Sudut Takdir

Biasanya hanya metromini P20 yang setia mengantarku ke kantor. Pagi itu, ku putuskan untuk naik taksi, karena harus mejinjing pesanan adik dan keponakan di rumah. Sedikit ribet, tapi tak apa lah. Hal apa lagi yang bisa membuat kita lebih bangga, selain membuat orang-orang yang kita cintai bangga pada diri kita? Kebetulan, voucher taksi juga ada di saku.

Sampai di tepi jalan, aku berdiri sigap untuk menyetop taksi. Jarum panjang jam sudah bergeser satu angka, tapi belum juga ku temui taksi yang kumaksud. Aku putuskan untuk menyebrang, tak mengapa harus naik jembatan yang mengangkangi tol TB. Simatupang itu, karena se arah kantor.

Saat kaki kananku persis menginjak tangga terakhir jembatan itu, taksi kosong melintas. “Waduh, sayang sekali..”, spontan, nalarku merespon.

Karena di jalur yang cukup ramai, dan seperti di hari-hari yang lain, aku pikir akan banyak taksi-taksi lainnya yang menyusul. Dugaanku keliru. Lebih dari ima belas menit kemudian, tak ada satu pun yang nongol. Untuk waktu sepagi itu, jarak tempuh taksi lima belas menit bisa cukup jauh. Selisih waktu berangkat sedikit saja, maka selisih waktu tiba bisa jauh berbeda, jika sudah terpotong waktu magic: jam 6.30. Ya, jam 6.30 adalah batas waktu yang aman, agar anda tidak bertemu hantu kemacetan Jakarta.

Jam 6.10, aku masih mematung di teras halte Ratu Prabu 2. Padahal aku keluar rumah dari sekitar jam 5.30. Untuk ukuran jakarta, itu waktu yang cukup lama untuk menunggu taksi. “Andai tiga detik saja aku menyebrang lebih awal, pasti aku sudah naik taksi pagi tadi itu. Pasti aku tiba di kantor lebih awal”, sedikit menggerutu.

Tidak sekali saja aku mengalami kejadian itu. Sering, saat pulang kantor, hanya selisih beberapa detik, metromini kosong melintas di depanku. Berikutnya, sengaja sampai melewatkan beberapa metromini yang penuh, masih saja tidak ada yang kosong. Terpaksa aku naik metromini yang penuh. Berdiri berjejal hampir dua jam! “Tiga detik saja sampai lebih awal, nasibku bisa lebih baik: duduk tenang sambil membaca, di sisi jendela metromini”, nada gerutu yang sering berdering.

Pelajaran yang sepele, tapi cukup mendetakkan jantung kesadaran.

8 thoughts on “Sudut Takdir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s