Fakir Miskin dan Anak-Anak Terlantar Dipelihara oleh Sesama Mereka

Selain kerjaan yang rutin, ada juga pemandangan rutin yang saya saksikan. Pagi hari, saat saya numpang metromini ke kantor, ada orang yang memberi minuman dan sarapan ke supir metromini. Dia, dan sekretaris setianya, standby di pengkolan. Dengan ulet, mungkin tak kalah ulet dengan petugas DLLAJ, mereka mencatat nomor plat metromini yang ia “lempari” makanan dan minuman itu. Sore atau siang harinya, supir metromini itu harus nyetor, untuk membayar semua itu. Bisa dipastikan harganya lebih tinggi dari sewajarnya.

Dari kacamata gelap, mungkin itu semacam bentuk “penjualan paksa” kepada para supir metromini. Kasihan betul mereka. Dari kacamata yang lebih terang, operasi semacam itu bisa membantu supir, kalau-kalau ia tak sempat beli sarapan di pagi buta, karena harus berkejaran dengan setoran. Maklum, di pagi hari, rejeki mereka mengalir deras dari para karyawan yang mau ngantor. Dari kacamata sosial, itulah prinsip bagi-bagi rejeki di antara mereka: orang susah. Orang yang “melempari” makanan dan minuman itu dipastikan seorang penganggur, atau setidaknya “karyawan lepas” terminal, yang sudah kehilangan objek perasan.

Pemandangan di sore hari lebih memilukan. Juga sedikit menyebalkan. Para pengemis kecil, atau pengamen yang diduga hanya mandi seminggu sekali, masuk metromini dengan wajah tak hidup. Tatapannya lurus dan kosong. Para penumpang, atau siapa pun kita, biasanya berprinsip seperti ini: “Jangan memberi mereka, itu tidak mendidik.” Atau yang lebih getir, “Pengemis dan pengamen itu profesi. Bos mereka, mungkin sebagian mereka juga, sebenarnya kaya, di kampungnya.” Kalau anda bisa mendidik dan memberikan solusi bagi mereka, lakukan. Tapi kalau tidak, memberi mungkin lebih baik, daripada mendidik tidak, memberi pun tidak. Mereka terlalu ringkih untuk kita kritik. Apalagi caci-maki. Kalau memang ada pilihan lain, apakah mereka masih memilih profesi seperti itu?

Sekali waktu, di terminal bus antar kota, saya hendak pulang kampung. Saat ngetem, penumpang langsung dimintai ongkos 35.000. Saya duduk di sebelah anggota TNI. Kebetulan, saya juga pake kaos dan celana ijo. Rambut agak cepak. Badan saya sengaja saya tegap-tegapkan. Eh, dimintai duit cuma 25.000. Kesimpulan saya, yang 10.000 sebenarnya adalah iuran “jamsostek” bagi “karyawan lepas” terminal, yang berangkulan erat dengan cukong keamanan berseragam abdi negara.

Kalau saya tanya, di mana kemungkinan copet-copet beraksi? Anda tidak mungkin menjawab: “Di executive lounge”; “di factory outlet”; atau “di Silver Bird”. Ya, mereka beroperasi di pasar (kaget) tradisional, di terminal, di metromini, bus-bus ekonomi. Paling banter, di mall-mall. Mereka adalah manusia-manusia yang rajin mengingatkan manusia lainnya untuk berhati-hati, menjaga barang-barang berharga mereka. Untuk hal itu, mereka patut diucapi terima kasih.

Mungkin saya cukupkan ceritanya sampai di sini, meskipun masih cukup panjang daftar praktek-praktek premanisme kaki lima bermotif ekonomi.

Dalam UUD 1945, yang sudah jarang dibicarakan, negara memiliki tanggungjawab untuk memelihara fakir miskin dan anak-anak terlantar. Para “pelempar” makanan dan minuman, para pengemis dan pengamen, para “karyawan lepas” terminal, para copet dan gelandangan, semua yang sudah saya sebut di atas, mestinya masuk kategori makhluk-makhluk yang dipelihara negara.

Sayangnya, negara, sampai saat ini, belum memiliki sistem dan mekanisme bagaimana memelihara mereka. Para pengusaha pun tak kan sampai hati membiarkan perusahaannya bangkrut, dengan mempekerjakan mereka yang unskilled, uneducated. Tangan-tangan dermawan pun tak lebih panjang dari barisan mereka.

Mereka tak punya akses sama sekali pada APBN, atau APBD. Korupsi bukan keahlian mereka. Kemampuan memeras pun terbatas. Yang bisa mereka copet tak lebih banyak dari isi kantong orang kecil. Seandainya mereka bisa mencopet di executive lounge, atau beroperasi di lobby Marriott atau Ritz Carlton, mungkin nasib para pencopet itu akan lebih baik. Pengemis dan pengamen pun hanya kebagian uang kembalian metromini.

Mereka tak kenal negara. Negara pun tak mau mengenal mereka. Mereka hanya mengenal “tanah tumpah darah”: tempat mereka mencucurkan keringat dan darah.

Mereka punya siklus mikro perekonomian mereka sendiri: dari orang kecil, ke orang susah, dan kembali ke orang sengsara. Sistem ekonomi mereka adalah campuran: pasar – kerakyatan. Ekonomi pasar mereka dikontrol oleh “invisible hand“-nya para preman. Termasuk back-up dari oknum keamanan negara. Ekonomi kerakyatan mereka diatur oleh rasa empati dari orang-orang kecil lainnya, yang rela, atau yang kecolongan, memberikan sebagian rejekinya. Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh sesama mereka.

21 thoughts on “Fakir Miskin dan Anak-Anak Terlantar Dipelihara oleh Sesama Mereka

  1. spadahal di UUD 45 jelas diatur bahwa mereka dilindungi negara taoi sayangnnya kata kata dilindungi sudah diganti jadi kata dikejer-kejer trantib…

  2. setuju dgn tulisan’y..tp yg psti skrg pa yg hr kt lakukan biar kasus sprti itu tdk trjadi..tp yg psti kt hrs bnyk bljr mgatasi mslh trsbt.

  3. Dari dimensi religius, saya teringat nasihat kakak sulungku: “Jadikan mereka sebagai ladang amal… Ingat, di akhirat nanti yang laku bukan rupiah, bukan dolar, bukan saham, bukan deposito, dan bukan emas permata. Yang laku di akhirat hanya amal. Jadikan semua yang ada di depanmu sebagai ladang amal.”

    Nice post, salam kenal, dan terima kasih atas kunjungannya. Terimalah salam kunjung balik dari saya. Sukses selalu buat Anda!

  4. Sejatinya, mereka yang duduk nyaman dibalik meja mewah kekuasaanlah aktor utamanya, duduk manis dengan kenaifan akan kondisi seperti itu, mereka sangat terang melihatnya bahkan suatu waktu menjadi komoditasnya dalam menggapai kuasa dengan buih-buih janji untuk menghancurkannya, namun mereka juga yang memeliharanya. Mendorongnya atau bahkan menghimpunnya sedemikian rupa agar bisa dimanfaatkan kembali, untuk dia dan antek-anteknya.
    Akhirnya, juga benar adanya UUD bahwa fakir miskin dan anak terlantar dipelihara “Kemiskinannya” oleh negara.
    Astgfirullah

  5. gak tau kenapa, saya suka sekali membaca tulisan Bpk..
    mungkin karena tulisannya jujur, meski dgn kata2 sdkt pedas..
    namun itulah, top..!
    sbg informan, berita memang sebaiknya tdk ditambahi “bumbu-bumbu” ketakutan..
    saya hrs mencontoh.. =)

    salam,
    classically

  6. dulu saya sempet berfikir bahwa memberi pengemis adalah tidak mendidik.
    Tapi bener ucapan penjenengan, bahwa kita juga ga bisa ngasih solusi apapun.
    sebuah ungkapan bagus mas..
    “Fakir miskin dan anak-anal terlantar bukan dipelihara oleh negara, tetapi oleh sesama mereka”.. lain kali diusulkan kepada MPR agar mengubah UUD 1945 nya.
    hmmm lain waktu aku qute bang.

    pandangan seperti inilah yg membikin agama mensyariatkan adanya Zakat.
    hubungan negara dan rakyat kecilnya akan senantiasa ada.

    salam kenal

  7. Salam damai sejahtera, saudaraku. Kiranya Tuhan memberkati anda. Kalimat anda itu begitu menyentuh. Prinsip kita sama. Kita ingin memberi kail, tapi kita hanya punya satu kail. Jadi apa yg hrs kita berikan? Nunggu kita kaya; gmn kalo Tuhan gk ngijinkan kita kaya sampe mati? Setidaknya sekarang ini -ditengah ketidakmampuan saya- hanya SEDEKAH yg bisa saya berikan. Salam Sejahtera.

  8. mestinya Pasal 34 ayat (1) UUD 45 diubah saja menjadi kaya judul tulisan ini. Boro-boro memelihara, malahan ketika ada orang yang memberi sedekah kepada pengemis malah ditangkap (http://bit.ly/1mjf4l).

    Bahkan ada pihak yang katanya “ulama” mengharamkan pengemis. Meski Islam kurang menyukai orang yang meminta-minta (apalagi jika memintanya dengan memaksa dan jauh melebihi kebutuhannya/berlebih), tapi setahu saya tidak ada satupun ayat Al Quran ataupun hadits yang mengharamkannya.

    Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa meminta-minta harta orang untuk memperkaya diri, sebenarnya ia hanyalah meminta bara api. Oleh karenanya, silahkan meminta sedikit atau banyak.” Riwayat Muslim.

    Dan terhadap orang yang minta-minta maka janganlah kamu menghardiknya [Adh Dhuhaa:10].

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s