Hukum Kekekalan Energi di Alam Manusia-Mikrokosmos

Kira-kira seminggu yang lalu, seorang kawan memberikan komen di facebook, “Jangan terlalu vokal, nanti bisa sulit naik jabatan. Kamu kan berada dalam sistem…” Kalimat senada memang beberapa kali ku dengar, bahkan sejak aku masih kuliah dulu. Sudah mewabah, ada semacam ketakutan umum bagi seseorang untuk tampil idealis: berpikir “apa yang seharusnya”, di tengah-tengah lingkungannya. Sehingga, pilihan untuk menampilkan keaslian karakter menjadi sulit.

Dalam kesempatan lain, seorang kawan pun pernah mengatakan, “Orang itu cenderung takut berbeda dengan lingkungannya.” Karenanya, orang lebih cenderung untuk “cari aman”, bersembunyi dibalik kesantunan perilaku, demi penerimaan sosial.

Ketakutan menentang arus, dengan segala konsekuensinya, memang lumrah. Di kantor, kita kadang takut untuk mengkritik kebijakan atasan, hanya karena takut tidak naik jabatan. Di lingkungan organisasi, kita enggan untuk mengutak-atik kultur yang telah mapan, hanya karena takut dikucilkan. Ketakutan-ketakutan sejenis bisa terjadi di lingkungan lainnya, sehingga kita lebih memilih untuk diam, dan membiarkannya mengalir begitu saja.

Jamil Azzaini, dalam suatu momen pelatihan, mengenalkan apa yang dia sebut sebagai “hukum kekekalan energi (HKE)”. Konsep itu juga tertuang dalam bukunya: “Kubik Leadership”, yang ditulis bersama dua rekannya,  Farid dan Indra. Ini bukan konsep fisika, tapi dia juga merujuk pendapat beberapa fisikawan.

Sebagai makhluk Tuhan, jelasnya, manusia juga terikat dengan hukum itu. Bedanya, alam sebagai makrokosmos, memiliki HKE yang sifatnya kuantitatif. Artinya, jumlah energi bersifat tetap. Yang dapat berubah hanya bentuk. Sementara energi pada manusia, sebagai alam mikrokosmos, selain kuantitatif, juga bersifat kualitatif. Menurut istilahnya, selain energi manusia jumlahnya tetap, juga bisa bersifat negatif maupun positif.

Semua energi yang kita keluarkan, hakikatnya, tidak akan pernah berkurang sedikit pun. Dia hanya mungkin berubah bentuk, tapi takkan pernah hilang. Sifatnya pun tetap. Energi negatif akan menghasilkan energi negatif, meski wujudnya bisa berbeda, pun sebaliknya. Energi negatif, dia mengartikan, adalah perbuatan-perbuatan yang tidak baik. Energi positif berarti perbuatan yang selaras dengan nurani: kebaikan.

Selain memiliki sifat kualitatif, energi manusia-mikrokosmos ini juga memiliki siklus terutup. Semua energi yang dikeluarkan, akan kembali kepada yang mengeluarkan. Tiap manusia punya “frekwensi” yang berbeda, dan alam tidak mungkin keliru mengidentifikasinya. Jadi, sekali kita mengeluarkan energi negatif, kita tinggal menunggu energi itu akan kembali kepada kita, kapan pun, dan apa pun bentuknya. Tidak akan kurang, dan tak akan lebih. Yang pasti, itu akan terjadi, sebelum kita meninggalkan alam kosmos ini.

Dengan konsep HKE ini, manusia sebenarnya tidak perlu takut untuk melakukan sesuatu, sejauh ia berpihak pada prinsip-prinsip kebenaran. Sejauh yang ia keluarkan adalah energi positif: selaras dengan prinsip-prinsip kebenaran, maka tidak akan kembali sesuatu pun kepadanya, selain kebaikan.

Kembali kepada prinsip idealisme tadi. Ketakutan akan pengucilan, sulitnya mencapai karir, diskriminasi, seretnya rejeki, sulit diterima di lingkungan sosial, dan sebagainya, kerap membuat kita mengelabui karakter kita sendiri. Kita berupaya untuk mempelajari berbagai teknik kepribadian, meskipun itu tercerabut dari prinsip-prinsip kebenaran, hanya demi mengharapkan kebaikan-kebaikan yang akan kita terima: harta, jabatan, relasi, popularitas, dan sebagainya.

Teknik memang perlu, penerimaan sosial pun penting, tapi tidak dengan mengebiri karakter, dan menggadaikan prinsip-prinsip kebenaran. Bagi mereka yang bisa mengatakan “tidak”, untuk hal-hal yang memang tidak patut, tidak perlu berkecil hati. Juga buat mereka yang sanggup mengatakan “ya” untuk hal yang memang pantas, yakinlah. Kosmos tidak akan keliru mengidentifikasi jenis energi yang sudah kita tabur. Frekwensi kita pun sudah terdokumentasi dengan baik. Energi positif yang kita keluarkan, akan segera menjemput kita kembali, cepat atau lambat, dalam bentuk yang sama atau berbeda.

3 thoughts on “Hukum Kekekalan Energi di Alam Manusia-Mikrokosmos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s