Masalah Cekungan Pun Tak Bebas Nilai

Selasa, 19 Mei 2009, Gedung Departemen ESDM tampak ramai dikunjungi orang. Hari itu, untuk pertama kalinya, Badan Geologi mengekspose hasil penelitiannya ke publik, perihal cekungan sedimen di Indonesia. Publik, terutama masyarakat yang berkecimpung dalam bidang energi, dibuat surprise, karena dalam pertemuan itu DESDM secara resmi mengumumkan bahwa jumlah cekungan sedimen di Indonesia sebanyak 128! Usai seremoni, hasil penelitian itu langsung ditandatangani oleh Menteri ESDM.

Selama ini, dan sudah menjadi angka magic, cekungan di Indonesia dikenal sebanyak 60 buah. Ajaibnya, dengan penelitian yang hanya memakan waktu sekitar 6 bulan, cekungan di Indonesia beranak-pinak lebih dari dua kali lipat. Sebagai informasi, bahwa cekungan sedimen adalah “wadah besar” yang bisa menjadi tempat terbentuk dan terakumulasinya minyak bumi, batubara dan mineral lainnya. Karenanya, jumlah cekungan tersebut seringkali diasumsikan dengan besarnya potensi keterdapatan minyak bumi di Indonesia.

Namun, di balik hasil penelitian yang spektakuler itu, ada persoalan yang mengganjal. Pada tahun 2008, ada dua institusi Pemerintah lainnya yang telah melakukan dan mengumumkan hasil penelitian yang serupa, dengan hasil yang berbeda-beda. LEMIGAS mengumumkan bahwa cekungan sedimen di Indonesia berjumlah 63, sedangkan BP MIGAS mengumumkan bahwa cekungan sedimen di Indonesia berjumlah 86! Bayangkan, dengan data dan metode penelitian yang hampir sama, hasilnya semburatan!

Akan tetapi, bukan hasil yang berbeda-beda itulah letak masalahnya. Kalau itu hasil skripsi, atau bahkan disertasi, dari tiga orang mahasiswa, mungkin tak jadi soal. Kalau itu dilakukan oleh lembaga penelitian Pemerintah, bagaimana? Satu hal yang pasti, begitu kasat mata buruknya kordinasi antar lembaga Pemerintah yang menangani pengelolaan sumberdaya energi di Indonesia. Mengapa mereka tidak melakukan penelitian itu secara bersama-sama dan menghasilkan satu kesimpulan saja?

Saya bisa memahami, mungkin di balik semua itu, ada persoalan lain yang sifatnya “non teknis” atau “non saintifik”. Yang terlihat jelas, pertama, adalah masalah ego sektoral. Masing-masing lembaga ingin “unjuk kerja” di hadapan publik, agar mereka terlihat benar-benar bekerja dan menghasilkan sesuatu. Tidak peduli bahwa hasil kerja masing-masing institusi itu saling bertentangan dan membingungkan publik.

Ke dua, mungkin terkait dengan masalah penggunaan anggaran proyek (penelitian) di masing-masing institusi. Sudah menjadi rahasia umum, bagaimana peran proyek-proyek negara bagi “peningkatan gizi” abdi negara kita. Dengan melakukan penelitian bersama,  “kue” itu pasti lebih kecil. Tentu ini bukan berita yang bagus buat mereka.

Ke tiga, keinginan untuk meninggalkan “belang” dan “gading”. Para pejabat tinggi kita tampaknya sangat memahami pribahasa ini: macan mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading. Jika belang dan gading pun tak tersisa, ya minimal belang-belangan dan gading-gadingan. Kalau tidak menorehkan prestasi yang riil saat menjabat, ya minimal prestasi-prestasian. Wujudnya sering berupa jejak-jejak simbolis: ganti logo, nama, teks visi-misi, pembangunan fisik, dan sebagainya.  Dalam konteks ini, jejak simbolisnya adalah berubahnya jumlah cekungan sedimen di Indonesia.

Kita tahu bahwa produksi minyak saat ini terus menurun. Target produksi di atas 1 juta barel belum kunjung tercapai. Dalam hal ini, DESDM (serta Badan Geologi di dalamnya), BP MIGAS, juga mungkin LEMIGAS, adalah pihak yang paling empuk untuk dituding. Karenanya, hasil penelitian yang memberikan  “angin surga” bagi dunia perminyakan tersebut setidaknya bisa menutupi sedikit “kegagalan” mereka.

Ah, mudah-mudahan ini su’udzon saya saja. Tapi, mbok ya jangan mencampuradukkan ranah ilmiah dengan periuk nasi seperti itu. Memalukan.

3 thoughts on “Masalah Cekungan Pun Tak Bebas Nilai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s