VIP

VIP, atau Very Important Person, adalah label sosial manusia modern. Untuk dicap important person, Anda tentu tidak harus benar-benar orang penting. Tak harus menjadi pejabat negara, artis, bos perusahaan, atlet, Noordin M Top, Mbah Surip, atau Manohara. Di lift, di stadion, di pesawat, di kereta, di hotel, di mana pun, Anda bisa masuk kelompok manusia ini, meski bukan orang penting seperti mereka, asal Anda mampu membayar lebih. Ya, parameternya memang sesederhana ini: uang, jabatan atau reputasi sosial.

Jika Anda, dalam satu momen, masuk claster VIP, jangan dulu bangga. VIP bukanlah manusia paling high class di alam materialis ini. Di atasnya lagi masih ada VVIP: Very Very Important Person. Bahkan mungkin dengan tambahan satu atau lebih “V” lagi di depannya, untuk menggambarkan betapa manusia itu super penting.

Istilah ini tidak begitu mengusik, sampai di suatu siang, saya diajak oleh dua orang kawan sekantor, untuk menjenguk kawan lainnya yang sedang di rumah sakit. Dia terkena kanker hati. Kondisinya sudah complicated. Bukan hanya hati, ginjal pun kena. Mata sudah tak bisa melihat. Mulut pun tak bisa mengecap, apalagi berucap. Hanya dari telinganya ia tahu siapa yang datang. Tak tega melihat kondisinya, belum lima menit, kami bertiga langsung pamitan pada isterinya. Sebelum keluar ruangan, satu per satu kami mendoakan dan memberinya semangat, agar lekas sembuh.

Di perusahaan kami, dia memang orang penting. Belum jadi manajer, tapi kemampuannya sudah selevel vice president. Konon, direktur utama pun mempercayainya untuk melakukan tugas-tugas penting. Karenanya, pada saat dia sakit kanker, dia dirawat di rumah sakit kanker jempolan di Jakarta. Tak tanggung-tanggung, jatah kamar VVIP dia dapatkan. Entah dengan biaya berapa.

Bagi yang sehat, mendapatkan fasilitas VVIP jelas suatu keistimewaan. Masuk ruangan VVIP pun bisa jadi membuat langkah kita lebih mantap dari biasanya. Tapi bagi mereka yang sakit, apalagi yang sudah setengah sadar, apakah istilah VVIP masih berarti? Mungkin ya, terkait dengan kualitas pengobatan yang didapatkan. Tapi, apakah masih bisa dinikmati? Lha, wong sakit kok dinikmati.

Kalau saya tanya, anda pilih mana, mau tidur di gubuk reot, atau di ruangan VVIP rumah sakit? Bukankah VVIP itu keistimewaan bagi Anda? Tak perlu dijawab. Cukup kerutkan dahi.

Atau, ada yang mau pesan kavling kuburan VVIP?

19 thoughts on “VIP

  1. ku dambakan mendapat tempat VVIP di akherat aja mas
    hanya saja perlu proses di dunia yang VVIP juga (Very Very Is not easy Process) or (Very Very Involute Process) or Very Very Intensive Process.

    btw, kerja dmn bang?

  2. It’s a Nice Blog.
    Dapat tempat VVIP memang sangat menyenangkan. Bagi sebagian orang tempat tersebut dapat meningkatkan citra dirinya walau ada biaya yang lebihhhhh untuk dikeluarkan. Kalau mau nonton dengan tempat VVIP pasti yang paling dekat panggung artis, Kalau Rumah Sakit mungkin paling dekat dengan rumah dokternya..🙂. Tapi tetap tempat VVVVVIP yang paling kekal n ditunggu2 semua manusia yakni SURGA.

    Kunjungan Balik dari http://henypratiwi.wordpress.com/
    Thanks For Coming and Visiting Me, Sir!
    Hope The Education In East Kalimantan Can Be Better Than Today.

  3. Kalo ketika sakit,,menurut saya ,ruangan yg Vip mendukung loh,,akan pulihnya kesehatan,,,karna saat sakit yg diperlukan ketenangan dan kenyamanan..

  4. Seminggu setelah saya menulis postingan ini, kawan saya yg saya ceritakan tersebut telah meninggalkan dunia ini. Semoga arwahnya tenang di sisi-Nya, dan mendapatkan tempat VVIP yang sebenarnya: syurga yg di bawahnya mengalir sungai-sungai dari madu, susu, arak, yang semuanya dihalalkan bagi penghuninya…

  5. Mencoba untuk memandang dari sudut pandang berbeda…..

    1. Nikmat atau tidak nikmatnya itu kan tidak hanya bisa dirasakan oleh personal, tapi bagi orang-orang sekitar juga. Pada dasarnya, kebanyakan orang ingin mendapatkan fasilitas lebih bukan hanya untuk dirinya sendiri, minimal untuk keluarga dan anak. Yang saya tangkap dari kasus tersebut, saya kira dirawat dikelas VIP itu bukan menjadi pilihan orang yang sakit tersebut, tapi karena keinginan dari pihak keluarganya. Dengan dirawat di kelas VIP, setidaknya keluarga lebih mendapatkan jaminan dengan mendapatkan fasilitas terbaik. Jadi, sebenarnya fasilitas VIP itu dirasakan pertama oleh keluarga pasien.

    2. Saya tidak melihat korelasi dari pilihan tersebut. Pada dasarnya, setiap orang mengharapkan yang terbaik dalam segala hal. Di samping itu, tidak selamanya orang sehat dan tidak selamanya orang itu sakit. Jadi, kita akan berharap untuk tinggal di rumah dengan fasilitas terbaik jika kita sehat. Sebaliknya, kita juga akan berharap untuk mendapatkan fasilitas perawatan yang baik jika kita sakit. Dan bahkan seperti banyak dibahas melalui komentar-komentar di atas, kita juga akan berharap untuk mendapatkan tempat terbaik di akhirat jika kita telah mati,,,, semua itu mungkin jika kita mampu….

    Intinya, segala sesuatunya akan terasa bermakna jika sesuai dengan konteksnya. Tidak akan bermakna juga jika kita masuk perawatan rumah sakit (terbaik atau tidak) jika kita dalam keadaan sehat, tidak bermakna juga jika kita tinggal di rumah mewah, apalagi gubuk tua, jika kita dalam keadaan sakit….

    Pilihannya bukan terletak dari “rumah mewah atau gubuk” dan “rumah sakit biasa atau abal-abal”, tapi lebih terletak pada pilihan untuk sehat dan sakit….

    Terima kasih…..

    • Makna tersirat dari postingan di atas:
      1. Manusialah yg sebenarnya suka membeda-bedakan manusia sendiri berdasarkan kelas2. Ada kelas ekonomi, eksekutif, VIP, VVIP, dsb. Sementara Tuhan tidak pernah membeda-bedakannya, kecuali berdasarkan ketaqwaan.

      2. Dalam keadaan sakit, embel-embel kelas VIP dsb, tidak banyak berarti. Apalagi bagi yg mau meninggalkan dunia ini, semua embel-embel duniawi sama sekali tak bermakna. Kebanggaan akan kemewahan dan fasilitas serba lux dalam kehidupan dunia adalah hampa.

      3. Nikmat sehat dan nikmat hidup sangat berarti bagi kita, meskipun kita hidup sederhana, tak harus menikmati fasilitas yg lux: VIP, atau VVIP, dst.

      Demikian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s