Syukur Wajib,Terima Kasih Harus

Orangnya terbilang kreatif, agamis, menokoh di kampungnya, serta pencetus ide-ide yang tak banyak dipikirkan orang. Aku mengenalnya cukup dekat. Juga banyak belajar darinya.

Suatu ketika, seperti waktu-waktu sebelum dan sesudahnya, aku berdiskusi dengannya. Dia mengatakan, “Saya sudah sampaikan ke Si Anu dan Si Itu, kamu tidak perlu menjadikan beasiswa yang kamu terima itu sebagai beban. Kamu jangan berpikir karena kamu telah disekolahkan oleh Pemda Indramayu, maka kamu harus memberikan sesuatu untuk Indramayu.”

“Sudahlah. Nikmati saja, jangan jadikan beban. Itu rejeki dari Tuhan. Pemda hanya perantara. Beasiswa itu cuma salah satu cara Tuhan memberikan rejeki, agar kamu bisa melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi”. Kira-kira seperti itu tuturnya.

Tak ada bantahan sama sekali dariku. Aku tahu maksud dia baik.  Aku cuma berpikir, itu cara berpikir yang bagus, tetapi pincang. Rejeki memang dari Tuhan, tapi Tuhan punya mekanisme (sunnatullah) penyaluran rejekinya tersendiri. Tuhan punya “kepanjangan tangan-Nya” di muka bumi. Tuhan punya “agen-agen” penyalur rejeki, pengikat jodoh dan penjemput kematian.

Dalam mushaf-Nya yang suci, Tuhan mengajari kita untuk berbakti pada orang tua, lebih-lebih pada sang ibu. Kita semua mafhum, bahwa ‘hidup’ itu mutlak kehendak Tuhan. Tapi Tuhan juga menyiapkan “agen” tempat bersatunya jasad dan ruh kita, sehingga kita bisa hidup. “Agen” itu adalah ibu. Ya, ibu yang telah melahirkan semua manusia.

Mengapa kedudukan ibu begitu mulia dalam pandangan Tuhan? Bahkan menempati urutan ke tiga, setelah pengabdian kita kepada Tuhan dan Utusan-Nya? Bukankah kita bisa mengatakan, “Kita tak usah berterima kasih pada ibu, apalagi berbakti. Toh, hakikatnya Tuhan yang “melahirkan” kita, menghidupkan kita”?

Bakti kita kepada ibu adalah bentuk terima kasih paling agung, kepada sesama makhluk-Nya, karena jasa-jasanya yang begitu besar. Tuhan ingin, selain agar manusia bersyukur pada-Nya, juga berterima kasih pada makhluk-Nya yang berjasa.

Ketika kita diberi rejeki, entah berupa hadiah atau apa, kita tentu wajib bersyukur pada-Nya. Tetapi kita juga harus berterima kasih pada orang yang jadi “agen” penyalur rejeki kita. Bentuk terima kasih yang paling ringan adalah ucapan. Bentuk terima kasih paling agung adalah bakti.

Aku sendiri termasuk penerima beasiswa pendidikan tinggi itu. Aku pun tentu wajib bersyukur, karena hakikatnya itu rejeki dari Yang Kuasa. Tetapi aku pun harus berterima kasih, pada “agen” penyalur rejeki itu, yaitu Rakyat Indramayu, melalui kebijakan Pemerintah Daerahnya. Karenanya, bakti pada masyarakat Indramayu, sebagai bentuk terima kasih paling agung, adalah konsekuensi yang wajar. Apalagi, beasiswa itu diberikan dengan sejumlah asa, agar kelak yang diberi beasiswa itu mampu mengangkat nama harum Indramayu. Oh, sungguh, itu suatu amanah yang berat.

Bagi siapa pun kita, jika tak sanggup memberikan bakti sebagai persembahan terima kasih yang terbaik, cukup ucapkan setulus-tulusnya. Bahkan, kalau pun tak ada ketulusan dari yang menyalurkannya, tetap ucapkan. Karena itu sarat minimal, agar kita tak digelari manusia tak tahu terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s