Mental Bom

Barangkali tulisan pendek saya ini akan basi, kalau membahas bom Marriot – Ritz Carlton dari sisi naratif-deskriptif, argumentatif, dan …tif-tif lainnya. Even, kalau saya menganalisis siapa otak dibalik bom biadab itu. Karenanya, saya akan coba mengulas dari sisi lain. Kalau tidak pas, mohon maklum, karena saya hanya ngepas-pasin.

Sudah saya duga, mungkin anda juga, bahwa semua mata pasti tertuju pada Nurdin M Top, atau afiliasinya: JI, setiap kali ada bom ngamuk di Indonesia ini. Meskipun Presiden kita sempat nyeleneh, mengait-ngaitkannya dengan pilpres. Saya sendiri kadang jengah, untuk memilah-milih opini yang pas. Media memang punya kemampuan membuat yang hitam tampak putih. Pun sebaliknya. Posisi kita digiring sedemikian rupa, dengan sadar atau tidak, sehingga sama dengan posisi media dalam menyikapi suatu kasus.

Saya kasih tahu, meski anda mungkin sudah tahu, bahwa jika ingin menguasai dunia, kuasailah dua hal ini: “uang” dan “media massa”!

Di luar semua itu, saya kadang bertanya, apa benar yang ngebom itu manusia? Jangan-jangan, ada makhluk yang namanya “bom”. Lantas, tanpa dikendalikan oleh siapa pun, dia sekonyong-konyong meledakkan diri. Kalau dia manusia, kok tega amat, membiarkan dirinya dan orang lain luluh-lantak, sia-sia. Tapi setelah saya pikir-pikir, memang banyak kemiripan antara sifat bom dan manusia. Lho?

Siapa pun pelaku bom itu, satu hal yang saya yakini, dia pasti manusia bermental bom! Tahukah kawan, bom rela menghancurkan dirinya sendiri, asal yang lain juga ikut hancur. Kalau ada bom meledak, terus tidak ada korban, ledakannya mubazir.

Istilah Stephen Covey, dalam 7 habits-nya, inilah mental “kalah – kalah”. Manusia macam ini tidak bisa menerima kekalahan. Kalau dia kalah, maka yang lain tak boleh ada yang menang. Kalau dia kalah tender, dengan segala upaya, dia bikin makar agar yang berpotensi menang tender tersingkir. Kalau dia tidak bisa menikahi orang yang dicintainya, dia tak kan rela membiarkan siapa pun menikahinya. Kalau dia kalah dalam pemilu, maka dia akan mati-matian menolak hasil pemilu. Kalau gugatannya kalah, dia akan kacaukan situasi. Itulah politisi bermental bom.

Belakangan, kasus-kasus yang mencerminkan mental bom juga menyeruak. Sering, kalau ada yang mengungkap kasus korupsi, dituduh balik dengan pencemaran nama baik. Lembaga pelayanan publik yang memberikan layanan busuk, kemudian diadukan, lantas dia menuduh balik dengan pasal karet: pencemaran nama baik!

Kekalahan “manusia bom” pasti menuntut kekalahan yang lain. Kehancuran “manusia bom” selalu menuntut kehancuran yang lain. Oh…bom!

10 thoughts on “Mental Bom

  1. Wah, sesuai bgt dgn kasus Prita Mulyasari & penuntutnya..
    Saya setuju mengenai kalimat, “Saya kasih tahu, meski anda mungkin sudah tahu, bahwa jika ingin menguasai dunia, kuasailah dua hal ini: “uang” dan “media massa”!”..
    Mungkin itu sebabnya jg saya mengambil jurusan itu u/ kuliah mendatang..
    Tp sebagaimana tugas pers, hrs jujur & beretika..
    Jgn mau diinjak hal pertama yg anda sebutkan, dan kuasa..
    Krn sebetulnya kuasa itu takut pd media..

    salam hangat..

  2. Yah, mudah2an pers kita makin jujur dan beretika. Prinsip “bad news is good news” bisa dicerabut dari mindset pers kita, dan putar haluan menjadi pers yg “membangun karakter bangsa”, cie..🙂

  3. Saya gembira karena saat beberapa media massa konsisten dalam membangun karekater manusia demi menuju kebaikan. Salam kenal. Ielva.

  4. Menjadi analisa yang unik mas, apabila digali lebih dalam mungkin seluruh birokrat di Indonesia ini “BOMBERS” semua ya…hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s