sekali lagi, itu tidak membuat mereka gentar.

Mata kepala saya yang kecil ini tidak mampu melihat, apa masalah sebenarnya. Bahkan saya tidak tahu persis, apakah maraknya TKW yang berduyun-duyun mengais rejeki di seberang sana itu masalah apa bukan. Jangan-jangan, itu malah solusi bagi bangsa ini?

Sampai tahun 2006 lalu, diperkiraan sebanyak 6 juta orang menjadi TKI. Mungkin sebagian besarnya TKW. Konon, hanya 35% yang bekerja di sektor formal. Sisanya di sektor informal. Hampir bisa dipastikan hanya sebagai pembantu rumah tangga. Bukankah belasan juta orang masih menganggur di negeri ini? Bukankah menjadi TKW adalah solusi?

Devisa yang mereka hasilkan di tahun 2009 diperkirakan akan mencapai 162 trilyun, atau hampir sepertiga cadangan devisa kita saat ini. Bukankah itu solusi bagi bangsa ini?

Sebagian mereka bekerja untuk mengasuh anak-anak bangsa lain dengan penuh dedikasi. Anak-anak mereka sendiri, yang akan membangun bangsa ini ke depan, mereka titipkan pada negara ini. Mampukah negara ini mendidik anak-anak mereka?

Mereka sudah memberikan solusi mengatasi pengangguran bagi bangsa ini. Mereka sudah memberikan solusi bagaimana meningkatkan cadangan devisa negara ini. Lalu mengapa negara ini enggan untuk memberikan solusi bagi permasalahan mereka? Sekali lagi, mereka mungkin menganggap perlakuan negara ini adalah hanyalah lorong nasib mereka. Ya, mereka percaya, bahwa segala sesuatunya itu bergantung pada nasib.

Satu-satunya harapan mereka adalah: anak-anak mereka harus lebih baik. Dan itu tidak mereka gantungkan pada nasib, melainkan pada negara ini.

 

6 thoughts on “TKW adalah Solusi?

  1. betul itu mas
    TKW adalah penyumbang devisa negara yang cukup besar namun terkadang kurang perlindungan dari pemerintah
    saudara saya juga berada di rantau demi anaknya agar bisa sekolah

  2. kalo di daerah istri saya (Blitar) peminatnya bejibun bro…
    kagak peduli tu lulus SD ato yang SMA sekalipun rata2 dah pada siap ‘mental’
    untuk mengais rejeki di ‘sana’.
    Mungkin pengaruh lingkungan juga sih menurutku,
    karna ngeliat tetangga ma kerabatnya dah pada bisa ‘mengangkat derajat’ (baca: membangun rumah dan isinya) dan juga bisa memperlancar roda ekonomi keluarganya.
    Jadi kayaknya biarpun ada pilihan lain rasanya jadi kurang ‘menggigit’.

  3. kebetulan mas sebulanan kemarin saya kkn di indramayu.. bener, bagi yg lulusan SMA, TKW jadi pilihan ketiga belas.. tapi tetep aja mereka ingin kerja. seperti yg saya kenal di indramayu, para lulusan SMA memlih kerja ke sukabumi. awalnya saya khwatir mendengar brita ttg traficking di indramayu, tp alasan mereka membantu orang tua (termasuk jajan)

    saya harga semangat mereka utk bantu ekonomi keluarga..

    salam kenal🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s