Mereka Yang Jadi Lakon, Kita Yang Tak Pernah Belajar

Baru beberapa hari yang lewat, negeri ini kembali diwarnai dengan lakon tak elok, sebuah drama korupsi, dengan pemeran utama Djoko Tjandra. Dia kabur ke luar negeri: kebiasaan para mega-koruptor. Bedanya, kali ini tidak ke Singapura, melainkan ke Papua Nugini, tempat yang tak lazim bagi mafia kerah putih melarikan diri. Mungkin tak lebih sebagai persinggahan, sebelum ke Australia, atau, seperti lazimnya, berbalik ke Singapura. Hanya strategi mengelabui, begitu?

Kepergiannya yang hanya selang satu hari sebelum putusan MA, memang patut dicurigai. Tangan-tangan mafia peradilan, entah siapa dan dengan cara apa, pasti bekerja di sana. Konon, dia menggunakan pesawat charter CL604, terbang dari Halim. Kabarnya dia telah merugikan negara sebesar Rp.546 milyar rupiah, dalam kasus korupsi Bank Bali. Ah, korupsi di perbankan memang sangat akrab di telinga, seakrab gosip kawin-cerai artis yang menghias layar kaca kita.

Ketua MA, atau siapa pun pejabat di sana, bisa saja membantah, bahwa putusan itu bocor. Tetapi, who knows? Kita memang kerap dibuat bingung dengan statement para elit itu. Tapi tahukah kawan, Djoko Tjandra bukanlah manusia paling bejat soal korupsi ini. Berikut ini saya suguhkan mereka yang lebih dulu kabur ke luar negeri.  

Begawan Eddy Tansil, tersangka kasus pembobol Bank Bapindo. Dia merugikan negara senilai 1,3 trilyun. Diduga dia menyisakan sisa umurnya, sebelum diadili Yang Kuasa, di China.

Masih ingat Eko Edi Putranto? Dia terpidana kasus korupsi Bank BHS, yang diduga kabur ke Australia. Tidak tanggung-tanggung, 1,9 trilyun uang negara dilahapnya. Tidak sendirian, dia bersama Sherny Kojongian, yang juga melahap jumlah uang yang sama. Tak ada yang tahu rimbanya.

Bambang Sutrisno, kasus Bank Suryo, juga menelan 1,9 trilyun. Diduga dia berada di Singapura: kampung mafia kerah putih. Maria Pauline Lumowa, tersangka pembobol bank plat merah, BNI, senilai 1,2 trilyun. Dia terbirit-birit ke Belanda.

Sederet nama lainnya: ada Sudjino Timan, terpidana korupsi PT. BPUI, senilai 1,1 trilyun. Samadikun Hartono, Bank Modern, menggesek uang negara 162 milyar, kini tinggal di Singapura. Pelaku dengan modus lain, Adelin Lis, kasus illegal logging yang merugikan negara 119 milyar. Entah di mana dia sekarang.

Kalau masih penasaran, saya suguhkan lagi angka-angka yang bikin bulu kuduk merinding. Masih lekat di memori kita, kasus BLBI yang melegenda itu. Kasus penyimpangan BLBI oleh Bank Indonesia Raya, sebesar 3,66 trilyun. Bank ini dinahkodai oleh Atang Latief. Di atas dia, ada Bank Umum Nasional, yang dipimpin oleh Bob Hasan, dengan nilai penyimpangan sebesar 5,09 trilyun.

Bank Danamon, menyimpan catatan hitam BLBI, dengan nilai penyimpangan 13,8 trilyun. Usman Admadjaja dituding sebagai orang yang paling bertanggungjawab. Di atasnya lagi, ada BCA, dengan penyimpangan 15,82 trilyun. Siapa yang tidak kenal Soedono Salim? Godfather Asia itu kini menikmati singgasananya di Singapura.

Rekor penyimpangan BLBI dipegang oleh Bank Dagang Nasional Indonesia, dengan penyimpangan sebesar 24,47 trilyun. Sjamsul Nursalim, dalam hal ini, adalah the man behind the gun-nya. Dia ditetapkan sebagai buron sejak 2001. Sejak itu, dia menjalankan bisnisnya, lagi-lagi, di Singapura.

Saya tidak bermaksud membuka catatan lama, yang terasa begitu getir dikenang. Saya hanya mengingatkan pada kita secara kolektif sebagai bangsa, bahwa sudah seharusnya kita belajar banyak dari pengalaman-pengalaman itu. Ada benarnya apa yang dikatakan Nelson Mandella, forgive, but not forget! Bahwa, kalau pun kita sudah berketetapan hati untuk melihat ke depan, kita tidak boleh melupakan tamparan sejarah itu. Bangsa ini tidak boleh lagi dijarah oleh siapa pun, sementara anak-anak terlantar dan fakir miskin, istilah UUD 45, belum mampu dipelihara oleh negara.

Tangkap Djoko Tjandra itu, adili, karena itulah bukti, bahwa bangsa kita bukan keledai: melakukan kesalahan yang sama berulang-ulang; selalu membiarkan koruptor kabur!   

5 thoughts on “Mereka Yang Jadi Lakon, Kita Yang Tak Pernah Belajar

  1. Pada saat tulisan ini selesai dibuat, pengacara Djoko Tjandra meminta penundaan dan pihaknya menyatakan bahwa yang bersangkutan akan memenuhi panggilan pihak yg berwenang dlm waktu dekat. Bisa aja ya..🙂

  2. Saya suka sekali artikelnya..!!
    Rakyat saja sdh sengsara, malah keringat semakin diperas samapi rakyat jd abu..
    Too much.. -__-
    Kl sempat silahkan baca artikel & puisi saya yg lain..
    Terima kasih..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s